Irfan Itu Bukan Filsafat

Muhammad Dudi Hari Saputra: mungkin ustad sdh sangat mafhum dgn permasalahan kontra-diksi didalam filsafat ini,, mohon bimbingannya ya guru/ustad,, ^_^

Orlando Banderas: Sekedar komen. Sebenarnya ruh barzakhi itu sudah bisa disingkap bagi orang yang sudah meninggalkan materi (tingkat fana). Jadi akhirat itu bukan akan datang tapi sekarang sdh bisa dirasakan (tersingkap). Tapi krn kebanyakan org belum bisa meninggalkan materi atau belum mencapai fana, maka tdk bisa merasakan. Spt yg makan harta anak yatim sama spt makan api neraka, itu benar2 sdh bisa dirasakan sekarang tidak akan datang (kalau sdh mati). Pertanyaan ke2 yg bergerak itu adalah substansi bukan esensi. Esensi berubah karena ikut pada substansi yg ditumpanginya. Esensi tdk bergerak tapi berubah dari satu keadaan ke keadaan lain. Esensi tdk bergerak krn dianya tdk punya wujud. Yg wujud adalah substansi. Krn syarat adanya gerak salah satunya adalah adanya yg bergerak (wujud). Maaf kalau komen ini salah. Salam.

Muhammad Dudi Hari Saputra: iya gpp mas orlando,, hhe

kita tunggu bagaimana jawaban ustad,, ^_^

Sattya Rizky Ramadhan: Ijin nyimak ya..

Muhammad Dudi Hari Saputra: silahkan mas sattya,, ^_^

Sinar Agama: Salamd dan trims pertanyaannya dan gugatannya pada filsafat:

Masalah antum sebenarnya bukan pada gerak dan bagaimana hubungannya dg wujud serta nukilan dari kata2 nabi Idris as itu. Akan tetapi terletak pada kurang telitinya antum dlm membagi dan menggolongkan bahasan. Antum sekarang ini, seperti mambahas kedokteran dg rumus2 matematika atau sebaliknya. Atau membahas matematika dg psikologi dan sebaliknya. Karena itu, tdk akan pernah kena dan terpahami.

Antum kalau teliti dg semua tulisan ana yg saya sangat mengira antum kurang mengunjunginya, misalnya ttg catatan yg berjudul “Kurikulum Hauzah”, mk jelas disana (seingatku) sdh dijelaskan mana2 kitab yg dipelajari dan dari mana ke mananya. Kalau tdk salah ingat hal ini juga sdh ditulis disana bahwa pelajaran pertama hauzah itu bhs arab dan logika. Ini untuk jalur filsafat dan irfannya. Setelah itu ilmu Kalam, stlh itu Filsafat ringkas, setelah itu Filsafat rinci, setelah itu Filsafat Mulla Shadra ra yg 9 jilid (walau dipelajari 7 jilid saja), setelah itu Irfan Ibnu Turkah dan BARU SETELAH ITU KITAB FUSHUUSHU AL-HIKAM karya Ibnu ‘Arabi yg dinukil oleh Mulla Shadra ra di atas itu (di pertanyaan antum).

Karena itu, problem antum bukan di gerak, akan tetapi di penyatuan ilmu2 yg di kurikulum tsb. Artinya, ketika antum bicara gerak dlm filsafat, mk ia jelas berdasar pada keberadaan yg banyak. Artinya, bukan hanya Tuhan yg ada. Karena itu, logikanya adalah sebab-akibat dan makhluq-Khaliq. Nah, konsep yg seperti ini, kalau diaduk dg konsep Irfan yg hanya melihat wujud itu satu dan milik Tuhan, mk jelas tdk kena. Karena logika di irfan ini akan menjadi Allah dan TajalliNya, WajahNya (QS: 28: 88), BayangNya (QS: 25: 45), ..dst.

Karena tdk perlu keliahaian menyatukan kontradiksi karena kontradiksi di logika saja sdh jadi kemustahilan yg nyata, tp perlu kepada penertiban cara berfikir dan memilah dimensi bahasan serta mengekang hawa nafsu supaya tdk berloncatan tanpa arah.

Jawaban Soal:

Ketika pandangan kita adalah wahdatu al-wujuud, mk jelas bahwa wujud itu bukan hanya terpadu, akan tetapi satu secara hakiki dan hanya milik Tuhan. Sedang keberadaan yg benyak dan berwarna warni itu, hanya esensi yg kita dakwa dlm pandangan kita sebagai wujud. Jadi, semua itu kesalahan kita sendiri yg mendakwa pohon yg kita lihat itu sebagai wujud. Karena pohon jelas esensi yg membedakan dirinya dari batu, gunung, air, api …dst. Artinya, pohon bukanlah eksistensi/wujud. Jadi, kalau kita katakan pohon itu wujud, mk jelas merupakan kesalah yg telak dan besar. Ini yg dimaksudkan kata2 yg dinukil dari Ibnu ‘Arabi ra oleh Mulla Shadra ra yg kemudian dinukil oleh antum dlm pertanyaan di atas itu.

Menghubungankan hal di atas ini (wahdatu al-wujuud) dg gerak yg ada di Filsafat yg memandang wujud itu tdk satu, jelas merupakan kesalahan yg fatal.

wassalam.

Sinar Agama: Orlando: Spt-nya antum belum lulus juga he he he. Karena esensi itu dibagi dua, yaitu substansi dan aksiden. Karena itu, substansi itu salah bagian dari esensi yg antuk ingkari di komen antum.

Fanaa’ jg bukan yg meninggalkan materi, tp yg sdh meninggalkan barzakh dan bahkan semua Akal sampai ke Akal-satu. Lihat catatan2 sebelumnya.

wassalam.

selengkapnya

%d bloggers like this: