Beberapa Point Untuk Kecerdasan

Muhammad Dudi Hari Saputra

Salam Ustad..

Amalan serta Hiriz yg mampu menambah kecerdasan apa ya Ustad? Krn sbg pengajar n pelajar sy sgt bergantung pd kemampuan intelektual sy.. Syukron

Sattya Rizky Ramadhan: Nyimak..ijin

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Saya sdh sering menerangkan hal ini, yg intinya:

– Berfikir keras secara akal gamblang.

– Tdk menyempitkan dadanya dg iming2 harga diri.

– Menyerahkan semua perasaannya pada akal-gamblang.

– Tdk cinta kecuali kepada kebenaran gamblang (karenanya, membuang jauh2 harga diri yg sia2).

– Belajar rajin dan tdk putus2 berfikir.

– Berdoa.

– Menjauhi dosa.

– Mengaplikasikan ilmunya.

– Cinta demen pada Tuhan.

– Mesra dg Tuhan tp tdk kurang ajar dan tdk sok yakin sdh diterimaNya.

– Memandang dan mengejar keindahan hidup ini dg ketaatan dan bukan dg kepandaian dan kecerdasan (karena kecerdasan hakiki adalah yg bukan ingin cerdas, tp ingin mengamalkan hasil kecerdasannya = cerdas hakiki = cerdas pahaman dan aplikatif).

– Tdk mengagungkan keingin tahuan saja dan tdk mengidolakan kepandaian saja.

– Mengejar kuburan dan kematian.

– Menghormati dg sebaik-baik para wali2 Tuhan.

– Akrab dg Qur an.

– Akrab dg ustadz2 yg menghidupkan jiwa secara profesional yg menjauhi perasaan2 palsu.

– Menyemikan dunia dg santun dan maaf tp yg tdk membunuh kecerdasan hakiki itu.

– Makan yg teratur dan baik.

– Tdk makan haram.

– Makan ikan2an termasuk tulangnya dan terutama hati yg ada di antara kedua insangnya.

– Tdk merokok.

– Makan kemiri, tp tdk terlalu banyak, sebiji sehari sdh cukup, tp makan dg nasi, spt sambal kemiri, spy tdk merusak perut.

– Tdk tidur setelah adzan shubuh dan sebelum matahari terbit.

– Tidak tidur sore hari menjelang maghrib.

– Tdk begadang kalau tdk terlalu perlu, jadi tidur malam yg cukup dan rutin.

– Tdk akrab dg cerita2 dan serial2 (karena ia mengombang ambingkan perasaan dan karenanya memataikan kecerdasan).

– Menyintai umat manusia setulus-tulusnya (bukan karena perasaan, tp dg akal-gamblang dan karenaNya) hingga setelaten mungkin membawanya ke arah profesionalisme hakiki dlm menatap kehidupan ini (tentu dg selalu meprofesionalkan diri kita terus menerus).

– Tdk pernah sombong, tdk pernah ego, bahkan tdk anais/akuis sekalipun.

– Tdk dendaman.

– Mendoakan sesama di kesepian diri dan dikala hanya berdua dgNya.

– Mendngar nasihat yg baik nan argumentatif dg melaksanakannya setelah memahami kebenarannya.

– Selalu ingat Tuhan dg ingatan hati, akal dan amal.

– Menyantuni yatim.

– Mendebu di hadapan orang tua walau, tdk harus mengikuti kesalahananya.

– SEring ziarah kubur.

– Selalu merasa akan mati esok hari, hingga maksimal dlm semua kerja2 di dunia ini yg diperuntukan untuk akhirat. Karenanya, akan memenuhi seluruh kewajiban dunianya untuk akhiratnya, walaupun berupa usaha mencari uang dan nafkah untuk keluarganya.

– SElalu mendoakan orang tua dan orang2 berjasa pada diri kita termasuk orang2 yg punya hak terhadap kita baik yg kita tahu atau tdk, baik mereka2 yg masih hidup atau sdh tiada.

– SElalu ingat Nabi saww dan Ahlulbait as dan bertawassul dg mereka kepada Allah, walau dlm bentuk nafas2 bebas dan kata bebas, tp sopan dan mendebu.

– Kalau sempat, selalu olah raga, tp tdk mengejar sihat saja, tp untuk sihat dan dijadikan alat takwa.

– Gembira dalam duka dan berduka dalam suka yg dikerjakan karena Allah, karena keduanya bisa menyesatkan kita kalau tdk distabilkan dan diseimbangkan.

– Memuliakan istrinya dg agama dan tdk menghardiknya serta tdk menyuruh-nyuruhnya pada pekerjaan2 yg bukan hak suami.

– Makan sayur dan buah2an, tp jangan makan yg masam ketika perut lagi kosong.

Kurang lebihnya, afwan dan wassalam.

sumber

%d bloggers like this: