Adil Tuhan Adalah Rahmat Tuhan (Berlanjut ke masalah Qodhoo’ dan Qodr)

Doni Handoyo

Salam Ustad, apakah POTENSI (kaya, pintar, sukses dll) yg ada pada orang2 yg terbelakang mental (idiot) itu sama dgb yg normal? Kalo tdk sama, bgm kaitannya dgn Adalah Ilahi ?

Sang Pencinta: Salam mas Doni, ust pernah menjelaskan hal ini, nanti malam jam 11.30 kalo blm sy tukilkan, tagih sy. afwan..

Doni Handoyo: Masykur Sang Pencinta…..

Sang Pencinta: lihat di sini 

Ikhtiar Selalu Ada, Walau Terpaksa, seri tanya jawab Mata Jiwa dg Sinar Agama

Bismillah: Ikhtiar Selalu Ada, Walau Terpaksa   Mata Jiwa …

Oleh: Sinar Agama

23 Juli pukul 12:31 · Suka ·

Sang Pencinta: lihat di sini

23 Juli pukul 12:32 · Suka ·

Sang Pencinta: lihat di sini

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Saya hanya ingin menambahkan dari yg dinukilkan Pencinta dan, sudah tentu sebagai ringkasan dari yg sudah2.

Bhw jangankan kekurangnormalannya, kelahirannya sendiri tdk ada hubungannya dg ketentuan Tuhan. Karena Tuhan hanya mengijinkan ikhtiar dari ayah ibunya. Karena itu, dlm hal kelahirannya dan apapun potensi yg dibawanya, tdk ada hubungannya dg ketentuan Tuhan karena Tuhan tdk pernah menentukannya.

Sehubungan dg keAdilanNya, mk dari semua perbedaan potensi yg merupakan akibat dari ikhtiar orang tua dan lingkungannya itu dimana bukan merupakan tanggung jawab Tuhanpun, akan tetapi:

1- Tidak menghambat tercapainya insan kamil dg usaha2 yg sesuai dg keadaannya mmasing2.

2- Perbedaan potensi itu hanya mengakibatkan perbedaan bentuk usaha, kadar usaha dan kadar ujian yg dihadapinya.

3- Perbedaan usaha yg disebabkan oleh perbedaan potensi itu, akan menyebabkan perbedaan pahala dan ampunan yg diberikanNya.

4- Ampunan yg sangat besar juga akan diberikan kepada yg begitu udzur tp bgt berusaha dg gigihnya.

5- Bagi yg sama sekali tdk dpt meraih insan kamil, artinya mustahil karena bgt hebatnya efek samping dari ikhtiar orang tua atau lingkungan sosial dan alamnya, spt idiot, mk akan diberikan pahala yg besar olehNya, i-Allah.

Dengan semua itu, dpt dipahami bhw sekalipun musibah kelahiran itu bukan tanggung jawabNya, akan tetapi Ia tetap merahmati siapapun hamba2Nya yg terkena efek samping ikhtiar keluarga dan lingkungannya tsb. Jadi, hal ini, tdk lagi hanya disebut Adil, akan tetapi bahkan sebagai Rahmat dan Kasih SayangNya.

Sinar Agama: Pencinta trims bantuannya smg diterimaNya, amin.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad waajjilfarajahum

wassalam

Marziah Zainab, Ahmad Zein Fahruddin, زىنال ئرىفىن بن حسن dan 24 lainnya menyukai ini.

Fatimah Zahra: tp bgaimn dgn anak2 lahir yg cacat krn bahan kimia. taruh lah karena faktor keteledoran org tua anak menjadi cacat, knp krn kesalahan orang lain anak yg tdk mengerti apa2 hrs merasakan dampak cacatx?

Sinar Agama: Yah .. hal itu ditanyakan ke orang tuanya atau perusak lingkungannya, jangan ditanyakan kepada Allah.

Sang Pencinta: Apa yg terjadi pada anak, cacat dll adalah ikhtiari orang tuanya, makanya sangat dianjurkan jika seorang pria dan wanita yang akan nikah memeriksakan diri secara medis, gen/kromosom masing2, apakah bertemunya ovum dan mani akan melahirkan anak normal tidak, dan sebagainya.

Sang Pencinta: Sy punya kenalan wanita yg anak pertamanya autis, lalu melahirkan anak kedua, autis juga. Alangkah baiknya ia pas melahirkan anak pertama, periksa ke dokter apakah anak kedua berpotensi autis juga. Jadi nantinya ketika anak kedua lahir, autis, tidak serta merta menisbahkan pada Tuhan dan menyebutnya ini sebagai cobaan..

Nanang Agus Satriawan: Assalamu’alaikum ustadz, mohon ma’af.. Tp menurut sy jawabannya jauh dr keilmuan tasawuf…

Fatimah Zahra: afwan itu jika antum berkenan utk menjawab pertanyaan ana.

Fatimah Zahra: tp sepertix sy bs menarik kesimpulan sendiri deh. anak yg cacat itu bs dikatakan itu di zalimin. krn kecerobohan ortu dan lingkungan mengakibatkan kecacatanx itu. pd hal cacat itu bkn atas perbuatan dia. bkn kah sesuatu yg bkn pd tempatx itu dkatakan tdk adil dan zalim. sbgai bentuk keadilan tuhan pd anak cacat itu, tuhan beri dia bonus2 dlm bentuk yg ustad jelaskan di atas. spt mudah mdptkan ampunan dll nya. seperti itu kah ustad?

Nanang Agus Satriawan: Klo menurut sy, seharusnya yg terlahir cacat lebih bersyukur dr pada yg normal krna dia lebih mudah untuk mengekang hawa nafsu..sbg contoh kecil, yg terlahir buta akan secara otomatis menutup 2 dari 9 lubang masuknya dosa pada diri insan.

Disinilah letak keadilannya. Berbicara tentang kehendak, maka seperti yg pernah sy tanyakan pada grup ini, yg mana hak Allaah dan yg mana hak insan, maka jelaslah bahwa insan hanya berhan untuk “aamiin” atas haknya Allaah… Berarti secara otomatis manusia tidak bisa berkehendak.. yg berkehendak adalah hawa nafsu.. “Tidak ada yg melawan-KU dan keraja’an-Ku kecualu hawa nafsu”.. Adapun kehendak hawa nafsu ini tdk bs terlepas dr “lahaulaa walaa…….” Shingga secara grs besar baik buruknya sesuatu yg terjadi tdk lepas dr izin Allaah.. Dan sesuatu yg tdk dikehendaki tntu tdk akan di izinkan terjadi, maka dia akan kembali pada semua berjalan atas kehendak Allaah… Salaam…

Fatimah Zahra: luar biasa DIA. ternyata DIA memberi begitu byk rahmat pd org cacat. TUHAN pny kasih sayang tambahan bwt mrk yg cacat. afwan nanya sekali lg ustad, bgaimn kedudukan mrk yg idiot ini jika meninggal dunia? apa kah ada siksa kubur nya. dan jika mrk masuk surga apa kah mrk sembuh dr idiotx. anak yg idiot itu ruh nya bagaimana jg jiwa nya. apa kah jiwa nya jg cacat? anak idiot yg lhr dr org kafir bgaimn?

Hidayatul Ilahi: nyimak aja

Sinar Agama: Fathimah: Nah, ….bgt dong yg pintar. Karena kalau kamu membagi emosi tanyamu dg berfikir jg, mk akan lebih memahami masalahnya.

Anak idiot itu, kalau mmg benar2 tdk dpt memahami apa2pun, mk kalau dia anaknya orang muslim, mk i-Allah akan

dihukumi sebagai anak orang muslim yg mati masih kecil yg akan dimasukkan surga tanpa hisab. Tp kalau anaknya orang kafir, kemungkinan besar akan dihukumi sebagai anak kafir yg mati masih kecil. Yaitu akan dikumpulkan di makhsyar dan, sdh tentu diberikan akal sihat, lalu diterangkan ttg kehidupan dan agama serta tanggung jawabnya. Baru setelah itu, mereka ditanya, apakah kalau mereka besar/sihat-akal, akan menaati Allah atau tdk? Mereka akan menjawab, “akan menaati”. Lalu para malaikat menyuruh mereka masuk neraka. Nah, yg masuk neraka, nanti akan otomatis ke surga dan yg tdk masuk, mk akan dimasukkan ke neraka. Kurang lebih demikian.

Sinar Agama: Nanang:

1- Apa yg antum maksud dg tashawwuf?

2- Orang lahir buta, sdh tentu lebih mudah tdk maksiat, tp ia jg lebih sulit melakukan taat, spt membaca dan menuliskan ayat2, hadits2 dan ilmu2 agama serta ilmu2 lainnya. Bgt pula akan lebih s

ulit untuk mengaplikasikan ilmu2 agamanya, spt shalat yg ke kiblat, mensucikan najis, bersuci dg air yg suci dan mutlak, haji, tawaf …. dan, apalagi jihad laga/perang. Dengan ini, mk dpt dikatakan, kalau berlogika spt antum, “Disinilah letak ketidak adilannya”.

3- Antum ini memaksakan iman antum yg antum ambil dari asy’ariah yg mengimani takdir baik buruk dari Tuhan. Karena itu, tdk ada yg berkehendak kecuali Tuhan. Kalau bgt, mk tulisanku ini jg kehendak Tuhan dong? Antum jg tdk bisa mengatakan bhw tulisanku ini kehendak hawa nafsuku, karena ia bukan hawa nafsu karena ia tdk menentang Tuhan yg memberi kehendak kepada kita2. Dan, bahkan saya akan mengatakan bhw yg antum tulis itulah yg hawa nafsu dan menentang Tuhan yg, sdh tentu, menurut antum, sebagai kehendak. Jadi, tulisan saya kehendak Tuhan dan tulisan antum kehendak antum yg menentang Tuhan dan, kalau bgt, mk antum harus mengikuti tulisanku sebagai kehendak Tuhan, karena antum hanya bisa mengamininya saja dlm kebenaran ini.

4- Ketika antum menukil kata2, bhw tdk ada yg bisa melawan kerajaan Tuhan selain hawa nafsu, mk antum sdh mengalahkan Tuhan dlm hal ini. Artinya, Tuhan bisa dikalahkan oleh hawa nafsu. Nah, kalau antum mmg mau meyakini bhw semua kehendak itu milik Allah, mk hawa nafsu ini jg milikNya dunk? Dan kalau antum mengatakan bhw bukan milikNya karena menentangNya, mk selain antum telah mengalahkan kehendak Tuhan dg kehendak manusia yg lemah ini, jg berarti antum telah membagi kehendak manusia itu pada dua kehendak, yaitu kehendak taat dan kehendak menentang. Nah, kalau ada dua kehendak ini, mk mengapa hanya kehendak menentang yg dikatakan kehedak manusia dan kehendak taat itu hanya merupakan peng-amiiiiin-an dari kehendakNya?

5- Kalau kehendak menentang i tu yg kehendak manusia dimana kehendak taat itu hanya berupa amiin-nya manusia, mk berarti manusia tdk berhak masuk surga dungk, karena ketaatannya itu kehendak Allah yg dipaksakan kepada manusia. Nah, kalau taat ini menyebabkan masuk surga, bukankah ini kezhaliman yg nyata? Karena kalau surga itu balasan ketaatan, mk yg masuk tadi, bukan karena taat, tp karena dipertaatkan aliasd dipaksa taat.

Lagi pula, yg di neraka akan protes, mengapa Tuhan tdk memperkehendaki mereka2 untuk taat hingga mengamini kehendakNya itu. Mengapa yg satu dibuat berkehendak taat hingga mengamininya saja, dan ainnya tdk dibuat menghendaki taat itu hingga jg ikutan mengamini kehendakNya?

6- Dengan logika dan pemahaman antum yg kurang terarah ini, mk masih terasa jauh antum ini untuk memahami apa arti Ijin Allah itu. Untuk lebih jelasnya lihatlah di berbagai tulisan alfakir ttg ijinNya terhadap perbuatan baik dan buruk sekalipun tsb. Yakni ijin takwini, bukan tasyri’i.

wassaam.

Nanang Agus Satriawan: Ustadz… Seperti yg sy jelaskan di atas orang buta akan tertutup 2 lubang dosa dan 2 sekaligus lubang pahala.. Jika ini di timbang maka ia akan menjadi tidak ada/tidak tw. Dan hukum bagi seseorang yg tidak tw adalah boleh…. 2. Yg sy nukil tentang perlawanan hawa nafsu itu sy ambil dr AQ, mf lupa ayat dan suratnya, yg jelas itu ayat turun sebagai peringatan untuk Daud Alaihisallaam.. Jelaslah tulisan ustadz ini tdk lepas dr kehendak Tuhan itu sendiri, itupun jika Antum memahami hakikat Tuhan dan insan. Ingatlah kisah iblis yg menyesatkan Adam,… Maka akan timbul pertanya’an “apakah Iblis mau menjadi iblis? Atau iblis hanya menjalankan takdirnya sehingga terbentuk kehidupan sprt sekarang ini.. Dalam kisah syeikh Abdul Qadir Zailani yg sy kutip dr “futuhul Ghaib” beliau bermimpi bertemu dengan syetan dan hendak membunuh syetan itu.. Namun sang setan berkata “apalah dayaku, aku memang tercipta sebagai setan, jikalau Tuhanku telah menentukan takdirku untuk berbuat baik bagaimana aku bisa menolaknya” sambil menangis… Apa yg bs kita simpulkan dr kisah2 di atas, bagi saya semua berjalan sesuai skenario adapun skenario yg berubah itu krna usaha dan doa, usaha terbentuk dr nafsu begitupun do’a krn secara tidak langsung tidak/kurang mensyukuri keada’an skrg ini… Dan semakin orang berusaha makasemakin rentan ia mengikuti nafsunya… Untuk mengimbangi hal itu maka Allaah memberikan beberapa tingkatan nafsu untuk manusia dimana ada diantara nafsu itu yg mengajak kembali pada Allaah… Sallaam

Sinar Agama: Nanang:

1- Antum sdh mulai tdk fokus nih. Yg mengatakan orang buta wajib tahu yg tdk bisa diketahui itu siapa. Orang kita sdg membahas timbangan adil tidaknya sesuai dg kecamata pemahaman antum kok. Antum baca aj itu tulisanku spy antum mengerti, saya disana bahkan mengatakan bisa mendapat pahala, jagi bukan hanya boleh tdk tahu.

2- Yg tdk percaya ayat2 Tuhan itu siapa mas? Yg kita tolak adalah pemahaman antum itu.

3- Pemahaman ayat spt yg antum nukil dari ghazali itu sangat jauh dari ajaran Islam. Mengapa antum tdk mengambil ayat itu sendiri yg mengatakan bhw:

“Siapa yg berbuat kebaikan sebiji atom mk ia akan melihatnya dan barang siapa berbuat keburukan sebiji antom mk ia akan melihatnya”??????!!!!!!!

Mengapa antum tidak mengambil akidah dari Tuhan ini dan antum mengambil akidah dari Asy’ari yg meletakkan takdir baik buruk sebagai butir ke enam??????!!!!!

Kalau antum mengatakan bhw semua sdh ditakdirkan Tuhan spt iblis sebagaimana mimpinya ghazali itu, mk buat apa Tuhan menurunkan agama yg melarang keburukan dan memerintahkan kebaikan dan menyediakan surga-neraka untuk itu???????!!!!!!!

Apakah Tuhan itu tdk ada kerjaan, hingga dari satu sisi menurunkan agama yg memerintahkan manusia berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan (haram/dosa) lalu juga menyediakan surga-neraka, akan tetapi dari sisi yg lain Allah telah menentukan semua nasib manusia ini???????!!!!!!

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad waajjilfarajahum

Nanang Agus Satriawan: Bukan tidak fokus ustadz, krn klo kita ikuti pemahan ustadz tntang cacatnya anak krna orang tuanya maka ini tdk beda jauh dengan dosa turunan yg ada pada ummat kristen.. Maksud penjelasan disana adalah bahwa setiap yg kurang pasti memiliki kelebihan… 2. Sy tdk pernah menganggap peyan gitu kok ustadz.. 3. Menurut ustadz yg mana ajaran islam sesungguhnya? Dosa pahala, surga neraka, cara ibadah, atau hablumminannas? Memang betul itulah yg di ajarkan dalam islam, tp sy rasa tidak ada hukum yg mutlak pada ajaran2 tsbt. Ini di jelaskan oleh hadist “segala sesuatu tergantung niat”, juga diberikan contoh juga dalam AQ “babi yg haram bisa menjadi halal dalam keada’an tertentu”… Disinilah peran akal yg di kuasai hati, bukan akal yg menguasai hati…. Ayat yg antum kutip “siapa yg berbuat ……..” Itu masih samar jika mau di kaji, contohnya akan timbul pernyata’an “baik untuk anda buruk untuk sy”.. Lalu baik yg mana yg di maksud pada ayat itu? Itu adalah baik yg lebih menuju kepada Al-haq…….. Yg manakah itu? Itu yg perlu di musyawarahkan jika perkara itu menyangkut hablumminannas… Dstnya…

Sinar Agama: Nanag:

1- Antum sekarang ini semakin jauh dan benar2 menunjukkan antum tdk fokus. Membahas satu masalah dlm satu dasar, harus tetap dipertahankan sampai tuntas dan ketahuan yg salah dan yg benar, bukan pindah sana sini hingga tdk ketahuan

ujung pangkalnya.

2- Kalau antum maksudkan cacatnya anak dosa turunan, mk orang mati dibacok orang jg dosa turunan. Apa bedanya nyulek mata orang sampai buta dg tdk menjaga kehamilan atau dg adanya polusi kimia hingga membuat anak dlm kandungan menjadi picek/buta?

3- Ketika ada kekurangan dan kelebihan, mk itulah keadilan, tp antum menyebut kelebihannya sebagai ukuran keadilan. Kan sdh jauh menyimpang dari tulisan pertama antum?

4- Yg point ke dua antum itu saya tdk paham, jadi sy tdk bisa menjwb.

5- Ajaran yg sesungguhnya adalah ajaran islam yg dibangun di atas dalil gamblang dan tdk goyah dan tdk rancu dlm memahaminya, yakni memahami ayat2 dan hadits2 shahihnya.

6- Hati itu kalau bahasa Indonesianya adsalah jantung yg memompa darah atau letaknya perasaan. Hati spt ini, jelas harus dikuasai akal. Kok ada orang menjadikan perasaannya sebagai ukuran kebenaran????!!

Tp kalau qalbu dlm bahasa arab, mk artinya memiliki dua arti secara dasar, bukan takwilan, yaitu perasaan dan akal itu sendiri. SAya sdh sering menulis ttg hati ini di fb ini. Rinciannya bisa lihat di catatan yg bersangkutan.

7- Dalammemahami ayat yg ana nukil itu, antum semakin jauh dan tdk fokus. Kalau fokus antum akan mudah memahaminya. Kita sedang bicara takdir baik-buruk antum atau bicara nilai2 kebenaran dan keburukan? Kalau bicara nilai2 dasar kebenaran dan kesalahan, mk silahkan antum tulis di dinding yg ana dan kita bahas disana. Artinya, bukan disini tempatnya. Tp kalau bicara ttg apakah kita sdh ditentukan Tuhan, disinilah tempatnya dan fokusnya. Karena itu, ayat tsb sangat jelas melebihi jelasnya matahari. Karena Allah mengatakan bhw baik buruk dariperbuatanmu itu adsalah perbuatanmu. Yakni ikhtiarmu sendiri. Yakni tdk ditentukan Tuhan, yakni bukan karena ketentuan Tuhan.

Jadi, pembahasan hamblum minannaas dan hablium minallaaah…sama sekali tdk adas hubungan dlm urusan takdir menakdir ini, jadi tdk perlu musyawarah untuk mengimani apakah kita sdh ditentukan Tuhan atau tdk, dan apakah ayat itu membantah atau mendukung dimana jelas membantah keimanan kepada takdir ini. wassalam

Nanang Agus Satriawan: Ana ambil hikmah dr diskusi ini aja deh ustadz, insya’allaah nanti klo ada yg gk jelas sy tanyain… Salaam…..

Sinar Agama: Nanang, ok, tp ingat, hikmah dlm bahasa arab itu adalah yg kuat. Jadi, antum renungi yg mana yg dalilnya kuat. Itu baru hikmah dan itu kalau antum mau cari hikmahnya. Tp kalau hikmah dlm artian Indonesia, mk hal itu sdh merupakan hak antum yg, sdh tentu saya tdk bisa untuk tidak menghargai dan menghormatinya. Kita diskusi di fb ini, bukan untuk menyatukan pandangan karena hal tsb adalah hak masing2. Kita hanya ingin belajar islam secara lebihmenantang dan diuji oleh sejuta umat secara terbuka. Karena hal itu, bagi akal, akan lebih memantapkan keimanan terhadap yg kita tahu. Jadi, antum tdk perlu sungkan bahkan untuk bedebat asal mmg untuk mencari tahu apalagi mencari kebenaran dan, sdh tentu asal tetap dg semangat persaudaraan.

Joko Belodo: ‎@sinar agama :lalu bagaimana dgn orang yg udah bersungguh2 dlm ikhtiarnya tetapi hasilnya nihil spt terkena bencana dsb,ttp sebaliknya ada orang2 yg cenderung berada dalam kelalaian dan kegelapan tetapi dia tetep dapet keberuntungan spt rejeki nomplok dsb….apakah itu rekayasa manusia juga ???

Sinar Agama: Joko:

Bersungguh-sungguh itu bukan sebab keberhasilan, tp salah satunya saja. Karena bisa saja sungguh2, tp kurang profesional dan kurang tepat memilih medan, teman, obyek yg diusahakan …dst. Karena hal itu terjadi, mk biar kesungguhannya tdk ada duanya di muka bumi ini, mk ia akan tetap saja tdk berhasil. Doa dan pertolongan Allah, jg menjadi salah satu sebab dari keberhasilah itu. Bgt pula, gangguan dari ikhtiar2 lingkungan, spt penipu, perampok, koruptor, atau jg kejadian2 alam, jg bisa menjadi sebab bagi sukses dan gagalnya suatu usaha. Dan, semua itu, termasuk dlm wilayah ikhtiar manusia, baik langsung (spt memilih partner) atau tdk langsung (spt memilih tempat tinggal yg rawan gempa/bencana).

Nanang Agus Satriawan: Ustadz@ bagaimana dengan ayat ini “kullaa yushibanaa illaa maakataballaahu lana hua maulaana….” Dan katakankanlah tidak akan terjadi sesuatu apapun melainkan apa yg telah di gariskan kepadaku….”

Nanang Agus Satriawan: Atau bagaimula dengan “laahaulaa walaa….” Dan “innaalillaahi…”, antum masih terpaku dalam maqam Asbab, cobalah masuki maqam Tajrid.

Joko Belodo: @sinar : dlm kehidupan didunia ini terlalu banyak contoh2 bagaimana orang2 profesional yg hancur tetapi sebaliknya orang yg asal2an meraih berbagai keberhasilan hingga sampai2 (mudah2an ini bukan keputus asaan) banyak pakar2 bisnis spt mario teguh,tung desem dll menyarankan jika orang akan terjun kedunia bisnis tdk perlu pintar karena kepintaran seseorang hanya akan memperlambat kemajuan bisnis seseorang (kebanyakkan mikir) ,apalagi kalau kita lihat sejarah bagaimana manusia2 sempurna (para imam) harus terbantai oleh orang2 yg sangat jauh dari profesionalisme,bahkan orang2 hitam ini mengklaim berhasil menguasai 2/3 dunia ,dan kalau kita berpendapat jika Alloh benar2 menyerahkan urusan manusia seluruhnya kpd manusia berarti para imam telah bertindak dzalim karena seperti telah kita ketahui bersama bahwa para imam itu telah mengetahui ihwal kematian mereka semua tetapi para imam tersebut tidak protes atau berusaha mengubah keadaan tentang kematian mereka ,sy berpendapat bahwa dlm kehidupan ini pastinya diperlukan usaha2 manusia tetapi ketetapan Alloh jua-lah (qoho’ dan qodhar) yg akan terjadi,manusia hanya menjalankan fungsinya (fitrah) nya saja,tidaklah aku ciptakan jin & manusia kecuali untuk mengabdi kepadaku,fithrah manusia adalah pengabdian (ibadah) menurut al- qur’an ……..Wallohua’lam………..

Sinar Agama: Nanang: (afwan lambat karena tdk tahu kalau masih diterusin).

1- Kalau antum teliti membaca tulisan2ku itu, mk ayat2 itu sdh jelas mudah dipahami maksudnya. Yg ditulis Allah itu, sdh kita maknai dg makna yg tdk mengkonsekwensikan jabariah

alias semua ditentutakan Tuhan dimana ajaran ini jelas bertentangan dg penurunan ayat2 itu sendiri sebagaimana makalum.

2- Dengan demikian, sdh pula sering saya katakan, sebagaimana jg tertulis dlam kita Qur an, spt di QS: 6: 59, bhw kitab Allah atau yg tertulis itu, adalah ilmu Allah, bukan ketentuanNya sama sekali. Jadi, bukan saya yg terpaku pada asbaab, tapi antum yg tdk memahami ayat2 yg antum nukil itu. Hal itu, karena antum memaknai ayat dg akidah yg antum terima dari pendahulu antum dan tdk dari mencermati Qur an. Lihat ini ayatnya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan disisiNya kunci2 keghaiban, tidak ada yg tahu tentangnya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa2 yg di daratan dan di lautan dan tidak jatuh satu daunpun kecuali Dia mengetahuinya, dan tdk pula satu bijipun di tengah2 kegelapan malamnya bumi dan tdk yg ada biji yg basah atau kering, kecuali ada dlm kitab yg agung (lauhu al-mahfuuzh).

Jadi, apapun yg ditulis Tuhan di lauhu al-mahfuuzh itu adalah ilmuNya atau pengetahuanNya, bukan ketentuannya, terutama yg berkenaan dg nasib manusia. Jadi, antum harus mengelurkan imeg bhw kitabullah itu, atau penulisan kitabullah atau lauhu al-mahfuuzh itu -sebagiannya- adalah sebagai ketentuanNya untuk nasib manusia. Dan harus diganti dg IlmuNya ttg apa2 yg akan dipilih oleh manusia dan yg akan terjadi kepadanya setelah pemilihan2 dan ikhtiar2 itu.

3- Dengan demikian, maka ayat yg antum bawa itu, maksudnya adalah:

“Tidak akan terjadi apapun pada diri kami, kecuali sudah diketahui Allah dlm ilmuNya.”

Jadi, illaa maa kataballaahu lanaa, maknanya: Kecuali sdh diketahui Allah atas apa2 yg akan terjadi kepada kita.

Sedang maksud dari perkataan orang2 shalih atau para nabi itu, yakni dg perkataannya yg dinukil Qur an ini, adalah:

“Kami telah berikhtiar untuk memilih iman dan melakukan amr makruf dan nahi mungkar. Kalau kalian para penentang berikhtiar ingin melakukan pengsurasakan atau memerangi kami dan membunuh kami, mk kami juga tdk gentar. Hal itu, karena kami sdh melakukan apa2 yg diperintah Tuhan dan, Tuhan jg sdh mengetahui apa2 yg kami ikhtiari dan apa2 yg akan kami alami di dunia ini, apakah kami akan mati di tangan kalian dan meraup kesyahidan dan masuk dlm ridhaNya di akhirat, atau kami akan mendapat kemenangan dari kalian. Jadi, tidaklah kami memiliki sedikit saja rasa ragu, gentar dan takut. Karena kami tetalah memilih jalanNya dan Ia-pun selalu mengetahui dan mengawasi kami.”

Inilah kita2 maksud dari perkataan bhw tdk akan terjadi kepada kami apapun kecuali sdh ditullis oleh Allah di kitabNya (lauhu al-mahfuush).

4- Tentang laa haula …. itu, mk apa antum tdk paham juga bhw ia justru sangat berhubungan dg sebab akibat?

Kaidah akal dan filsafat mengatakan bhw sebab yg hakiki itu, akan selalu diperlukan oleh akibatnya selama ia masih ada. Artinya, sebuah akibat, tdk hanya perlu pada sebabnya ketika ia sudah wujud atau ada. Akan tetapi terus memerlukan sebabnya sampai kapanpun selama ia wujud/ada. Orang2 mengira, bhw semacam ayah dan ibu itu adalah sebab kita hingga ketika kita sudah wujud, mk kita sdh terpisah sari mereka. Atau mengira semacam tukang bangungan yg membangu rumah dimana setelah rumahnya selesai, ia tdk perlu lagi kepada tukang itu. Ini semua, jelas merupakan salah mengerti terhadap sebab dan akibat. Karena itu, orang2 spt ini, mengirat bahwa alam semesta ini sdh tdk perlu Tuhan dalam kewujudannya dan hanya perlu kepada pengaturannya. Ini, jelas penafsiran yg menyesatkan dan membawa kepada berbagai kesesatan atau kesalahan lainnya.

SEbab-akibat, kalua ia dlm wujud, mk bukan spt orang tua dan anak, tp seperti mani-ovum dan anak, spt semen-pasir dan bangunan rumah, spt arus listrik dan pijaran lampu listri. Karena itu, walau si anak sudah wujud, si bangunan sdh berdiri dan si lampu terlah berpijar, mk mereka2 itu, tetap memerlukan kepada sebab2nya itu secara hakiki untuk tetap bisa mempertahankan wujudnya. Dan, kita semua tahu, bhw kalau sebabnya itu diputus sedetik saja dari akibatnya, mk akibat tsb tdk mungkin bisa bertahan eksis atau wujud. Inilah pengertian yg benar ttg sebab-akibat.

Nah, ketika kita sdh benar mengerti sebab-akibat itu, mk bagaimanapun kita ini eksis dan wujud, sekuat apapun, sehebat apapun, …dst…. tetap saja memerlukan sebab hakikinya, yaitu Sang Pencipta. Karena itu, tidak ada kekuatan kecuali millik Allah, spt tdk ada pijaran lampu kecuali milik arus listrik (bukan milik lampu secara hakikinya, sekalipun secara lahiriahnya milik lampu), tdk ada bayi kecuali milik mani-ovum, tdk ada rumah kecuali milik semen-pasir-dll-nya dari bagian2 rumah tsb.

Karena itulah saya sdh sering mejelaskan bhw apapun yg ada di alam wujud itu, termasuk perbuatan manusia, adalah makhluk Tuhan jg. Karena akibatnya akibat, akibat pula bagi sebabnya.

Tp ingat, karena stasiun terakhir sebelum munculnya perbuatan manusia itu, adalah akal dan ikhtiar manusia itu sendiri, mk yg akan bertanggung jawab terhadap keberadaan makhluk yg satu ini, yaitu perbuatan manusia itu, adalah manusia itu sendiri. Jadi, Tuhan hanya mewujudkan setelah dipilih manusia dan manusialah yg bertanggung jawab terhadap pilihannya itu.

Karena itu pula sering mengatakn bhw karena penciptaan perbuatan manusia itu melalui ikhtiar manusia itu sendiri, mk selain penggung jawabnya itu adlah manusia itu sendiri, juga, dpt dimengerti bhw penciptaan perbuatan manusia ini, adalah ijin untuk wujud/ada.

Penjelasan akal-gamblang ini, yg tdk dicemari oleh warisan kepercayaan kepada nasib, sangat sangat didukung oleh ayat2 dan riwayat Islam. Salah satu ayat pendukungnya adalah ayat yg antum nukilkan itu, yaitu yg berbunyi:

“laa haula walaa quwwata illaa billaah”, yakni “Tidak ada kekuatan kecuali dg Allah”. Yakni “Tidak ada kebersebaban apapun di alam ini, kecuali dengan kebersebaban Allah”, yakni “Tidak ada apapun di alam ini yg memiliki akibat keberadaan, kecuali kesebaban dirinya itu disebabkan oleh Allah dimana karena ia akibatNya, mk ia selalu bergantung kepadaNya. Dan apapun akibatnya jg merupakan akibatNya pula, karena akibatnya akibat, akibat pula bagi sebabnya.”

Khommar Rudin: Allah humam shalli alla muhammad wa alli muhammad

Sinar Agama: Joko:

1- Antum sdh syi’ah kepada imam2 maksum as, tp akidah antum masih mengambil dari yg ditentang imam maksum as. Para imam maksum itu as, sampai2 memoinkan keAdilan Tuhan menjadi dasar tersendiri terhadap akidah, padahal ia merupakan bagian dari dasar yg pertama, yaitu imam kepada Tuhan dan seluruh sifat2Nya, karena mereka as ingin memberikan pengertian bhw qodho dan qadr yg dipasang oleh asy’ariah itu tdk benar.

2- Qodho dan qadr, sdh tentu ada dlm Islam, akan tetapi tdk menyangkut manusia, dlm arti ditentukan nasibnya. Jadi, kalau qodho dan qodr itu menyangkut manusia, mk maksud ketentuan atau qodho dan qodr disini adalah bhw Tuhan memberikan qodho dan qodarNya kepada manusia untuk menentukan nasibnya sendiri. Jadi, tdk ditentukan Tuhan spt ketika menentukan api itu ditentukan panas dan air itu cair. Tp ditentukan bhw manusia bebas memilih ikhtiarnya sendiri.

3- Untuk itu, ana sangat menganjurkan sering2lah berkunjung ke catatan2ku yg sdh hampir seribu itu (yg di group) atau yg sdh ratusan di jendela catatan yg ada di akunku ini. Carilah disana berbagai penjelasanku ttg akidah syi’ah ttg qodho dan qodr ini. Tentu saja kalau antum mau mencari tahu apa yg diajarkan oleh para imam maksum as yg kami dapatkan dari puluhan tahun belajar di hauzah. Walau semua itu tetap saja tdk jaminan seribu persen, akan tetapi karena tanggung jawab kita adalah mencari dalil yg terkuat, mk saya pikir tdk ada salahnya kalau antum sering mengunjunginya.

4- Antum berdalil dg pengetahuan imam ttg kematiannya dan ketidak menghidarkannya terhadap kematian2 itu. Tp antum kurang lengkap mengartikan pengetahuan para imam as itu hingga antum mengira bhw imam mengejar qodho dan qodrnya. Ini jelas kesalahan yg besar dlm memahami tindakan dan ikhtiar para imam as.

5- Ilmu imam as, mestinya dinukil secara lengkap, bukan hanya mengatakan bhw imam sdh tahu akan mati terbunuh. Tp harus dinukil lengkap, misalnya:

“Imam2 as sdh tahu bhw mereka as, lantaran memilih membela kebenaran yg hakiki dan cinta hakiki kepada Allah secara hakiki, dan juga tahu bhw para penentang meraka itu ada di jalan yg sesat, mk mereka as tahu pula bahwa mereka as akan mati syahid di jalanNya.”

Nah, ini penukilan pengetahuan para imam as yg jauh lebih lengkap dari yg antum nukilkan. Dan penukilan yg lebih lengkap ini, tdk membuat orang salah sangka terhadap pilihan2 para imam as tsb hingga, apalagi sampai2 dikira mengejar qodho dan qodrnya.

Setelah kita menukil dg lebih sempurna, mk dpt dipahami bhw yg diketahui imam as itu, bukan matinya saja, akan tetapi mati syahid di jalan membela agamaNya. Nah, kalau demikian halnya, lalu mengapa harus menghindarinya????????!!!!!!!!!!! BUKANKAH KALAU MENGHINDARI BERARTI MEJADI ORANG YG TDK DIRIDHAI TUHAN KARENA TDK MEMILIH KEBENARAN DAN MEMBELANYA SECARA HAKIKI??????????!!!!!!!!!!!

Dengan demikian, maka: SETELAH MEREKA as TAHU AKAN KEAKAN-SYAHIDAN MEREKA as KARENA BERADA DI JALAN TUHAN DAN MEMBELANYA SECARA HAKIKI HINGGA AKAN MENCAPAI DERAJAT SYAHID, MK KALAU MEREKA ITU IMAM MAKSUM AS, SUDAH SEHARUSNYA MENGEJAR KESYAHIDAN TERSBUT DAN, SUDAH TENTU TIDAK BOLEH MENGHINDARINYA.

6- Tentang fenomena2 itu, mk sudah pula sering saya terangkan, bhw kegigihan berusaha itu bukan jaminan keberhasilan. Karena ikhtiar2 kita itu, bukan satu2nya sebab untuk mencapai keberhasilan. Hal itu, karena masih banyak faktor lainnya, spt kepintaran dlm bidangnya dalam mengenal llingkungan manusia dan alamnya, jg tergantung pada ikhtiar lingkungannya (spt para perampok, koruptor, penipu ..dst), bgt pula tergantung pada kejadian2 alam …dst.

Jadi, pilihan satu orang yg berikhtiar gigih, hanya bersangkutan langsung dg satu sebab keberhasilannya saja, yaitu usaha yg gigih. Tp dlm ikhtiar2 lainnya, blm tentu ia memenuhinya, terlebh yg ikhtiar yg tdk langsung. Ikhtiar2 lanssung lainnya, spt kepandaiannya dlm bidangnya, dlm mengenal dan memilih lingkungannya dll. Ikhtiar2 tidak langsungnya, spt ikhtiar lingkangan manusia dan alamnya.

Mengapa ikhtiar orang lain (lingkungan manusianya) dan kejadian2 alam dimasukkan ke dlaam ikhtiarnya wallau tidak langsung? Hal itu, karena profesional dan tidaknya dalam memilih lingkungan manusia dan alam, juga merupakan ikhtiar manusia itu sendiri, bahkan termasuk dlm memilih pasar dan semacamnya, jadi bukan hanya dlm memilih partner.

Karean itulah, mk kegigihan dan kepandaian, bukan jaminan dari keberhasilan karena ia baru salah satu atau salah dua dari sekian banyak keberhasilan itu.

Kegagalan orang2 yg pandai dan jujur serta apalagi maksum as spt para nabi as dan para imam as, bukan disebabkan kepandaian dan kejujurannya, akan tetapi disebabkan oleh ikhtiar lingkungannya yg memmilih jalan kebodohan dan ketidak jujuran. Karena sekali lagi, semua kepandaian dan kejujuran itu, bukan satu2nya sebab bagi keberhasilan di dunia ini.

Justru semua itu akan menjadi sebab bagi kegagalan mereka manakala lingkungannya memerangi kepandaian dan kejujuran.

Dalam keadaan spt ini, mk orang pandai dan jujur, harus tetap dg jalannya, yakni kepandaian dan kejujurannya dan, sdh tentu sama sekali tidak boleh berubah dan apalagi mengikuti orang yg tdk berpengatahuan dan tdk jujur hanya dg alasan spy sukses di dunia spt bisnis dan meraih jabatannya. Karena kalau mereka merubahnya, mk berarti mereka menjadi tdk pandai dan tdk jujur serta, bisa dikatakan telah menjual akhiratnya dg dunia fananya.

Karena itu, mk pahamilah dg benar apa2 yg diajarkan Islam melalui Nabi saww dan para imam maksum as itu. Smg kita semua selamat dari kekeluran yg nyata dan yg samar, amin. Anjuranku jgn mengikuti orang yg tdk mengerti agama spt Mario Teguh itu, dlm masalah2 agama dan kehidupan..

Nanang Agus Satriawan: Bagai mana dengan hadist ini ustadz “Rasulullaah bersabda; hai Ibnu Mas’ud, tahukah kamu tafsirnya (kalimat Laa haulaa walaa kuwwata illaa billaah)?. Sy Ibnu Mas’ud menjawab “tidak”. Selanjutnya Rasulullah berkata: tidak ada daya (menolak) maksiat, dan tidak ada kekuatan untuk ta’at pada Allaah melainkan dengan pertolongan-Nya jua” kemudian di pukulnya pahaku seraya berkata: “demikian yg diberitahukan Jibril kepadaku” (sirajut-thalibin)

Sinar Agama: Nanang: Kan hadits tsb jelas sekali. Ketika lampu menyala itu hanya karena arus listriknya, mk tdk ada lampu merah, kuning, biru, hijau, coklat, menyala kuat dan menyala remang ….. dst, melalinya karena arus listriknya.

Karena sebab itu selalu mengiringi secara hakiki apa yg dikatakan akibat itu, mk apapun yg dilakukan akibat tsb jg merupakan akibatNya. Itulah mengapa, tdk ada orang maksiat atau taat, kecuali dengan Tuhan/Allah. Karena Dia adalah sebab dari wujudnya manusia dimana manusia merupakan sebab dari perbuatannya sendiri. Dan, sdh dijelaskan di atas, bhw akibatnya akibat, adalah akibat pula bagi sebabnya. Jadi, Tuhan jg merupakan sebab dari perbuatan maksiat atau taatnya manusia itu. Ini dari sisi kewujudan atau penciptaan. Dengan kata lain, Tuhan mencipta perbuatan manusia melalui ikhtiar manusia itu sendiri, persis spt mencipta nabi Adam as dari tanah atau mencipta kita dari mani. Jadi, ikhtiar manusia itu, sebagai perantara kepada makhlukNya yg bernama perbuatan manusia itu, baik taat atau maksiatnya.

Akan tetapi, karena manusia telah diberikan akal dan ikhtiar, tdk seperti tanah dan mani, mk penanggung jawab dari perbuatan manusia itu adalah manusia aitu sendiri.

Kalau blh ana katakan, justru Nabi saww itu dg hadits beliau saww itu, ingin menjelaskan hakikat ini.

Jadi, kata2 dalam kurang antum itu “…(manolak) …” yg disisipkan pada kata2 hadits: …. “tidak ada daya”, …., merupakan penyisipan diri antum sendiri yg diakibatkan kepengikutan antum kepada Asy’ariah yg menerakan takdir baik dan buruk bagi manusia sebagai rukun imamn yg ke enam. Karena itu antum mengartikan tdk ada kekuatan dg makna tdk ada kuasa untuk menolak maksiat dan taat. Lah … kalau ini artinya, mk buat apa Tuhan memerintahkan kita dan melarang kita untuk berbuat sesuatu, yakni mengapa pula Ia menurunkan syariatNya dan memerintahkan kita untuk menaatinya dimana kalau melanggar syariatNya ini akan dimasukkan ke dalam neraka dan kalau taat akan dimasukkan ke dlm surga. Toh semua sdh ditentukan olehNya siapa2 g taat dan siapa2 yg akan maksiat?

Jadi, maksud hadits itu adalah bhw Tuhan itu adalah sumber yg berketerusan spt arus listrik terhadap pijaran lampunya, bagi semua kekuatan manusia, apakah mau digunakan ke arah taat atau maksiat. Sementara penanggung jawabnya adalah manusia itu sendiri karena ia sdh diberi akal dan ikhtiar olehNya dimana pemberian ini juga berkelanjutan dan berkesinambungan spt keberlanjutan arus listrik pada pijaran lampu listriknya itu.

wassalam

selengkapnya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: