Waktu Berbuka di Syi’ah dan Tarawaih di Sunni serta Kegagalan Nabi saww???!!!!

Sinar Agama 

1 Agustus

Bismillah: Dua Bentuk Keanehan:

1- Aneh pada yg anti bid’ah, tp tetap melakukan taraweh berjamaa’ah yg dibuat Umar bin Khaththaab. Bgt pula menentukan bulan dg hisab yg tdk pernah dilakukan Nabi saww dan Tuhan sendiri sebagai Maha Melihat dg Ilmu. Bgt pula berfoto dan memajangnya sementara ia memusyrikkan gambar.

2- Aneh pada yg syi’ah yg tetap saja shalat maghrib dan berbuka sebelum sampainya 45 menit setelah adzan sunni tanpa dalil ilmiah sedikitpun. Apakah lebih suka mengqodho puasanya, atau, lebih2 suka menanggung qodho umat sejagad?

Imam Al-mahdi, Muhammad Tito dan 165 orang lainnya menyukai ini.

Hasan E Demaky: ‎45 menit? Apa nggak klamaan ustad?

Dunia Phia gman klo sedang buka puasa bersama dengan keluarga yg dari sunni?

apa harus tetap menunggu sampe 45 menit?

Illa Meilasari:Iya tad…sy suka 15 menit setelah adzan…gmn ð☺ηĞ? Patokannya apa tad? Mohon penjelasan

Dan masalah foto, menurut syiah bagaimana tad? ♔

Ning Surachman: · Berteman dengan Muhsin Labib dan 106 lainnya

Sampai 45 menit ? Bukankah setelah sekitar 20 menit hari sudah gelap?

Udi Denta Maji: Aneh lagi gak sholat gak poso

neng tetep melok bodo lebaran

jal…..

Syed Ahmad Faiz: btl 2..sy merujuk pd syed ammar nakshawani,hanya selepas 5 atau 10minit selepas azan maghgrib..bergantung kpd negara dan tempat.

Sinar Agama: Salam dan trims atas jempol dan komentnya.

Sinar Agama: Hasan: Saya sdh sering memberikan dalil2nya, tlg antum lihat di catatan, bahkan kemarin saya memunculkan lagi diskusi ttg hal ini,coba antum lihat.

Sinar Agama: Dunia: Iya, tetap wajib menunggu walau berbuka dg presiden sekalipun.

Eko Budi Prabowo: sy ga paham dan bingung..peredaran bulan bisa ditentukan dgn komputer..aneh juga puasa dg rukyat sholat dg hisab.

Ali Assegaf Senat Jatim: Demi Allah saya senang dengan manusia yang berpegangan pada prinsip-prinsip seperti — Ust Sinar Agama

Ayah Farhan: aneh tapi nyata🙂

Melly Antina: lebh aneh,gak poso tp melu riyoyo,gak tau slametan,tp gelem di undang genduren

Affandy Maksim D’mrvica: salam ustadz, untuk menggati puasa, apakah diwajibkan juga membayar kifarah ataw fidyah, ataukah hanya mengqodhonya saja ustadz,…

trimaksih

Padmayoni Boedjang Poerwaroepa: Dalem Tumut Nyimak Kemawon, sederek2 sedoyo.

Maya Zahra: http://www.facebook.com/notes/sinar-agama/lagi2-diskusi-waktu-maghribberbuka-puasa-seri-tanya-jawab-muhammed-almuchdor-dg-/475887512421802 –> ini dalilnya

Lagi2 Diskusi Waktu Maghrib/berbuka-puasa, seri tanya jawab Muhammed Almuchdor dg Sinar Agama

Bismillah: Lagi2 Diskusi Waktu Maghrib/berbuka-puasa   Muhammed Almuchdor Salam ust, knp kita kl mau buka puasa hrus nunggu sampe gelap?…

Oleh: Sinar Agama

Sinar Agama: Ila: saya sdh menerangkan patokan shalat maghrib dan berbuka itu di catatan yg seingatku sdh ada 2 catatan ttg ini. Tentang foto atau gambar, di syi’ah jelas tdk masalah. Tergantung pada senonoh tdknya saja dan tutup menutup auratnya saja.

Sinar Agama: Ning san Syed: Saya sdh menulisnya di dua catatan, setidaknya. Dan yg dimaksud 45 menit ini adalah di Indonesia.

Sinar Agama: Eko: Waktu shalat dan menentukan bulan itu mmg hanya wajib dg rukyat. Baik meru’yat bulannya untuk menentukan awal bulan atau meru’yat hilang mega merah belahan timur untuk maghrib/berbuka dan terbitnya fajar shadiq di timmur untuk shalat shubuh.

Anwar Qodir Al Rumy: Tahlilan bid,ah..tawasulan bid,ah….yasinan bid,ah…jarah kubur bid,ah…..mempringati maulud bid,ah….kunut subuh bid,ah…..nawaetu’sauma godin bid,ah ga ada dalil nya……taraweh 20+3 bid,ah yg benar 4+4+3…..baca berjanji bid,ah…………dikit2 bid,ah………..GILA………. Itu islam apa sob murni apa wahabi….yg jidatnya hitam pake jengot…….sukron…

Eko Budi Prabowo: tapi dengan hisab boleh?

Arina Rien: بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Allahumma Shalli wa Sallim wa Baarik ‘alaa Muhammad wa ‘Aali Muhammad wa ‘Ajjil Faraja ‘Aali Muhammad

Sinar Agama: Affandy: Kalau meninggalkan atau makan sebelum waktunya itu disengaja, mk disamping qodho, jg harus membayar kaffarah, yaitu memabayar salah satu dari tiga pilihannya: Membebaskan budak, Memberi makan 60 orang miskin atau puasa dua bulan berturut-turut. Tp kalau tdk disengaja, misalnya sdh mendengar dari ustadz yg jujur ttg waktu buka puasa ini, tp tetap keliru, mk kewajibannya hanya qodho.

Tp kalau masih ragu, mana yang benar, mk pilihlah yg lebih selamet, yaitu yg lebih kuat argumentasinya dan lebih lama untuk ke depannya, dan tidak memikirkan yg telah lalu (tp saya tdk tanggung jawab ya, karena saya hanya ingin menunjukkan jalan menghindar dari qodho yg masih memungkinkan walau, tetap tdk pasti).

Tp kalau sdh yakin dg argumentasi yg lebih slamet ini, mk mmg harus diqodho puasanya yg terdahulu itu, sekalipun tdk suka pada pendapat tsb. Jadi, yakin artinya tahu kebenarannya secara argumentatif gamblang, walau sangat membencinya.

Sinar Agama: eko: tidak boleh.

Eko Budi Prabowo: walaupun hisab itu valid?

Muhammad Abdul Aziz: Setahu saya waktu magrib setelah adzan umum sekitar 15 menit dan untuk kehatia-hatian terkadang saya menambah 20 sampai 25 mnt jika melihat langit belum memenuhi syarat magrib. Mohon penjelasanya mengapa 45 menit???

Muhammad Love Fathimah: salam. ustadz saya pernah baca di buku 5 mazhab , bahwa waktu buka puasa AB itu bkn hilang nya mega merah tp mega merah di timur naik. gmn ustadz ? selama ini itu pegangan saya , klo selama ini ternyata saya keliru saya ga mau qadha ustadz soal nya banyak sekali..hehehe..wajibkah saya qadha ?

Muhammad Love Fathimah: Buku Fiqh 5 Mazhab. tolong dikoreksi , jika memang pendapat itu sudah tidak berlaku.

atau mungkin saya keliru baca.koment nya ali senat jatim kok ilang ??

coba di ulang.

Amhie AzuLa alhamdulillah: waktu berbuka ane 45menit setelah adzan, syukron ustad…

Sinar Agama: Eko: SEkalipun hisab itu valid. Karena yg jadi ukuran itu adalah pandangan mata, bukan keberadaan bulan. Keberadaan bulan yg sangat kecil di langit, sekalipun ia ada, tp bukan penentu bagi dimualainya masuk bulan hijriah. Persis spt antum memakai mikroskop untuk menentukan ada kencing tidaknya di baju antum. Walaupun dia valid, tp tdk menjadi ukuran kenajisan baju antum. Karena yg menjadi ukuran kenajisan itu adalah pandangan mata. Karena itu, kalau baju antum yg terkena najis spt kencing itu sdh disiram atau disucikan dg tata cara yg ada di fikih sdh dilakukan, mk baju antum itu sdh dihukumi suci, sekalipun kalau di mikroscop masih ada atom2 kencingnya.

Sinar Agama: Muhammad A A: Saya sdh sering menjelaskna hal ini di fb, termasuk kemarin saya baru menerbitkan catatan yg ke dua -seidaknya- ttg ru’yat ini hingga mangapa harus 45 menit. Antum bisa merujuk ke sana. Ringkasnya:

Untuk meru’yat hilangnya mega merah belahan timur langit kita, yaitu dari kepala kita ke timur, ada beberapa hal yg harus terpenuhi:

a- Jangan ada mendung di sebelah barat. Karena kalau ada mendung, sejak awal sdh gelap. Hal itu, karena mendung tsb, akan mencegah menerobosnya sinar matahari itu ke arah timur.

b- Di atas kita, tdk boleh jg ada mendung tebal, karena ia akan mencegah pancaran sinar matahari itu ke arah timur.

d- Di timur harus ada mendung.

e- Langitnya yg bagian atas dan timurnya, harus bermendung (tp bagian atas kita tdk boleh tebal), karena kalau tdk, mk tdk akan ada mega merah karena mega merah itu adalah pancaran matahari yg menyentuh mendung.

f- Mendung atas yg sangat ideal, adalah mendung tipis dan bercarai berai. Karena kalaulah mendung tipis di atas kita itu tetap mencegah sorotan matahari ke mendung di timurnya, mk sorotan matahari itu, masih bisa melewati celah2 yg kosong dari mendung tsb.

g- Paling idealnya mendung di sebelah timur, adalah mendung yg tdk terlalu tebal (walau tdk terlalu berpengaruh) dan ada di seluruh bagiannya, yakni tengah, utara dan selatannya.

Peru’yatan:

SEtelah syarat2 di atas terpenuhi, mk antum akan lihat, bhw setelah 30 menit adzan sunni, mk bagian atas kita dan tengah langit (bukan kanan dan kirinya), akan terlihat gelap, yakni tdk ada mega merah lagi. Akan tetapi, di sebelah kanan (utara) dan kiri (selatan) bagian timur, masih akan terlihat mega merahnya. Hal itu, karena bumi kita, untuk bagian utara dan selatannya adalah menurun. Jadi, walau bagian tengah bumi sdh mencegah sinar matahari untuk membuat mega merah, tp sebelah utara dan selatannya, masih bisa dilewati sorotan matahari hingga membuat langit bagian tumur daya dan timur laut, akan tetap bermega merah.

Nah, setelah ditunggu 15 menit, mk mega merah tsb, akan hilang. Itulah yg dikatakan masuknya waktu maghrib atau berbuka di syi’ah.

wassalam.

Sinar Agama: Muhammad L V:  Buku itu jelas tdk bis dipakai, tp bukan karena salahnya dlm masalah mega merah itu, tp karena seorang syi’ah harus taklid kepada marja’nya dan tdk langsung bermain hadits dan ayat sendiri atau memakai fatwanya orang yg sdh meninggal spt pangarang kitab tsb, yaitu Muhammad Jawab Mughniyah ra. Beliau ra jg mengarang kitab tsb, bukan sebagai pedoman unruk orang2 syi’ah, akan tetapi hanya sebagai pengenal untuk orang2 sunni yg ingin tahu fikih syi’ah.

Untuk penjelasan mega merah, spt yg sdh dijelaskan di atas ini, yaitu hilangnya mega merah di sebelah timur sampai ke atas kepala kita. Yakni hilangnya mega merah di bagian atau belahan timur langit.

Untuk qodhonya, itu terserah antum saja. Mungkin jalan keluarnya adalah mengikuti anjuranku pada mas Affandy yg sdh ana perbaiki lagi itu.

Untuk koment Ali ASJ: Saya tdk menghapusnya.

wassalam.

Sinar Agama: Amhie: Nikmatnya memakai ilmu dan ketabahan, bukan hanya akan dirasakan di dunia ini, akan tetapi akan berlanjut ke akhirat, i-Allah. Syukurilah nikmat2 yg tak pernah putus menghinggapimu itu.

Dwi Yoga: gaya yahud menjauhkan islam dr agamanya,umar,abu bakar,aisyah,muawiyah dll,disalah salahin,seakan bilang nabi kita gagal mendidik sahabat2nya,atau sayidina ali tidak menegur atau menindak tegas kesalahan2 sahabatnya,rofidhoh rofidhoh sebagian besar sunnah engkau selisihi,rofidhoh siapakah engkau?

Azzam Abdillah Azzam: Trimakasih pencerahannya ust sinar agama..

Erna Mennang: BINGUNGKA JUGA

Hikmat Al Isyraq: Imam Ali (a) said: “The person who imagines himself to be great in the eyes of God is worthless.” [Al-Amidi, Ghurar ul-Hikam wa Durar ul-Kalim, hadith # 8609]

Kiranya keimanan adalah penilaian samawi bukan dimata manusia.

Benar Ustadz Sinar Agama, Nikmatnya memakai ilmu dan ketabahan, bukan hanya akan dirasakan di dunia ini, akan tetapi akan berlanjut ke akhirat.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad

Zarranggie Syubeir: Indahnya kesabarab yg disertai dengan ilmu.. (Imam as)

Zarranggie Syubeir: Benar2 aneh.. Giliran di tanya, mengapa ente buka besamaan wkt orang sunni bro sedang harta,nyawa n kehormatan tidak terganggu? Jawabnya, ah itulah yg disebut persatuan?  Oya? Hehe

Hari Dermanto maksudnya menanggung qodho umat sejagad apa ustadz?

Gembel Elit Maf: tadz bsakh ditntukn dgn jm,,,trus jm brapaKh?? Gmna bla trjadi hujan

Sinar Agama: Dwi:

1- Apakah Nabi saww telah berhasil mendidik umat, dimana tanah kubur dan makamnya saja belum kering, rumahnya yg dihuni anak kesayangannya (hdh Faathimah as) sdh dibakar dan didobrak? Apakah berhasil ketika baru saja abu bakar jadi khalifah sdh menyerbu suku Bani Tamiim (karena tdk mau bayar zakat karena dianggap bhw pemerintahan abu bakar tdk syah hingga mereka mengeluarkan zakat secara langsung dan tidak melaluimelalui pemerintah), lalu ketua sukunya dibunuh oleh panglima abu bakar yg bernama khalid bin walid, kemudian istrinya dinaiki malam harinya, lalu khalid jg membakar beberapa orang2 hidup2 di depan umum? Apakah dikatakan behasil ketika satu suku Bani Tamiim itu menolak abu bakar dan terjadi perang? Apakah dikatakan berhasil ketika berbagai peperangan terjadi diantara shahabat dg shahabat berkali-kali dimana di perang Jamal saja dimana ‘Aisyah memimpin ribuan atau puluhan ribu para lelaki berperang melawan khalifah yg syah -imam Ali as- hingga jatuh korban setidaknya yg ditulis sunni (muruuju al-dzahab) 13-14 ribu orang shahabat dan taabi’iin? Apakah dikatakan berhasil ketika semua cucu2 Nabi dibunuh dan dibantai oleh Bani Umayyah dan Bani Abbas? Apakah dikatakan berhasil ketika cucu ksayangan beliau imam Hasan diracun mu’awiyyah?? Apakah dikatakan berhasil ketika cucu kesayangan beliau imam Husain as, dibantai dan dirajang-rajang yazid bin mu’aawiyyah hingga kepalanya dibuat mainan di atas meja yg ia rayakan sebagai pesta kemenangan dan mulut suci imam Husain as dimana sering dicium Nabi aww, dibuat mainan dg tongkatnya di depan umu di pestanya itu?? Apakah dikatakan berhasil ketika beliau saww sendiri mengatakan bhw umat ini akan mengingkari Ahlulbait beliau as dan membunuhnya? Apakah dikatakan berhasil ketika beliau saww sendiri mengatakan (sesuai dg riwayat hadits lemah tp dikuatkan sebagian saudara2 sunni), umatku akan pecah menjadi 73 golonga? Apakah dikatakan behasil ketika semua khalifahnya (3 dari 4 khalifahnya) tdk ada yg mati biasa tp dibunuhin semua? Apakah dikatakan berhasil ketika umat ini hancur seperti sekarang dan berhambur serta berbondong-bondong mengingkari adalanya shiraatha al-mustaqiim (jln lurus yg tdk bercampur apapun kesalahan = wa laa al-dhaalliin) dg mengingkari pemabawanya yg harus maksum (karena kalau tdk mk tdk mungkin jalan lurus)???!!!!

Orang2 banyak sekali berfikirnya sedikit muter. Saking inginnya menutupi ribuan atau belasan ribu korban shahabat yg terbunuh di tangan shahabat yg lain itu sendiri (dimana sdh pasti saling menyalahkan, menyesatkan dan menghalalkan darah diantara mereka sendiri), berlindung di pujian pada Nabi saww yg tdk pada tempatnya hingga mengatakan “Emangnya Nabi saww telah gagal mendidik umut ini????” Akhirnya, karena Nabi saww harus berhasil, mk semua fakta sejarah itu tdk pernah dibahas. Padahal Islam dan hadits2 itu kan diestafetkan dari para shahabat??? Nah, kalau Bukhari, Muslim …dll dari para pengumpul hadits, tdk mau ambil hadits dari pembohong walau hanya sekali saja berbohong, lalu mengapa tetap ambil hadits dari para shahabat yg saling berbunuh-bunuh dlm jumlah ribuan dan belasan ribu atau bahkan puluhan ribu (shahabat dan taabi’iin) pembunuhan itu?????!!!!

Antum mau mempercayai siapa dan mengingkari siapa, itu ma .. urusan antum. Tp kalau mau main ejek saja, mk sdh tentu kami akan mencoba memberikan penjelasan pada antum.

2- Ketahuilah bhw keberhasilan dlm mendidik umat, TIDAK HANYA TERGANTUNG PADA PENDIDIKNYA. Karena itu, bisa dikatakan bhw semua misi para nabi2 Tuhan itu gagal. Masih mending kalau gagal, sering nabinya itu sendiri yg dibunuh dan dikejar-kejar. Nah, APAKAH PARA NABI ITU GAGAL KARENA KESALAHAN METODE?????!!!! KAN SUDAH PASTI TIDAK DEMIKIAN BUKAN????!!!!!

Para nabi as itu gagal, karena unsur keberhasilan mendidik umat itu jg tergantung pada yg dididik. Kalau umatnya tdk mau, mk sdh pasti misi Tuhan yg disalurkan kepada nabi2 itu, akan gagal. Kita ini kan tahu semuaitu. Karena pengetahuan itu pulalah, mk kalau ada anak didik yg tdk lulus sekolah, akal kita tdk langsung menunjuk kepada guru2 mereka akan tetapi langsung menunjuk kepada anak didik tsb. Memang, kalau para guru, bisa saja salah metode sekalipun hal itu biasanya tetap lebih sedikit ketimbang kegagalan murid yg diakibatkan oleh kesalahan dan kemalasan si murid itu sendiri, akan tetapi, kalau para nabi yg maksum as, mk sdh tentu tdk akan mungkin salah metode dan salah langkah dlm kegagalannya itu.

Antum lihat, jangankan umat nabi2 as, anak sendiri dari nabi Adam as, nabi Nuh as, atau istri sendiri dari nabi Nuh as atau nabi Luth as, telah gagal menjadi umat yg baik dan ahlu surga. Trus apakah kegagalan ini karena kesalahan para nabi itu??? KALAU ANTUM MENGATAKAN BHW YG DEMIKIAN ITU KARENA KESALAHAN UMATNYA SENDIRI, MK MENGAPA KETIKA BICARA TTG SHAHABAT NABI SAWW YG SALING MENYESATKAN DAN SALING MEMBUNUH DLM JUMLAH YG SANGAT BESAR DAN BERULANG KALI DLM BERBAGAI PEPERANGAN, LALU DINISBAHKAN ATAU DIHUBUNGKAN KEPADA NABI SAWW ITU SENDIRI DAN TDK DIHUBUNGKAN KEPADA UMATNYA SENDIRI???????!!!!!!!

Dengan penjelasan2 ringkas diatas itu dpt dipahami, bhw adanya berbagai peperangan dan ribuan pembunuhan diantara shahabat itu, tdk mungkin tanda sebagai keberhasilan Nabi saww, jadi sdh pasti itu meruapakan kegagalan. AKAN TETAPI KEGAGALAN TSB, SAMA SEKALI BUKAN DISEBABKAN OLEH KESALAHAN NABI SAWW, MELAINKAN DISEBABKAN OLEH UMATNYA ITU SENDIRI SPT SEKARANG YG BERPECAH DAN SALING MEMBID’AHKAN DAN MENYESATKAN BAHKAN SALING MENGAFIRKAN. Karena itu, belalah dan pujilah Nabi saww dg apa2 yg memang bersangkutan dg beliau saww dan jangan sesekali menyelipkan apapun kepada beliau saww untuk memperbaiki keadaan siapapun di dunia ini. Karena pekerjaan spt ini, yakni menyelipkan kepada Nabi saww demi kepentingan tertentu, sungguh2 akan dimintai tanggung jawab oleh Nabi saww itu sendiri.

Ingat, ini semua hanya penjelasan dari saya untuk orang2 yg gampang mengejek, menyesatkan dan mengolok-ngolok orang lain dg tanpa berfikir sedikitpun dan tdk mengerti apapun sejarah yg terjadi. Jadi, tdk ada maksud lain, spt tdk menghormati pendapat orang lain ttg shahabat2 Nabi saww. Kami sdh merasa selesa dg apa2 yg kami yakini dan sama sekali tdk ada sakit hati kepada siapapun yg berpendapat lain. Karena kami, benar2 tdk merasa menjadi pemilik Islam agung ini, apalagi surga dan nerakanya. Jadi, kami tidak akan menyesatkan siapapun dan, apalagi memasukkannya ke neraka spt yg biasa dilakukan para wahabi2 itu.

wassalam.

Agusta Januar: Trims

Sinar Agama: Hari: Maksudnya adalah kalau ada tokoh, mengatakan tanpa pengetahuan sedikitpun ttg ru’yat mega merah itu, lalu mengajarkan kepada umat ini yg salah2 itu, mk ia diakhirat akan ditimpakan dosanya orang2 yg membatalkan puasa di sebelum waktunya itu.

Memang, di dunia si umat itu sendiri yg harus mengqodho, karena tetap merupakan kesalahannya yg menerima informasi dari selain adil (adil = yg meninggalkan dosa2 besar dan kecil). Akan tetapi di akhirat, saya yakin seyakin-yakinnya, si tokoh itu akan dihisab dg begitu beratnya. Karena ia telah membuat umat ini kebingungan, melakukan kesalahan dan, setelah tahupun akan terbebani qodho yg sangat2 menjengkelkan dan menyiksa. Karena itulah, mk ia akan menanggung qodho batin dari semua kesalahan seluruh umat yg telah melakukan kesalahan akibat berita tdk ilmiahnya itu. Beda kalau sdh ilmiah,

Jadi, penanggungan qodho itu secara batin dan akhiratnya, bukan dunianya yg tetap saja harus dilakukan yg mempercayainya yg, biasanya jg tdk ilmiah dan penuh kecenderungan (spt cenderung ingin cepat berbuka). wassalam.

Sinar Agama: Gembel E: Kan sdh diterangkan, dimana saja antum berada, begitu terdengar adzan sunni, mk tunggu 45 menit, baru setelah itu berbuka atau baru melakukan shalat maghrib.

Dewi Anggraeni: penjelasan yg begitu lengkap apalg tentang buka puasa …tunggu sampai gelapnya malam syukron ustad

Pranata Hirr Ad-Dausi: Gagal yah? Hidayah itu ada pada Allah.  Barang siapa yg Allah kehendaki beriman maka berimanlah ia. Seandainya Allah berkehendak firaun,qarun, dan kedua orang tua nabi pun beriman. Aneh ^^

Sinar Agama: Pranata: Kl bgt, mk nanti di akhirat, kalau fir’un ditanya malaikat mengapa ia tdk menerima hidayah, mk fir’un tinggal menjawab:

“Aku tidak menerima hidayah karena Allah tidak menghendakinya”.

Dan semua orang yg maksiat, yg zina, yg koropsi, yg maling, yg bejat, yg perampok, yg pembunuh ….dst, semua hanya tinggal menjawab:

“Kami melakukan ini semua karena Tuhan tidak memberi hidayah keapda kami dan karena Allah tdk menghendakinya.”

Akhirnya, tdk ada orang yg akan dimasukkan neraka karena semuanya akan beralasan tdk dikehendaki Tuhan sehingga Tuhanlah yg harus bertanggung jawab.

Adi Nugroho Bobara: · Berteman dengan MOhd. Arvian Taufiq

afwan sebelumnya, kalau ada beberapa teman nggak sepaham dgn pemahaman syiah yah monggoo, toh syiah punya dalil dan pemahamn sendiri begitu juga sunni punya pemahaman sendiri. saat ini kalau mau dipermasalahkan adalah : bagaimana orang islam yang tidak puasa dan tidak solat. itu yang dipermasalahkan. bukan orang yang sudah puasa dan solat yang dipermasalahkan. mohon maaf sebelumnya….. “Biarkan lah Allah memberikan pencerahannya kepada masing-masing kita”.

Mukelho Jauh: · 91 teman yang sama Allahumma Sholli ‘ALa Muhammad Wa Ali Muhammad

Pranata Hirr Ad-Dausi: Kalo gtu malaikat menjawab, mengapa tidak kamu cari hidayah itu?

Sinar Agama: Pranata: Nah, kalau hidayah itu harus dicari, berarti hidayah itu diambil manusia, bukan dikehendaki Tuhan. Dengan demikian, kita semua akan dimintai tanggung jawab, apakah kita jadi muslim atau bukan, jadi syi’ah atau sunni, jadi takwa atau tdk …..dst. Karena semua itu tergantung pada kita sendiri dan bukan tergantung pada kehendak Tuhan. Memang, kita tdk lepas dari Tuhan, akan tetapi dari sisi bhw kebebasan memilih itu adalah dari Tuhan dan, akibatnya manusia jg akibat Tuhan, karena Tuhan sebabnya para sebab. Jadi, kita bebas dan terikat. Bebasnya adalah ikhtiar, dan terikatnya, karena kita sebagai akibat Tuhan yg tdk bisa lepas dlm kewujudan ini dariNya. Jadi, pilihan dan perbuatan manusia itu merupakan tanggung jawab manusia sekalipun ia jg tergolong makhluk Tuhan, karena sebab terdekatnya sebelum keluarnya perbuatan manusia itu, adalah ikhtiar manusia itu sendiri.

Sinar Agama: Andi: Kita tdk bisa membatasi bahasan di masyarakat ini hanya pada satu titik atau point, karena masalah2 itu mmg ada. Jadi, boleh dibahas tanpa mengurangi bahasan2 lainnya.

Indo Potabuga: Allahuma shali ala Muhammad. Wa Ali Muhammad..  Salam alaika ya makzum.

Slam untukMu ya Imam Mahdi Al Muntasar..

Khommar Rudin:  Allahuma shali ala Muhammad, Wa Ali Muhammad..waajjilfarajjahum

Muhammad Bagir: salam ustadz, klo jam 6.30 sudah bisa buka puasa belum?

Affandy Maksim D’mrvica: afwan, ustadz saya baru nyimak,…

iya insya Allah ustadz saya memilih cara” rasulullah saja dengan cara meru’yat melihat kejadian alam sesuai dg apa” yang ustadz bahas seebelumnnya,…karena kejadian” alam kadang kala tidak selalu sama dengan perkira’an manusia seperti jam dll,…i-Allah dengan pngtahuan sains yg cukup bisa lbih jauh akurat lagi, akan tetapi kadang kala saya kondisikan dengan marja,…

o’ iya ustadz, apakah perkira’an” dlu sbum sya mengenal mazhab ja’fari(syiah) yang saya selaraskan dengan kodisi lingkungan yaitu cra” sunni pd umumnnya, apakah saya punya kewajiban untuk mengkodhonya setelah saya tahu ketika bertahun” saya salah akan cara” beragama yg benar,…

kemudian apakah ukuran denda kifarah dan fidyah seperti syarat” yang ustadz katakan sama apabila melakukannnya berulang ulang membatalkan puasa sebelum waktunnya ataukah bertambah sesuai ukuran puasa yang batal 2x lipat 3 kali dll,…. afwan

syukron ustadz

Pranata Hirr Ad-Dausi: Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendakiNya, dan Allah

lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al qoshosh, 56)

Itupun kalo Alquran kita sama ya ustad.

Sya hrap ini koment terakhir pd stat ini

Affandy Maksim D’mrvica Pranata Hirr Ad-Dausi: afwan, ikut menyimak juga,…

iya itu semua benar, semua masih dalam petunjukNYA sekalipun orang yang tinggal di tengah hutan yang tidak tau agama ini dan itu, mereka akan mendapat petunjukNya yaitu dengan fitrahnya,…

semua orang sama” menganggap dapat petunjuk ini dan itu, dan banyak yang berbeda, yang tajam sekalipun dan anehnnya juga didasarkan pada ayat yang sama pula,…

namun jikalau ditanya apakah itu benar” petunjukNya, setahu saya tidak ada yang berani membenarkannya secara bukti yang jelas dengan contoh” atau dalil yg gamblang,…

karena itu saya pernah mengalaminnya, ingat,… bisikan setan dan jin tidak jauh beda halusnnya denganNya sehingga sulit dibedakan karena semua bermuara pada tempat yang sama yaitu di dalam hati yg tidak lain pada keyakinan kita sendiri, sehingga hanya satu yang bisa melawan yaitu dengan AKAL,… cma itu yang saya bisa selebihnnya yang lain, jikalau ada yang salah ustadz mhon koreksinnya,…

Affandy Maksim D’mrvica: ustadz, saya mau tanya apakah puasa boleh di Taqiyah???,…afwan, trimakasih ustadz

Indo Potabuga: Maaf ustat,,saya mau bertanya dikarenakan kurangnya pengetahuan saya ttg agama..Apakah persoalan fiqih mc bisa men just bahwa mazhab A yg benar dan mazhab B yg salah..? Apakah ustat mmg benar2 yakin bahwa Sunni adalah mazhab yg benar..? Kita bisa melanjutkan diskusi ini ketika ustat telah memberikan pencerahan kepada saya yg sampai dgn saat skrg belum tercerahkan..

Bocah Tua: Tadz sy onani pas puasa,batal gak puasa sy

Sinar Agama: Bocah: Sdh tentu batal dan harus bayar qodho, dan semua denda yg tiga itu. Tp karena tdk ada budak di jaman sekarang ini, mk antum diwajibkan membayar 2 jenis kaffarah lainnya sekaligus, yaitu memberi makan 60 orang fakir dan berpuasa terus menerus selama 2 bulan. Kalau antum membatalkan puasa dg yg halal, mk hanya diwajibkan qodho dg membayar salah satu dari ketiga jenis kaffarah tsb. Tp karena dg yg haram, mk ketiganya harus dibaar. Tp karena tdk ada budak, mk keduanya harus dibayar.

Sinar Agama: Muhammad Baqir: Kalau di daerah antum adzannya 17.45, mk 18.30 mmg sdh masuk, i-Allah.

Taufan Harimurti: Aduuh,,males banget sebenarnya nanggepin status kekanakan kayak gini..Taraweh berjamaah itu (mungkin) bid’ah bagi Syi’i.Tetapi itu bukan Bid’ah bagi Sunni karena periwayatannya (bagi sunni) sampai ke nabi saw.Dan bukan karangan Umar.

Sinar Agama: Affandy:

1- Kalau puasa yg dulu ketika antum masih sunni, berbukanya sesuai dg sunni, mk sdh tdk ada masalah i-Allah.

2- Kalau puasa yg dulu, maksudnya adalah ketika antum sdh syi’ah, tp karena menganggap fikih berbukanya sama dg sunni, mk antum berbuka spt sunni, mk tdk wajib kaffarah, tp wajib qodho saja.

3- Kalau antum sdh jd syi’ah, lalu diberitahu oleh orang adil (tdk melakukan dosa besar dan kecil) bhw waktu berbukanya adalah fulan waktu (misalnya), lalu antum berbuka dan, ternyata sekarang antum mendengar dari orang spt saya bhw harus 45 menit, lalu antum sekarang masih ragu, tp mau hati2 menunggu 45 menit, mk mungkin yg dulu2 itu tdk perlu qodho, tp ke depannya wajib menunggu 45 menit. Tp kalau mmg sdh benar2 yakin dg yg 45 menit dan kesalahan yg tdksampai 45 menit, mk sdh seyogyanya qodho. yakni mengqodho puasa2 yg salah dlm waktu berbukanya itu.

4- Kalau takiah dlm puasa itu disebabkan untuk persatuan, mk jelas tdk boleh. Jadi, tdk boleh takiah persatuan untuk waktu shalat, waktu berhuka dan semacamnya. Jadi yg boleh takiah persatuan itu spt shalat berjamaah dg mereka, tp cara shalatnya wajib dg cara syi’ah.

Tp kalau ada kemungkianan akan dipukuli, diperkosa, dibunuh dan dirampas harta kehidupannya, mk saya mengira kuat tetap wajib qodho. Tp saya akan konfirmasi dulu dg kantor Rahbar hf bagian fikih.

Asep Rahman Nurrahim: Mmmhhh…Asep ikutan aza deh…Yg terbaik asep ambil…Cm asep msh raba2 yg terbaik yg mana????

Amrillah Rizki: ustad kalo waktu azan suni 45 menit baru buka berarti udah masuk waktu isya dunk hehehe…. afwan

Nurdin Mahkota Naga Hijau: azan magrib mash pertengahan antara siang dan malam.betul ga ustad.

Ria Caya: Maaf, saya awam hal beginian…

Apa tdk semestinya umat islam itu harus bersumber hukum al qur’an, tdk pada hadist.

Klo kita bersumber pada hadist berarti kita secara langsung atau tdk langsung menduakan al qur’an. Bukankah hadist adl catatan perilaku nabi muhammad, sementara nabi muhammad sendiri berperilaku menurut al qur’an. Lagian hadist setahu saya di buat jauh setelah nabi muhammad meninggal…

Ada yg bilang al qur’an tdk bisa menjelaskan. Tapi klo di pikir2 masa dari Allah tdk bisa menjelaskan, sedang yg bikinan manusia bisa menjelaskan. Pinter manusiany drpd Allah, aneh kan.

Nabi muhammad berpedoman pd al qur’an tdk kpd hadist…

Skali lagi maaf klo salah.

Suwun

Fahmi Husein: Afwan, untuk Sinar Agama; mending yang gak berhubungan dengan status tidak perlu ditanggapi kalo dapat di delete aja, kalo mau debat sunny syiah dilain ‘forum’, jadi kemana2, susah belajar-nya kalo msih baca2 “cecunguk2” yg bwt darah lbih cpet jalan’nya, trutama puasa2 gni🙂

3- Kalau antum sdh jd syi’ah, lalu diberitahu oleh orang adil (tdk melakukan dosa besar dan kecil) bhw waktu berbukanya adalah fulan waktu (misalnya), lalu antum berbuka dan, ternyata sekarang antum mendengar dari orang spt saya bhw harus 45 menit,..

Nurdin Mahkota Naga Hijau:ria@al-qur’an punya magna yg luas,

kalau magrib masih pertengahan antara siang dan malam,berarti kalau berbuka puasa sebelum azan magrib itu masih tergolong sore,

Indo Potabuga: Aneh yaa,,persoalan fiqih diperdebatkan..

Saya kira kalau kt sdh masuk ke wilayah fikih berarti kt sdh tuntas di wilayah keNabian dan kepemimpinan,,karna semuanya sdh dijelaskan dstu..baik ushuludin maupun furu’..

Fahmi Husein: ‎@indo; Bukan diperdebatkan tapi dipertanyakan, wilayah fikih mang ada di indonesia?? Atau minimal, ada penunjukan dari wali fakih untuk di indonesia agar mengikuti-nya agar tidak terjadi perdebatan.

Sepengetahuan saya yg selalu menjadi jawaban asatid adalah ‘berita’ dari dua orang adil, lha kalo org adil-nya beda2 pendapat gimana?

Muhammad Indra: sepertinya bukan hanya qodho yang harus dikerjakan….

Reza Assad: ass. ana baru b’gabung. mudah2an bs jd nambah ilmu..hehe. nuhun.

Sinar Agama: Taufan: Karena males itu mk kamu tdk tahu apa sesungguhnya dalil sunni dlm taraweh itu. Coba kamu cari, mk ia bkn dari Nabi saww sekalipun di sunni, tp buatan Umar, yaitu shalat sunnah berjamaa’ah (taraweh).

Sinar Agama: Amrillah: Antum sdh selidiki belum bhw setelah 45 menit itu isya’, aneh banget itu kalau terjadi di tempat antum, dan akan lebih aneh kalau antum tdk melihat jam antara adzan maghrib sunni dan isya’ sunni. Artinya, ajib karena antum blm lihat kok sdh berani nulis spt itu.

Syahru Efendi: amirllah@kl setengah jam lbh awal dr kata ente sich tu bs masuk akal

Sinar Agama: Ria: Kamu ikut Qur an ya? Mari silahkan simak ayat ini:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Allah menikmati -dg nikmat besar- kepada mukminin dengan mengutus rasul di tenga2 mereka dan dari diri mereka, yg membacakan ayat2Nya dan mensucikan dan mengajarkan al-kitab (Qur an) dan hikmah (dalil2 kuat), karena sesungguhnya sebelumnya mereka itu berada dalam kesesatan yg nyata.”

(QS: 3: 164)

Bisa dilihat ayat2 yg senada spt, QS: 2: 129; 2: 125; 3: 48; 4: 54; 4: 113; 5: 110; 62: 2.

Jadi, kalau kamu mau ikutan Qur an, mk ikuti ayat di atas itu. Yaitu dg mengatakan dan mengimani, bhw hadits2 Nabi saww itu, baik kata2, perbuatan dan taqrirnya ( diamnya dikala shahabat melakukan sesuatu), adalah penjelasan beliau saww ttg Qur an. Karena itu, mk kita harus yakin dan mengatakan, bhw Qur an dan hadits tdk bisa dipisahkan dan harus dibuat pegangan hidup kamum muslimin. Dan, memisahkan Nabi saww (hadits) dari Qur an, sama dg menentang Qur an itu sendiri. Jadi, jgn ikuti ingkarussunnah yg sesat itu mabak.

Nurmandi Nurman: bagus semua. Banyak org bnyk pula pendapatnya. Yg jelas kalo masalah fiqih yg hrs sama. (ada situasi dan kondisi yg beda. Msl : Iran dg Indonesia). Tp jk. Masalah akidah mk. Ssorg tdklah hrs sm dg yg lain. Setiap zohir haruslah disertai batin.

Taufan Harimurti: masalah klise sih,Tad…Orang2 yg males dan kurang jujur ya jawabannya semodel antum.Cekidot,Gan..

من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب الله له قيام ليلة

Sumber: سنن النسائي :: قيام الليل وتطوع النهار :: قيام شهر رمضان

Dan masih ada dalil2 lain dari kitab2 Sunni tentang itu😉

Mau dalil lagi..Silakan antum yg cek aja sendiri.Supaya lebih puas.Afwan,sebenarnya persoalan2 seperti ini mestinya udah gak perlu diperpanjang kalo memang kita punya iktikad baik dalam pendekatan madzhab,atau minimal menjaga persatuan umat.

Nurmandi Nurman: yg jelas kita jgn mudah menyalahkan org lain, ttp menjadi kewajiban bg yg berilmu untuk menyampaikan kebenaran. Ingatlah Islam tdk ada paksaan, yg mau ikut silakan, yg tdk mau yg gak apa2. Kamu patuh Allah tdk untung, kamu tdk patuh Allah tdk rugi. Jadi kesadaranlah yg disertai ilmunya yg utama.

Sinar Agama: Fahmi:

– Saya mmg berusaha menanggapi apapun yg bisa saya bantukan, sekalipun tdk terlalu mengena dg topik, tp biasanya mengena dg dasar keyakinan dan kepercayaannya. Walhasil, semua perlu tanggapan yg baik dan argumentatfi.

– SAya tdk paham maksud pertanyaan antum. Sesuai rabaan, mk saya akan menerangkan ini:

Meyakini ttg maghrib (hilangnya mega merah di atas kita ke timur), memiliki dua permasalah:

a- Tentang dalilnya bhw maghrib itu dg hilangnya mega merah di atas kita ke timur. Untuk ini, jelas dalilnya orang yg tdk mencapai derajat ijtihad, mk wajib berdalil dan merujuk kepada mujtahid yg dijadikan marja’nya.

b- Untuk penerapannya, yakni mayakini waktu hilangnya mega merah di atas kita ke timur, mk bisa dg berbagai cara, bisa dg meru’yat sendiri dan bisa dg dikabari orang adil (tdk melakukan dosa besar dan kecil). Bisa jg dg dalil2 ilmiah yg gamblang.

– Nah, dlm masalah kita ini, antum bisa mendasarkan kepada orang adil (yg tdk melakukan dosa) dan, bisa juga dg melihat dalil2 dan penjelasan dari sebuah berita ttg masuknya maghrib tsb atau dg meru’yat sendiri.

– Tekanan dari penjelasan saya ttg 45 menit itu, bukan di adil tidaknya saya yg mmg tdk dikenali antum karena saya sendiri bersembunyi di balik awan. Akan tetapi memberikan kabar ttg peru’yatan yg sdh benar dan profesional itu. Memang, kalau antum dg tulisan2 saya di fb ini, meyakini keadilan saya (afwan) atau minimal kejujuran saya (kalau yakin tentunya) atau kebenaran penjelasan saya, mk antum wajib mengambil berita dan penjelasan2 saya ini, yaitu menunggu 45 menit.

Karenaitu, tekana bahasannya adalah di dalil ttg aplikasi dari fikihnya dan bukan dalil fikihnya. Nah, disini, yakni di dalil aplikasi ttg penerapan fikihnya ini, tdk ada taklid menaklid. Yang ada adalah dalil yg kuat atau berita seorang syi’ah yg adil (tdk melakukan dosa besar dan kecil). Dan, kalau hal itu sdh dijalankan, tp masih keliru juga, yakni sdh berdalil dg gamblang atau mengambil dari adil, mk bisa tetap harus qodho, tp sdh tdk lagi wajib kaffarah.

Sinar Agama: Indo:

– Fikih itu selalu diperdebatkan sejak dari jaman Nabisaww, karena dg debat itu akan terlihat kebenaran pahamannya, yakni bagi yg benar dan bgt pula sebaliknya. Sekolah2 agama dari jaman dahulu kala, diadakan spy mendiskusikan terus pahaman2 islam termasuk fikih yg paling urgennya dlm kehidupan ini, spy tdk ada lagi orang mendakwa tanpa dalil.

– Kalau antum mau masuk fikih setelah tuntasnya kenabian dan keimamahan, mk sntum tdk akan pernah masuk fikih. Karena sekalipun antum belajar dlm seluruh umur antum ttg keduanya, tdk akan pernah selesai. Makrifatullah, makrifah Nabi saww dan kepemimpinan, selamanya antum tdk akan pernah mengetahui dg tuntas.

Nah, dg demikian, kapan antum percaya pada Allah, Nabi saww dan ajarannya yg termasuk kepepimpinan maksum as, mk antum sejak itu sdh wajib mengamalkan fikih syi’ah. Dan kalau sunni mk wajib beramal fikih sunni sejak seseorang percaya Tuhan dan Nabi saww serta ajarannya.

Jadi, berdebat fikih setelah beriman pada ketiga hal di atas itu (Tuhan, Nabi saww dan pemimpin) adalah sesuatu yg sangat logis dan sama sekali tdk aneh. YANG ANEH JUSTRU KETIKA ORANG MENGAKU BERIMAN PADA ALLAH, NABI SAWW DAN PEMIMPIM MAKSUM, TP TDK/BLM BERAMAL FIKIH.

– Dan kalau antum memaksudkan bhw fikih ini sdh dijelaskan di ushuluddin, mk antum telah mencampur aduk permasalahan dan merancukannya. Karena ushuluddin bukan furu’u al-diin.

– Dan kalau antum memaksudkan bhw di pelajaran kenabian dan kepemimpinan sdh dijelaskan disitu ttg furu’ atau fikih, mk antum sangat keliru besar karena telah menyamakan pembahasan disana dg disini. Karena disana maksud bahasan fikihnya adalah fatwa marja’, sedang disini bahasannya adalah penerapannya yg, sama sekali tdk boleh taklid.

Sinar Agama: FAhmi:

Kalau adil tdk sama pandangan, dan saling menentang dan membatalkan, mk kedua-dua kesaksian itu menjadi gugur. Itu yg ditulis di fikih biasanya, atau setidaknya yg dpt dipahami secara langsung atau tidak langsung.

Tp kalau tdksaling menjatuhkan kesaksian yg lainnya, mk bisa saja dipilih salah satunya. Tp anjuranku, pilih yg dalilnya kuat. Karena kalau keliru, mk tetap WAJIB QODHO walaupun mmg tdk perlu bayar kaffarah, karena tdk sengaja. Tp TETAP WAJIB QODHO.

Nah, kalau kedua-dua kesaksiannya gugur karena saling menjatuhkan dan saling menolak, mk harus dilihat kesaksian adil lain dan/atau melihat sendiri secara profesional spt yg sdh saya arahkan cara meru’yat maghrib tsb.

Sinar Agama: M Indra: Hanya qodho saja kalau sdh mendengar dari orng yg tdk melakukan dosa2 besar dan kecil. Tp kalau asal percaya saja ttg keadilannya itu, yakni yg melihat itu tdk tahu fikih hingga tdk tahu orang adil itu benar2 telah meninggalkan dosa atau tdk, karena kalau tdk tahu fikih tdk akan tahu mana2 dosa dan mana2 pahala, dan ternyata orang tsb mmg tdk adil, mk sangat mungkin tdk akan dimaafkan hingga selain qodho jg harus kaffarah. Bgt pula, kalau orang sdh yakin dg yg saya jelaskan ini, dan masih melanggarnya, dan ternyata saya benar menurut Allah, mk sdh pasti selain qodho, jg harus membayar kaffarah.

Ahmad Rifai: Mantap argumen2 dr masing2 kalian ana sng nyimakx disni sy mkin mmahami prbdaan dri masing2 shingga ana mndpt ilmu lg . Ana tetap nyimak TAFADDOL….

Fahmi Husein: ‎Sinar Agama; yang sering saya dengar/terima jawaban dari asatid, ada yang mengatakan 10 menit setelah adzan (sunny), 15 menit, dan untuk ihtiyat 20 menit, dapat antum lebih menjelaskan lagi dalil 45 menitnya? dan 45 menit itu masuk-nya adzan magrib bagi kita (syiah) kah? Jelas kami (saya tentunya) hanya mengikuti ustad (yang adil tentunya) krn tidak memiliki kemampuan untuk merukyat

Edewan Abdul Majid: insya ALLAH, bila terlihat sudah gelap atau datangnya bintang pengantar malam, atau mega merah sudah hilang dari ufuk barat, ya buka puasalah.

Sang Pencinta: Fahmi: http://www.facebook.com/notes/sinar-agama/lagi2-diskusi-waktu-maghribberbuka-puasa-seri-tanya-jawab-muhammed-almuchdor-dg-/475887512421802.

Lagi2 Diskusi Waktu Maghrib/berbuka-puasa, seri tanya jawab Muhammed Almuchdor dg Sinar Agama

Bismillah: Lagi2 Diskusi Waktu Maghrib/berbuka-puasa   Muhammed Almuchdor Salam ust, knp kita kl mau buka puasa hrus nunggu sampe gelap?…

Oleh: Sinar Agama

18 jam yang lalu · Suka ·

Fahmi Husein: ‎@pecinta: Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Maghrib yg sebenarnya itu adalah hilangnya mega merah di sebelah timur setelah matarahi terbenam. Karena itu, harus menunggu sktr 45 menit lagi setelah adzan saudara2 sunni yg sekarang. Kalaulah mau nekad jg, usahakan untuk tdk lebih cepat dari separuh antara adzan maghrib sunni dan adzan isya’ sunni. Tp saya tdk ikut tanggung jawab. Karena kesaksian ru’yat yg benar dan saya percayai, adalah 45 menit setelah adzan sunni.

Sang Pencinta: Kalo antum teliti bisa dpat jawabannya yakni mengapa 45 menit? yaitu karna 45 menit itu adalah waktu hilangnya mega merah di sebelah timur setelah matahari terbenam. Ust, dan tim beliau yg dengan segenap ilmu dan kompetensinya yg sudah berpuluh tahun belajar di Hauzah Qom dari guru besar Ayatullah, tlh meruyat dgn profesional. Ust sudah berulang kali menjelaskan konsekuensi jika kita mengikuti yg 15, 20 dan atau 45 menit. Sy lihat, tidak ada paksaan dari Ust untuk mengikuti 45 menit toh? Jadi masalah-nya ada di kita yang tidak belajar ilmu Islam secara akademik bertahun2 lamanya dari guru yg capable. Menurut sy yg awam ini, tidak ada masalah itu 45 menit atau bahkan 1 jam bukan? Kalo trnyata 15 menit itu benar adanya dan kita tunda sampai 45 menit ga papa toh? Dan kalo ternyata 45 menit itu benar, dan 15 menit itu salah dan kita berbuka 15 menit, itu masalah toh? Bukankah kehati-hatian itu ciri seorang mukmin?

Zulfikar Sword: Subhanallah,….. Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad.

Fahmi Husein: ‎@pecinta: afwan, ini masalahnya bukan ‘hanya’ untuk ke hati2-an dgn jarak yg cukup jauh (30 menit), masalahnya di hrz meng-qodho dan di-aneh-kan tsb, dari jawaban ‘SEKITAR’ 45menit artinya ke-tidak-pastian atau kurang lebih kan?! Sedangkan bila melihat dari turunnya gelap setiap wilayah beda2, sepengetahuan alfaqir di jatim ditambah 18 hingga 20 menit yg alfaqir terima juga dari ikhwan yg sering ikut tim2 rukyah, wallahu a’lam bila beliau salah, di jakarta jelas beda lagi, so, yg ingin sekali alfaqir tekankan bukan dari menit tambahan tapi dari gelapnya kan, bila itu beda2, dan mungkin ada keperluan lain entah berbuka bersama dengan saudara kita yg sunny jarak yg paling dikit adalah pilihan bijak (ukhuwah) lagi2 menurut alfaqir yg juga awam (bukan gak 45 mnit haruz qadha/ kenceng2-an gtu)

Sang Pencinta: Sekali lg itu hak antum ingin 10 menit atau 15 menit atau lebih. dan pertanggung jawaban masing2. Sy pikir Ust Sinar pun sudah runut penjelasannya di atas dasar pondasi ilmiah 45 menit. Dan sy lihat diskusi di sini antara tmn2 dgn Ust sering bolak-balik alias dipimpong. Mengenai ukhuwah, apakah ukhuwah itu adalah menyama2kan/mendekat2kan pendapat suatu fiqih? Tentu tidak bukan. Karna fqih itu adalah hak mujtahid (kalo sj antum selalu menyimak tulisan ust dgn teliti, antum bakalan mengetahui derajat keilmuan Hauzah pada diri Ust Sinar). Persatuan itu berarti berbeda2 dengan tetap rukun dan bersatu, bukannya mengikut2kan diri ke yg lain/mayoritas, ia kan? Fiqih dan ukhuwah masing2 punya pos/wilayah tersendiri, tidak bisa dicampuradukkan, satu sama lainnya saling support.

Reza Assad: Afwan. Ada baiknya kt yg merasa awam utk kembali kpd sejarah islam. Sejarahlah yg membuat kt tdk salah melangkah ke depan. Karena islam dulu 1. Kenapa sampai bisa terpecah.? Hanya yg mencarilah yg tau mana jalan ke surga dr ke 2 mahzab besar ini. Sukran.

Sinar Agama: Taufan:

1- Ajib sekali antum ini. Ma’a di situ bkn berarti bermakmum, karena bisa berarti mengikuti apa2 yg dilakukan oleh imamnya. Karena itulah disepakti di sunni dan syi’ah, selain shalat sunnah minta hujan, tdk ada shalat sunnah yg dikerjakan berjamaa’ah. Jadi, hadits qiyaam bersama imam itu bukan berarti bermakmum, tp sama mengerjakannya dan meniru imamnya. Apalagi hadits itu sedang menjelaskan bhw bersama imam ketika imam ada dan shalat dan menunggu imam kalau tdk datang. Karena di hadits tsb justru sedang menjelaskan bhw mengapa Nabi saww tdk tiap malam shalat bersama para shahabat di masjid. Ini riwayatnya:

1587 – أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفُضَيْلِ عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ

صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ فَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ قَالَ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا وَلَمْ يَقُمْ حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا فِي الثَّالِثَةِ وَجَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ حَتَّى تَخَوَّفْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ

قُلْتُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ

Tambahan keterangan: Dengan hadts ini, ketika Nabi saww tdk menyebutkan dirinya sebai Nabi saww dan menyebutnya sebagai imam, mk sdh dpt dipastikan bhw seorang muslim harus punya imam, dan karena imam itu harus maksum (sebagaiman sdh sering dijelaskan), mk imamnya tsb harus maksum. Artinya, nabi saww spertinya jg inginmenjelaskan kewajiban berimam kepada maksum di hadits tsb, bukan pada permasalah shalat sunnahnya itu.

2- Hadits2 yg lainpun, hanya mengatakan bhw orang2 shalat spt shalatnya Nabi saww, jadi tdk mengatakan berjamaa’ah spt:

1586 – أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ وَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ يُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Karena itulah Nabi saww berhenti shalat di masjid dan melarang ong2 shalat sunnah di masjid dlm arti lebih afdhal untuk shalat di rumah. Ini hadits Bukharinya:

731 – حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اتَّخَذَ حُجْرَةً – قَالَ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ – مِنْ حَصِيرٍ فِى رَمَضَانَ فَصَلَّى فِيهَا لَيَالِىَ ، فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ ، فَلَمَّا عَلِمَ بِهِمْ جَعَلَ يَقْعُدُ ، فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ « قَدْ عَرَفْتُ الَّذِى رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ ، فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِى بُيُوتِكُمْ ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ »

“Aku telah tahu apa2 yg kalian lakukan/perbuat, karena shalatlah di rumah2 kalian wahai umat, karena paling afdhalnya shalat itu adalah di rumah kecuali shalat2 wajib.”

3- SEmua itu menunjukkan bhw selain shalat sunnah itu lebih baik dilakukan di rumah dan bukan di masjid, JUGA MENUNJUKKAN BHW ORANG2 KETIKA MENGIKUTI SHALAT NABI SAWW DLM BEBERAPA HARI ITU ADALAH MENIRUNYA, BUKAN BERJAMAA’AH DENGAN BELIAU SAWW, KARENA SHALAT BERJAMAA’AH SDH PASTI LEBIH AFDHAL DARI SENDIRIAN DI RUMAH HINGGA TDK SESUAI KALAU NABI SAWW MENGATAKAN BHW UNTUK SHALAT RAMADHAN INI LEBIH BAGIK DIKERJAKAN DI RUMAH.”

Hadits2 larangan shalat di masjid (dlm arti lebih afd di rumah, bukan larangan haram) seamrek di sunni.

Karean itulah mk ulama2 sunni mengatakan bhw shalat Tarawaih itu adalah bid’ahnya umar: Lihat kata2: Ibnu Sa’ad dlm kitabnya, Thabaqaat, jlg 3 ketika menerjemahkan Umar; Qatilaanii dlm kitabnya syarah Bukhari yg berjudul Irsyaadu al-Saari Fi Syarhi al-Bukhaari, kitab Taraaweih, jld 5; …. dll-nya).

4- Kalau semua ini masih kurang jelas juga, mk ini hadits shahih Bukarinya yg mengatakan bhw umar pembuat tarawaih itu:

2010 – وَعَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ ، إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ ، وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّى أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ . ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ ، قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ . يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ . تحفة 10594

… dari Abdurrahman bin ‘abu al-qaari, bahwasannya ia berkata: “Aku keluar ke masjib bersama umar bin khaththaab -ra- di suatu malam Ramadhan. Orang2 shalat sendiri2, lelaki shalat untuk dirinya sendiri, dan lelaki lain juga shalat untuk dirinya sendiri2 (shalat tdk berjamaa’ah). Lalu umar berkata: ‘Kupikir lebih bagus kalau mereka itu shalat berjamaa’ah di belakang satu orang.’ Kemudian dia bertekad melakukan hal tsb lalu menyuruh orang2 untuk bermakmum di belakang Ubai bin Ka’ab. Lalu aku keluar lagi ke masjid bersamanya -umar- di malam lainnya, dan orang2 shalat berjamaa’ah dg imamnya (yg membaca), lalu umar berkata: ‘Sesungguhnya hal ini adalah senikmat-nikmatnya tambahan/bid’ah. Dan Nabi saww yg tidur, lebih afdhal dari nabi yg qiyam/shalat.’ Dia memaksudkan akhir malam, sementara orang2 melakukan shalat itu di awal malam.”

Hadits ini dg jelas mengatakan bhw shalat sunnah di bulan Ramadhan dg cara berjamaah itu, adalah buatan umar. Kalau tdk, mk umar tdk akan mengatakan bid’ah atau tambahan, tp akan mengatakan bhw, misalnya, “Inilah benar yg dicontohkan Nabi saww”. Lagi pula ketika shahabat2 itu mengerjakan sendiri2, mk di jaman Nabi saww dan abu bakar sendiri, orang2 mmg mengerjakannya sendiri2. Karean itu itulah dikatkaan di hadits pertama yg kamu nukil itu, bhw orang2 shalat spt shalatnya Nabi saww, yakni bukan berjamaa’ah. Karena itu pulalah umar memahami bhw mmg masalah qiyaam dg imam di hadtis yg kamu bawa dan sdh saya nukilkan lengkapnya itu, adalah meniru imamnya, bukan berjama’ah dg imamnya. Karena itulah umar tdk menjadikan dirinya imam pada bi’ahnya ini, tp menjadikan Ubai sebagai imam sekalipun imam dan khalifah waktu itu adalah dirinya sendiri -umar- menurut keyakinannya.

wassalam.

Sinar Agama: Fahmi, sdh tulis dg jelas bhw harus menunggu sktr 45 setelah adzannya sunni dan bgt pula cara peru’yatannya serta akibat kalau salah dlm waktu shalat dan berbukanya itu (yaitu yg harus qodho, itupun kalau mengambil kesaksian orang yg tdk melakukan dosa, tp kalau tdk mk bisa dg kaffarahnya selain qodhonya). Dan yg paling penting, adalah bhw peru’yatan itu bukan ngintip dari balik jendelat dan dari depan pintu. Tp harus di tempat yg tinggi, di barat tidak ada mendung, di atas kita mendungnya tdk tebal dan kalau bisa yg tipis dan terpisah-pisah dan di sebelah timur juga harus ada mendung.

Antum mau ikut siapa saja terserah saja. Tp di fikih dikatakan bhw kalau antum keliru penerapan disebabkan ikut orang adil (yg tdk melakukan dosa2 besar dan kecil), mk wajib qodho. Artinya, kalau yg antum ikuti itu adsalah orang2 yg tdk adil karena masih melakukan dosa, mk sangat mungkin jg harus kaffarah (saya sih yakin kaffarah, tp kalau takut salah dan malas meralat, mk saya cukupkan dg sangat mungkin jg harus kaffarah, tp kalau nanti benar2 terjadi, saya akan pastikan dg kantor Rahbar hf bagian fikih, i-Allah).

Tentang kata2 “sekitar 45 menit”-ku yg ditulis dlm perdebatan waktu antara 10 menit, 15 menit, 20 menit dan 30 menit, sdh pasti tidak akan berkisar kurang labih dari melebihi 5 menit, kecuali kalau antum tdk mengerti bhs Indonesia. Jadi, kata “sekitar” itu, yah … yg berbeselihih 1-2-3 menit, tdk sampai lebih dari itu. Dan itupun, karena jam tangan kita sering beberda dlm jedah2 tadi, bukan 5 menit ke atas. Lagi pula, kalau antum sdh yakin dg dalil kita, mk sdh layak mengambil yg labih banyak spy lebih hati2.

Ingat, menunggu 45 menit ini bukan kehati-hatian, akan tetapi wajib. Jadi, kalau mau hati2, mk tambahkan lagi sedikit.

wassalam

Khoirul Huda : masih benci Umar binkhothob ya…..?
August 6 at 6:43am · Like

Sinar Agama: Khoirul: Apakah arti senang itu berarti mengikuti bid’ahnya? Kalau ia, mk bukankah berarti hal spt ini bermakna membenci Nabi saww yg melarangnya????!!! Tentu saja hal ini, bagi yg sdh tahu akan pelarangan itu spt kamu yg sdh membaca tulisan tsb.
August 6 at 7:18am · Edited · Like · 5

Ahmad Arif: Keawaman seseorang menjadikan dirinya merasa sebagai pecinta Nabi dan pembela Nabi namun sesungguhnya adalah pembenci Nabi.
August 6 at 10:25am via mobile · Like · 1

Sulaiman Suryo: afwan tad,ana buka puasa 20 menit setelah orang sunni adzan dan saat itu juga hari sudah gelap, dan saran ustad yaitu berbuka setelah 45 menit, apakah puasa ana yang buka 20 menit masih sah apa ana harus mengganti puasa ana ? makasih ustad
August 7 at 6:05am · Like

Sinar Agama: Sulaiman: SAya tdk mensarankan menunggu 45 menit, tp mewajibkan. Karena 45 menit itu sdh diru’yat orang yg dikatakan ulama dan jujur dan disaksikan oleh banyak orang. Jadi, kesaksian ini, wajib diikuti. Jadi, dalil2ku yg menjabarkan waktu p

enungguan atau pru’yatan, spt di barat tdk boleh ada mendung, di atas kita tdk boleh bermendung tebal, di timur daya dan timur laut harus benar2 sdh tdk bermega merah ….dst…HANYA DAN HANYA MERUPAKAN PENJABAR SAJA. Jadi, jabaran2 ini salah atau benar, meyakinkan atau tidak, semua dan semua itu, tdk mempengaruhi peru’yatan yg dilakukan secara profesional oleh ulama yg jujur tsb.Dengan demikian, mk kalau antum sdh yakin dg peru’yatan itu, mk mmg harus qodho. Tp kalau tdk yakin, mk mungkin tdk sampai qodho, tp untuk ke depan wajib memperhatikan hasil ru’yat tsb.

August 8 at 6:37am · Like

Yuddi Masaling Batam: Saya rasa, waktu 45 menit itu adalah waktu yg cukup bagi kita untuk melakukan sholat Maghrib terlebih dahulu (tentunya pelaksanaannya ±15 mnit stelah azan maghrib tsb), kemudian dilanjutkan dengan sholat Isya’. Setelah selesai (dgn perkiraan sesuai waktu 45 mnt dimaksud) barulah kita berbuka. bukan bgitu ustadz? afwan, mohon di koreksi jika ana keliru, syukron
August 8 at 6:48am · Like

Hijau Rumpun Bambu: buka nya setelah mahrib kah? aku yg awam jd bingung
August 8 at 7:02am · Like

Sang Pencinta:YMB: masuknya sholat maghrib adalah 45 menit itu, sekaligus merupakan waktu berbuka puasa. Masuknya Waktu Isya adalah bersamaan dgn masuknya waktu maghrib berlanjut sampai pertengahan malam. Ini sy tukilkan 2 sesi tanya jawab ust dengan tmn

2 ttg hal ini. Widya Yuliana:salam ustadz…ana mau tanya perihal sholat dalam Ahlulbait,dalam menjalankan sholat magrib n isya, jam berapakah batas akhir sholatnya,karna skarang ini ana bkerja dengan orang non muslim dan ketika malam hari ana bekerja hingga jam 11 malam bru selesai,mhon penjelasanya ustadz..wasallam.Sinar Agama :
Salam dan trims pertanyaannya:

(1). Waktu shalat maghrib dan isya’ adalah ketika mega merah di sebelah timur sampai ke atas kita sudah hilang. Kalau di tempat antum terdengar adzan sunni, kira2 setelah 45 menit baru masuk shalat maghrib dan isya’.alam Ustad. kalau kemarin bahas tuntas tentang waktu maghrib, sekarang ana mau tanya tentang waktu khusus Isya itu jam berapa? (untuk wilayah Indonesia)
Syukron
Like ·

Hidayatul Ilahi Nyimak
Wednesday at 4:28am via mobile · Like

Sinar Agama SAlam dan trims pertanyaannya:
Shalat ‘isyaa’ itu dimulai dari sejak masuknya maghrib juga selain di sekitar 5 menit pertamanya karena waktu tsb adalah waktu terkhusus untuk maghrib. Setelah itu, mk isyaa’-pun sdh masuk walau, tetap saja maghrib yg harus didahulukan kalau belum dikerjakan di waktu khususnya.

WAktu isyaa’ ini, bersama-sama waktu maghrib berjlanjut sampai pertengahan malam. Dan sktr 5 menit terkahirnya, merupakan waktu khusus untuk isyaa’ hingga maghrihabis di waktu khusus tsb sementara isyaa’nya masih ada dan berlanjut dlm waktu tsb.

Kalau maghrib dan isyaa’ tdk dikerjakan di waktunya itu, mk kalau dikerjakan setelah shubuh, baik sengaja dimana dosa atau tdk sengaja spt ketiduran, mk niatnya qodho. Tp kalau sebelum shubuh, mk niatnya Rojaa’ (mengharap yg sesuai dg yg diridhai Tuhan). Karena biasa para mujtahid blm bisa memastikan waktunya sebelum dipecahkan dg bertanya langsung kepada imam Mahdi as. Karena dari hadits2 yg ada, blm bisa dipastikan habis tidaknya di waktu tsb, yaitu antara tengah malam sampai waktu adzan shubuh.

Sinar Agama: Yuddi dan Hijau:
Masuknya maghrib dg masuknya waktu berbuka itu adalah sama, yaitu 45 menit setelah adzan sunni. Untuk berbuka, disunnahkan setelah shalat maghrib, tp kalau tdk lemah atau tdk kepikiran pada makanannya/bukanya.
Friday at 12:38am · Like

Pranata Hirr Ad-Dausi: Nama saya jangan dibawa2.
Ana tidak ridhoo…
Friday at 12:42am via mobile · Like

Hijau Rumpun Bambu: adzan sunni? apa lg itu? baru dnger istilah ini.wah mhn pnjlasan
Friday at 2:44am · Like

Yuddi Masaling Batam: ok, syukron stdz.
@SP: syukron.
& salam

selengkapnya

%d bloggers like this: