Ruh, Jiwa, Penghembusan dan Akal, seri tanya jawab, bag: 2

Febrina Surayya: ‎@Ustadz Sinar Agama: dari awal, saya memang mengira ini akan menjadi pembahasan yg panjang… Tapi, karena sudah memulai, maka perlu diselesaikan (mudah2an bisa selesai)…

Ustadz SA, yg saya pelajari dan pahami ttg QS. 3:190 adalah, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dg siang terdapat tanda2 (kebesaran Allah) bagi orang2 yg berakal”.

Ini saya pahami, hampir sama dg kalimat spt ini,

“istri Ustad SA, membuat kue kesukaan Ustad, dan menyiapkan segala keperluan Ustadz, sebagai tanda /bukti (kesetiaan beliau), untuk Ustadz..

Sedangkan ayat selanjutnya 191, menjelas kan pengertian dari akhir kalimat ayat 190 yaitu pengertian ttg ORANG2 YG BERAKAL…

” (yaitu) orang yg MENGINGAT Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, DAN mereka MEMIKIRKAN tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia2, maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”.

Ini kita ibaratkan bhw, keterangan selanjutnya menjelaskan tentang Ustadz, mengapa Ustad diperlakukan istimewa spt itu.. ? Karena Ustadz adalah orang yg sangat menyayangi istri Ustadz, dalam kondisi apa pun, DAN ustadz selalu memikirkan betapa istri Ustadz telah berusaha membuat kue itu dg sebaik2nya, dan Ustad berkata, ‘duhai istriku, kue ini enak sekali, engkau pandai sekali membuat kue, tetaplah setia menemaniku sampai akhir hayatku”…

Jadi, karena tujuan saya tadi ingin mengambil pengertian ttg ORANG2 YG BERAKAL, maka ayat tsb saya tulis seperlunya saja..

Saya tidak pernah mengatakan kalau saya tidk menggunakan akal..mengapa Ustad berkesimpulan begitu?

Kedua, tentang ‘diri’ atau ‘hati’… Yg saya pahami adalah, diri itu merujuk kepada ‘jiwa’. Jiwa itu bersemayam di dalam ‘hati’. Kenapa di dalam hati? Karena penentu baik buruknya seseorang, terletak dari hatinya, krn di dalamnya terdapat jiwa sbg jati diri seseorang. Bahkan Rasul pernah menjelaskan kedudukan HATI ini, jika hati itu baik, maka baiklah org tersebut, dan jika hatinya jahat, maka jahatlah org tsb..

Apakah Ustad pernah berkata2 di dalam hati? Saya yakin, semua kita pernah. Apakah kita bisa mengatakan/ menyebut/ mengingat Allah di dalam hati? Tentu juga bisa… Dan itu dilaksanakan dg kesadaran penuh akan keAgunganNya..

Ketiga, tentang berfikir.. Jelas itu berbeda dg berakal.. Saya mau tanya Ustad, apakah ANAK KECIL itu bisa berfikir? Tentu bisa, bukan? Buktinya mereka bisa mempelajari segala hal, bisa bermain komputer, bisa membuat keterampilan… Tapi, apakah anak kecil itu bisa disebut berakal? Belum tentu..!

Kembali ke definisi tadi, org berakal= ingat Allah+ berfikir..

Mengapa Fir’aun saya katakan hebat dalam berfikir (dari segi dunia)? Karena dia adalah Raja yg memiliki kekuasaan yg sangat luas, membuat peradaban tinggi yg sampai sekarang masih dapat kita saksikan. Apakah dia itu bodoh? Dari segi dunia, dia sangat hebat, dan tentu itu dicapainya dg menggunakan FIKIRAN nya.

Akan tetapi, krn dia tdk mau tunduk hatinya beriman kpd Allah, maka kehebatannya itu di dalam pandangan Allah tidak bernilai sama sekali..bahkan dia lebih bodoh, lebih buruk daripada binatang, karena dia tidak beriman (QS.8:55).

Kkeempat, saya pernah berdiskusi panjang dengan teman2 Syi’ah, makanya ketika kami mengakhiri diskusi, kesimpulannya spt tadi itu.. Jika Ustad mau menjelaskan kekeliruan pandangan atau kekeliruan kesimpulan saya, dengan senang hati saya akan mempelajarinya..

Satu lagi Ustad, mengapa kita disuruh ingat atau menyebut ALLAH di dalam hati? Itu adalah bukti CINTA… bukankah org yg jatuh cinta sering mengatakan kpd pasangannya, ‘kau selalu di HATI ku…?’

Daris Asgar: Alhamdulillah…saya sangat senang menyimak diskusi ustadz dan ustadzah yang begitu santun dan saling menghargai pendapat satu sama lain…

Sinar Agama: Feberina: Melelahkan juga diskusi kita ini, karena antum tdk fokus pada tulisanku. Dan antumnya sendiri tdk pernah memberikan argumen sedikitpun ttg pendapatmu ttg ayat2 tsb. Jadi, semuanya hanya dakwaan saja dan kalau memberi contoh dg contoh yg sangat jauh. Tp tak apalah, saya akan mengulang yg belum jelas untuk antum.

(1). Antum ini benar2 tdk memahami ayat 190 itu. Karena di ayat itu sdh diterangkan bhw dlm penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam ini TERDAPAT AYAT BAGI YG BERAKAL. Ayat itu apa mbak????? Ayat itu adalah DALIL. Sekarang saya jadi ragu apakah antum yg berdiskusi tafsir ini mengerti bahawa arab atau tdk????!!!! Kalau tdk mengerti bahasa arab, usahana jgn banyak berpendapat, tp banyak2lah bertanya dan ikuti yg berdalil.

Ayat itu adalah dalil wahai ustadzah saudariku. Nah, ketika ayat itu adalah dalil, berarti orang berakal (ulu al-albaab) itu sudah menemukan Tuhan terlebih dahulu dg akalnya. JADI YG DISEBUT BERAKAL OLEH ALLAH ADALAH ORANG2 YG MENGGUNAKAN AKALNYA DALAM MENCARI ALLAH MELALUI DALIL2 YG ADA DI SETIAP ATOM MAKHLUKNYA INI (jagad raya = langit dan bumi serta perubahan malam dan siang).

Jadi, dzikir itu keterangan lanjutan yg biasa disebut dg haal dlm bahasa arabnya. Atau bisa jd menjadi keterangan lanjutan. JADI MENGINGAT DI AYAT 191 ITU ADALAH MENGINGAT YG SDH DIKETAHUINYA ITU, YAITU ALLAH YG SDH DIDAPATKANNYA DG AKAL ARGUMENTASINYA ITU.

Nah, ketika antum mengartikan bhw Berakal di ayat 191 itu adalah yg Ingat Tuhan dan kemudian baru berfikir, mk antum berarti mengatakan bhw antum tidak mengetahuinya dg akal antum. ITULAH YG SAYA KATAKAN DOGMATIS DAN TAKLID DLM KEYAKINAN, HABIS TANPA ANTUM DAPATKAN DAHULU DG DALIL ANTUM SDH MAU MENGINGATNYA, INI KAN JUNGKIR BALIK. BUKANKAH MENGINGAT ITU ADALAH MENGINGAT YG SUDAH DIKETAHUI SETELAH DIDAPATKAN SEBELUMNYA DG DALIL2 AKAL OLEH ORANG YG DISEBUT TUHAN DG BERAKAL ITU?????

(2). Mbak, penentu baik buruk itu adalah akal. Kok bisanya pakai hati. Kalau antum mau pakai bahasa Arab, yaitu yg disebut Quluub atau Qalbun, ia jg memiliki makna akal. Jadi, qalbun dalam bahasa arab itu bisa berarti akal dan bisa berarti perasaan. Nah, perasaan ini, selamanya tdk bisa dijadikan ukuran. Karena ia akan cenderung kepada kebiasaan masing2. Setiap budaya akan cenderung kepada budayanya sendiri2. Karena itulah, Tuhan sering mengatakan “Tidakkah kalian berakal??!” atau “Agar kalian berakal” (QS: 2: 44; dan sktr 23 ayat lainnya yg menggunakan akal). Atau Tuhan mengatakan: “Mereka punya quluub/hati yg tdk bisa memhami.” (7: 179; …….. dll dari sktr 15 ayt yg menggunakan kata ‘hati’).

Nah, di ayat2 spt di atas itu jelas dikatakan bahwa penentu kebenaran itu adalah akal atau hati/qalbun yg bermakna akal, bukan hati yg bermakna perasaan.

SEseorang, setiap diperhadapkan kepada hal baru, baik agama atau madzhab, sdh pasti hati-perasaannya condong kepada yg dimilikinya sebelumnya. Masehi, Yahudi, Budha, Hindu …. dst dari agama2 di dunia ini, kalau orangnya menghadapi agama Islam, sdh pasti hati perasaannya akan cenderung kepada yg dimilikinya itu. Bgt pula bagi orang sunni ketika menghadapi syi’ah yg baru didengarnya. Lah, kalau hati-perasaan ini yg jadi ukuran, mk sdh pasti hancurlah dunia ini dan tdk akan ada gunalah Tuhan menurunkan agamaNya.

Jadi, yg dipakai menentukan kebenaran itu adalah akal atau qalbu yg dlm bahasa arab jg memiliki makna akal.

Antum mau muter kemana saja, silahkan, tp Allah sendiri di ayat yg antum bawakan itu, yaitu ayat 190, mengatakan “Orang2 Berakal”, bukan orang berhati. Nah, disini Tuhan, yakni di ayat ini, mengatakan bhw penentu kebenaran MENCARI TUHAN itu adalah AKAL.

Antum mau kemana saja, yakni mau mendahulukan ayat 191 dari ayat 190, mk tetap hasil dari “ingat” itu adalah mengingat Tuhan yg di akal. Karena Allah sendiri mengatakan “Orang2 berakal”. Jadi, mengingat Tuhan di ayat 191, itu sdh pasti yg ada di akalnya. Kok ustadzah memaknai mengingat Tuhan dg HATI itu dari mana????!!!

Untuk ustadzah ini lahir sebagai muslim, hingga bisa menerima yg tdk masuk akal ini, yaitu pengajaran yg mengatakan bhw kalau mau berakal ttg Tuhan itu adalah ingat Tuhan dan berfikir ttg alam. Coba ustzdzah ini dilahirkan sebagai orang indian di gunung2 itu, atau dilahirkan sebagai kafir, mk selamanya tdk bisa menjadi orang berakal. Karena, apa yg mau diingatnya ttg Allah, wong blm tahu kebenaran Allah kok.

(3). Berfikir itu adalah akal. Tp akal itu ada dua, yaitu akal-pahaman dan akal-aplikatif. Akal yg sempurna adalah yg mengerti spt racun itu mematikan dan mengerti bhw racun itu jangan diminum. Nah, mengerti racun itu mematikan itu adalah akal-pahaman dan menyuruh bhw racun itu jgn diminum adalah akal-aplikasi. Sdh tentu tdk akan dikatakan orang berakal manakala seseorang hanya mengerti bhw racun itu mematikan, tp ia menenggaknya dg riang gembira. Karena itu, ia akan dikatakan gila atau tdk normal. Jadi bukan tdk tunduk pada hatinya, tp tdk tunduk pada akal aplikatifnya, yakni akal-‘amaliahnya.

Orang2 berakal di ayat itu adalah orang2 yg menggunakan akalnya menemukan Tuhan dan mengimaniNya serta selalu mengingatNya dan terus berfikir ttg keajaiban ciptaanNya untuk menaikkan makrifah dan takwanya. Karena itulah Tuhan mengatakan bhw di alam ini terdapat dalil2/ayat2 ttg keberadaan dan kebenaran Allah bagi orang2 yg berakal. Artinya, yg menggunakan akalnya dan konsekwensi pada akal-‘amaliahnya. Bukan tahu tp melanggarnya. Kata “nya” pada melanggarnya ini, adalah akal mbak, buka hati. Orang Tuhan lagi bahas akal, kok mbak ini lari ke hati. Saya tahu, karena itu yg diajarkan kepada mbak. Karenanya kecenderungannya memakai hati walau, di tempat2 yg jelas2 Tuhan mengatakan akal dan mengingat yg di akal.

(4). Mbak yg baik dan ustadzah saudariku, antum mau memfilsafatkan hati, itu ma … terserah saja. Karena hati perasaan ini jg memiliki posisi yg tinggi di Islam. SAya sdh sering mengatakannya bhw hati yg baik adalah hati yg tunduk kepada akal. Cinta dan bencinya … dstdari sifat2nya sdh tunduk pada akal. Baru hatinya menjadi suci darisombong,riya, ego, … dst.

Tp itu masalah lain yg jangan sampai tercampur di ayat ini. Karena ayat ini jelas2 Tuhan memuji orang2 berakal. Jadi yg diingat itu adalah yg di akalnya, bukan di hatinya, karena Tuhan tdk menyebut hati sama sekali di sini dan hanya menyebut akal.

Jadi, ingat disini adalah dg akal dan apa2 yg ada di akal.

Tentang mengingat dg hati, mk hati sdh pasti akan ingat lawan jenis kalau syahwat, akan ingat makanan kalau lapar, akan ingat perlindungan kalau dlm bahaya …. dst. Semua ini tdk akan ada fadhilahnya sama sekali, kalau blm diarahkan oleh akalnya yg mana dg akal itu seseorang menerima Tuhan, agama dan madzhab.

Jadi, kalau hati perasaannya ingat makanan di siang Ramadhan, mk akal harus mencegah kecengennya dan menghentikan gangguannya dan meredam tangisnya di dalam hatinya itu hingga nanti kalau sdh malam baru bisa makan. Bgt seterusnya dari apa2 yg dirasakan oleh manusia dg hatinya.

Kalau hati perasaan ini sdh bgt tunduknya pada akalnya yg telah menemukan Tuhan, agama dan madzhabnya, mk hati-perasaan ini jg akan menjadi jernih dan apa2 yg dirasakannya KADANG, bisa menjadi alat menemukan kebenaran. Akan tetapi, tetap saja tdk bisa dijadikan dalil kebenaran sebelum lolos dari petimbangan akalnya. Jadi, apapun kasyaf yg diterima seseorang dari hatinya, baik langsung atau lewat mimpi, tetap harus disaring dulu dg akal-pahamannya.

Jadi ukuran kebenaran itu adalah akal-pahaman, lalu ukuran ketakwaan itu adalah akal-aplikatif, baru setelah itu, kalau hati-perasaan ini menaati akal-pahaman dan akal-aplikatifnya sebegitu hebat, mk ia jg akan mendapatkan cahaya dari Tuhannya yg telah ditemukan oleh akal-pahaman dan yg telah ditaati oleh akal-aplikatifnya itu.

wassalam.

Om Budiono: Memang Menertibkan otak kita. Menjadi lebih gamblang dlm memahami teks2 suci.Artinya apa yg dimau i teks itu sistematikanya menjdi tertib tdk kebolak balik,, sekedar ikut berbagi

Daris Asgar: Salam Ustadzah Febrina Surayya…maaf sebelumnya …saya ingin bertanyaa juga ustadzah,,,

dengan perumusan ustadzah bahwa “Berakal= Dzikir + berfikir “

kemudian menganalogikan fira’un tdk berakal karena hanya memenuhi syarat berfikir dan tidak Dzikir…

sehingga dikatakan tidak berakal.

yang menjadi pertanyaannya …jika Firaun berfikir tetapi tidak berakal….

maka dengan apakah firaun berfikir kalau tidak berakal? terimakasih ustadzah febrina,,,

Sattya Rizky: Ramadhan Ijin menyimak diskusi yang menyenangkan ini…

Febrina Surayya: ‎@Ustad SA: jadi, dari yg Ustad jelaskan tadi, saya simpulkan, bhw menurut Ustad, AKAL itu ada beberapa macam, yaitu: akal pemahaman, akal perasaan, akal aplikatif dan akal argumentatif..

Tampaknya, kerangka dan konsep ini yg perlu kita cari titik temunya…

Ustad, bgm kalau ‘akal perasaan’ dan ‘akal pemahaman’ itu saya samakan dg istilah ‘HATI’…?

Dan bgm juga kalau ‘akal aplikatif’ dan ‘akal argumentatif’ itu saya istilahkan dg ‘FIKIRAN’…?

Kalau saya bilang, “sa’i antara HATI dan FIKIRAN, itulah yg disebut dg Ulil Albaab/ org yg BERAKAL secara paripurna”.. Bgm menurut Ustad?

Ustad, tentang kecendrungan manusia pada keyakinan sebelumnya, terus bgm dg yg namanya ‘fitrah manusia’…?

Agama Allah, adalah agama yg sesuai dg fitrah… Betapa banyak manusia yg benar2 mencari Tuhan, akhirnya masuk Islam.

Betapa banyak juga diantara kita yg mempelajari agama2 lain, tapi semakin dipelajari justru semakin memperkuat keyakinan kpd agama kita sendiri? Jika Alqur’an kita pahami dg BENAR, maka apa pun yg kita pelajari ttg agama2 selain Islam, tdk akan menggoyahkan keimanan kpd Allah. Karena AQ itu sangat sesuai dg fitrah, bagaikan anak hilang (fitrah manusia) yg bertemu dg ibu kandungnya (AQ)…

Kembali tentang HATI, Ustadz..

Bgm Ustad menafsirkan QS. 26 ayat 192-194..? Bahwa AQ benar2 diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yg dibawa turun oleh jibril, ke dalam HATI mu (Muhammad), agar engkau termasuk org2 yg memberi peringatan”..

Kemudian masih tentang HATI, dalam QS. 7:205, “dan sebutlah/ ingatlah/ katakanlah nama Tuhanmu di dalam HATI/ DIRI mu….”

Bgm kalau kita artikan HATI/DIRI itu sbg ‘akal perasaan’..? Karena sambungannya adalah, …dg merendahkan diri dan RASA takut…

Alasan yg lain adalah, bhw Agama itu pada hakekatnya adalah tentang RASA BERTUHAN… Jika tidak ada rasa bertuhan/ rasa takut kepada Tuhan, pd hakekatnya org tsb tidaklah beragama.

Tentang DOGMA, jika itu Ustad artikan sbg pemahaman tanpa dalil dan pemikiran, sepertinya itu bukan kondisi saya, Ustad…

Karena, metode yg kami laksanakan adalah, guru saya mengajak mentadabburi ayat2 Alqur’an. Kami pegang kitab, guru saya juga pegang kitab..kemudian dibedah ayat itu, dikaitkan dg ayat2 yg lain. Dalil apakah yg lebih kuat selain dalil dari ayat2 Alqur’an? Bahkan dalil ‘akli pun seharusnya tunduk dg dalil naqli tsb, bukan..?

Dan istilah TAKLID pun juga sepertinya tidak tepat, Ustad… kalau itu diartikan sbg tunduk secara ‘membabi buta’…

Karena yg terjadi itu adalah, adanya sa’i antara hati dg fikiran, yg tentu sa’i tsb dimulai dari hati terlebih dahulu..

Vito Balataw: Salam, Maaf ustadzah febrina, apa yang saya pahami dari penjelasan ustad sinar agama adalah :

1. Quluub atau Qalbun artinya HATI, namun Quluub atau Qalbun dapat mempunyai dua makna yaitu :

a. Hati Bermakna AKAL

Tempat hati yang bermakna akal ini, di ruh-daya-akal

b. Hati Bermakna PERASAAN

Sedang tempat hati yang bermakna perasaan adalah di ruh-daya rasa/perasaan.

2. Quluub atau Qalbun yang artinya Hati yang bermakna akal adalah tempat berfikir, yakni untuk memahami sesuatu dan mengambil sikap terhadap sesuatu, dan hati yang bermakna mempunyai dua jenis :

a. Akal-pahaman

Memahami sesuatu dikatakan akal-nazhari atau akal-pahaman.

b. Akal-aplikatif

Sedang mengambil tindakan, yakni yang baik harus dilakukan dan yang buruk harus ditinggalkan, dikatakan sebagai akal-‘amali atau akal-aplikatif.

c. Akal yang sempurna adalah berkesesuaiannya/seiring jalan/nyambungnya antara akal pamahan dan akal aplikatif

3. Sedang Hati yang bermakna rasa dan persaan ini, yaitu yang bertempat di ruh-daya-rasa/persaan, bertugas untuk mengendalikan rasa dan perasaannya. Yaitu tempat cinta, benci, rindu, malas, takut, berani dan sebagainya

4. Tugas Hati yang bermakna akal ini, adalah mengotrol semua daya-daya ruh yang ada, dan bahkan badaniahnya sekalipun. Karena itu, akal Nazhari dan Aplikatif ini, harus mengontrol, ruh-daya-tambang, ruh-daya-nabati, ruh-daya-rasa/perasaan.

‎5. Untuk diskusi antum dengan ustad sinar agama tentang surat 3 ayat 190-191 adalah Hati yang bermakna Akal.

6. Jadi tulisan antum “Ustad, bgm kalau ‘akal perasaan’ dan ‘akal pemahaman’ itu saya samakan dg istilah ‘HATI’…?” itu tidak tepat, karena berbeda makna.

7. Tulisan Antum “Dan bgm juga kalau ‘akal aplikatif’ dan ‘akal argumentatif’ itu saya istilahkan dg ‘FIKIRAN’…?” itu juga tidak tepat, karena akal sempurna = Akal argumentatif/pahaman + akal Aplikatif

8. Untuk selanjutnya mungkin ustad sinar agama yang akan menjelaskan lebih gamblang dan lebih detil, mohon maaf jika ada yang salah, wassalam

maaf ada yang terlewatkan

Tulisan antum “Alasan yg lain adalah, bhw Agama itu pada hakekatnya adalah tentang RASA BERTUHAN… Jika tidak ada rasa bertuhan/ rasa takut kepada Tuhan, pd hakekatnya org tsb tidaklah beragama.”

Sebenarnya sudah dijawab oleh ustad sinar agama pada point no 4 tentang filsafat Hati, ini aku nukilkan jawaban Beliau :

SAya sdh sering mengatakannya bhw hati yg baik adalah hati yg tunduk kepada akal. Cinta dan bencinya … dstdari sifat2nya sdh tunduk pada akal. Baru hatinya menjadi suci darisombong,riya, ego, … dst.

Tp itu masalah lain yg jangan sampai tercampur di ayat ini. Karena ayat ini jelas2 Tuhan memuji orang2 berakal. Jadi yg diingat itu adalah yg di akalnya, bukan di hatinya, karena Tuhan tdk menyebut hati sama sekali di sini dan hanya menyebut akal.

Jadi, ingat disini adalah dg akal dan apa2 yg ada di akal.

Tentang mengingat dg hati, mk hati sdh pasti akan ingat lawan jenis kalau syahwat, akan ingat makanan kalau lapar, akan ingat perlindungan kalau dlm bahaya …. dst. Semua ini tdk akan ada fadhilahnya sama sekali, kalau blm diarahkan oleh akalnya yg mana dg akal itu seseorang menerima Tuhan, agama dan madzhab.

Jadi, kalau hati perasaannya ingat makanan di siang Ramadhan, mk akal harus mencegah kecengennya dan menghentikan gangguannya dan meredam tangisnya di dalam hatinya itu hingga nanti kalau sdh malam baru bisa makan. Bgt seterusnya dari apa2 yg dirasakan oleh manusia dg hatinya.

Kalau hati perasaan ini sdh bgt tunduknya pada akalnya yg telah menemukan Tuhan, agama dan madzhabnya, mk hati-perasaan ini jg akan menjadi jernih dan apa2 yg dirasakannya KADANG, bisa menjadi alat menemukan kebenaran. Akan tetapi, tetap saja tdk bisa dijadikan dalil kebenaran sebelum lolos dari petimbangan akalnya. Jadi, apapun kasyaf yg diterima seseorang dari hatinya, baik langsung atau lewat mimpi, tetap harus disaring dulu dg akal-pahamannya.

Jadi ukuran kebenaran itu adalah akal-pahaman, lalu ukuran ketakwaan itu adalah akal-aplikatif, baru setelah itu, kalau hati-perasaan ini menaati akal-pahaman dan akal-aplikatifnya sebegitu hebat, mk ia jg akan mendapatkan cahaya dari Tuhannya yg telah ditemukan oleh akal-pahaman dan yg telah ditaati oleh akal-aplikatifnya itu.

Tulisan antum :

“Karena, metode yg kami laksanakan adalah, guru saya mengajak mentadabburi ayat2 Alqur’an. Kami pegang kitab, guru saya juga pegang kitab..kemudian dibedah ayat itu, dikaitkan dg ayat2 yg lain. Dalil apakah yg lebih kuat selain dalil dari ayat2 Alqur’an? Bahkan dalil ‘akli pun seharusnya tunduk dg dalil naqli tsb, bukan..?”

Pertanyaannya :

Alat apa yang antum pakai untuk mentadabburi ayat2 Alqur’an, kemudian dibedahnya ayat itu, lalu dikaitkannya ayat satu dengan ayat lainnya itu ? apa antum pakai hati yang bermakna perasaan atau pakai hati yang bermakna Akal, dimana akal tersebut adalah akal pahaman?

Tulisan Antum :

Dalil apakah yg lebih kuat selain dalil dari ayat2 Alqur’an? Bahkan dalil ‘akli pun seharusnya tunduk dg dalil naqli tsb, bukan..?”

Inipun sudah dijelaskan dan dijabarkan oleh ustad sinar agama pada awal-awal diskusi, ini aku nukilkan tulisan beliau :

” bhw bagaimanapun kita mengatasnamakan Qur an, mk jelas ia adalah Qur an yg dipahami oleh kita. Sementara alat pemaham tsb adalah akal. Karena itu, akal, walau sdh pasti bukan lawan Qur an, akan tetapi ia adalah ALAT SATU2NYA memahami Qur an. Penafsiran ayat dg ayat atau ayat dg haditspun, semuanya tergantung kepada apa yg dipahami akal terhadap ayat2 dan hadits2 tsb. Jadi, semuanya serba ditentukan oleh akal. Ingat, bukan akal mau didahulukan, tp dlm memahami apapun harus dg akal.

Karena itulah, mk tdk ada muslim di dunia ini, kecuali wahabi tentunya, yg mengatakan bhw ayat yg kupahami seperti ini adalah pasti yg dimaksudkan Tuhan. Karena itu, hanya Nabi saww dan para imam Maksum as yg layak berkata spt itu, karena mereka adlaah pengemban dan penjaga Qur an yg dikumandangkan maksum oleh Allah sendiri (QS: 33:33).

Kita tahu bhw tdk ada muslimin yg tdk pakai Qur an dan hadits, tp perbedaan yg ada di antara muslimin itu, seakan lebih banyak dari jumlah mereka sendiri. Perbedaan yg ditulis itu kan hanya perbedaan ulamanya dan hanya sedikit pula yg terangkat menjadi kitab. Tp kalau mau yg sesungguhnya mk dlm satu keluarga saja, perbedaannya bisa lebih banyak dari anggota keluarganya dlm menghadapi dan memahami setiap ayat dan riwayat Nabi saww. Padalah semuanya berasalan Qur an dan Sunnah.

Nah, semua inilah yg menunjukkan bhw pemahaman keduanya (Qur an-Hadits) tergantung kepada akal.”

Sinar Agama: TERharu melihat muridku Vesto yg dg manis dan tepat memahami, menyimpulkan jalannya diskusi ini. Sungguh nih, ketika aku mau buka fb, hatiku menjadi deg-degan. Karena khawatir harus mengulang beberapa kali dan beberapa kali. Sampai2 kemarin tdk sempat dan terlupakan menuliskan Slamat Hari Ulang Tahun Kelahiran Imam Mahdi as, karena mmg jg buru2 ke luar kota untuk isi acara tsb.

Ustadzah Febrina ini, bagaimanapun harus diperhatikan dan dihormati serta dilayani dg penuh ikhlash, walau mengulang beberapa kali. Karena beliau hf, adalah orang baik dan bahkan mungkin bisa dikatakan sangat baik (smg Tuhan menjaganya), bgt juga orang yg tdk bertendensi apa2 dlm niatnya, kecuali hanya dan hanya mencari kebenaran.

Akan tetapi, karena alam kita Indonesia yg biasanya sdh lama menelan akal dan sdh menjadikan diri sebagai nabi2 baru, dimana yg dipahaminya ttg ayat dan riwayat, tdk lagi dikatakan sebagai akalnya yg memahami ayat dan hadits, tp bahkan dikatakan ayat dan riwayat itu sendiri, mk mmg akan menjadi super sulit mengembalikan kesalahan ini kepada jalannya yg benar. Bayangin saja, dimana ada nabi merasa ragu pada pemahamannya sendiri ttg ayat yg diwahyukan pada dirinya? Nah, kalau Nabi saww, jelas kebenarannya karena dibimbing Allah untuk memahmi ayat2 yg diturunkan kepada akalnya (hatinya). Karena ayat2 itu untuk dipahami, bukan untuk dirasakan. Tp kalau manusia spt kita yg tdk ada hubungan khusus dg penurun ayat tsb, mk bagaimana mungkin mengatakan bhw yg ada di pahaman kita itu adalah ayat itu sendiri?

Akan tetapi, aku lihat mas Vito sdh benar memahami semua penjelasan mengenai hal yg alfakir tulis dan sdh benar jg memahmi tulisan ustadzah Febrina, lalu benar pula memposisikan mana tulisan yg saling terkait dan yg sdh dijawab. Karena itu, hal ini sangat membahagiakanku karena bisa membantuku untuk mengulang tulisanku yg sesuai dg tulisan baru ustadzah Febrina, karena mmg sdh masuk ke dalam pengulangan yg ke tiga. SAya tentu akan menulis dan menjawabnya sendiri, kalau ada hal yg baru. Tp sejauh ini, benar2 tdk ada yg baru yg belum terjawab. Jadi, anjuranku kepaad ustadzah, coba lepas dulu baju2 kebiasaan sebelumnya. Kosongkan pikiran dan munajat pada Allah meminta petunjuknya, lalu baca sekali lagi atau lebih diskusi kita ini dg cermat,tanpa kemerasa benaran terlebih dahulu. Dan jgn melihat gurunya yg mmg wajib dihormati itu,sebagai nabi2 yg baru dulu. Posisikan beliau hf (hafizhahullah), spt kita2 yg sangat bisa keliru.

SAtu lagi anjuranku, bhw kalau membahas ayat, jgn segampang itu keluar dari teks aslinya dan menggantinya dg istilah2 tersendiri. Misalnya, di ayat yg kita bahas itu, sama sekali tdk menyebut hati, yg disebut hanya akal dan mengingat. Nah, ketika menyebut akal dan mengingat, mk jangan semudah itu merubah akal dg hati hingga yg diingat adalah yg di hati.

Bgt pula, jgn semudah itu memahami dan merubah makna tulisanku ttg dogma. Harus berapa kali aku berdalil bhw kalau antum mengingat tanpa tahu dg pikiran terlebih dahulu (karena antum memposisikan dzikir Allah itu sebelum berfikir), mk yg antum ingat itu berarti dektean dan taklid. Orang antum mengatakan berfikirnya itu setelah ingat Tuhan kok. Jadi Tuhan yg diingat itu jelas dektean dan taklid. Tdk lewat akal dan pikiran. Karena bagi antum berfikir atau berakal, yakni ingat Tuhan dulu. Untung antum bukan orang kafir. Karena kalau orang kafir yg menyembah berhala, mk yg antum ingat mk berhala2 itu, baru berfikir ttg alam jagad ini.

SAya tdk akan membahas ayat2 baru itu (turunnya ayat ke hati) karena pasti akan membuat panjang lagi cerita kita. Wong yg satu saja blm dipahami dg baik, apalagi ayat2 lainnya. Saya tdk perduli antum itu sepaham dg saya atau tdk. Tp tlg pahami maksud tulisan2ku yg sebagiannya sdh diringkas oleh mas Vito itu. Tolonggg deh pahami dan baru setelah disanggah dan ditolak, kalau mau disanggah dan ditolak.

Tp untuk sekedar isyarat, mk wahyu itu, diturunkan untuk dipahami maknanya spy diamalkan dan dengannya manusia menjadi insan yg sempurna. Jadi, ia turun pada qalbu yg bermakna akal, bukan qalbu yg bermakna hati. Karena itu, ketika pertama kali wahyu turun, malaikat Jibril as berhadap-hadapan dg Nabi saww dan berbincang:

Jibril as: “Bacalah”

Nabi saww: “Aku bukan yg bisa membaca tulisan.”

Jibril as: “Bacalah dg nama Tuhanmu………”

Qalbun itu jg bisa bermakna ruh atau jiwa manusia, karena Qalbun jg memiliki arti yg berubah-rubah. Karena itulah, para panafsir tdk ada yg tdk memahami bhw ayat2 Tuhan itu untuk dipahami. Thabari sendiri (dari sunni) dlm tafsirnya mengatakan:

وقوله( عَلَى قَلْبِكَ ) يقول: نزل به الروح الأمين فتلاه عليك يا محمد، حتى وعيته بقلبك

Dan tentang firmanNya (ke atas hatimu), ia -Dhahhaa;- berkata: Turun padanya -Nabi saww- ruh yg amanat -Jibril as- lalu membacakan kepadamu wahai Muhammad, HINGGA ENGKAU MENGERTI DG QALBUMU.”

Lihat jg tafsir Fakhru al-Raazii yg jg masih sunni yg mengatkaan:

{ على قَلْبِكَ } أي ( حفظكه و ) فهمك إياه وأثبته في قلبك إثبات ما لا ينسى

(Ke atas hatimu) yakni (ke hafalanmu) pahamanmu terhadapnya -Qur an- dan menetapkannya di hatimu dg penetapan yg tdk bisa terlupakan.

Catatan: Bagi Rakhru al-Raazii mengurung “hafalanmu” karena ia hanya ingin menukil hafalan itu dari Kasysyaaf, tp bagi dia, “Hati” yakni “pahaman” sj yg lebih tepat baru setelah itu ditetapkan spy tdk dilupakan oleh kanjeng Nabi saww.

TAfsiir Kasysyaaf jg mengatakan spt itu:

{ على قَلْبِكَ } أي حفظكه و فهمك إياه وأثبته في قلبك إثبات ما لا ينسى

(Ke atas hatimu) yakni hafalanmu dan pehamanmu terhadapnya dan menetapkannya dalam hatimu dg penetapan yg tdk bisa terlupakan.”

Dengan penjelasan di atas itu jelas, bhw ayat2 itu diturunkan untuk dipahami dg akal (qalbu-akal), bukan qalbu-perasaan. Jadi, ayat2 itu diturunkan untuk dipahami dan dihafal serta diingat. Tentu saja, ingat ini adalah dg hati-akal, bukan dg hati-rasa/perasaan. Jadi, dipahami dg akal beliau saww terlebih dahulu baru ditetapkan di akal beliau saww spy tdk terlupakan. Jadi, jelas sekali hati ini maknanya adalah akal.

Jadi, penafsiran Hati, sebagai perasaan, benar2 telah mengeluarkan seseorang dari fitrahnya dlm memhami sejarah turunnya wahyu. Karena sebegitu seringnya turunnya wahyu itu dg bentuk dialog berhadapan dg Jibril as, atau kadang menjelma menjadi manusia yg tanpan, kadang Nabi saww melihatnya dg bentuk aslinya. Lagi pula, sekali lagi, ayat itu diturunkan untuk dipahami karena adalah petunjuk, bukan untuk dirasakan sekalipun hati bisa merasakannya, spt nikmat, sejuk batin, tentram … dst.

Pintaku untuk antum ya ustadzah Febrina, jgn masuk dulu ke dalam hal2 ini karena ia jauh dari jangkauan antum yg biasa memaknai ayat dg rasa tanpa dalil. Dalil2 antum itu, semua dg rasa yg disandarkan ke ayat2 Tuhan.

Jadi,fokus saja pada ayat 190-191 sebelumnya itu sebelum menjalar kemana-mana. REnungkanlah berkali-kali, bhw antum dan saya ini sekarang disukusi pakai apa? Kalau antum pakai akal, lalu mengapa tdk keluar dari perasaan hingga antum terus saja memaksakannya pada ayat akal itu (190) dg mengingat yg di hati. Kalau antum, pakai hati (diskusinya ini), jadi antum benar2 tdk bisa memahami perakataan ana dan perkataan antum sendiri dan, hanya dan hanya, merasakannya. Lah … bagaimana kita bisa saling paham, kalau antum tdk berusaha memhaminya dan hanya merasakannya? Kalau antum mengatakan pakai pahaman karena kita berdialog ini untuk saling memahamkan, mk berarti antum sendiri sdh keluar dari konsep antum sendiri yg harus ingat-hati dulu sebelum berfikir dg akal.

Hanya mengulangi, bhw jawaban Vito itu sdh menjadi jawabanku, jd tlg dibaca dg baik sebagaimana membaca tulisanku.

SEkali lagi, bagi alfakir tdk penting sama pandangan atau tdk, yg penting adalah paham maksud yg kutulis, lalu kalau ingin membantahnya adalah setelah memahaminya dan, sdh tentu, kurangilah mengulang dakwaan yg tanpa dalil. Berdalillah dg dalil, jgn berdalil terhadap satu dakwaan dg dakwaan yg lain, atau satu pernyataan dg pernyataan yg lain.

18 menit yang lalu · Suka

Febrina Surayya: ‎@Ustad SA dan teman2: Terima kasih semuanya.. yg telah menanggapi keberbedaan saya dg sikap yg baik sekali…

Mungkin titik pangkal kita yg berbeda, sehingga memang sulit mencapai titik temu..

Yg saya pahami dari tulisan Ustad SA dan Vito adalah, bhw akal itu ada bermacam2.. Tapi, saya ada satu pertanyaan, jika ada seorang ilmuwan, contohnya Albert Einstein…, org kafir atau penyembah berhala, apakah mereka bisa disebut ‘berakal’?

Daris Asgar: Salam Ustadzah febrina…saya ingin ikut menjawab walau sebatas pendapat….

para ilmuwan menurut saya jelas berakal,,,tetapi hanya dalam bidang keilmuan keduniaan terkhusus dalam bidang para ilmuwan itu masing-masing…

oh ya mengenai akal,,,sepemahaman saya biar kalau salahdapat dikoreksi oleh Ustadz,ustadzah atau yang lainnya,,,

akal itu ada dua,,,yaitu akal pahaman dan akal aplikatif…

dan hati harus ada di bawah akal…karena akalah yang merupakan anugeran Allah Swt untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan..

sehingga ketika akal pahaman dan akal aplikatif ini dilaksanakan secara sempurna,,,hati(perasaan) juga akan menjadi objek yang akan diarahkannya,,,

sehingga ketika akal mengatakan harus Taqwa, Dzikir,tidak sombong dsb…maka hati ini menjadi alat pendekat kepada Allah Swt…

mohon dikoreksi..terimakasih

Febrina Surayya: apakah ilmuwan tsb bisa disebut ‘ulil albaab’..?

Vito Balataw: Salam Ustadzah Febrina, semoga antum selalu dalam Allah swt, dan juga semoga Allah swt membukakan pintu-pintu Hikmah dan Maknawi-NYA bagi kita semua. Amiin

Maaf Ustadzah, Dalam penjelasan ustad sinar agama sebelumnya, beliau hanya membagi hati yang bermakna akal itu hanya dua jenis, yaitu Akal Pahaman/argumentatif dan Akal Amalia/Aplikatif

Terkait Pertanyaan antum :

“saya ada satu pertanyaan, jika ada seorang ilmuwan, contohnya Albert Einstein…, org kafir atau penyembah berhala, apakah mereka bisa disebut ‘berakal’?”

Sekali lagi Ustad sinar agama sudah menjelaskan dengan gamblang apa artinya “Berakal” itu, ini aku nukilkan lagi tulisan beliau :

“Catatan:

Karena akal itu adalah akal-pahaman dan aplikatif, mk yg dimaksud orang berakal sdh tentu yg memahami sesuatu dg benar dengan akalnya dan mengaplikasikan jg dg akalnya. Karena bukanlah disebut orang berakal kalau hanya tahu bhw racun itu berbahaya akan tetapi ia meminumnya. Jadi, akal yg memberdakan dari binatang ini, harus sempurna sebagaimana sdh sering dijelaskan di fb ini. Yaitu dengan menyempurnakan akal-pahaman dg dalil2 akal-gamblang, dan dg menyermpurnakan akal-aplikasi dg mengamalkan ilmunya tsb.”

Jika Maksud antum “berakal” itu dikaitkan pada ayat 3 :190 yaitu orang berakal (ulu al-albaab), maka sekali lagi ustad sinar agamapun telah menjabarkannya dengan detil, ini aku nukilkan lagi tulisan beliau :

“Ke lima: Di ayat 190 itu jelas dikatakan oleh Allah bhw yg mengerti ayat2 atau bukti2 Tuhan yg ada di langit, bumi dan perubahan malam dan siang, hanyalah ulu al-albaab. Jadi, ulu al-albaab ini, dengan merenungi alam jagat ini, dengan membuka kunci2nya, baik kimia, kedokteran, matematika, ilmu wujud (filsafat), …. dst … dari ilmu2 pasti/gamblang tentang jagat raya inilah yg dapat membuktikan keberadaan Allah, EsaNya, KuasaNya, AdilNya ….. dst.

Ke enam: Dengan demikian, bhw akal, wajib digunakan untuk merenungi jagat raya ini untuk mencari, memahami dan membuktikan keBeradaan, keEsaan, keAdilan, keMaha-an … dst dari Sang Pencipta.

Ke tujuh: Kasarnya, akallah yg disuruh Tuhan untuk mencari kebenaran dan keberadaanNya. Ingat, disini tdk disuruh menggunakan selain akal. Karena Tuhan sendiri mengatakan bhw yg memahami tanda2 atau bukti2 atau dalil2 itu, adalah orang yg berakal.

Ke delapan: Konsep ini, sangat sesuai dg yg diajarkan syi’ah bhw mengimani Qur an itu, tiga tingkat dibawah iman pada Allah. Jadi, iman pada Allah dulu, baru iman pada keAdilanNya, baru setelah itu iman pada NabiNya saww. Nah, ketika orang sdh beriman pada Nabi saww inilah baru bisa mengimani Qur anNya. Lucu amat, iman pada Qur an lalu dg Qur an mau cari Tuhan dan Nabi saww. Ngapain cari Tuhan dan Nabi saww kalau secara dogma sdh percaya pada Qur an? Karena yg percaya pada Qur an, tandanya ia sdh percaya pada penurun dan pengembannya (Allah dan Nabi saww).”

Atau dalam tulisan beliau yang lain : “JADI YG DISEBUT BERAKAL OLEH ALLAH ADALAH ORANG2 YG MENGGUNAKAN AKALNYA DALAM MENCARI ALLAH MELALUI DALIL2 YG ADA DI SETIAP ATOM MAKHLUKNYA INI (jagad raya = langit dan bumi serta perubahan malam dan siang).”

Nah…dari sekian banyak tulisan dan penjelasan beliau itu, maka sebenarnya pertanyaan antum bisa antum jawab sendiri,

Apakah Ilmuwan, contohnya Albert Einstein atau orang kafir atau penyembah berhala itu, menggunakan akal pahamannya mencari kebenaran dan keberadaan TUHAN ? serta mengaplikasikan akal aplikatifnya dalam suatu tindakan dalam hidupnya ? Jika TIDAK, maka apakah pantas disebut “Berakal” ?

Wassalam

Vito Balataw: Salam Ustad sinar agama, terima kasih yang sebesar-besarnya yang hanya ana bisa sampaikan kepada antum, atas semua pelajaran dan bimbingan antum kepada ana dan temen-temen FB ini, Mohon doakan kami yang miskin ilmu dan miskin aplikasi agar selalu semangat untuk belajar dan terus berusaha mengaplikasikan dalah kehidupan, sehingga dibukakan pintu-pintu Maknawi-NYA.

Sinar Agama: Febrina:

Saya hari ini, mau keluar cepat2 jadi blm sempat melihat tulisan Vito. Tp mengingat yg sebelumnya ia benar menyimpulkannya dan ikut cerita diskusi ini, mk kalau nanti tdk ada ralat dariku, mk tulisan terbaru tsb, jg merupakan jawabanku.

Saya hanya ingin menambahkan secara pendek.

(1). Seingat saya Einstein itu bukan hanya muslim, tp ia menjadi syi’ah, setelah berdiskusi dg ulama syi’ah di Qoam.

(2). Kebetulan antum menyebut contoh kafir setidaknya sebelum Einstein masuk Islam atau minimal menurut pandangan antum yg sampai akhir tdk masuk Islam. Ini contoh yg bagus karena:

2-a- Kalau dia tdk tahu Tuhan, mk bagaimana ia akan “ingat” Allah???? Karena itulah, bhw penafsiran antum yg mengatakan bhw orang berakal itu “ingat” Tuhan dulu baru berfikir ttg alam, sangat jauh dari kebenaran. Dan, ini yg saya katakan di sebelum2nya itu.

2-b- Kalau antum mengatakan mengingat yg di fitrah, mk hal ini tdk bisa dikatakan “berakal”, dan tdk cocok dg ayat sebelumnya yg mendapatkan ayat2/tanda2/dalil2 pada penciptaan jagad raya ini.

2-c- Kalau antum mengatakan mengingat yg di fitrah, mk hal ini jg tdk sesuai dg “Mengingat Allah” yg mana konotasinya adalah satu Tuhan dan namanya Allah. Sementara yg di fitrah itu hanya adanya perasaan yg mengatakan akan adanya Tuhan dan bukan EsaNya apalagi nama Allah-nya.

2- d- Kalau antum mengatakan mengingat yg di fitrah, mk sekali lagi, yg di fitrah itu hanya adanya Tuhan Pencipta dan bukan EsaNya (anggap Allah itu maksudnya adalah Esa).

2-e- Kalau antum mengatakan mengingat yg di fitrah, mk semua yg dikatakan kafir itu, yakni yg menyembah selain Satu Tuhan atau Allah, telah benar melakukannya dan bisa disebut berakal/ulu al-baab. Karena mereka sdh memenuhi syaratnya antum yg dzikir/ingat dulu baru berfikir.

2- f- Kalau antum mengatakan mengingat yg di fitrah, mk para kafirin itu, yg menyembah sembarang Tuhan itu, mereka tetalah pula mengingat Tuhan yg di fitrahnya. Jadi, sdh dzikir dulu. Karena mereka itu hanya salah dlm penerapan apa yg dirasakan di hati mereka itu, yaitu ttg adanya Pencipta itu. Nah, kalau berakal itu harus dzikir dulu, mk mereka sdh dzikir dulu, yaitu yg di fitrahnya. Baru mereka berfikir dan, sdh tentu fikirannya ttg alam akan dikembalikan kepada keAgungan yg ada di fitrah yg diterapkan secara salah tsb, spt berhala2. Dan mereka2 itu, apalagi yg di hutan2, telah hidup ribuan tahun dg cara2 spt itu. Yakni fitrah mereka itu dirasakan sejak ribuan tahun lalu secara aklamasi dimana sdh saya katakan hanya kepercayaan pada Tuhan, tp mereka salah menerapkannya. Tp kalau menurut konsep antum, mereka harus dibenarkan, karena sdh sesuai urutan dan sdh benar.

Antum tdk boleh mengatakan, bhw berhala itu salah dan tdk masuk akal. Karena kalau antum mengatakan spt itu, mk berarti antum menentang konsep antum sendiri yg mengatakan bhw berakal itu adalah dzikir dulu baru berfikir. Kecuali kalau spt kami yg mengatkan wajib mencari Tuhan dulu dg akal baru setelah itu mengingat Tuhan yg ditemukannya ini.

2- g- Kalau antum mengatakan mengingat yg diajarkan datuk2, mk inilah yg saya katakan dogma dan taklid buta itu. Karena mau dipikir spt apapun, hasilnya kembali ke taklidnya tsb. Karena itulah, mk sehebat apapun orang kristen, mk ia tetap saja merenungi alam ini dan dikembalikan ke dogmanya itu. 3- Oh iya, menganai akal-pahaman dan akal-aplikatif itu, bukan pembagian yg samar dan apalagi di ada2 hingga tidak jelas maksudnya. Akal ini bukan kita karang sendiri. Bukan pula kita yg mewujudkannya. Kita hanya menamakannya saja. Karena jelas sekali bhw akal disamping memahami bhw -katakanlah- racun itu mematikan, ia jg memahami bhw harus dijauhi. Jadi, akal yg memahami bahayanya rasun itulah yg diistilah akal-pahaman, yakni memahami masalahnya dan, akal yg memahami bhw racun yg bahaya itu harus dijauhi, diistilahkan dg akal-aplikatif yg, kemudian menjadi peristilahan ilmu ttg akal di filsafat. Karena itulah, mk akan tetap dikatakan tdk berakal atau kurang sihat akal, manakala orang tahu masalahnya tp ia melanggarnya sendiri.

Tlg jgn remehkan perpoint diatas itu sekalipun terlihat sama, karena masing2nya berbeda cukup jauh dan mendasar untuk fokus yg kita bahas ini.

wassalam.

Daris Asgar: Ya Allah,,,berilah hamba kemudahan menerima setiap ilmu ini,,,dan mengamalkannya,,,amin…terimakasih Ustadz,,Ustadzah Febrina Surayya..dan mas veto,,,Semoga Rahmat Allah Swt selalu meliputi kepada kita semua,,amin…

wassalam

sumber

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: