Qolam Tuhan Penerang Ilmu dan Bukan Penentu Takdir

Hidayatul Ilahimengirim keSinar Agama 

Senin

salam ustad,,,,,td siang saya mendengar ceramah saudara kita sunni d radio padang,,,,d katakan sebelum manusia d ciptakan,ALLAH SWT menciptakan pulpen(qalam) untuk menulis takdir manusia,,,bagaimana menurut pendapat ustad dengan “pulpen” yg d madsud????afwan

Rahmat Jaka Umbaran: Nyimak.

Alia Yaman: Padahal tidak ada yang namanya PENCIPTAAN.

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Qalam itu biasanya berhubungan dg ilmu. Karena itu, mk tafsiran yg paling sesuainya terhadap ayat spt “al-qalamu wa maa yathuruun” (Pena dan apa yg ditulisnya…), adalah ilmu pengetahuan. Artinya pentingnya pena untuk manusia hingga ia maju dlm kehidupannya. Karena itulah sejak dari penemuan tulisan oleh manusia, mk sejak itu pula manusia tsb diistilah sebagai “manusia setelah sejarah”, yakni setelah menulis dan dari sana dpt dipahami sejarah mereka. Sementara yg masa2 sebelum menemukan tulisan, disebut sebagai “manusia sebelum sejarah”.

Ada juga ayat yg menceritakan al-qalam ini yaitu di ayat2 yg diturunkan pertama kalinya. Yaitu dimana Tuhan mengetakan:

اقرأ باسم ربك الذي خلق ، خلق الإنسان من علق ، اقرأ وربك الأكرم ، الذي

علم بالقلم ، علم الإنسان ما لم يعلم

“Bacalah dg Nama Tuhanmu yg mencipta, mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalal dan Tuhanmu yg Maha Pemurah, yang mengajar dg pena, mengajar manusia apa2 yg tdk diketahuinya.”

Dengan semua penjelasn itu, mk dpt dikatakan bhw apapun penjelasan yg mengarah kepada penulisan takdir, adalah penafsiran yg memaksa, baik diambil dari lahiriah hadits atau apalagi dari ayat (karena mmg tdk ada ayatnya).

Jadi, pena Tuhan dlm ayat tsb, dpt dg jelas dipahami adalah untuk mengajar manusia apa2 yg tdk diketahuinya. Misalnya, hidayah, syariat dan apapun yg bermamfaat bagi kemajuan manusia.

Karena itu, mk penafsiran ke arah penulisan takdir dan nasib manusia, merupakan penafsiran yg keluar dari kaidah tafsir, lahiriah Qur an dan memaksakan urkun imam yg dirumuskan Asy’ari hingga menjadikannya rukun iman yg ke enam itu.

Jawaban Soal:

Apapun qalam itu, bukanlah penentu takdir/nasib manusia karena akan membuat sia2nya syariat Tuhan dan surga-nerakanya. Dan qalam itu, bisa ditafsirkan pula dg malaikat yg dijadikan Tuhan sebagai perantaraNya untuk mengajar manusia spt malaikat Jibril as, atau malaikat tersendiri.

Hidayatul Ilahi: Syukran ustad🙂

wassalam

Nanang Agus Satriawan :Assalamu’alaikum… Wlw telat.. Nasib manusia telah di tulis di buku abadi (lauhul mahpuz) memang benar, ada beberapa dalilnya, tp mF ustadz, krn sy tdk berlatar belakang santri maka sy lupa.. ^^ Manusia penentu takdirnya juga benar “tdkl

ah Aku mengubah nasib suatu kaum jika………” Lalu yg mana yg sebenarnya hrs di pegang dari 2 dalil itu…??? Insya’allaah pilihan pertama akan membawa kepada keselamatan. Karna pilihan kedua akan lebih mengarah pada mengikuti hawa nafsu…. Wallaahu’alam.. Salaam…
Nanang Agus Satriawan : PERMULAAN PENCIPTAAN Semoga Allah s.w.t memberikan kamu kejayaan di dalam amalan-amalan kamu yang disukai-Nya dan Semoga kamu memperolehi keredaan-Nya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan fahamkan apa yang aku katakan. Allah Yan
g Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman: “Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku”. Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad s.a.w dengan sabdanya: “Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaannya diciptakan-Nya sebagai ruh suci”. “Mula-mula Allah ciptakan qalam”. “Mula-mula Allah ciptakan akal”. Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan hakikat kepada Nabi Muhammad s.a.w, Kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah. Dia dinamakan nur, cahaya suci, kerana dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal Allah. Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (Al-Maaidah, ayat 15) (Kitab Sirrul asrar)
Sinar Agama : Nanang: Buat apa kamu berdoa dan menyuruhku begini dan begitu, kalau kamu sdh tahu bhw apapun yg akan kulakukan itu adalah takdirNya?????????????????????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1
Nanang Agus Satriawan :Yg menyuruh siapa ustadz….
Kan dah sy jelaskan di koment pertama tentang berubahnya catatan takdir seseorang..
Dan sy juga manusia yg tntu tdk lepas dr apa yg namanya nafsu tsbt…
 Sebagai penambah wawasan silahkan buka link ini..

http://tarekatqodiriyah.wordpress.com/kitab-futhul-ghaib/

Heri Widodo : Allah Humma Sholi Ala Muhammad Wa Ali Muhammad.
Sinar Agama : Nanang: Kalau takdir itu bisa dirubah, trus apadibuat oleh Tuhan? Dan kalau sdh dibuat Tuhan, lalu hamba tdk mau merubahnya, lalu siapa yg salah, yg membuat takdir atau yg tdk mau merubah????!! Coba antum baca ilustrasi di bawah ini:

Rizal

y Dahlan: takdir itu ada 2 : muallaq dan mubram, takdir itu sudah ditentukan secara garis besarnya dan dapat berubah tergantung usaha dan doa, juga sedekah

Sinar Agama: Rizali:
Antum mau lari keman, tetap saja takdir ini tdk ada. Karena akalau ada orang yg mau tetap melakukan yg mu’allah trus sispa yg bertanggung jawab???

Misalnya ada orang ditakdirkan mua’aalq bhw ia akan berzina oleh Tuhan, artinya dia bisa merubahnya kalau dia mau dalam arti berusaha dan berdoa. Tp dia tdk mau, lalu siapa yg bertanggung jawab pada zinanya?

Kalau dia nanti ditanya malaikat:

“Mengapa kamu berzina?”

Dia akan menjawab:

“Karena sdh ditentukan Tuhan”

Kalau ketentuannya mubram/pasti, malaikat akan berkata:

“Ok, kalau begitu kamu ke surga, karena kamu hanya melakukan ketentuanNya”

Sampai disini, hasil tanya jawab itu, sdh bertentangan dg Islam, karena penzina adalah dosa dan akan disiksa.

Tapi kalau ketentuannya itu tdk mubram/pasti, alias bisa dirubah dg usaha dan doa, mk malaikat akan bertanya:

“Kan ketentuannya tdk mubram dan kamu bisa berusaha dan berdoa untuk tdk zina kan???”

Dia akan menjawab:

“Yah .. malaikat, ana lebih senang melakukan yg telah ditentukanNya. Kalau Tuhan marah padaku karena aku melakukan ketentuanNya ini, mk mengapa Ia tdk marah pada DiriNya yg menentukanku spt itu? Lagi pula, kalau aku tdk ditentukan berusaha dan berdoa olehNya, mk bagaimana aku bisa berusaha dan berdoa??”

Malaikat akan menjawab:

“Bener juga kamu, ok, silahkan masuk surga”

Dari hasil ilustrasi yg sangat mungkin dan merupakan konsekwensi dari keyakinan pada ketantuan takdir baik-buruk dari Tuhan yg diartikan ketentuan nasib spt di Masehi dan Budha ini, hasilnya akan menggambarkan masuknya semua pendosa ke surga dan, hal ini jelas bertentangan dg ajaran agama Islam. Karena itu, keyakinan ini dimana dipasang hanya oleh satu orang yg bernama Asy’ari ini, yg diikuti mayoritas muslimin sampai ke wahabinya ini, harus dipikirkan lagi dan sdh semestinya ia untuk dipertimbangkan kembali sebagai kepercayaan,

Kemudian, perkataan bhw kita ini sdh ditentukan secara garis besarnya saja, sangat bertentangan dg dalil2 yg menjadi acuan dari pemasangan keimanan pada takdir baik-buruk dari Tuhan ini dimana salah satu dalil ayatnya adalah ttg kitab lauhu al-mahfuuzh yg jangankan detail2 perbuatan manusia, daun kering yg jatuh juga sdh ditentukan olehNya.

Asal masalah:
Saya sdh sering menjelaskan bhw lahiriah2 Naql yg spt menjurus ke ketentuan nasib ini, sebenarnya dipaksakan oleh orang spt Asy’ari dan sebangsaanya. Hal itu disebabkan ketika pahamannya terhadap Naql tsb (Qur an-Hadits) ini salah. Dan kesalahan ini, mmg sdh dihembuskan sejak2 awal, spt oleh Umar ketika ia lari perang Uhud ketika ditanya wanita2 madinah mengapa ia lari meninggalkan Nabi saww di medan tempur sendirian, iapun berkata “Karena takdir Allah”.

Begitu pula penghembusan2 ini diterus teruskan oleh bani Umayyah yg membuat keraaan dlm Islam dan membuat berbagai peperangan dan pembunuhan demi kekuasaan dimana cucunda Nabi saww spt imam Hasan as diracunnya, imam Husain as dibantainya hingga kepalanya yg sdh dipisahkan dari badannyai tu dijadikan mainan bahkan di pesta kemenangannya yazib bin mu’awiyyah, imam Ali bin Husan bin Ali bin Abi Thaalib as jg dibunuhnya ……… dst. Penghembusan ini, tdk lain hanya untuk mengokohkan kerajaannya. Karena itu mereka mengakatakan bhw kekuasaan yg ada di tangan mereka itu adalah takdir mereka dari Allah, dan derita muslimin yg diderita karena mereka itu, juga merupakan takdir kaum muslimin itu sendiri dari Allah. Artinya, tdk ada satu orangpun yg berhak protes dan apalagi revolusi terhadap kekuasaan mereka dg alasan apapun, karena semuanya itu sdh sesuai dg yg ditakdirkan Tuhan.

Kunci Pemecahan:
Saya jg sering mengatakan bhw konci masalahnya untuk memecahkan masalah ini, adalah dg melihat:
1- Tidak ada di Qur an yg mengajarkan spt itu. Justru Tuhan mengatakan bhw satu atom saja perbuatan baik dan buruk itu, akan

dihisab. Disini, Tuhan tdk mengatakan “Siapa yg dibuat Tuhan berbuat satu atom kebaikan/keburukan, mk ia akan melihatnya -dimintai tanggung jawab”, akan tetapi Tuhan mengatakan (secara maksud): “Siapa yg berbuat satu atom kebaikan dan keburukan, mk ia akan melihatnya -dimintai tanggung jawab”.

Jadi, ayat ini dg tegas menolkan kepercayaan kepada ketentuan nasib mansuia itu. Dan, kepercayaan ini, tdk bisa dipoles dg berusaha dan doa, karena keduanya memerlukan kepada takdir juga. Belum lagi takdir ttg diterima atau tdknya doa tsb, dan takdir sukses tdk-nya usaha tsb.

2- Kalau kita perhatikan ttg ayat yg menerangkan ttg kitab luahu al-mahfuuzh, mk kita tahu bhw ia adalah kitab ilmu, bukan kitab ketentuan. Allah dlm QS: 6: 59, berfirman

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan Ia -Tuhan- memiliki kunci2 keghaiban yg tdk diketahuinya kecuali DiriNya sendiri. Dan Ia tahu apa2 yg ada di daratan dan lautan dan tidak jatuh dari sebuah daun kecuali Ia mengetahuinya, dan tdk satu bijipun di malamnya bumi dan tdk yg basaah dan tdk yg kering, kecuali ada di dalam kitab yg jelas/agung (lauhu al-mahfuuzh).”

Nah, kalau kita tdk teliti karena sdh diwarisi keharusan beriman pada takdir Tuhan itu, mk potongan ayat terakhir di atas itu “….kecuali ada di kitab yg jelas/agung”, akan dimaknait dengan:

“…..KECUALI SDH DITULIS DI KITAB YG AGUNG” , atau:

“…….KECUALI SDH DITENTUKAN/DITAKDIRKAN DI KITAB YG AGUNG.”

Padahal, kalau kita mengosongkan diri dulu dari segala pahaman2 yg diwariskan turun temurun itu, mk kita akan jelas melihat permasalah di ayat tsb dan akan dg mudah bhw yg dimaksudkan dg Kitab yg Jelas atau agung itu, adalah kunci2 keghaiban atau yg mengetahui apa saja yg sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. JADI, KITAB YG JELAS/AGUNG ITU, ADALAH KITAB YG MENGETAHUI SEMUA KEJADIAN TERMASUK PILIHAN2 DAN IKHTIAR2 MANUSIA SAMPAI KEPADA USAHA DAN DOANYA …DST SAMPAI KEPADA MASUK SURGA DAN NERAKANYA.

3- Dengan penjelasan2 di atas itu, mk kalaulah ada nagl yg menyebutkan takdir mubram dan tdk ini, dpt dipahami dg tanpa harus menentang ayat2 dan riwayat2 serta akal yg gamblang. Yaitu dg mengatakan bhw yg dimaksudkan adalah ilmu. Yakni ilmu pasti dan tdk pasti. Artinya, di tingkatakan ilmu yg berada di tingkatan qadha dan qadr, yaitu yg diemban oleh para malaikat yg berada di tingkatan ini, ilmu mereka ttg pilihan dan hasil2 konsekwensinya, sdh diketahui oleh malaikat. Misalnya sebagiannya sdh diketahui bhw si fulan yg memilih zina dg ikhtiarnya itu, mmk mustahil bertaubat karena ini dan itu, tp si fulan yg lain itu yg jg memilih zina dg ikhtiarnya sendiri itu, ia akan taubat karena ini dan itu. Itulah mengapa Tuhan di ayat yg lain mengatakan bhw:

“Ia -Tuhan- menghapus yg dikehendaki dan menetapkan” (QS: 13: 39).

Artinya, yang tadinya diketahui zina dg ikhtiarnya sendiri dan tdk akan bertaubat dg ikhtiarnya sendiri juga, mk dosa dan ketentuan masuk nerakanya akan ditulis untuknya dan apa2 yg ditulis untuknya ini, akan ditetapkan selamanya (mubaram/pasti). Sedang yg akan bertaubat dg ikhtiarnya sendiri, mk dosanya dan ketantuan masuk nerakanya, akan digantungkan dulu (mu’allaq) dan kalau nanti sdh taubat, dosa dan ketentuan masuk nerakanya itu, akan dihapus dg perintah dan ijinNya (menghapus yg dikehendaki).

Pemahaman spt ini, dpt diambil dari berbagai keterangan Qur an, hadits2 dan akal gamblang dan, sdh tentu pemahaman spt ini, tdk bertentangan dg ajaran agama itu sendiri. Karena sekali lagi, kalau semuanya sdh ditentukan, mk buat apa diturunkan agama dan kewajiban menaatinya?

Penutup:
Rinciannya, coba tinjau sekali lagi apa2 yg sdh kami tulis di catatan yg ada di fb ini. wassalam.

wassalam.

Khommar Rudin : Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad

Sattya Rizky Ramadhan :  Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad…memang berat meruntuhkan doktrin yg sdh di berikan puluhan tahun..meskipun dgn penjelasan” yg sgt gamblang disertai dalil..harus benar” berusaha dan niat bener” mencari kebenaran dgn dalil akal gamblang..terima kasih untuk tiap” penjelasannya Ustad..
%d bloggers like this: