Mencuri Ilmu Ghaib???!!!!

Orlando Banderasmengirim keSinar Agama

12 jam yang lalu

Ustadz mau tanya. Dukun yg tahu tentang yg gaib spt tentang masa depan atau tahu dimana letak barang yg dicuri, itu umumnya krn bantuan jin. Sy lihat dalam hadist atau riwayat, jin dapat informasi itu krn mencuri informasi dari langit dan kemudian ditambahi kebohongan2 sehingga si korban dari dukun itu percaya krn ada informasi benarnya. Pertanyaannya bgm prosesnya jin itu bisa mencuri informasi dari langit padahal jin itu pastinya jin kafir krn bersekutu dg dukun untuk mengelabui korbannya? Trims Ustadz. Salam.

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

1- Kalau yg dikabarkan jin itu benda hilang, mk gampang saja, karena ia mencari dulu barang itu dan sdh pasti tahu tempatnya. Karena ia tdk dpt terlihat mata manusia karena jin adalah materi halus.

2- Kalau yg masa depan, itu dicuri dari kitab qadha dan qadr alias kitab ilmu2 Tuhan di derajat malaikat barzakh dimana masih bisa ada perubahan2nya. Beda dg kitab ilmu lauhu al-mahfuuzh yg tdk ada perubahannya karena itu dikatakan mahfuufh alias terjaga, yakni terjaga dari kesalahan dan perubahan.

Jadi, yg perlu diingat terlebih dahulu, adalah bhw kitab qadha dan qadr tsb, bukan kitab ketentuan bagi bagi manusia yg biasa dikatakan sebagai kitab nasib manusia. Akan tetapi ia merupakan kitab ttg ketentuan alam semesta yg bergantung pada keadaaan dan, kalau yg berkenaan dg manusia mk tergantung pada ikhtiar manusia itu sendiri. Jadi, seperti yg sdh diterangkan berulang-ulang, bhw kitab ini merupakan kitab ilmu tentang manusia itu sendiri. Yakni mengetahui apakah manusia Fulan itu akan memilih ikhtiar taat, pandai, maksiat atau yg lain2nya. Akan tetapi ilmu disini belum final. Artinya, para malaikat yg mengemban ilmu tsb tdk tahu akhir dari pilihan manusia tsb. Jadi, kalau manusia Fulan itu melakukan dosa, dia akan tahu berdosa (tahu yakni tercatat), tp apakah pada akhirnya ia akan taubat, mk untuk urusan2 finalnya ini, ia tdk tahu dan yang mengetahuinya hanyalah ilmu yg diteingkatan malaikat lauhu al-mahfuuzh.

Setelah tdk melupakan ttg arti dan makna serta hakikat dua kitab tsb, mk ketahuilah bhw untuk kitab ilmu (lbh mudahnya spy tdk kembali ke iman kepada takdir baik dan buruk dari Tuhan), karena ia berada di alam barzakh (antara materi mutlak dan malaikat Akal yg merupakan non materi mutlak), mk ia dpt dijangkau oleh siapapun yg mengurangi beban atau hubungan dirinya dg materi. Misalnya petapa, yoga, dzikir2 yg mematikan (bc: yg tdk lumrah spt baca bismillah sepuluh ribu kali sehari misalnya).

Intinya, spt yg dikatakan Mulla Shadra ra, bhw siapapun yg ingin berhubungan dg alam non materi, mk ia harus mengurangi hubungan dan ketergantungannya kepada materi.

Sudah tentu, mengurangi ketergantungan kepada materi ini, bisa dg jalan apa saja, spt tirakat, tapa, yoga, dzikir yg mematikan itu, …dst. Yg penting apapun cara yg dipakai seseorang, kalau intinya mengurangi hubungannya dg materi, mk ia akan dpt menjangkau alam non materi tsb.

Jadi, dengan cara islam atau bukan, secara natural, orang yg mengurangi hubungan dan keterkaitannya dg materi, ia akan dpt bersentuhan dg alam ghaib atau non materi tsb. Bedanya orang yg orang yg menyentuh dg cara salah dan tdk islami dg yg Islami, adalah bhw yg Islami ini akan terus dimiliki sampai mati dan dibawa ke akhirat, akan tetapi yg tdk Islami, kekuatannya itu akan putus kalau sdh mati nanti dan, apalagi di akhirat.

Tp Islami, bukan berarti dzikir yg mematikan atau puasa dan doa yg mematikan (bc: dlm ukuran yg tdk normal dari sisi banyaknya hingga mengurangi aktifitas materi badaniahnya). Tp yg benar2 Islami, yaitu ketaatan luar biasa yg, tdk diniatkan untuk dunia ini. Jadi, orang yg dg ketaatan luar biasanya itu (mematikan), menginginkan kekuatan di dunia ini, spt karamat, kekuatan penyembuhan, meramal orang …dst…, mk kekuatan ini akan lenyap ketika ia mati. Karena innama al-a’maalu bi al-nyyaat, yakni sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Jadi, siapa saja yg dg ketaatan mematikannya itu ia menginginkan kekuatan luar biasa di dunia ini, mk ia akan medapatkannya dg ijinNya, tp di kubur dan di akhirat kelak ia tdk memilikinya lagi. Dan barang siapa menginginkan dari ketaatan mematikannya itu sebagai bekal akhiratnya, mk ia akan terus memilikinya sampai ke kubur dan akhirat kelak. Karena itulah bagi pesuluk, orang yg menggunakan kekuatan batinnya di dunia tanpa perintah Allah, walaupun ia muslim yg taat, akan tetap dikatakan sebagai DUKUN atau PEMAIN AKROBAT atau PEYOGA/PETAPA atau PENGOLAH BATIN, artinya bukan mukmin yg tergolong baik. Karena itulah, pesuluk hakiki itu, berlomba menyembunyikan kekuatannya karena mmg ia tdk mencari kekuatan itu dan hanya mencari Allah (mukmin pesuluk), dan kalaulah dikatakan mencarinya (mukmin yg baik yg bukan pesuluk), adalah untuk akhiratnya dan bukan untuk unjuk rasa di dunia ini spy orang2 menghormatinya atau merujuk kepadanya (dukun).

Ingat:

a- Alam non materi itu, karena ia adalah sebab kita (yaitu barzakh), mk ia ada di dlm diri kita. Jadi, yg mengurangi hubungan materinya, mk ia akan lebih masuk ke dalam dirinya sendiri hingga menyentuh sebab terdekatnya itu yg bernama barzakh dan non materi tdk mutlak.

b- Iblis itu sama sekali tdk kafir dlm artian mengingkari Tuhan. Ia hanya tdk sujud pada nabi Adam as dan mengingkari ilmu Tuhan yg mengatakan bhw manusia itu lebih baik dari jin. Pengingkaran ini yg disertai dg penantangan dg keinginannya untuk membuktikan padaNya bhw ia (iblis) lebih baik hingga meminta penundaan kematian dan minta ijin untuk menggoda manusia itulah yg membuatnya terpuruk ke dlm jahannam yg terdalam dan tdk terampuni selamanya. Karena ia jg tdk mau taubat selamanya.

c- Kalau iblis masuk jahannam selamanya hanya karena tdk percaya Tuhan akan ilmuNya yg mengatakan bhw manusia itu lebih baik darinya, lah …. bagaimana dg manusia yg begitu banyaknya mengingkari ilmu2 Tuhan yg berkenaan dg tatanan hidup ini dan mengggantikannya dg tatanan yg lain yg tdk bersumber dariNya????!!!! Terlebih ditambah dg anti pati, benci dan bahkan pemerangan terhadap tatananNya itu????!!!!!!!!!!

Jawaban Soal:

Bukan hanya iblis, tp jin lain atau manusia, dapat melihat kitab qadha dan qadr itu. Yaitu dg cara melakukan pengurangan hubungan dan ketergantungannya pada materi, baik islami hakiki, islami tdk hakiki atau tdk islami sama sekali.

Jangkauan kedalaman dari masing2 orang/jin, tergantung kepada banyak sedikitnya pelaku tsb dlm mengurangi ketergantungan kepada materi2 tsb.

Tp ingat, bhw kitab itu mash bisa berubah tergantung kepada kondisi dari yg menjadi obyek sorotannya (misalnya si Fulan). Karena itulah Tuhan dlm hal ini berrfirman:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapus dan menetapkan yg dikehendakinya dan Ia memiliki ummu al-kitaab (lauhu al-mahfuuzh).”

Ingat:

Sudah sering dijelaskan bhw perbuatan makhluk (manusia) itu jg bisa dikatakan perbuatan dan kehendak Tuhan, karena akibatnya akibat, akibat pula bagi sebabnya. Jadi, jgn kembali lagi kepada determinisme/jabariah (iman pd takdir baik-buruk dari Tuhan) dg ayat ini. Dan, sdh tentu, walau semua perbuatan manusia itu adalah perbuatanNya dan kehendakNya jg sebagai satu2nya Pencipta bagi seluruh yg ada, akan tetapi yg bertanggung jawab bagi perbuatan manusia itu, adalah manusia itu sendiri. Hal itu, karena Tuhan telah memberikan akal untuk mengerti dan kehendak untuk memilih kepada manusia.

wassalam.

selengkapnya

%d bloggers like this: