Sekilas Tentang Tafsir dan Menafsir al-Qur an

Nando Antroshopia

assalamualaikum ustad. Semoga selalu sehat. ustad metode tafsir al-Quran antara syiah dan sunni perbedaannya dimana. seorang teman pernah bilang, kenapa kalian slalu menggunakan dalil logika dan filsapa yg notabene dari tradisi yunani. Tdk memakai kitab klasik islam (kitab2 kuning). Mungkin bahasanya lebih liberal. Trimakasih ustad, mohon jawabannya..

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

(1). Metode menafsir Qur an itu justru yg lebih bagus adalah dg cara menafsirkannya dg Qur an jg, bgt pula dg hadits. Ini yg terbagus. Dan prof Quraisy Syahab pernah ditanya oleh seorang kiyai NU di Jatim sekitar tahun2 1989 atau 1990-an dan saya ada di hadapan mereka dg pertanyaan: “Tafsir apa yg paling bagus menurut antum?”. Beliau menjawab: “Tafsir al-Miizaan.” Sang kiyai lanjut bertanya lagi dg tercengang: “Bukankah al-Miizaan itu tafsir syi’ah?”. Beliau menjawab: “Iya benar spt itu. Karena metode penafsirannya adalah menafsir Qur an dengan Qur an.”

Percakapan di atas saya nukilkan dg bebas saja dan sesuai dg maksudnya, tp diusahakan jg lebih dekat kepada leterleksnya.

(2). Yg menjadi masalah bagi sebagian yg mengaku-ngaku Qur anik dan bukan filosofis, adalah mereka2 itu tdk memahami ayat dan hadits2 yg sebenarnya. Umumnya, mereka2 itu menafsir Qur an dg apa yg diimani dan diwarisi dari tradisinya, baru setelah itu mencari ayat2 dan riwayat2 untuk mendukung keimanan dan warisan yg diwarisinya itu.

Tp kalau di syi’ah, sekalipun orang syi’ah sendiri, ketika mau menafsir Qur an, tdk boleh tendensius dg keyakinannya sebagai syi’ah. Di syi’ah, sangat tdk dihormati manakala ada orang mau menafsir Qur an, tapi memasukkan kecenderungan2nya terlebih dahulu. Jadi, wajib mengosongkan dirinya dari berbagai warisan apapun walau, diyakini benar, dan hanya dan hanya menatap Qur an dengan mata dan hati yg kosong, baru mencoba memahami lahiriahnya (zhaahirnya), lalu memadukan dg ayat2 dan hadits2 yg ada.

Yg paling harus dibersihkan dari dalam hati dan dada serta akal kita ketika mau menafsir Qur an, adalah membersihkan diri dari keyakinan bahwa yg kita pahami itu sudah pasti benar dan merupakan wahyu Tuhan. Orang2 wahabi, jatuhnya ke jurang kegelapan, karena meyakini banget bhw yg ia pahami itu adalah ayat Qur an dan bukan akal dia. Padahal, apapun yg dipahaminya, baik dg memadukannya dg ayat2 lain, baik dari hadits, baik dari kitab kuning … dst … mk tetap saja ia merupakan pahamannya sendiri dan bukan ayat yg sesungguhnya. SEtidaknya, belum tentu merupakan makna yg sesungguhnya.

(3). Nah, ketika akal kita yg menjadi alat tunggal memahami ayat2 Tuhan itu WALAU, dg cara membandingkannya dg ayat2 yg lain atau hadits yg shahih yg ada, mk sudah tentu akal kita ini, harus digenahkan dulu. Yakni harus dibenahi dulu. Jangan sampai akalnya belum mengerti bhw benda besar tdk bisa masuk ke dalam benda kecil, sudah mau menafsir Qur an. Jangan sampai akalnya belum bisa memahami bhw Tuhan itu tdk terbatas, sdh mau menafsirkan Qur an. Jangan sampai kalau akalnya belum memahami bahwa kalau Tuhan itu dapat dilihat dg mata walau di surga akan membuatNya terbatas, sudah mau menafsir Qur an. Jangan sampai kalau akalnya belum bisa memahami bhw nabi2 itu maksum karena kalau tdk maksum mk tdk akan ada yg bisa mempercayainya seratus persen, sdh mau menafsirkan Qur an. Jangan sampai, kalau akalnya belum bisa memahami bahwa kalau Tuhan telah menentukan semua nasib manusia spt umurnya, matinya, rejekinya, imannya, surga-nerakanya, jodohnya, … dst .. mk tdk ada gunanya Tuhan menurunkan agama dan mencipta surga-neraka itu sendiri, sdh mau menafsirkan Qur an. Jangan sampai, kalau akalnya blm bisa memahami bhw kalau tdk ada maksum setelah Nabi saww maka jalan lurus itu sangat mustahil didapatkan, sdh mau menafsir Qur an. Jangan sampai kalau akalnya belum memahami bahwa kalau tdk ada maksum berarti Tuhan main2 dg manusia ketika mewajibkan kita meminta jalan lurus yg tak salah sedikitpun (wa laa al-dhaalliin), sdh mau menafsirkan Qur an. Jangan sampai kalau akalnya belum memahami bahwa dirinya bukan Tuhan dan pahamannya sangat belum tentu benar menurut Tuhan, dan pahamannya ttg ayat2 sangat belum tentu benar, sdh mau menafsirkan Qur an. Jangan sampai kalau akalnya belum paham kontrasiksi pernyataannya bhw dirinya tdk maksum tp meyakini seribu persen kebenaran dirinya dan salahnya orang lain, sdh mau menafsir Qur an. Jangan sampai, kalau akalnya belum bisa memahami bahwa Tuhan tdk menyuruh kita harus mencetak kitab di atas kerta kuning, sdh mau menafsir Qur an. Jangan sampai,kalau akalnya belum bisa memahami bhw apapun yg dipahami kita adalah dg akal, sdh mau menafsir Qur an. Jangan sampai, jangan sampai, jangan sampai …. sejuta jangan sampai….

(4). Sudah tentu, menafsir Qur an, bukan pekerjaan orang biasa walau profesor di bidang selain tafsir. Jadi, penafsir harus tahu caranya menafsir. Karena itu, harus tahu bahasa arab, tahu kaidah akal, tahu ayat2 yg berhubungan, tahu hadits2 yg shahih yg berhubungan, tahu sebab2 turunnya ayat, tahu bahasa arab di jaman Nabi saww (biasanya dg ilmu ushulfiqih), tahu bahasa sastra arab, tahu ini dan itu dan, sdh tentu belajarnya puluhan tahun dulu di pesantren atau di pendidikan agama terkhusus tafsir.

(5). Yg paling diperlukan jg, adalah tahu berbagai penafsiran dan bisa membedakan titik kuat dan lemahnya dg hati yg kosong tanpa kecenderungan sebelumnya.

Dengan penjelasan di atas itu, mk sdh jelas bhw tdk mungkin penafsiran yg dilakukan dg cara tsb, bisa membuat orang menjadi liberal. Memang, kadang temen2, saya lihat sepintas, tdk membidangi agama, tp karena terlalu bersemangat, dg hanya baca satu dua buku, sdh mau menafsir Qur an dimana membuatnya sering terseok di matan atau teksnya. Karena itu, mk orang lain yg melihatnya, pasti akan mengatakan bhw si pelaku tadi adalah liberal.

Karena itulah saya selalu menganjurkan untuk tdk main ayat dan hadits sebelum dijelaskan oleh ulama. Dan, kalaulah sdh dijelaskan, mk sampaikan kepada orang lain dg penuh ketawadhuan, karena bisa saja pemahaman kita itu salah dlm memahami penjelasan tafsirnya tsb.

wassalam.

Sattya Ali: Subhanallah..walhamdulillah,. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad.

Nando Antroshopia: Trimaksih ustad.. Sambung pertanyaannya., klo untuk hadist seperti apa? Syiah dan sunni mengambil jalur hadis kan beda2, bisa ga dengan perbedaan tersebut tetap saling diargumentasikan metodenya seperti apa ustad.

Sinar Agama: Sudah tentu bisa didiskusikan dan diadu argumentasikan. Karena beda itu tdk penting, yg penting adalah dalilnya. Hadits2 jg demikian. Ukuran keshahihan di sunni dan syi’ah ada banyak sekali yg sama, spt bhw matannya tdk boleh bertentangan dg Qur an. Karena itu, kalau ada matan hadits yg betentangan dg matan Qur an, mk jelash hadits tsb tdk syah dan tdk boleh diambil.

Misalnya, anggap ada hadits yg mengatakan bhw Ahlulbait itu adalah termasuk istri2 Nabi saww. Anggap ada hadits spt ini, dan bukan pandangan shahabat atau tabi’iin atau ulama dimana semua ini dibawah hadits, tentunya. Ketika kita menemukan hadits spt itu, maka artinya, ahlulbait yg disucikan (maksum) dlm QS: 33: 33 itu, termasuk istri2 Nabi saww. Makna ini, jelas bertentangan dg QS: 66: 3-4, dimana dikatakan bhw ada dua istri Nabi saww mengkhianati Nabi saww dlm amanat dan telah menyakiti beliau saww dimana diancam Tuhan bhw kalau tdk taubat maka akan begini dan begitu. Artinya, kedua istri2 Nabi saww ini, telah melakukan dosa dan bahkan diancam Tuhan.

Atau bertantangan dg hadits yg lebih shahih yg jg ada di sunni yg mengatakan bhw Ummu Salamah dan ‘Aisyah (di shahih Muslim) bersaksi bhw maksud Ahlulbait as itu adalah Nabi saww, hdh Faathimah as, imam Ali as, imam Hasan as dan imam Husain as.

Dengan demikian, mk hadits yg diumpamakan di atas itu, tdk bisa dipegang menurut ukuran sunni dan syi’ah sesuai dg alasan2 di atas itu.

Nando Antroshopia: Trimaksih ustad, atas pencerahannya.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad wa ajjilfarajahum

Nando Antroshopia: Assalamualaikum ustad. Mohon pencerahannya kembali, Seorang teman memposting masalah puasa nisfu syaban dan amalan2 segala macam adalah bid’ah. Sampai melebar masalah terawih. Sy bilang ada pernyataan umar tentang bid’ah hasanah, terkait masalah terawih. Kemudian dia mengatakan pula, umar bin kattab. Pernah mengatakan bid’ah adalah bid’ah, segala bid’ah adalah dosa. jd terjadi pertentangan pernyataan umar tentang bid’ah hasanah dan pernyataannya yg lain bahwa bid’ah adalah bid’ah, berdosa dan sesat. Bagaimana pandangan ustad terhadap pertentangan ini.?

Sinar Agama: Tanya saja ke teman antum itu, apakah dia sdh menghafal semua hadits yg ada di kitab 6 hadits sunni atau kitab 20 yg ada di sunni dan kitab2 tafsir? Kalau dia tdk menjawabnya, mk pembid’ahannya itu yg bid’ah.Karena mencipta hal baru.

Lagi pula kitab hadits itu bukan hanya yg 6 atau 20 itu, di syi’ah masih ada puluhan kitab hadits. Kalau sekedar mengataakn bhw yg tdk disukainya adalah bid’ah, mk agama akan menjadi miliknya. Ana kira ia,bukan orang2 yg rajin belajar agama dan mengerti seluk beluk tafsir dan hadits. Artinya bukan orang alim yg belajar tahunan kitab2 kuning (bc: arab).

Untuk masalah tarawih itu, mk ia harus konsekwen pada dirinya sendiri, kalau ia menjadikan agama itu sebagai apa2 yg ia suka. Karena itu, taraweh itu tinggal pilih saja, bid’ah atau tdk. Kalau mau ikut umar dalam tarawih, mk jelas ia merupakan bid’ah yg baik. Dan kalau mau ikut umar di yg ia katakan itu, yg entah dimana dikatakannya, mk ia harus meninggalkan tarawih yg bid’ah ini. Kan mudah.

SEdang bagi pengikut Ahlulbait as, mk jelas akan mengikuti imam2 maksum as tsb, setelah Nabi saww wafat. Apapun hadits yg tdk sesuai dg Qur an dan dg ajaran Ahlulabit as yg maksum, mk aka kita yakini sebagai hadits lemah atau palsu. Karena tester bagi kebenaran penukilan hadits atau pandangan, tdk bertentangannya dg Qur an dan para maksum as tsb.

Karena itu, jangankan di sunni sendiri sdh dijelaskan bhw tarawih itu adalah bid’ahnya umar, bahkan kalau ada haditsnya sekalipun (dimana sdh pasti tdk ada,yakni shalat sunnah berjama’ah keculai minta hujan), mk kita para pengikut Ahlulbait as, tdk akan pernah mengikutinya. Itulah mengapa saya pernah menulis bhw Ahlulbait as itu bukan perawi hadits saja, tp imam maksum yg bertugas menjaga kelanggengan jalan lurus yg tdk salah sedikitpun ini sampai hari kiamat.

wassalam

selengkapnya

%d bloggers like this: