Problem Internal Islam dan Ahlulbait

Sang Pencintamengirim ke Sinar Agama

13 jam yang lalu

Salam ust, sedikit uneg2 ya ust, yg sy tahu ustadz-ustadz AB yg terjun ke masyarakat banyak yg belajar dari hauzah Qom, apakah ketika beliau2 itu sblm terjun ke lapangan tidak melalui tes penyaringan atau katakanlah dibaiat shg apa yg disampaikannya sesuai dgn apa yg tlah digariskan oleh marjanya, shg keorisinilan ajaran AB tidak sampai pada kita2 yg awan/tidak ke hauzah? rims wa afwan

  • Irsavone Sabit, Alia Yaman dan 2 orang lainnya menyukai ini.

Irsavone Sabit: nyimak

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

1- Pendidikan disana itu bertingkat dimana semakin lama belajar mk akan semakin paham pelajaran yg telah lalunya sekalipun.

2- Kan sdh dibilang bhw 4 th – 5 th pertama itu adalah mukaddimah. Tahun2 ke 6 sampai ke 12 atau ke 14, adalah tingkatan tengah dan dari th ke 14 itu masuk ke pelajaran tinggi yg dikenal dg Bahtsu al-Khoorij.

3- Sekarang ini, dg tetap memperhatikan dasar2 pendidikan hauzah, sdh dibuat sistem penjurusan bagi yg tdk ingin mencapai ijtihad dlm fikih dan ushulfikih. Karena itu ada s1, s2 dan s3. Dan jurusannya banyak sekali, spt filsafat, madzhab2, fikih, ushulfikih, sejarah, bahasa arab, tafsir, keperempuanan, …… dst.

4- 5 tahun pertama bisa menyelesaikan s1, kira-kira 4 th atau 5 th kemudian bisa menyelesaikan s2, dan 5 th kemudian bisa menyelesaikan s3.

5- Disana, juga ada ujian2 dlm setiap pelajaranya dimana kalau tidak lulus dlm satu pelajaran, mk harus mengulang atau mengulang ujiannya setidaknya di akhir semester depan.

6- Saking ketatnya ujian, mk untuk masuk ke peringkat yg lebih tingg (misalnya dari s1 ke s2, dari s2 ke s3)i, jg diuji dg berat dimana kalau tdk lulus dua kali, akan disuruh pulang dan banyak jg yg gagal disini. Saya bicara untuk semua murid2 dunia, bukan hanya Indonesia. Dan bahkan sdh ada yg kabur duluan sebelum disuruh pulang setelah menyelesaikan satu peringkatnya, spt s1 atau s2-nya.

7- Bahasa dipulangkan atau DO, yg dipakai disana adalah “disuruh tabligh”.

8- Sedang untuk yg jurusan ijtihad, mk cara di point dua itu yg dipakai dan di Bahtsu al-Khoorij itu dibagi dua untuk pelajar luar negeri yg mau ikut programnya, yaitu menjadi 5 th. Kalau lulus di 5 th pertama, ia dikatakan Mujtahid Mutajazzi’ (mujtahid blm lengkap) dan kalau lulus di 5 th ke dua, dimana sampai sekarang blm ada lulusannya dan bahkan muridnya sampai sekarang baru 12 orang, mk ia akan disebut Mujtahid Penuh (ayatullah).

TEntu saja, yg jurusan fikih atau ushulfikih, atau bahkan jurusan lainnya, sari yg lulus s2, kalau ingin merubah jurusannya dan ingin menjadi mujtahid, mk bisa masuk ke program ijtihad ini.

9- Ujian yg dihadapi murid2 tingkat 4, yaitu yg di 5 th pertama Bahtsu al-Khoorij itu, adalah, tiap bulan menghadapi satu mujtahid dan di akhir tahun harus menghadapi 2 mujtahid yg mengeroyoknya. bgt seterusnya sampai 5 th.

10- Yg lulus di peingkat 4 itu, selain disebut Mujtahid Mutajazzi’ jg disebut Doktor atau sejajar dg Doktor.

11- Ada juga orang yg belajarnya bebas seperti sistem lama ketika belum revolusi, yaitu belajar sendiri sesuai dg tahapan2 yg ada di nomer dua di atas itu, lalu ujian sendiri pada guru2nya setelah belajar kitabnya itu atau ujian ke sekolahnya. Dan kalau sdh sampai di Bahtsu al-Khoorij itu, terserah dia untuk mengujikan dirinya. Apakah pertahap atau keseluruhan. Kalau nanti sdh dinyataka lulus oleh mujtahid, mk ia akan dinyatakan sebagai mujtahid, baik penuh atau sebagian/mutajzzi’ itu.

Tapi cara ini, tdk dipakaikan untuk orang2 luar negeri. Karena itu, ujian2 mereka harus tetap ke sekolah yg mengurusnya dan baru dikatakan bisa bebas, kalau sudah selesai dari tingkat 4 atau sdh menjadi Mujtahid Mutajazzi’.

Ada satu dua orang, yg karena alasan2 tertentu, dia dibolehkan tetap tinggal di iran, walaupun tdk ikut dlm pelajaran2 dan ujian2 formal tsb. Misalnya sebagai penulis, peneliti dan semacamnya. Tp orang2, kalau pelajar asing disana, benar2 hanya satu dua orang saja.

12- Untuk pelajaran2 ilmu Kalam dan Filsafat, mk jenjangnya sdh saya terangkan di catatan yg menulis ttg Kurikulum Hauzah dimana untuk selesai sampai Irfan, diperlukan 35 tahun secara normalnya. Tp kalau belajarnya berjam-jam sehari dan kuat hingga misalnya belajar dua kali lipat kecepatannya atau lebih, mk ukuran waktu tsb bisa diperpendek menjadi separuhnya atau lebih cepat.

13- Islam dan Ahlulbait as itu, tdk bisa dibahas dlm satu dimensi dan, apalagi dibatasi pembahasannya. Karena itu, semakin lama orang belajar, mk sdh tentu akan semakin tahu dg ijinNya. Karena disana, selalu dipantau dg ujian2 sebagaimana sdh dijelaskan.

14- Karena itu, para ulama mengatakan bhw taklid kepada yg lebih pandai itu dalah wajib. Nah, dilihat dari sisi ini, mk mereka jg menasihati bhw belajar agama jg demikian, terutama manakala terjadi perbedaan penjelasan. Yakni belajar kepada yg lebihpandai dan lebih banyak tempuhan pembelajarannya. Karena akal dan agama yg menyuruh demikian, terlebih ketika yg lebih pandai itu dpt menjelaskan dg gamblang tiori2 yg disampaikannya dan terlebih lagi, tidak bisa dibantah oleh yg dibawahnya atau yg tdk lebih pandai darinya atu tdk lebih tinggi darinya dalam jenjang tempuhan pendidikanya itu.

Tambahan:

Karena agama, terutama dlm masalah akidah dan pemikiran, tdk ada taklid menaklid, mk disini, siapa saja bisa mengajukan pendapat yg disertai dalil2nya. Karena itu, medanya lebih terbuka dari bidang2 agama yg lebih spesifik spt tafsir, fikih, ushulfikih, hadits, ..dst. Karena itu, dlm hal akidah bisa dg pengajuan dalil dan tdk memperhatikan jenjang capaian pelajaran itu, tp dlm bidang2 lainnya, sdh seyogyanya memperhatikan dg bijak, paparan yg labih alim tsb.

Ayatullah Jawodi Omuli hf dlm menafsirkan kata2 imam Ali as yg mengatakan (sesuai yg dinukil ke kita dan dg terjemahan yg menyebutkan inti2nya):

“Kalau kalian ingin tahu mutu seseorang, maka lihatlah makanannya.”

Beliau hf menjelaskan bhw makanan itu ada dua macam, makanan badan dan makanan ruh. Makanan bada adalah makanan sehari-hari itu. Dalam hal ini, kalau ingin melihat mutu seseorang, mk lihatlah hartanya itu, apakah ia adalah harta halal atau tidak, dibayarkan khumusnya atau tidak, korupsi atau tidak …dst. Kalau halal dan tdk ada tercampur apapun keharaman spt khummus/zakat yg tdk diberikan, mk ia orang baik dan kalau tdk, mk sebaliknya.

Beliau hf meneruskan: Kalau makanan ruh itu adalah ilmu. Karena itu, lihatlah apa ilmu, dari mana ia mendapatkannya, siapa gurunya, seberapa banyak ia mengambilnya (dg bhs sekarangan, kitab apa saja yg ia khatamkan dari gurunya itu)…….dst.

Anjuran Gamblang:

Kalaulah tdk mau memperhatikan semua yg dijelaskan di atas itu, setidaknya, dlm belajar, jangan mencampur dg kecenderungan dan kesamaan karakter dg pengajarnya, apalagi masalah kelompok dan keturunan. Jadi, carilah semua ilmu dalam kehingaran informasi itu, dg melihat dalilnya yg lebih gamblang, bukan yg lebih cocok dg rasa, perasaan dan kecenderungannya.

Kalaulah dg hal itu, blm juga terobati karena berbagai hal spt tdk bisa memahami dg baik dalil2 yg terungkap, mk setidaknya, pilihlah yg lebih hati2 dan lebih berat. Karena memilih yg lebih berat, walau ada kesalahannya, mk ruginya hanya sedikit berat di dunia saja, tp di akhirat sdh pasti lolos. Tp kalau nekad memilih yg lebih ringan lalu salah, jangankan di akhirat, di dunia ini sdh pasti akan menghadapi banyak masalah spt qodho, kaffarah dan semacamnya.

Rabaan yg Sangat Mungkin:

Sebenarnya, tingkatan2 itu tdk terlalu mencampuri urusan kehingar bingaran informasi di Indonesia ini. Yg sangat mungkin, adalah bhw dlm masalah Ahlulbait as di Indonesia ini, sama dg masalah2 yg dihadapi saudara2 sunni. Yaitu, tdk adanya spesifikasi dlm bidang para penyampainya dan, yg tdk lebih kalah parahnya, adalah tidak adanya spesifikasi dlm jenjang pelajarannya itu. Karena itu, semua orang atau penyampai, bisa menjelaskan semua masalah sekalipun tidak pernah ia pelajari dimasa ia menempuh pendidikan, baik karena bukan bidangnya atau bukan tingkatannya.

wassalam.

selengkapnya

%d bloggers like this: