Diskusi, Argumentasi dan Debat

Zarranggie Syubeirmengirim keSinar Agama

15 jam yang lalu

Ustadz, apa beda Debat sama Diskusi? Terimakasih

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

1- Diskusi itu, bisa dg memakai cara argumentasi, bisa jg dg cara lain spt debat.

2- Argumentasi itu dilihat dari bahasa Indonesia adalah berdalil atau menyajikan bukti. Akan tetapi dlm logika, bermakna lain

3- Dalil dlm logika atau yg biasa dikatakan argumentasi di bhs Indonesia, adalah menyusun premis minor dan mayor untuk menghasilkan kesimpulan. Spt: “Ini adalah api”, “Setiap api itu panas”, mk “Ini adalah panas”.

4- Argumentasi dlm Logika, adalah kalau isi atau kandungan premis2nya tsb meyakinkan, yakni sdh terbukti kebenarannya, spt contoh di no 3 di atas itu.

5- Debat adalah manakala isi dari premis2nya tdk bernilai meyakinkan secara ilmiah dan hanya bisa diterima oleh yg dihadapinya. Debat ini, yg lebih banyak dipakai dalam diskusi2. Karena ia lebih mudah dan tdk perlu kepada penelitian yg panjang akan kebenaran premis2nya,karena cukup bhw yg diajaknya bicara itu, menerima kebenarannya.

Misal debat: Kita bedialog dg wahabi. Kita katakan, kamu mensyirikkan gambar, padahal kamu dan raja saudi semua memakai foto, baik di rumahnya, di albumnya atau bahkan di surat2 kabar dan majalah2. Susunan dalilnya spt ini:

“Kamu mengatakan bhw gambar itu syirik”. “Semua wahabi memakai gambar/foto”. Berarti “SEmua wahabi juga syirik”

Atau: “Kamu/wahabi mengatakan bhw yg baru dan tdk dilakukan Nabi saww itu adalah bid’ah”. “Semua wahabi shalat tarawehan mengikuti umar, menghitung masuknya bulan pakai hisab dg karangannya sendiri, adzannya disusupin al-shalaatu khairun mina al-naum sesuai perintah umar, talaknya tdk pakai saksi sesuaiperintah umar, Qur annya disusun (kan bagi sunni Nabi saww tdk menyusun Qur an) mengikuti utsman,…dst”. Kalau begitu berarti “Wahabi adalah pelaku bid’ah yg nyata.”

Dari dalil2 di atas, yakni dari nilai premisnya, bisa saja kita tdk membenarkan isinya, spt shahabat harus diikuti, Qur an tdk disusun Nabi saww, …dst… akan tetapi, karena mereka sendiri meyakini hal itu, mk kita pakai untuk mengisi premis2 yg kita buat. Inilah salah satu bentuk dari debat itu. Intinya, debat, adalah tdk memakai premis yg berisi kebenaran sejati dan cukup diakui oleh lawan bicaranya.

Debat ini sangat bermamfaat, karena dlm perbedaan, sulit mentukan ukuran argumentasi yg bisa disepakati kedua belah pihak. Lagi pula, debat ini lebih langsung menyentuh pada fokus bahasan dan permasalahan alias cespleng.

Debat ini, lebih mudah dipahami manusia dan karenanya, ia adalah cara yg bisa dikatakan terbaik dari hal ini. Karena kebanyakan manusia, tdk mengerti apa itu hakikat kebenaran dlm sebuah isian premis.

Menjawab dg penjelasan ilmiah ttg mengapa kita makan, akan lebih sulit dipahami ketimbang dg menjawab “Kenapa kamu juga makan?”. Karena penanya kita yg menanyakan “mengapa kita makan?”, juga memiliki masalah yg sama dan, karena lebih cepat menyentuh.

Misalnya, kita ditanya: “mengapa kamu syi’aj?” Kita jg bisa menjawab : “mengapa kamu sunni?” atau “mengapa kamu tdk syi’ah?” Atau kalau ditanya “Mengapa kamushalat 5 kali dlm 3 waktu?”, kita bisa menjwb “mengapa kamu shalat 5 kali dalam 5 waktu?”

Apapaun jawaban dari pertanyaan balik kita itu, akan menjadi penunjuk jalan yg bagus untuk si penanya tsb. Atau, setidaknya, kita bisa mengubernya sampai dia tdk bisa menerangkan karena mmg tdk ada dalilnya.

Misalnya ia menjawab “Saya sunni karena hadits Nabi saww yg mengatakan bhw yg benar adalah Ahlussunnah waljamaa’ah”. Kita bisa menjawab “Emangnya Ahlussunnah waljamaa’ah yg dimaksudkan Nabi saww itu adalah kamu, lalu mengapa shahabat tdk ada yg mengaku sunni sekalipun dan apa bukti keahli sunnahan kamu menurut Nabi saww itu, apakah Nabi saww mengatakannya bhw kamu yg dimaksud beliau saww atau kamu sendiri yg mendakwanya, lalu apa arti ahlussunnah waljamaa’ah itu dan apakah kamu sdh menyesuaikannya????!!!!

……….dst

Jadi, diskusi itu bisa dg berbagai metode, bisa dg argumentasi ala Logika, bisa dg debat dan bahkan bisa sophistis atau penipuan. Yg paling bagusnya adalah dg argumentasi, lau dg debat. Tp dg sophist tdk dianjurkan. jadi,kalau belajar ttg penipuan ini, hanya untuk spy kita mengerti ttg-nya dan spy kita tidak ditipu oleh orang lain. wassalam.

Zarranggie Syubeir: Terima kasih ustadz sangat lengkap dan jelas jawabannya.

Alhamdulillah..

wassalam

Hidayatul Ilahi: afwan,,,apa itu premis mayor dan premis minor ustad???

Sinar Agama :Hidayat: Biasanya dalil itu kan tersusun dari dua proposisi atau dua kalimat, spt: Ini adalah api. Semua api itu adalah panas. Karean itu, ini adalah panas.

Nah, dua kalimat pertama itulah yg dikatakan premis atau mukaddimah argumentasi. Yg kecil adalah yg subyeknya partikular atau satu saja, sedang yg dikatakan premis besar adalah yg ada keterangan jumlahnya dan menyebut semuanya spt kata2 “semua…”.

Doeble Do:  Salam. Izin copas, trimakasih…

Khommar Rudin :Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad

Sinar Agama : silahkan

Adams Syarif : bgm debat dengan ketengan jiwa tanpa dikuasai dengan emosi. Apalagi sampai menyerang lawan secaara psikologis bukan lagi argumntasi. Mohon tips2nya ustd?

Sinar Agama : Adams: Kalau ingin menjadi orang yg sempurna, mk lakukan takwa. Yaitu dg menyesuaikan diri dg ajaranNya. Misalnya, melakuan debat itu semata-mata krena inginn mencari atau membuktikan kebenaran karena Allah, bukan untuk menang-menangan. Kalau karena Allah dan rasa takut untuk akhirat, mk i-Allah emosi itu tdk akan pernah mengganggu kita walau, mungkin tetap ada, tetapi ia sdh tdk akan banyak berarti.

Adams Syarif : trimksh bnyk ustd..

selengkapnya

%d bloggers like this: