Merasa Benar Sendiri Itu Salah??!!

Dicky Jalinusmengirim keSinar Agama

22 jam yang lalu

Salam, banyak diantara kita yang ketika berdiskusi atau debat merasa paling benar dan orang lain salah, apakah sikap seperti itu dibolehkan? Lalu, apakah sikap merasa paling benar bisa juga diartikan sebagai sombong? menurut pemahaman saya jalan Nabi dan ahlul baitnya adalah jalan yang paling benar, apakah kita juga boleh merasa atau menganggap bahwa kita yang paling benar dan orang lain salah? Mohon pencerahannya Ustadz…

terimakasih…

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaananya:

1- Jangankan ketika kita berdebat atau berdiskusi, selagi sendirian dg pendapat kita, sdh pasti kita merasa benar dan, perasaan ini boleh2 saja serta tdk dilarang oleh akal dan agama. Mana ada orang mengiman

i sesuatu tp dia ragu pada kebenaran keimanannya itu? Kan tdk mungkin bukan? Karena itu berarti kita boleh menurut agama dan akal-sihat, untuk meyakini kebenaran yg kita pegang tsb.

2- Konsekwensi dari keyakinan terhadap yg kita pegang itu, adalah kesalahan yg dipegang orang lain yg berbeda dg yg kita pegang. Ini knsekwensi logis dan agamis. Jadi, merasa benar terhadap yg dipegangnya dan meyakini salah dari yg dipegang orang lain, adalah logis dan tdk dilarang agama.

3- Dalam diskusi, mau tdk mau, dinyatakan atau tdk, ketika diskusi dan saling bantah serta mempertahankan diri, mk sudah tentu saling meyakini kebenaran dirinya dan kesalahan lawan bicaranya. Jadi, diskusi itu, sdh menjadi petunjuk bagi kemerasa benaran dirinya dan kemerasa salahan lawan diskusinya, sekalipun tdk diucapkan. Jadi, hal ini masih logis2 aja dan agamis2 aja.

4- Yg tidak logis dan tidak agamis adalah:

4-a. Kalau kemerasa benaran dirinya dan kesalahan orang lainnya itu, tidak dibangun di atas dalil yg gamblang. Artinya hanya bersandar pada perasaan, kebiasaan, kecenderungan dan keturunan.

4-b. Kalau kemara benaran dirinya dan kesalahan orang lainna itu, tidak disertai dg toleransi dan penghargaan pada lawan bicaranya. Artinya, memaksakan pendapatnya kepada lawan bicaranya. Toleransi bukan pembenaran, tp tidak memaksa orang lain menerima apa2 yg kita yakini dan kita anggap benar.

Banyak orang salah kira, bhw kalau menyalahkan orang lain tandanya tdk toleransi. Padahal tdk demikian.Toleransi bisa diiringi penyalahan atau mungkin penyesatan kepada lawan bicaranya, akan tetapi, pantang memaksakan pendapatnya tsb pada lawan bicaranya itu. Kalau harus disertai pembenaran pada yg beda dg yg kita yakini kebenarannya, padahal lawan bicara itu meyakini yg lain yg kontradiksi dg yg kita punya, mk ini namanya Pluralisme yg membenarkan semua keyakinan sekalipun saling bertentangan, jadi bukan toleransi.

Jadi, meyakini kebenaran diri dan kesalahan yg berbeda dengannya, yg dibangun di atas argumentasi dan dibarengi dg toleransi (tdk memaksa orang lain), bukan hanya terlarang, akan tetapi suatu kewajiban akal, agama dan merupakan konsekwensi nyata keilmiahan.

Orlando Banderas: Luar biasa. Mantap. Mencerahkan. Trims Ustadz. Jazakallah.

Dicky Jalinus: terimakasih ustadz atas pencerahannya..

wassalam

selengkapnya

%d bloggers like this: