Lagi2 Diskusi Waktu Maghrib/berbuka-puasa

Muhammed Almuchdor

Salam ust, knp kita kl mau buka puasa hrus nunggu sampe gelap? Walaupun sdh adzan maghrib tp kl mash terang kita blm boleh buka puasa..mohon penjelasannya..sukron wa afwan

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Maghrib yg sebenarnya itu adalah hilangnya mega merah di sebelah timur setelah matarahi terbenam. Karena itu, harus menunggu sktr 45 menit lagi setelah adzan saudara2 sunni yg sekarang. Kalaulah mau nekad jg, usahakan untuk tdk lebih cepat dari separuh antara adzan maghrib sunni dan adzan isya’ sunni. Tp saya tdk ikut tanggung jawab. Karena kesaksian ru’yat yg benar dan saya percayai, adalah 45 menit setelah adzan sunni.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad wa ajjilfarajahum

Ilham Cilbot: Salam Ust. Sinar Agama, maaf apakah semua marja` menunda selama 45 menit stl azan sunni? mohon pencerahannya.

Wibi Wibo W S: yang di maksud maybe 4 sampai 5 menit. bukannya 45 menit

Wibi Wibo W S: definisi adzan magrib : Seruan/Undangan untuk melaksanakan sholat magrib (bukan tanda masuk waktu magrib)

Sinar Agama: Ilham: Sudah pasti spt itu, kalau marja’nya tinggal di katulistiwa dan adzan sunninya spt di Indonesia yg ayam2 masih pada main sdh mengumandangkan adzan. Tp kalau di daerah selain katulistiwa, mk bisa berbeda masalahnya.

Sinar Agama: Wibi: Maksud saya jelas, yaitu 45 menit, bukan 4 atau 5 menit.

Sinar Agama: Intinya wahai para teman, adalah hilangnya mega merah dari timur ke atas kita, baik yg di atas kita atau yg di kanan dan kiri kita. DAn, setelah diru’yat berulang-ulang oleh orang yg saya percaya yg jg membawa teman2nya dan di beberapa pulau, mk 45 menit itu yg memperlihatkan hilangnya mega merah di timur baik di atas kita atau di kanan dan kiri sebelah timur.

Deni Irawanto: ‎45 menit…? Saya selama ini menunda 10 sampai 15 menit, sebagaimana kalau buka puasa di ICC atau di Hanglekir.

Deni Irawanto: sepertinya menjadi masukan buat ABI nih ustadz, untuk menentukan waktu yang tepat berbuka yang bisa direkomendasikan ke kawan-kawan syi’i.

Muhammed Almuchdor: Sukron atas penjelasannya, trus kebetulan saya tinggal di sydney, australia adzan maghribnya jam 17.10 tp jam 17.35 mega merah udah hilang atau tidak tampak. Apakah mash harus nunggu 45mnt atau udah cukup..sukron

Sinar Agama: Deni, di ICC itu meniru Iran yg di utara katulistiwa dan tenggelam mataharinya benar2 tenggelam. Tp disini Indonesia yg, di katulistiwa dan adzannya masih sangat siang. Kalau antum di tepi laut, tdk mustahil akan melihat matahari yg masih tersenyum, tp sdh adzan.

Bedanya katulistiwa adalah ada di puncak ketinggian perut bumi. Sementara di arau utara dan selatannya mencekung ke bawah yg, akan menyebabkan sorotan matahari tetap akan menembusnya ke arah timur. Karena itu, 30 menit mungkin sdh gelap di atas kita, tp timur laut dan timur utara, masih memega merah.

Kalau orang yg amat bodoh saja, setidaknya mengambil pertengahan antara adzan maghrib sunni dan adzan isya’ sunni. Karena adzan maghrib sunni adalah tenggelamnya matahari dimana menyebabkan pancaran mega merah di seluruh langit, dan karena adzan isya’nya adalah hilangnya mega merah di sebelah barat. Karena dpt dipastikan secara matematis, bhw pertengahannya adsalah hilangnya mega merah di timur sampai ke atas kita (pertengahan langit = pertengahan waktu). Jadi, kalaulah mau nekad dg cara ini, mk tetap hasilnya antara 30 menit sampai 40 menit. Hitung saja sendiri. Tp sekali lagi, karena arah selatan dan utara bumi menurun, mk perlu ditambahi lagi karena timur selatan dan tenggaranya, masih memega merah.

Kalau antum mau meru’yat mk cari hari yg disebelah baratnya tdk ada mendung dan langit tdk sepi dari mendung tipis dan tdk boleh bermendung tebal. Karena kalau di barat sdh mendung, mk mega merah itu sdh tdk bisa menembus. Bgt pula kalau di arah tengah mendungnya tebal, mk sinar itu tdk akan menembus ke timur. tp jangan pula terlalu bersih hingga tdk dpt disorot cahaya dan akhirnya tdk memega. KALAU ANTUM SDH BENAR MERU’YATNYA, DAN TERNYATA YG DITULIS ALFAKIR INI SALAH, MK ANTUM BOLEH BAHKAN MELAKNAT ALFAKIR.

Sinar Agama: Muhammad alMuhdhar: Smg antum selalu diselimuti KasihNya, amin. Kalau di sedny itu, karena ia di sebelah selatan katulistiwa, mk sekali gelap, semua arah timurnya akan gelap, karena hanya satu posisi bumi. Nah, kalau disana adzan maghribnya benar2 waktu matahari tenggelam, mk mungkin spt di iran yg hanya 15 menit sdh gelap. Karena Iran di utara bumi dan adzan sunninya benar2 sewaktu matahari tenggelam. Jadi, kalau antum sdh periksa di sebelah timur sdh gelap sampai ke atas kita dan memeriksanya diwaktu-waktu yg keterangan mendung tidaknya spt yg saya terangkan di jawaban kepada Deni, mk saya yakin mmg sdh masuk malam dan boleh shalat maghrib serta berbuka. Jgn lupa doakan kita dan alfakir walau selalu di balik awan2 itu.

Sang Pencinta: Kalo di Padang gmn ust? apakah mengikuti aturan 45 menit…?

Deni Irawanto: Ustadz Sinar Agama: Indonesia memiliki 33 provinsi, jika masing-masing penanya mewakili 1 provinsi, maka ada 33 penanya dengan jawaban yang mungkin berbeda. Saya pikir, perlu kiranya Ahlul Bayt Indonesia melakukan ru’yat, terutama penetapan waktu maghrib dan subuh, untuk dijadikan penetapan bersama bagi ikhwan syi’i di Indonesia. Sehingga tidak terjadi perbedaan antara komunitas syi’i yang satu dengan komunitas syi’i yang lainnya. Demikian, mohon maaf ustadz.

Zarranggie Syubeir: Sepakat dengan Deni.

Dan masalah iftar, Kalau saya sih ngikut ust sinar aja selama ini. 45 mnt setelah azan sunni begitupun shalat subuh.

Aby Faqir: ‎:)

Zarranggie Syubeir: ‎(Ternyata daengku membuntutiku🙂 )

Aby Faqir: hee

Wibi Wibo W S: bukankah 45 menit setelah azan magrib sunni adalah sudah total hilang nya mega merah baik di timur dan barat? yang berarti sudah masuk saat Isya??

Irma Firdausy: saya slama ini malah hanya menunggu 10-15mnt saja dari azan yg umum baik sholat maupun buka, trutama saat buka rentan waktu segitu sdh gelap + info yg pernah sy dpt sperti itu.

ada yg berbeda di puasa kali ini, krn azan umum masih sangat terang trutama hari kemaren, jadi sy nunggu gelap sampai 55mnt lebih, baru yakin.

sy tinggal di bandung, itu bgmna ustd ?

Sattya Rizky: Ramadhan Saya di bandar lampung setelah adzan sunni sholat” qadha dulu sambil nunggu waktu buka..kira” 40 sampai 45 menit keluar rumah bulan bintang memang sudah terang..tapi langit barat masih ada terang sedikit..dari atas kepala ketimur sudah gelap…setelah adzan sunni 45 menit memang sudah masuk maghrib..saya dari tahun kemarin ikut Ustad tggu 45 menit dlu baru buka..

Sinar Agama: Pencinta: Saya yakin, walau tdk meru’ytatnya di daerah padang, mk ia sama harus menunggu 45 menit. Kan tinggal antum cek saja dg petunjuk yg sdh diberikan di atas itu. Hal itu karena saya melihat justru padang lebih mengatulistiwa dan bisa dikata sejajar dg Makassar yg pernah diru’yat bersama-sama dg bimbingan yg profesional tadi.

Hadi Atau Alamsyah: Zaranggie@ kalau wakti shubuh gmn penjelasannya?

Muhammed Almuchdor: Sukron atas penjelasannya ust..mudah2an ust di beri kesehatan selalu..amiin..

Ali Assegaf Senat Jatim: Dalam hal ini sebagian saya tak sependapat dengan Sinar Agama — <yg disepakati=”” adalah=””> parameternya jelas — di Sunni – adzannya munculnya mega merah — sedang di syia itu hilangnya mega merah <yang tidak=”” sepakat=”” adalah=””> ketika memberi patokan hingga 45 menit — tetapi sudah dijelaskan juga kalau itu di daerah dgn musim panas — dimana tenggelambya mega merah hingga hilang cukup lama durasinya — namun itu sepengetahuan saya — kisaran 10 menit untuk indonesia yang berada di katulistiwa — mungkin untuk musim panas yang panjang di daerah lain — bisa mencapai max 20 menit — nah, jika standrat ini digunakan kita ingin merasa aman dan pasti cukup dengan menambahkan waktu itu 5 menit — artinya 15 menit di indonesia dan 25 menit untuk daerah yang musim panasnya panjang — dan lebih pendek untuk daerah yang musimnya dingin –</yang></yg>

Sinar Agama: Deni: Kalau antum mengertilintang utara dan selatan, mk tdk perlu meru’yat di setiap daerah. Bulan itu jg demikian. Kalau diadakan peru’yatan ramai2 di seluruh Indonesia ttg bulan itu, karena kalau di satu tempat mendung, mk diharapkan di tempat lain tdk mendung. Jadi, hal ini harus antum mengerti. Kalau antum mau hakikatnya, mk setiap kota harus meru’yatnya karena adzan di masing2 kota tergantung pada masjid yg bersangkutan di kota2 tsb

Ketika peru’yatan 45 menit itu sudahdilakukan di jawaewakili daerah selatan, dan ambon-makassar yg mewakili bagian tengah, mk tinggal dilihat di bagian utara spt aceh, atau daerah sejajar

Zarranggie Syubeir: Hadi,,,@ hedede kasian kenapa tanya saya ini orang bodoh kasian, sebaiknya layangkan pertanyaan langsung ke pada ahlinya. Wallnya Ust Sinar. Jangan wall saya🙂

Sinar Agama: Kalau shalat shubuh sdh tentu sama saja, karena definisi shbuh di sunni dan syi’ah sama saja.

Sinar Agama ‎: Wibi: Kalau amtum bertanya, bukankah? mk jawabannya sdh pasti bukan.

Sinar Agama: Irma: Peru’yatan itu dilakukan di tahun2 yg sdh silam yg mungkkin lbh bagus dari sekarang, yaitu sejak tahun2 1988-an.

Ali Assegaf Senat Jatim: Lho… sholat subuh kok disebut sama juga ?? bukankah azan di ahlus sunnah itu munculnya fajar dan di syiah hilangnya fajar ??

Sinar Agama: Demi Allah saya pernah di saat adzan maghrib melihat bulan purnama yg bersinar begitu terang di atas kepalaku ketika aku di iran dan dikala itu tgl bulan purnama dan cahayanya menyorot ke bumi. Kebetulan hari itu Iran spt Indonesia yg mendung tebal tapi bulannya tdk termendungi.

Sinar Agama: Kalau ana ini dianggap jujur oleh antum dan dianggap benar dalil2nya serta pengabaran ttg ru’yatnya itu, yakni tidak bohong, mk sdh selayaknya diperhatikan. Karena kalau antum salah, mk kalau tdk sengaja, hanya wajib qodho, tp kalau sdh yaqin terhadap info ini dan dilanggar, lalu setelah itu ternyata mmg saya yg benar, mk bisa2 antum wajib kaffarah yg perharinya puasa 60 hari.

Kalau ingin meeru’yat, tlg perhatikan cara2 di atas itu.

Sinar Agama: Ali: Tlg jgn menulis apa2 yg tanpa penelitian terlebih dahulu dan hanya mengira-ngira. Adzan2 itu tdk ada hubungannya dg musim panas dan dingin, baik sunni atau syi’ah. Kalau antum tdk pernah berurusan dg matahari dan menelitinya dilapangan atau bahkan selama ini mungkin tdk pernah ambil pusing secara serius, mk tlg jgn katakan pendapat antum itu ke orang lain, spy tdk mengelurkan keilmiahan bahasan kita.

Apalagi antum mengatakan bhw shubuhnya syi’ah itu hilangnya fajar, pernyataan antum ini bersumber dari mana dan fatwa siapa? Shubuh di sunni dan syi’ah itu adsalah sama, yaitu munculnya fajar shadiq yg, sdh tentu hilangnya fajar kaadzib.

Ali Assegaf Senat Jatim: Ust Sinar Agama — sebelum bicara ru’yat meru’yat — apakah defini awal Azan magrib & Subuh menurut ahlus sunnah & Syiah — itu sudah didefinisikan ??? adakah definisi ini benar ??? magrib bagi ahlus sunnah munculnya mega merah dan subuh munculnya fajar ? sedangkan di syiah magrib hilangnya mega merah dan subuh hilangnya fajar ??? — jika parameter ini di yakini — maka tahapan berikutnya adalah — berapa lama proses mega merah muncul hingga tenggelamnya — ini terkait dengan daerah dan musimnya — begitu juga fajar…

OK makasih koreksi kalau subuhnya — artinya munculnya fajar awal solat subuh juga di syiah demikian ? — syukron

Sinar Agama: Definisi antum ini sangat keliru ya habibi, karena yg benar adalah maghrib sunni itu tenggelamnya matahari dan shubuhnya adalah terbitnya fajar shaiq. Di syi’ah, maghribnya adalah hilangnya mega merah di sebelah timur dan shubuhnya terbitnya fajar shadiq.

Sayyid Ali, jgn lupa doanya untuk kita2 semua.

Ali Assegaf Senat Jatim: coba definisikan ulang ust … agar lebih jelas… karena itu terkait dengan matahari — masalah isykal 45 menit antum itu sangat dimengerti atas proses tenggelamnya matahari — jadi secara definitif perlu penjelasan

Sinar Agama: sayyyyyiiiiidddd … kan sdh di atas ya habibi….

openi dhisik toh…

Ali Assegaf Senat Jatim: dari magrib sunni : tenggelamnya matahari dan disyiah hilangnya mega merah … < bagaimana menjelasakan mega merah muncul apa matahari disebut tenggelam saat itu ?? > saya masih sangat rancu dalam hal ini — mencoba tahu yang dimengerti ust sinar agama

Sang Pencinta: Iya memang salah kota di sumatra barat kota khatulistiwa, Padang Pariaman, sekitar 1 jam -2 jam dr Padang, kalo meru’yati sendiri ga berani, ga afdhal kalo bukan pakarnya..

Yudi Helfi Sutan Ma’rouf: Sekitar 2 bulan lalu, saya berdiri di pantai padang, menatap matahari terbenam ke dalam laut. Kebetulan cuaca cerah. Detik demi detik saya amati tak putus-putus, dan tepat saat seluruh bagian matahari telah tenggelam, terdengar azan maghrib di mesjid2 kota padang yang Sunni. Memang masih terang, tapi bola matahari telah terbenam sempurna.

Ustadz, apakah haditsnya berbunyi “hilangnya mega merah di arah timur” atau “hilangnya mega merah di UFUK timur?”. Jika hanya disyaratkan hilangnya mega di ufuq timur, maka kisaran 10-15 menit cukuplah.

Hadi Atau Alamsyah: Antum kan udah dapet infonya dari ustd sinar Agama

Sinar Agama: Ya Allah, sayyid kukira antum sdh jelas, afwan banget. Baiklah saya ulang. Maghrib sunni itu adalah ketika matahri itu tenggelam alias tidak terlihat mata. Akan tetapi, tdk terlihat mata itu kan bukan berarti tdk terlihat langit atau awan yg berada di atas kita? Nah, dg demikian mk tenggelamnya matahari itu sama dg adanya mega merah di penjuru langit. Nah, syi’ah mengatakan bhw maghrib itu setlah hilangnya mega merah di timur sampai ke atas kepala kita yg, sdh tentu setelah tenggelamnya matahari itu. Bgt ya habibi.

Nah, dengan peru’yatan berkali-kali di berbagai tempat, dg kemiringan arah bumibagian utara dan selatan, mk baru setelah 45 menit itulah mega merah di arah timur baik atas, kanan dan kiri, sdh menjadi hilang dan, karenanya masuklah maghrib syi’ah.

Hadi Atau Alamsyah: Selama ini ana cuma memperhatikan langit di atas kepala saja, ya sekitar 15 menit dari magrib sunni

Ali Assegaf Senat Jatim: Semoga antum tidak merasa lelah dengan ketidak tahuan ini — namun, jika demikian tenggelamnya matahari = munculnya mega merah — sedari awal mungkin tidak terlihat oleh Ust Sinar Agama — kini masalah kapan tepatnya adalah dari tenggelamnya megah merah ( alias tenggelamnya matahari ) ke hilangnya mega merah — ini yang dibahas — berapa lama durasinya — dan ini menyangkut lokasi dan musim bisa berbeda dimasing-2 daerah di bumi ini — afwan..

Sinar Agama: Hadi, sungguh mustahil hal itu terjadi, kalau di barat tdk mendung dan di atas tdk bermendung tebal.

Sinar Agama: Ali: Tidak tergantung musim, karena kalaulah jamnya bergeser, mk maghrib sunni jg ikutan bergeser. Jadi, kita tdk perduli dg geser menggeser waktu itu, yg kita perlukan adalah adzan sunni yg dg tenggelamnya matahari itu.

Hadi Atau Alamsyah: Ok berarti sekarang magribnya 45 menit setelah adzan sunni. Gimana sekarang dengan waktu shubuh ustad, mohon sinarannya?

Sinar Agama: Hadi, shubuh sama persis dg sunni, karena definisinya sama persis. Ini untuk imsaknya. Tp untuk shalatnya, mk setiap tgl 13-22 hijriah, diwajibkan berhati-hati menunggu selama sktr 15 menit.

Ali Assegaf Senat Jatim: ‎(1) jika definisi sudah sama — apakah azan magrib ahlus sunnah saat ini di indonesia itu menurut antum dilakukan sebelum matahari tenggelam – alias muncul mega merah ? alias adzan belum saatnya ? — jika jawabnya iya — bisa buat perkiraan berapa lama seharusnya adzan menurut ahlus sunnah itu dilakukan (2) ada redaksi pasti secara ilmiah ( penelitian) atau ketetapan dalam fiqih sehingga dari munculnay mega merah ( tenggelam matahari) – hingga hilangnya mega merah itu sama waktunya dimanapun juga di belahan bumi ini ?

Sinar Agama: Yudi dan Ali: saya sdh menjelaskan serinci-rincinya di koment di atas itu. Bhw hilangnya mega merah di sebelah timur ke atas kepala kita adalah 45 menit setelah tenggeelamanya matahari atau adzan maghrib sunni. Perhatikan cara meru’yat mega merah yg sdh dijelaskan di atas tsb dimana tdk cukup hanya tidak mendung di barat, tp jg tdk terlalu tebal di atas dan di timur. Tp tdk boleh tdk mendung di sama sekali di timur dan atas kita. Jadi, barat harus tdk bermendung, dan di atas kita serta di timur kita harus bermendung lapat2 alias tipis2. Karena kalau di barat mendung, mk mega merahnya akan tertahan, bgt pula kalau mendungnya tebal di atas kita. Akan tetapai adanya mendung yg tipis dan terpencar-pencar di atas kita dan di timur, sangat diperlukan untuk dihinggapi cahaya matahari hingga menjadi mega2 itu. Walhasil, setleh berkali-kali dan itupun dg rombongan, mk di berbagai tempat yg disebut di atas itu, adsalah 45 menit baru mega merah di timur atas, timur laut dan timur utara itu menjadi hilang.

Sinar Agama: Yudi, tdk perlu di katulistiwa dan tdk perlu kemiringan bumi bagian utara dan selatan, cukup dg pembagian dua yg sama antara adzan maghrib sunni dan adzan maghrib syi’ah, sdh ketahuan bhw 15 menit jauh dari cukup. Karena dibagi duanya saja sdh mencapai 30 sampai 40 menit. Pembagian dua itu dihitung dari maghrib sunni yg dg tenggelamnya matahari dimana sinar merah akan menyeruak di penjuru langit, dan isya’ sunni yg hilangnya mega merah disebelah barat. Nah, kalau nekad saja, mk bagi dua saja langit yg memerah itu. Karena itu, bagi saja waktu antara adzan maghrib sunni dan adzan isya’ sunni. Ini saja sdh mencapai setidaknya 30 menit, Tp karena ada kemiringan bumi di utaran dan selatan itu, mk sekali lagi harus ditambahi lagi hingga menjadi 45 menit.

Agoest D. Irawan: Afwan ustad Sinar, mgkin antum pernah menjawab ini. Tentang wilayah dimana masa siangnya lebih lama dari masa malamnya (seperti Denmark, dll yang siangnya konon bisa 20jam lebih) bagaimana menentukan maghribnya ?

Sinar Agama: Agoest: Tetap saja mengikuti hitungan putaran matahari tsb. Karena itu mungkin dianjurkan pindah ke tempat lain kalau terlalu berat.

Agoest D. Irawan: Koreksi sy kalau salah ya ustad. apakah artinya boleh jadi tidak harus menunggu sempurnanya “malam” asal perhitungan mataharinya sudah masuk ?

Sinar Agama: Oh kalau itunya ma .. tetap saja, yaitu menunggu hilangnya mega merah di sebelah timur.

wasslam

Andri Herdiyanto: Bukannya di iran adzan maghribnya sudah sesuai syiah, sehingga untuk buka puasa tidak perlu menunggu lagi?

Sinar Agama: Andri, Kalau di Iran, asal adzannya tdk terdengar dari masjid sunni, mk jelas sdh sesuai dg fikih syi’ah. Karena itulah, saya pernah mendengar adzan maghrib syi’ah sementara langit bgt gelap mencekam karena mendung dan bulan purnamanya waktu itu bersinar sangat terang dan bahkan memancar ke bumi (karena kebetulan bulannya tdk tertutup mendung). Itupun, di fikih, selalu dianjurkan untuk menunggu dulu beberapa menit, misalnya 5 menit.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad waajjilfarajahum

Andri Herdiyanto: Tapi yg saya baca dari buku daras fikih ringkasan fatwa imam ali khamenei, menyatakan bahwa, “kapan saja pelaku puasa mendapatkan kemantapan bahwa adzan telah dimulai sejak masuknya waktu, maka diperbolehkan baginya untuk berbuka puasa begitu adzan dimulai, dan tidak ada kewajiban baginya untuk bersabar hingga adzan selesai.” ( ajwibah al istifa’at no.360)

Sinar Agama: Yg dimaksud itu adalah adzan syi’ah yg dimulai dg hilangnya mega merah disebelah timur sampai ke atas kepala kita, bukan adzan sunni yg dimulai dg terbenamnya matahari. Jangan sesekali melakukan satu fatwa tanpa dihubungkan dulu dg fatwa2 lainnya di bab tsb, spt kapan waktu shalat maghrib atau berbuka puasa tsb dimana dijelaskan dg hilangnya mega merah di sebelah timur sampai ke atas kepala itu.

Arief Syofiandi: Sinar Agama: Hadi, shubuh sama persis dg sunni, karena definisinya sama persis. Ini untuk imsaknya. Tp untuk shalatnya, mk setiap tgl 13-22 hijriah, diwajibkan berhati-hati menunggu selama sktr 15 menit.

Arief Syofiandi: jadi kalau dari tgl 1 hingga 12 hijriah juga sholat subuhnya sama persis dengan azan sunni ya ustadz!!

Sinar Agama: Arief: Benar bgt, yakni tgl 1-12 sama persis waktu shalatnya dg sunni, bgt pula dari tgl 24-akhir bulan, tp di tgl 13-22 diakhirnya sekitar 15 menit. Ingat, ini hanya untuk shalatnya, tp untuk imsak puasanya tetap adzan sunni itu yg jadi pedoman dan tdk boleh dilanggar kalau tdk ingin batal dan bayar kaffarah.

Alia Yaman: Syukran

Ima Fatimah ‎Deni Irawanto:, tolong dibaca, nanti jelasin ke aku🙂

Kidung Cinta: Duh, berat juga ternyata pembahasan untuk mengerti batasan waktu, ini baru 2: subuh dan maghrib. Memahaminya bisa ditunda menunggu kemampuan otak, tp spy aman puasannya ikut nunggu 45 min deh. Yakin, kalo sdh terbiasa ga akan berat. Insya Allah. Makasih uraian puanjang luebarnya, Ustad! Semoga Allah memberkati!

Arief Syofiandi: berat karena belum terbiasa, padahal logikanya sangat simpel: masa kita kuat nahan lapar-dahaga 13 jam, pas 45 menit goyah,,,he–he–karena gak tahan liat yang lain aja ya…,

Yudi Helfi Sutan Ma’rouf: Untuk memudahkan, saya biasanya pakai google chrome extension dari @mohamedmansour. Di sana ada option untuk menggunakan kalkulasi shia athari dari Universitas Tehran atau Qum Leva Institute. Tinggal masukkan koordinat kita, maka ada hasilnya. Untuk Jakarta sore ini, maghrib masuk pada 18.08. Kalau saudara2 ahlus sunnah kalau tak salah pukul 18 kurang.

Arief Syofiandi: maaf upaya mas yudi kayaknya udah tertolak dengan kemestian dalil ru’yat untuk patokan waktu shalat plus buka sebagaimana ustadz sinar agama paparkan di awal,,,bagaimana ustadz?

Sinar Agama: Benar yg dikatakan Arief, yg menjadi dalil itu adalah penglihatan mata (ru’yat), bukan hisab atau satelit. Jadi, kemudahan yg dimaksudkan Yudi itu tdk syah dlm agama. Jangankan riset hisab univ Tehran, ICC yg dipimpin ulamapun, kita tolak karena DEMI ALLAH TELAH BENAR2 DIRU’YAT DAN BERKALI-KALI, BHW MMG SETELAH 45 MENIT BARU HILANG MEGA MERAHANYA.

Kalau mau menolak ru’yat, setidaknya kalau lebih cepat dari yg hisab, karena bisa saja ru’yat tsb salah lihat. Karena yg tdk terlihat itu, blm tentu tdk ada. AKAN TETAPAI INI JUSTRU YG MELIHAT MEGA MERAH ITU YG LEBIH LAMBAT DAN BERULANG KALI SETELAH 45 MENIT. Nah, kalau yg menolak itu yg lebih cepat dan yg ditolak itu yakni yg ru’ya itu lebih lama, kan secara akal gamblang bisa dipahami bhw benar yg ru’yat mas???!!!!

Antum tahu, demi Allah saya jg takut salah, karena di akhirat itu sangat berat dan di dunia ini jg sangat berat. Tp apa daya ketika sdh diru’yat berkali-kali dan hasilnya spt itu. Lagi pula, emangnya saya jg tdk ingin cepat2 makan???!!!!

Arief Syofiandi: maaf lancang ustadz, kayaknya sudah semestinya para ulama AB di Indonesia menetapkan masalah ini sehingga tidak membingungkan ummat karena saya yakin mayoritas saudara kita berpatokan pada buka 10, 15 atau 20 menit setelah azan sunni…dan kalau merujuk pada pendapat ustadz selisih waktunya terlalu lama, mungkin kalau kita berbeda sama saudara sunni sudah tidak masalah, tetapi kalau perbedaan tersebut diantara kita, nampaknya kurang sreg karena bisa dijadikan indikasi “pecahnya” pendapat, yang dalam hal ini (ttg maghrib), afwan saya kira bukan rahmat….

Sinar Agama: Arief: Demi Allah, saya tahu seseorang yg sdh berbicara dg beberapa ustadz atau bahkan banyak ustadz dan bahkan ustadz2 yg berhubungan dg icc dan di icc dlm suatu pertemuan tdk resmi, dan biasanya mereka dlm menghadapinya, tdk ada yg bisa menjawabnya. Tp yg berlaku tetap berbeda. Kalau para ustadz itu, mmg sdh saling tahu bhw dlm penerapan obyek hukum, tdk ada taklid walaupun kepada marja’nya sekalipun. Jadi, antum jgn terlalu mengharap ada perubahan. Karena finalnya, adalah nanti di akhirat. Kalau mmg mereka2 itu meru’yat dg benar (dimana dlm setiap diskusi tdk pernah membawa dalil dg benar) tanpa kepentingan akan tetapi salah, mk maaf Tuhan akan menyertai mereka, paling2 puasanya tdk syah dan harus diqodho. Tp kalau peru’yatannya hanya dg melihat ke atas langit dari pintu rumahnya, tak perduli mendung atau tidak, dan, apalagi kalau ada kepentingannya, mk sdh pasti hukumnya, selain tdk syah dan wajib qodho, mereka harus pula membayar kaffarah.

Memang, secara hukum ru’yat dlm artian umum, fatwanya berbunyi +/-:

“Kalau melihat langit yg dlm keadaan tdk bermendung, lalu terlihat gelap dan menjadi yakin kalau sdh masuk maghrib, lalu berbuka, kemudian ternyata belum masuk waktu maghrib, mk wajib qodho tanpa kaffarah. Tp kalau langitnya sedang mendung, lalu karena mengira sdh gelam kemudian berbuka, lalu ternyata blm masuk waktu maghrib, mk tdk wajib qodho.”

Artinya, secara sepintas bisa saja seseorang yg tdk hati2 itu, yakni berbuka lebih cepat itu, meletakkan dirinya dlm masalah ini pada fatwa tsb hingga karena langitnya mendung, mk tdk wajib qodho.

Akan tetapi, kalau kita mau melihat jangkauan fatwanya ini, jelas bahwa hukum ini, untuk orang2 yg sdh tahu asal atau dasar dari waktu maghrib tsb dan sangat tipis kemungkinan bhw fatwa ini untuk mereka2 itu. Yakni bahwasannya fatwa ini, adalah untuk orang2 yg sdh tahu cara meru’yat dan sdh tahu waktu2nya, akan tetapi, dlm beberapa penerapannya ke yg dia tahu itu, terjadi kesalahan. Misalnya ia tahu kalau waktunya itu hilangnya mega merah di timur. Dan dia sdh tahu bhw hilangnya mega merah itu adalah dg melihat langit sebelah timur dimana di barat tdk ada mendung dan di atas tdk ada mendung tebal …dst spt yg sdh diterangkan berkali-kali. Jadi, dia sudah tahu ukuran sebenarnya kapan masuknya waktu maghrib tsb, tp di tengah jalan, yakni dlm beberapa penerapannya, salah lihat dan salah yakin atau bahkan salah kira. Nah, kelompok ini yg secara yakin difokus oleh fatwa tsb.

Akan tetapi, kalau dari awal, mmg tdk tahu waktu maghrib itu kapan; dari awal ia sdh menetapkan secara tdk profesional dlm arti menetapkan waktu maghrib secara serampangan dan tdk profesional, artinya kesalahannya itu bukan bersifat salah menerapkan pada profesionalitasnya itu (karena mmg dari awal tdk tahu cara meru’yat dan salah meru’yat), lalu ia melakukan kesalahan, baik di waktu langit sedang cerah atau mendung, secara perkiraan kuat, orang2 spt ini, tdk difokus dan tdk dimaksud oleh fatwa tsb.

Muhammad Nurahim Okki :Alhamdulillah… syukron ustadz… insyaAllah.. 45 menit…

Rudi Suwandi: Pak Ustad, Sy pernah mengamati juga. Kesimpulan sy bhw pengamatan haris dilakukan setahun penuh. Hasil! Pengamatan sy adalah di mega merah ditimur hilang, baik di utara mau pun selatan adalah 15-45 menit. Puasa saat ini cukup 15 menit mega ditimur sdh hilang. Suni syiah sepakat buka puasa adalah magrib sbg awal malam. Perbedaan terjadi dalam mendefinisikan tenggelam matahari. Syiah berihtiyat tenggelam matahari ketika mega merah ditimur hilang,menyisakan mega merah di barat.

Ibnu Ahmad Khan Ricky: mari kita himbau ikhwan2 kita tuk berbuka puasa 45 menit stelah adzan sunni setelah penjelasan gambalang ini………… syukran ustadz sinar agama atas sinaran agamanya!

Sinar Agama: Rudi: Sangat mustahil mega merah di atas ke timur itu, hilang dlm waktu 15 menit. Peru’yatan yg dimaksud dlm berbagai tulisan di fb ini, bukan hanya di bulan Ramadhan, tp di hari2 secara umum, karena hal itu berkaitan dg keseharian shalat maghrib. Jadi, peru’yatan itu bukan dilakukan sekali-kali. Kalau yg disebutkan sebagai peru’yatan di berbagai tempat itu, adalah peru’yatan rombongan untuk mengajarkan dan membuktikan kepada yg lain. Jadi, walau antum mau meru’yat dlm sepuluh tahunpun hasilnya akan sama, yaitu 45 menit dan mustahil 15 menit.

Perbedaan yg 15 menit yg antum ru’yat itu, saya kira karena pada waktu tsb, adalah di sebelah barat ada mendung, atau di tengah langit (atas kita) mendungnya tebal. Karena dlm keadaan spt itu, jelas mega timurnya tdk akan pernah ada, karena sdh dihadang mendung barat atau mendung tengah/atas. Coba antum lihat lagi bimbingan ru’yat yg saya tulis di atas itu dan baru turun lapangan untuk meru’yat.

Rudi Suwandi: Aku mengamati jg waktu azan sunni tdk konsisten dgn hadis2nya bhw magrib adalah tenggelamnya matahari selama mega merah masih tampak dan masuk isya ketika mega merah lenyap. Jika mengikuti riwayat tsb, bukanya lebih cepat dr yg ada sekarang dan isyanya mengikuti isyanya syiah. Khusus 45 menit ihtiyat memang ana pernah menyaksikannya sendiri utk bln2 tertentu. Tetapi untuk bulan ini kok 15 menit ya..Ada baiknya hal ini dibicarakan di ABI dan IJABI dgn bantuan marja. Salam

Indy Hairu Nissa: Ya Allah ustad.. Kalo ustad2 syiah dijakarta khususnya buka puasanya ternyata tdk sesuai dgn kondisi fenomena yg terjadi dan tdk sesuai dgn surat Albaqarah. Lalu bagaimana dgn umatnya ya ustad?

Indy Hairu Nissa:  Lalu bagaimana juga pertanggung jawabannya nanti di akherat kelak? Terutanma bagi ustad2 yg masih menjadi rujukan umat utk bertanya. Sementara mereka para ustadnya saja masih salah dlm menentukan kppn utk berbuka??  Serem ya ustad, bukan urusan main2 ini

Sinar Agama: Rudi: SAya menulisnya dg jelas, tlg baca dg baik hingga tdk mengulang penulisan2 yg sdh jelas. Apakah antum mengamati dari balik jendela rumah atau dari mana? Apakah antum mengamati ketika di barat tdk ada mendung atau ghimana? Apakah antum mengamati ketika di atas kita tdk bermendung tebal atau ghimana? Apakah di timur ada mendung atau ghimana?

Kalau dihitung anak SD-an saja, mungkin dg membagi waktu maghrib dan isyaa’ sunni menjadi dua sdh cukup mengetahui kesalahan antum itu. Karena ketika adzan maghrib, berarti matahari tenggelam dimana berarti pula langit kita disorot matahari yg mencuatkan mega merah di segala penjuru (timur, atas dan barat), dan ketika adzan isyaa’ sunni, berarti mega merah di sebelah barat baru hilang. Karena itu, membaginya menjadi dua, dpt disimpulkan ttg kebaru-hilangannya mega merah dibelahan timur langit (dari atas kita ke timur). Kalau hal itu dilakukan, mk akan menghasilakn pembagi-dua-an waktu antara adzan maghrib dan isyaa’ sunni. Nah, adzan sunni sekitar17.55 dan adzan isyaa’ sunni sktr 18.10 (untuk ukuran jkt sesuai informasi). Berarti selisihnya sekitar 1 jam 15 menit. Nah, kalau selisih ini dibagi dua saja, mk akan menjadi 37,5 menit. Itu saja sdh jauh dari pengakmatan antum yg entah bagaimana mengamatinya itu.

Catatan:

Mengambalikan dan menggantungkan diskusi dan msalah ini dimana merupakan tanggng jawab setiap mukallaf ini, kepada ormas spt ijabi dan yayasan spt abi, adalah pekerjaan mengaburkan tanggung wajab masing2 mukallaf dan mengeluarkan seorang syi’ah dari mengikuti marja’nya dlm menentukan dan meru’yat waktu shalat maghrib atau berbuka itu. Artinya menyimpangkan kita dari kebertaklidan kita kepada marja’ dan ketaatan kita kepada Allah.

Ijabi dan abi atau lain2nnya, bisa melakukan bantuan, akan tetapi tdk bisa menjadikan dirinya gantungan taklif setiap mukallaf. Terlebih kalau tdk ada anggotanya yg meru’ya itu telah meninggalkan semua dosa2 besar dan kecil. Jadi penggantungan spt itu benar2 bisa diaktakan anjuran kepada kabtilan. Karena itu, semua mukallaf punya tanggung jawab, setidak pada dirinya sendiri dlm hal ini dan tidak bisa menggantungkan diri kepada sesiapapun orang, mujtahid dan apalagi organisasi dan yayasan, kecuali kepada orang adil (tdk melakukan dosa besar dan kecil) dimana kalau kesaksian adil ini masih jg keliru mk tetap wajib qodho di kemudian hari walaupun sdh tdk wajib lagi kaffarah. Tp kalau menyandarkan diri kepada orang yg tdk adil atau organisasi dan yayasan yg tdk ada perintah dan fatwanya, lalu keliru, mk selain qodho, sangat mungkin harus pula membayar kaffarahnya (walaupun saya sendiri yakin terhadap kaffarah ini, tp karena taku keliru dan karena masih ada perinciannya, mk saya tulis “sangat mungkin”).

wassalam.

Sinar Agama: Indy: Setiap mukallaf itu punya tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dlm hal ini. Karena itu, kalaupun yg dijadikan rujukan itu adil, yakni tdk melakukan dosa besar dan kecil, mk tetap saja kesalaha dlm hal ini mewajibkan qodho. Apalagi kalau yg dirujuk itu bukan orang yg adil.

Karena itu, di akhirat kelak, tdk ada tanggung menanggung dilihat dari kewajiban setiap mukallaf. Memang, yg salah dan keras dlm kesalahannya itu, akan mendapat dosa tersendiri.

wassalam

Mukelho Jauh :Ustadz , Yang Menjadi Pertanyaan na Kenapa Para Asatidz yg Lalu” dan asataidz Sekarang Banyak Mengatakan Hanya Lebih 15 – 20 menit.bagaimana Yang Puasa” Sebelum na Bagi Orang Awam…?

Sinar Agama: Mukello: Kan sdh diterangkan semuanya di catatan itu??!!!!

Mukelho Jauh : Iya Ustadz,ana fahim mksd ana apakah Ungkapan Para Asatidz yg Lain menjadi gugur..
dan Apa bgmn hukum na Puasa yang lalu…

Ifan Ho : Bgm hukumnya klo kita buka bersama utk ukhuwah islamiyah, persatuan umat? apakah diperbolehkan utk menghindarkan perselisihan waktuu berbuka? Terima kasih

Sang Pencinta : Mas Ifan: berdasarkan pemaparan ust di atas, adalah wajib hukumnya fqih berbuka 45 menit, jadi tidak ada alasan justifikasi ukhuwah di sini. Sama seperti bisakah Syiah sholat sedekap dgn alasan ukhuwah dengan Suni?afwan

Ifan Ho : Terima kasih penjelasannya..syukron.

Sang Pencinta : afwan td salah ketik, maksudnya sedekap.

Sinar Agama:  MJ: Kan sdh dijelaskan pula bhw kalau antum melihat pertentangan, mk lihatlah argumentasinya. Lalu kalau sdh yakin dg yg saya jelasin, mk harus qodho yg telah lalu. Tp kalau masih tersisa keraguan, mk mungkin tdk usah antum bahas jauh2 lagi

, tp lakukan yg 45 menit itu untuk menghindari qodho dan kaffarah untuk yg puasa esok dan akan datang. Tp untuk tiori menghindar ini, saya tdk berani tanggung jawab. Tp seperkiraan kuatku, merupakan jalan termungkin dari yg tdk mungkin. Aku menulis ini dg perasaan yg hancur, karena kasihan akan akibat ketidak profesionalan dlm waktu berbukaini, terlebih sdh puluhan tahun hal ini dijelaskan, akan tetapi tdk pernah didengarkan oleh yg mendengarnya, baik ustadz atau rakyat biasa walau, semua mereka tdk pernah membawa dalil profesional dan tdk pernah bisa membantah dalil2 yg sdh saya sering tullis di fb ini.
Sinar Agama: Ifan: Awal shalat maghrib dan berbuka, tdk bisa ditakiahi karena persatuan. Kalau antum punya terjemahan fawa Rahbar hf, bisa dicek disana.
Ifan Ho :Baiklah…terima kasih ustad atas jawabannya.
Mukelho Jauh : SukrOn Ustadz….:)
I like it..
Sukaenah Azzahro: apakah kalau tahu AB baru setahun ini, puasa yang 20 tahun ikut sunni juga harus di Qodlo..? mohon pencerahan
Sang Pencinta : SA: jika puasanya sudah benar menurut fiqih Suni, mantan Suni tak perlu qadha puasa.
Sinar Agama:SA: Benar yg dikatakan Pencinta, bhw tdk perlu qodho karena sdh benar sesuai dg hujjah di sunni, yaitu tenggelamnya matahari.
Sukaenah Azzahro: Alhamdulillah….Jazakumulloh

selengkapnya

%d bloggers like this: