Beda Bahagia Rasa dan Akal, Beda Mencari Kesempurnaan dan Ketiaadaan di Sisi Tuhan

Muhammad Dudi Hari Saputramengirim keSinar Agama

Kemarin

salam ustad…

sekiranya ustad berkenan menjelaskan kebahagiaan yg hakiki menurut Al-Qur’an apa ustad? n klo bsa jg ada penjelasan secara filosofis n irfanis nya ustad,,hhe

syukron wa afwan,,

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Kebahagiaan hakiki, secara global adalah kebahagiaan akal, bukan persaan. Tp akal disini adalah yg gamblang dan mencakupi kedua bagiannya, yaitu akal-pahaman dan akal-aplikatifnya.

Kebahagiaan akal ini, bisa teriringi dg tangis duka, luka badan, kelaparan dst.


Muhammad Dudi Hari Saputra:
 Bsa dijelaskan ustad.. Apa beda kebahagiaan akal dan kebahagiaan perasaan itu? Sy msh bngung memahami n mmbedakannya ustad..

Sinar Agama: Kalau antum terbiasa membaca dan mengingat tulisan2ku, mk akan lebih mudah memahaminya.

Perasaan itu tempatnya di perasaan alias di ruh-daya-rasa/perasaan. Ukuran kebahagiaannya daya ini, adalah suka tidak sukanya terhadap sesuatu. Tidak perduli sesuatu itu baik atau buruk, halal atau haram, masuk akan atau tdk. Ukuran terpentingnya adalah menyukainya.

Karena itu, apapun kebahagiaan yg dirasakannya, sekalipun kebahagiaan argumentasi sekalipun, atau nampak masalah2 keilmuan dan nampak argumentatis, atau tangisan2 doa dan kekhusyukan ……….. dst, kalau sumbernya adalah rasa/perasaan ini, mk disamaping belum tentu benar, juga, sangat mungkin tdk akan abadi. Karena niatnya dari semua itu adalah lesenangan perasaannya tsb, yakni sesuai tidaknya dg apa2 yg dirasakannya.

Misalnya:

a- Seseorang yg ikut perasaannya dan menentang akal gamblang, spt orang2 yg melakukan maksiat, atau menolak islam atau ahlulabit yg sdh dipahaminya dg baik dan benar. Semua ini, karena ia mengikuti perasaan yg, apalagi telah menjadi kebiasaannya.

b- Seseorang yg ikut perasaannya dlm hal2 yg argumentatif, spt orang yg bahagian ketika kita mendapatkan kejelasan atau kebenaran dg argumentasi yg gamlang. Misalnya sdh menemukan syi’ah ahlulbait as.

c- Seseorang yg ikut perasaannya dlm hal2 yg seperti atau nampak argumentatif padahal kosong dari argument dan dalil sama sekali, spt wahabi2 yg merasa di jalan yg benar, atau golongan2 lain.

d- Seesorang yg ikut perasaannya dlm hal2 yg bersifat ubudiyyah khoshshah (ibadah2 khusus) spt shalat dan doa atau bahkan tangisan ayura.

e- SEseorang yg ikut perasaannya dlm hal yg bersifat sosial spt tidak tega melihat orang kelaparan dan memberinya makan.

Arahan:

Kebahagiaan2 di atas itu, sekalipun benar (apalagi salah), sangat mungkin tdk akan abadi. Paling banter, hanya mendatangkan pahala. Memang, pahala ini saja sdh besar, akan tetapi kebahagiaannya itu sendiri, akan menjadi hilang dan berupa kebahagiaan yg lain. Tentu saja, pahala ini, akan diberikan kepada yg benar dlm mengikuti perasaannya itu dan, kepada yg tdk benar juga, asal ia belum tahu kepada kesalahannya tsb. Beda dg yg dari awal sdh tahu kebenaran tp melanggarnya yg kita katakan maksiat itu. Jadi, yg tdk benar itu, spt wahabi, asal ia blm membuat kerusakan dan tdk mengganggu orang lain, apalagi membunuh orang lain, mk bisa saja tetap dipahalai oleh Tuhan. Karena perasaan yg diikutinyaitu, adlah perasaan yg dirasakan benar tp karena blm mendapatkan islam yg sejati, mk ia mengira bhw sdh benar dlm pelampiasannya kepada kebenaran yg dirasakannya dg daya-rasa-nya itu.

Ringkasnya, karena setiap amal itu tergantung niatnya, mk apapun kebenaran yg didasarkan kepada perasaan ini, akan menjadi sirna dan, kalaulah ada pengampunan, mk akan digantikan dg yg lain spt pahala yg nantinya akan dituliskan di derajat akalnya oleh Allah hingga kekal abadi selamanya.

Rahasianya:

Mengapa kebahagiaan rasa/perasaan ini akan sirna? Kalau dlm istilah agama, karena niatnya kembali kepada perasaannya, tdk kembali kepada akalnya yg mengatakan harus dikarenakan Allah. Nah, ketika amalan apapaun yg benar itu, dilakukan karena mengikuti simpati hati/rasa/perasaan, mk jelas ia tdk melakukan pekerjaannyaitu karena Allah. Karena itu, ia akan menjadi sirna. Nah, mengerjakan apapun karena Allah, sama dengan bhw ia tdk melakukannya karena simpatik. Ini berarati ia sudah mengikuti akalnya yg mengerti bhw semua hal itu harus dikerjakan karena Allah dan ia -akal- juga menyuruh kita untuk melakukan semua itu karena Allah (akal-aplikatif).

Rahasia yg lainnya adalah: Bhw rasa dan perasaan ini, ada di hati yg bermakna ruh-daya-hewani. Artinya, ia masih di daerah kepengurusan ruh terhadap materi badannya. Karena itu, ketika badannya sdh mendebu di kuburan alias mati, mk daya ini sdh diliburkan oleh Tuhan. Karena itu, apapun amal yg dikarenakannya, akan menjadi sirna. Yakni amalan2 yg semestinya dikarenakan derajat yg lebih tinggi, yaitu Tuhan, spt kekhusyukan dan tangisan. Tp kalau amalan2nya mmg untuk rasa/perasaannya ini, spt maksiat, mk ia akan tetap menemaninya sampai kapanpun. Akan teapai, sdh tentu tdk lagi akan berupa kebahagiaan, tp berupa kepedihan. Karena ia sdh tdk lagi berbadan materi hingga, karenanya, sifat materi spt rasa/perasaannya itu, akan sangat menyakitkan bagi dirinya. Inilah yg dikatakan bhw kebahagiaan dunia atau materi itu akan sirna. Bukan hanya sirna, kalau kemaksiatan, bahkan akan menjadikannya tersiksa.

Hikmah dan Buah:

Ketika seseorang mengerjakan sesuatu karena perasaan, spt menangis dlm shalat dan doa dan asyura karena perasaan, mk biasanya, tangisan spt itu, kurang memberikan hasil yg maksimal. Karena itu, setelah shalat, doa dan aara asyura, melakukan maksiat, melakukan percekcokan antar organisasi, menguber kejahatan sosial, menguber riya dan kesombongan, menguber ini dan itu yg bertentangan dg ruh dari shalat, doa dan perayaan asyura itu sendiri.

Tp kalau karena akal yg memahami kebenaran karena Allah (argumentasi gamblang dan karena Allah), dan akal yg menyuruh melaksankan pengetahuannya itu, mk semua kekhusyukannya itu dikarena ia tahu kebenaran mutlak Tuhan, dekat Tuhan …dst dan karena ia menyuruh melakukan kekhusyukan itu karenaNya, bgt pula dalam tangisan doanya itu dan, apalagi tangisan asyuronya itu, mk yg seperti ini, jelas, akan melahirkan efek besar dlm kehidupannya dan akan menjadikannya semakin takwa, tawadhu dan santu kepada orang lain, tp tegas bagai malaikat pada dirinya sendiri.

Kebahagiaan akal ini, juga bertingkat: ada yg dari makhluk ke Khaliq dan ada yg sebaliknya.

a- Kebahagiaan yg akliah yg dari makhluk ke Khaliq adalah akalnya mencari Tuhan dari pembuktian keterbatasan makhlukNya hingga dpt menemukanNya sebagaimana sdh sering diterangkan di fb ini.

Ketika orang menemukan Tuhan dari keterbatasan makhluk, mk setinggi apapun Tuhan yg dimengertinya, misalnya tdk terbatas, mk ia tetap membatasi Tuhan dg keterbatasan makhluk yg ia jadikan bukti keberadaanNya itu.

Ketika orang menemukan Tuhan dari kterbatasan makhlukNya itu, mk setinggi apapun ketaatan dan keikhlashan kepadaNya, tetap saja membatasiNya secara tidak sengaja (syirik halus). Karena itu, semakin ia tahu agama dan hakikat dan semakin taat padaNya melalui makrifat2 agama dan hakikatnya itu, ia merasa semakin sempurna dan tinggi. Nah, dengan demikian, mk ia sebenarnya semakin membatasi Tuhannya.

Ketika orang merasa semakin tinggi dimana dg demikian berarti ia semakin membatasi Tuhannya (yg sekalipun Tuhan itu tdk bisa dibatasi, karena itu pembatasan itu hanya dlm pahaman akalnya), mk ketika mendengar Nabi saww dan para maksum as berkata “Taatlah pada kami”, atau “Ikutilah kami” atau “Kami adalah hujjahNya” ….dikiranya bhw mereka as itu ada dan diberi kelimpahan olehNya. Inilah wilayah yg dipahami banyak orang, yakni wilayah/wewenang Nabi saww dan para imam as.

b- Akan tetapi, ketika seseorang menemukan Tuhannya dari Tuhannya itu sendiri, yakni melalui argumentasi shiddiqiin, mk ia akan tahu Tuhannya itu tidak terbatas tanpa mengerti yg terbatas terlebih dahulu. Kerincian argumentasi shiddiqiin ini sdh sering dibahas di fb ini. Ringkasnya: Ada itu adalah ada; Ada itu bukanlah tiada; Adan itu bukanlah campuran ada dan tiada. Karena itu, Ada itu adlah Tuhan. Nah, karena Ada itu adalah Ada, mk sdh pasti tdk terbatas. Dan ketika tdk terbatas, mk tdk mungkin ada wujud lain sekalipun terbatas. Dengan demikian, mk TIADA ADA, KECUALI ADA.

Ketika orang sdh mendapatkan Tuhan dari Diri Tuhan sendiri, mk sekarang ia akan mencari dirinya, bukan spt ygpertama di atas yg mencari Tuhannya.

Kalau yg pertama di atas adalah mencari Tuhan dg mengikuti akal-pahaman dan akal-aplikatifnya, yaitu dg mencari tahu kebenaran dan melaksanakannya demi mendekatkan diri keapdaNya dimana hal ini sebenarnya pembatasan terhadap keberadaanNya yg tdk terbatas itu, akan tetapi kalau di tingkatan ke dua ini, ia tdk mencari dan mengejar Tuhannya lagi, tp mencari tahu dan mengejar dirinya sendiri.

Dengan demikian, kalau di yg pertama itu, semakin alim dan taat akan semakin merasa semakin naik derajat dan dekat denganNya, tp disini semakin tahu dan taat, mk akan semakin kecil melihat dirinya. Jadi, di tingkatann ke dua ini, mengikuti akal-pahaman dan akal-aplikatif hanya dan hanya, untuk meniadakan dirinya yg nampak membatasi Tuhannya dlm akalnya.

Jadi, ketaatan pada akal-pahaman yg dipimpin oleh akal-aplikatif di tingkatan pertama, adalah untuk mengantar manusia kepada derajat yg lebih tinggi (dlm pahamannya) di sisiNya, sedangkan ketaatan pada akal-pahaman yg dipimpin oleh akal-aplikatif di tingkatan ke dua ini, adalah untuk menyirnakan dirinya sendiri. Karena itu sdh tahu bhw Tuhan itu tdk terbatas dan pengetahuannya ini, tdk melalui pengetahuannya kepada yg terbatas.

Akibatnya, orang yg di posisi ke dua ini, kalau mendengar Nabi saww dan para maksumin as yg lain megatakan “Taatilah aku/kami”, atau “Ikutilah kami” ….dst.. mk mereka memahami bhw mereka itu as itu tdk ada. Karena itu, kata2 mereka itu adalah kata2 Tuhan yg disalurkan melalui lisan mereka, bukan melalui pemberian wewenang.

Karean itu, wilayah di sini, adalah kemenjadian lisan dan kehendak Tuhan, bukan pelimpahan kekeuasaan spt yg di tingkatan pertama.

Karean itulah Nabi saww menyuruh kita bersaksi dlm shalat sbb”

“Aku besaksi bhw Muhammad -saww- itu adalah budakMu dan utusanMu”.

Artinya, tidak memiliki apa2 walau selera dan kehendaknya sendiri hingga Kamu menjadikannya lisanMu.

wassalam.

selengkapnya

%d bloggers like this: