Akhlak dan Pengertiannya

Muhammad Dudi Hari Saputra

Salam ustad…

Sy tertartik utk mmbahas etika/akhlak..

1.apa yg dimaksud dgn akhlaq ustad?

2.digambarkan oleh ustad bhwa pelajar2 syiah di Iran mmiliki akhlaq yg luar biasa,prtanyaan sy; hal yg mnyebabkan para pelajar itu bsa demikian? Dan apa yg mnyebabkan kta (dlm konteks ini org Indonesia) sulit utk meniru akhlaq mereka..

 Syukron ya Afwan..

Sang Pencinta: salam, silhakan di sini

Sang Pencinta: di sini 

Sang Pencinta: di sini juga

Sang Pencinta: di sini

Sang Pencinta: di sini

Sang Pencinta: di sini

Sang Pencinta: di sini

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

(1). Akhlak adalah kebiasaan yg sdh menukik pada setiap manusia. Akhlak atau kebiasaan ini, bisa berupa kebaikan dan bisa jg berupa keburukan. Jadi, akhlak tdk mesti berupa kebaikan.

Memang, sesuai dg konteks tertentu, kata akhlak hanya dimasukan kebiasaan yg baik. Tp hal ini, tdk merupakan bahasan ilmiahnya dan hanya merupakan pamakaian kata2nya.

Kalau dibahasan ke dlm bahasa filsafat, akhlak itu dimulai dari suatu perbuatan, spt merokok. Lalu dari perbuatan ini membekas di ruh atau jiwanya. Bekas itu, kalau disusuli dg perbuatan yg lain, mk ia menjadi semakin dalam. Kalau begitu dilanjutkan, mk akan menjadi sifatnya atau aksidentalnya. Kalau hal itu diteruskan, mk ia akan menjadi substansinya atau kalau blm kesana, ia setidaknya menjadi sifat yg begitu kentalnya dimana sulit dihilangkan, spt yg sdh kecanduan merokok.

Jadi, akhlak itu merupakan semacam titik akhir (substansi yg tdk bisa dirubah) atau titik menjelang akhir (sifat kental yg sulit dirubah), dari gerak/proses ruh manusia dalam menerima efek dari berbagai perbuatannya. Artinya gerak ruh dari titik mungkin (potensi untuk mensubstansinya aksidental) menuju yg dimungkinnya tsb).

(2). Sebenarnya iran memiliki kelapangan dada yg luar biasa. Beda jauh dg budaya kita yg saya pikir sangat sempit dada dimana hal ini merupakan konsekwensi dari tua-isme atau menghormati yg labih tua.

Di budaya Iran, menghormati yg lebih tua bukan bermakna penjajahan pada yg lebih muda dan keharusan yg lebih muda menerima apapun dari yg lebih tua. Misalnya jg spt menghormati keturunan Nabi saww. Di iran, semuanya di tempatkan pada posisinya masing2. Kalau penghormatan sosial, mk tdk dicampurkan dg ilmu dan jg tetap dlm batas2nya. Karena itu, dlm diskusi, tdk mesti hanya menerima dari yg dihormatinya itu. Yg lebih tua dan yg tidak diterima pandangannya oleh yg lebih muda, jg demikian. Artinya, ia tdk pernah sakit hati karena mmg tdk terbesit sedikitpun di benaknya kalau pendapatnya harus diterima oleh yg menghormatinya itu.

Jadi, yg muda tetap hormat pada yg tua tanpa harus segan membantah dalil2nya. Dan yg muda leluasa membantah yg lebih tua dg dalil, tanpa harus emosi dan kurang ajar pada yg tua. Yg lebih tua leluasa menyampaikan pandangannya tanpa berniat mendamba orang lain menerimanya, tp tdk mender hingga tdk mempertahankan padangannya. Ia tdk emosi dibantahi dan tdk emosi membela diri. Karena semua diberjalankan pada tempatnya masing2. Masalah ilmu itu adalah masalah ilmu, tanpa dicampuri urusan penghormatan yg muda kepada yang lebih tua, anak pada orang tua atau murid pada gurunya. Karena itu pula, mendabat dan membantah dg dalil, sama sekali tdk diartikan sebagai kekurang ajaran.

Beda dg budaya kita yg, begitu besarnya keegoan yg ditancapkan di dada kita sendiri2 hingga menjadi sempit. Semua orang mengajarkan ketawadhuan dan kelapangan dada. Tp hal itu hanya berjalan dikala damai. Coba kalau sdh ketemu dg perbedaan diantara sesama atau antara yg muda dg yg tua, mk masalahnya menjadi lain.

Di Iran, kalau orang tua marah pada anak, dan anaknya menundukkan kepala, orang tuanya menyuruh anaknya untuk mengankat kepalanya dan menyuruhnya membela diri kalau mmg benar. Yakni disuruh untuk mengajukan pembelaan. Jadi, anak yg masih kecilpun disuruh spt itu dan, kalau ternyata ayahnya yg salah menilai, mk iapun segera mengakui kesalahannya dan kebenaran anaknya seraya minta maaf pada anaknya.

Lapang dada itu sering terapa pahit bagi kita, terutama kalau dlm hal2 yg serius. Tp kalau kita amalkan yg satu ini mk, tdk perlu menunggu seratus tahun untuk mensorgakan Indonesia.

Muhammad Dudi Hari Saputra: syukron ustad…

wassalam

selengkapnya

%d bloggers like this: