Waktu dan Penciptaannya

Adzar Alistany Kadzimi

Assallammu’Alaykum warrohmah, mohon dikoreksi yaa Ustadzi :

Love Traveler : Greetings,

What does “God created time” mean?

If “God created time”, when did this happen? Was there a time before which there was no time? It also appears for God to be the cause of anything, God needs to temporally precede the thing. If the thing in question is time itself, “God created time” is self-refuting.

‘Ali : Time = God’s act of creating. in other words “God created his act of creating”.

Love Traveler : can you explain it further with more senses?

‘Ali :I think this make much more sense. Imam Ja’far As-Shadiq (Alayhissallam) said: “Allah created the Will itself, then created everything by means of the Will”

Love Traveler : Very interesting. Thanks for sharing this hadith. I would like to know what is meant by “Will”.

‘Ali :There was one companion who asked Imam al-Kadhim (Alayhissallam) the following question: “Inform me about the Will. Is it part of Allah or is it of the Creation?”

He (Alayhissallam) Answered:”The will is part of the created conscience, and it manifests itself in action. As for the Will of Allah سبحانه وتعالى, then it is His Making (ihdath) and none other than that because He does not reflect, does not imagine, and does not think. These attributes cannot be applied to Him as they are attributes of creation. Thus, Allah’s Will is action and nothing else. He says to it: “Be and it is”, without a word or speech expressed by tongue, by imagination or by thought. His Will is expressed withouth form in the same way that He is withouth form.”

Love Traveler : This makes sense.

So if “time = God’s act of creation” is that each moment is God’s act. And so each new moment is God’s new act.

In other words, creation is not in time but rather creation is itself time, or time is itself creation. creation is not something static. Rather, creation is itself the act of creating. There isn’t anything created; there is just the act of creating.

Only in our “minds” do we see a “static creation” but in reality this creation is not static, it is constantly being renewed every moment and constantly being created.

So the relationship between the created and the creator is not like that between the building and the builder where the two can be exist separately. It is more like the relationship between light and objects it brings into light from darkness.

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya atau permintaannya:

1- Saya hanya akan memberi arahan umum saja dan antum cocokkan sendiri. Saya sulit menerka maksud orang dg tulisannya, karena bisa saja kurang tulis, kurang jelas, memiliki maksud tersirat dst. Kalau kata2 pujangga atau filosof, mk masih ada gunanya kita mengernyit-ngernyitkan dahi memikirkannya, atau apalagi ayat dan hadits.

2- Kita sdh semestinya mengerti “waktu” itu sendiri sebelum membahasnya lebih jauh. Apa esensi waktu itu sendiri.

Waktu, adalah volume gerak/perubahan. Gerak adalah keluarnya sesutu yg dikatakan titik potensi ke titik yg dikatakan de fakto. Misalnya spt bola yg bergerak aksidental dari titik A ke titik B. Atau mani yg bergerak substansial dari titik mani ke titik janin. Atau gerakan aksidental mani itu yg bergerak dari kecilnya bibit mani dan ovum ke titik membesarnya janin.

3- Dengan penjelasan di atas, dpt dipahami bhw waktu itu hanya milik sesuatu yg bergerak dan berproses (lawan dari kun fayakun). Sedang yg berproses itu hanya materi. Karena potensi hanya dimiliki materi. Karena itu, non materi yg tdk memiliki potensi sama sekali, tdk memiliki gerak dan, karenanya tdk memiliki waktu/time.

4- Para filosof memiliki dua pandangan terhadap waktu ini. Apa sebab keberadaannya dan apa saja yg bergerak hingga memiliki waktu tsb. ada yg mengatakan yg bergerak itu hanya aksidentalnya saja dari wujud2 materi ini, tapi, ada juga yg mengatakan substansialnya jg bergerak dan berproses.

5- Yg mengatakan bhw yg bergerak itu hanya aksidental, karena mereka tdk bisa menerima keberubahan substansial sebagai tumpangan aksidental tsb dan, kata mereka, kalau substansi berubah berarti esensi itu sendiri yg berubah dan, masih kata mereka, kalau esensi yg berubah, mk tidak apapun yg bisa kita pegang sebagai pedoman. Artinya, ketika kita mau mengatakan bhw buah ini adalah biji padi, mk sebelum mengatakannya mk ia sdh keluar dari kebiji padian semula karena ia sebenarnya sedang berproses menuju tunas padi. Hal itu, karena kalau proses dari biji padi yg masih di goni itu yg akan di tanam tahun depan hingga menjadi tunas, memerlukan waktu katakan x waktu, mk sdh jelas x waktu itu bisa dibagi hingga hampir tak terhingga dan ke dalam bagian yg sangat kecil. Jadi, bagian2 itu, bisa mencapai sepersejuta detik. Nah, kalau hakikat dari substansi padi itu bergerak, mk pada setiap sepersejuta detik itu, ia berubah dari posisinya semula. Karena itu, mk ketika esensinya sendiri sdh tdk tetap, mk pengertiannya, yakni pemahaman ttg esensi biji padi itu sendiri menjadi tdk tetap dan, kalau demikian, mk kita tidak mungkin bisa mengenalinya sama sekali. Karena setiap mau dimengerti ia sdh pindah ke susbstansi lain dan, apalagi mau dikatakannya kepada orang lain atau menunjuknya.

Dengan demikian, mk mereka mengatakan bhw gerak itu disebabkan oleh substasi materi. Jadi, gerak yg hanya ada di aksidental itu disebabkan oleh substansi materinya yg tdk bergerak.

6- Akan teapi Mulla Shadra ra, ia membuktikan dg jitu, bhw substansi itu bergerak. Karena kalau substansi yg menjadi sebab dari gerakan aksidentalnya, mk ia sendiri harus memiliki kesempurnaan gerakan dan proses itu sendiri. Karena yg tak punya, tak mungkin memberi.

Sedang proses yg berkelanjutan itu, mk hal itu tdk membuat kita tdk bisa mengerti esensi, karena proses itu, walau tetap terjadi, spt pada biji padi itu, akan tetapi, sebelum keluar menjadi tunas, mk ia tetap dalam garis global dari biji padi. Karena itu biji padi tahun lalu, sampai ke biji padi sedetik sebelum menjadi tunas, mk ia tetap biji. Bgt pula dg wujud2 lain spt mani, tanah, daging, gizi ,,,,,dst dari semua wujdu2 materi.

Arahan pada soalan:

1- Ketika filosof mengatakan bhw gerak itu hanya terjadi pada aksidental, mk Tuhan mencipta waktu melalui perantaraan substansinya. Konsep ini, jelas memiliki isykal atau problemnya sendiri dimana mengkosekwensikan bhw yg tdk bergerak memberi gerak dimana telah melanggar konsep “Yg tak punya tak mungkin memberi.”

2- Ketika Mulla Shadra ra membuktikan bhw gerak itu jg terjadi pada substansi, mk Tuhan mencipta waktu tsb, melalui dzat dari setiap substansi wujud2 materi. Jadi, sebagaimana Tuhan mencipta panjang, lebar dan tebalnya materi, sebagai dzat dari wujud2 materi itu sendiri, mk Ia jg mencipta apa yg dikatakan waktu, sebagai bagian dzat dari materi itu sendiri. Karena itulah definisi materi di Mulla Shadra ra berubah dari yg hanya “Yg memiliki panjang, lebar dan tebal.” menjadi “Yg memiliki panjang, lebar, tebal dan waktu.”

Kesimpulan arahan:

Dengan semua penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1- Waktu, hanya dimiliki materi dan sebagai dzatnya. Sementara wujud2 non materi, tdk memiliki waktu.

2- Gerak, secepat apapun, ia tetap dlm waktu. Jadi, perubahan materi adalah dalam waktu alias berproses, sementara perubahan non materi adalah seketika alias tdk berproses alias “kun fayakuun.”

3- Penciptaan waktu itu bersamaan dg penciptaan materi, karena waktu adalah bagian dzati atau bagian susbtansi dari materi. Jadi, penciptaan waktu pada manusia, sama dengan penciptga kebinatangannya dan kerasionalannya.

Catatan:

1- Sebelum ada materi, berarti belum ada waktu/time.

2- Waktu itu, walaupun merupakan kesempurnaan wujud, tp kesempurnaan terbatas. Karena itu, sebagaimana Tuhan dan wujud2 non materi lainnya, bukan merupakan wujud2 materi, akan tetapi lebih sempurna dari wujud2 materi (karena materi lebih banyak dimensinya dan keterikatannya), mk mereka tdk memiliki atau tdk diikat dg waktu.

3- Keterikatan materi dengan waktu merupakan kelebih rendahan derajatnya dari non materi yg tidak terikat kepada waktu. Karena itu, mk ketidak pemilikan non materi dan, apalagi Tuhan, bukan merupakan kekurangan mereka, akan tetapi justru merupakan kelebihan mereka dan, bahkan kalau diikat dg materi, mk sdh pasti mereka akan jatuh ke dalam kerendahan derajat materi yg banyak sekali keterikatannya.

4- Karena itu, mk sangat jauhlah perkataan orang2 yg memaksakan alam kematerian dirinya kepada wujud2 non materi spt Tuhan hingga mengatakan bhw Tuhan itu punya waktuNya tersendiri.

5- Setiap materi ia memiliki “waktu”nya tersendiri. Jadi, tdk bisa diukur dg gerakan materi lainnya. Akan tetapi, manusia, demi memudahkan komunikasinya ttg waktu ini, mk mereka mengambil gerakan matahari sebagai ukuran umum hingga, karena itulah mk muncul yg namanya hari, bulan, tahun abad …. dst dimana termasuk hari, jam, menit dan detik. Padahal ia, adalah waktu putaran matahari atau, tepatnya waktu putaran bumi yg sambil mengitari matahari tsb.

Smg saja berguna. Bahasan waktu ini, masih teramat banyak di pelajaran filsafat tapi, sebagai arahan saya cukupkan disini saja dan smg saja bermfaat, amin

wassalam.

Zainal Syam Arifin: Bismillaah.
konsep materi dalam filsafat yang sukar saya pahami. dalam dunia fisika ada istilah: materi dan anti materi, sedangkan antimateri pun memiliki waktu.
dalam ilmu filsafat, apakah cahaya itu termasuk materi ataukah bukan?
July 30 at 11:51am via mobile · Like · 1

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad
July 30 at 12:06pm · Like · 1

Sinar Agama: Zainal: Sdh tentu cahaya itu materi, kalau bkn materi, bagaimana antum bisa melihatnya dg mata materi? Materi di filsafat adalah yg memiliki panjang, lebar, tebal dan waktu walau, sekecil sepersemilyard atom sekalipun.
July 31 at 2:39am · Like · 2

Zainal Syam: Arifin cahaya itu ada yang tampak dengan mata, ada juga yang tidak tampak, misalnya sinar X.
Terlepas dari hal itu, berarti malaikat juga materi pak ustad, karena malaikat terbuat dari cahaya (nur), namun bagaimana bisa dikatakan alam malakut itu tidak memiliki waktu? Ma’af kalau ana salah memahami filsafat yang pernah pak ustad sampaikan.
Dan yang sulit dicerna adalah bagaimana konsepnya ada makhluk (selain Sang Pencipta) yang tidak terikat dengan waktu dan tinggalnya di alam non materi pak ustad? Karena dalam cabang fisika, yang non materi, misalnya anti materi pun memiliki waktu. Materi dan anti materi jika ditubrukkan maka hasilnya adalah ketiadaan.
Bagaimana dengan akal? apakah termasuk materi ataukah tidak? Kalau bukan materi bukankah akal juga terikat waktu?
July 31 at 3:01am · Edited · Like · 1

Sinar Agama: Zainal:

1- Sinar x itu jg materi karena bisa nampak dg mata walau memakai alat.

2- Kalau dg perkataan bhw malaikat dicipta dari nur itu maksudnya nur mater, mk berarti Tuhan jg materi karena Ia adalah Nuur.

3- Malaikat itu dicipta dari nuur yg sdh tentu sangat mungkin maksudnya nuur yg tanpa kegelapan sedikitpun, yaitu non materi. Karena cahaya apapun yg materi, masih memiliki ketidak nur-an alias memiliki batasan, baik tempatnya atau kadarnya serta jangkauannya. Dengan demikian, mk alam malakuut itu tdk memiliki waktu, karena ia non materi.

4- Mengapa sulit memahami makhluk yg tdk terikat dg waktu. Lah … waktu itu senditi tdk terikat dg waktu kan? Sebelum diciptakan waktu dan setelah diciptakannya waktu, sdh tentu tdk dlm waktu kan? Karena kalau makhluk waktu ini dlm waktu jg, mk waktu ke dua itu jg dlm waktu …dan bgt seterusnya hingga tdk terhingga. Sementara selain Allah itu adalah terhingga.

5- Malsah antum ini, bukan tdk mengerti argumen, tp sulit meninggalkan kebiasaan data dan melainkan bahasanya dg bahasa saya yg katakanlah mewakili filsafat. Lah .. antum sendiri mengatakan dlm ilmu fisika. Itu kan berarti, apapun cabang dan bahasannya, tetap fisika. Sedang yg kita bahas adsalah wujud2 non materi yg, sdh jelas bukan fikiska spt ilmu2 antum itu. Apakah ilmu2 antum itu fisika? Kalau fisika, bagaimana menjelaskan bhw antum ketika melihat pohon, gunung dan langit itu dan memahaminya, adalah dg seluruh kebesarannya tsb, sementara antum dilihat dari fisik hanya satu setengah meter atau dua meter dg ketebalan dan kelebaran tertentu?

Itulah mengapa saya dari dulu sangat menganjurkan antum untuk sering membaca tulisan2ku di fb ini. Karena bahasan spt ini, baik langsung atau tidak, sdh sering dibahas. Tp sdh tentu tdk masalah antum tanyakan atau tdk masalah antum tdk baca. Saya akan tetapi berusaha menjawabnya i-Allah.
July 31 at 3:36am · Like · 2

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad wa ajjilfarajjahum
July 31 at 3:57am · Like · 1

Zainal Syam Arifin: Syukron atas jawabannya pak ustad.
Apakah sama antara Nuur untuk menciptakan malaikat dan Nuur ALLAAH yang dimaksudkan Nuur ‘ala Nuur?
August 1 at 4:36am · Like

Sinar Agama: Zainal: Saya yakin nuur itu adsalah sama, yaitu non materi. Karena non materi tdk mengandungi kegelapan. Beda dg materi yg satu sisinya tdk tahu akan sisi2 lainnya, protonnya tdk tahu akan elektronnya….dst, jadi masih memiliki kegelapan walau ia itu cahaya itu sendiri. Tp non materi, karena tdk memiliki beban materi, mk seluruhnya kehadiran dan, sdh tentu seluruhnya nuur.

Beda nuur malaikat dan nuur Tuhan, sdh tentu di terbatas dan tdk terbatasnya. Nuur malaikat saja, memiliki berbagai perbedaan. Misalnya antara malaikat barzakh dan Akal-akhir, Akal-akhir dan sebelumnya … dst sampai dg Akal-satu.

selengkapnya

%d bloggers like this: