Hadits Tentang Raafidhah

Crc Multicreate Centre

salam ustaz, sy ingin bertanya kan hal hadith seperti ini :Dari Ibnu Hajar al-Haithami bahawa Saidina Ali berkata Rasulullah saw bersabda “Akan muncul didalam umatku di akhir zaman nanti satu golongan yang dinamakan Rafidhah. Mereka menolak Islam”. Imam ad-Daraqutni mengemukakan hadis ini dengan sedikit tambahan iaitu Rasulullah saw berkata kepada Ali “Sekiranya kamu menemui mereka hendaklah kamu …bunuh mereka kerana mereka adalah golongan musyrikun. Ali berkata “Aku bertanya Rasulullah saw “Apakah tanda yang ada pada mereka? Baginda bersabda “Mereka terlalu memuji-muji engkau dengan sesuatu yang tidak ada pada engkau dan mereka memburuk-burukkan para Sahabat” (Imam Ibnu Hajar al-Haithami, as-Sawa’iqu al-Muhriqah, hal 102)

 

boleh ustaz beri penjelasan?

Lihat Selengkapnya

Orlando Banderas: Ikut nimbrung. Dizaman Imam Ali ada syiah Ghulat yang memuji2 Imam Ali sampai menuhankannya shg Imam Ali dalam riwayat, membakarnya. Ini sepertinya yang dimaksud dg Rafidloh, bukan Syiah Imamiyah spt kita ini. Salam.

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

(*). SEingatku, saya sdh pernah membahas hal di atas itu, entah ttg Rafidhahnya atau ttg hadits itu sendiri. Intinya:

(1). Pengarang Shawaa’iq itu mmg semacam angkat perang dg syi’ah. Hadits2 marfu’ (putus) …pun dibawa-bawa spt hadits di atas. Yg penting bisa digunakan memojokkan pengikut Ahlulbait as yg maksum. Tp kalau ada yg menguatkannya, spt kata Syi’ah yg ada dlm hadits2 sunni sendiri yg keluar dari lisan Nabi saww bhw yg selamat hanyalah syi’ah imam Ali as, mk ia mulai goyang kanan dan goyang kiri untuk menyimpangkan maknanya.

(2). Tidak sunnni dan tdk syi’ah, semua berpedoman bhw mengukur hadits selain sanad/perawinya harus shahih, maka isi/matan-nya jg harus shahih.

(3). Keshahihan hadits dari sisi perawina, mk ia harus menyambung (tdk putus/marfuu’) dan semua silsilah perawinya harus tsiqah (terpercaya). Hadits2 ttg raafidhah yg dibawa oleh pengarang Shawaa’iq ini, ada yg marfuu’ (terputus) dan ada pula yg menukil dari al-Daaruqothni (hadits yg antum tanyakan itu), akan tetapi tdk ada di kitabnya Daaruquthni. Ada jg hadits2 yg tdk menyebut sanad2nya. Jadi, jelas hadits spt ini tdk bisa diambil menjadi pedoman.

(4). Keshahihan hadits dari sisi matan/isinya, mk jelas harus sesuai dg Qur an dan hadits2 lain yg mutawatir atau yg shahih.

a- Hadits tsb jelas bertentangan dg Qur an:

a-1- Karena shahabat Nabi saww dituruni satu surat oleh Allah dg nama surat al-Munaafiquun. Dimana di ayat2 Tuhan ttg munafiquun ini, dikatakan bhw tdk satu orangpun yg tahu ttg mereka2 itu. QS: 9: 101:

“Orang2 di sekitar kalian dari orang2 pedesaan terdapat orang2 munafiq, dan begitu pula dari orang2 kota dimana mereka keterlaluan dalam kemunafiqan mereka, kamu -Muhammad- tidak tahu mereka, tp Kami mengetahui mereka..”

Jadi, selain jelas hadits itu adalah tendensius, yakni dalam mepromosikan shahabat, jg berntentangan dg ayat tsb.

a-2- SAya sdh pernah membahas ttg ayat yg dikira kecaman untuk Nabi saww karena mencegah diri dari yg dihalalkan Tuhan, dimana sebenarnya hal itu adalah kecaman Tuhan untuk kedua istri beliau saww yg sampai diancam adzab kalau tdk mau taubat karena kedua istri itu sdh mengkhianati Nabi saww.

dll…..

b- Hadits terbesubt jelas bertentangan dg hadits yg shahih, spt:

b-1- Di hadits Bukhari dan Muslim Nabi mengatakan bhw shahabatnya digiring ke tempat lain selain tempat Nabi saww dan dilarang mendekati telaga Nabi saww sampai beliau saww berteriak: “Mereka itu shahabat2ku” berkali-kali. Lihat shahih Bukhari hadits ke: 3349, 3447, 4625, 4740, 6524, 6525, 6526 dan 5622; Shahih Muslim hadits ke: 4250).

c- Hadits tsb jelas bertentangan perbuatan para shahabat sendiri:

Sebagaimana maklum, para shahabat sendiri, satu sama lainnya, bukan hanya saling umpat, tp saling berperang dan saling bunuh. Bayangin, di satu peperangan saja, yaitu di perang Jamal yg dipimpin ‘Aisyah yg disuruh taubat di ayat tahrim itu, telah jatuh korban sediktnya 13-14 ribu shahabat dan tabi’iin. Blm lagi perang2 lainnya dari sejak jaman abu bakar. Di kitab sejarah sunni, Muruuju al-Dzahab dikatakan bhw sewaktu abu bakar mengutus khalid bin walid sebagai penglima untuk menyerbu shahabat yg dari suku Bani Tamiim, khalid sampai membakar hidup2 beberapa shahabat di depan umum.

Kesimpulan:

Dari sisi shahabat yg tdk boleh dicela itu, dari sisi maknanya ini, disamping sangat tendensius, ia jg bertentangan dg Qur an, hadits2 shahih dan perbuatan para shahabat itu sendiri.

Ketendiusan hadits ini spt hadits2 spt berikut ini:

Shahih Muslim hadits ke: 4610 yg mengatakan:

Rasulullah saww bersabda:

“Jangan cela shahabat2ku, jangan cela shahabat2ku. Demi yg jiwaku di tanganNya, sungguh, seandainya kalian melakukan amal infaq emas sebesar gunung uhud, mk ia tdk akan mendapatkan walau hanya sedikit atau separuhnya/tutupnya.”

Bayangin, arti hadits itu menjadi tdk mudah dimengerti, kalaulah tdk bisa dikatakan melantur (afwan bukan Nabi saww, tp pengarangnya). Karena Nabi saww kan bersabda kepada shahabat2 itu sendiri. Karena itu arti hadits itu seperti berikut ini:

“Wahai shahabat2ku, janganlah kalian mencela shahabat2ku, karena kalau kalian wahai shahabatku, kalau mencela shahabatku, mk sekalipun kalian wahai shahabatku berinfak emas sebesar gunugn uhud, mk kalaian wahai shahabatku, tdk akan menadapatkan pahalanya walau sedikit saja.”

Hadits spt ini, tdk memiliki sastra sedikitpun. Jangankan sastra, bahasa normal saja, tdk dimilikinya. Karena itu, tdk mungkin keluar dari kanjeng Nabi saww yg fashih.

Beda kalau Nabi saww bersabda, janganlah kalian wahai shahabatku, saling mencela … dst.

Hadit tendensius untuk melawan hadits2 shahih yyg fadhilah Ahlulbait as ini, persis dg hadits berikut ini:

“Shahabat2ku seperti bintang petunjuk di langit, mk siapa saja dari kalian yg mengambil hidayah darinya, mk ia akan terhidayahi.”

Karena artinya akan menjadi:

“Wahai shahabat2ku, shahabat2ku itu -yakni kalian sendiri- bagaikan bintang petunjuk di langit.Barang siapa dari kalian wahai shahabat2ku, yg mengambil hidayah dari shahabat2ku (yakni dari diri kalian sendiri) maka kalian, akan mendapatkan petunjuk (yakni dari diri kalian sendiri).”

(5). Orang2 syi’ah tdk menamakan diri raafidhah dan yg menamakannya adalah sunni. Tdk spt sunni yg menakan dirinya sunni. Jadi, penamaan raafidhah yg diperbutkan untuk disandangkan kepada lawan2nya, persi yg berebut nama Ahlussunnah wa al-jamaa’ah. Padahal maksud Nabi saww bukan nama, tapi yg mengikuti sunnatullah dan sunnah Nabi saww.

Nah, kalau Ahlussunnah wa al-jamaa’ah itu yg ikut Allah dan Nabi saww, mk jelas syi’ah yg ikut Allah dan Nabi saww dlm imamah ini. Karena meyakini harus ada imam, meyakini imam itu harus maksum, imam maksum itu ada 12 orang. Ayat dan hadits2 ttg hal ini, sangat banyak di sunni.

Lagi, pula seribu orang yg shalat bersama-sama di masjid (tanpa imam), tdk akan dikatakan jamaa’ah. Habis imamnya tdk ada.

(6). Rafidhah yg kalaulah benar2 ada hadits shahihnya (dimana sulit dibuktkan), mk yg dimaksudkan adalah rafadha/menolak Islam, bukan menolak shahabat yg saling bunuh itu.

(7). Anggap hadits itu benar (dimana tdk benar), dikatakan bhw ciri2nya mengatakan terhadap imam Ali as apa2 yg tdk ada pada beliau as. Lah… syi’ah mengatakan bhw beliau imam pertama dari Ahlulbait yg maksum. Hal ini ada di banyak di ayat2 Qur an, baik ttg keimamahannya, kemaksumannya dll spt yg sdh sering diterangkan. Bgt pula sesuai dg apa2 yg dikatakan Nabi saww sendiri. Bhw imam setelah beliau saww adalah 12 dan semuanya dari Qurasy (Ahlulbait) dan harus maksum. Dan mengatakan bhw yg mati tdk tahu imamnya mk mati seperti matinya jahiliyyah. Lah, kan itu yg dikatakan syi’ah? Sementara selain syi’ah mengatakan sebaliknya.Trus dengan demikian, siapa yg mengatakan pada imam Ali as apa2 yg tdk ada padanya, syi’ah atau sunni?

Kalau imam Ali as, menurut Tuhan di Qur an dan Nabi saww di hadits, adalah imam (QS: 5: 55) dan maksum (QS: 33: 33), lalu syi’ah mengatakan spt itu, tp selain syi’ah mengatakan tdk seperti itu, mk siapa yg mengatakan pada imam Ali as apa2 yg tdk ada pada beliau as?

Karena sdh lelah, mk sampai disini saja, wassalam.Lihat Selengkapnya

Sang Pencinta:

salam ikut share..Bukantimur Bukanbarat

1.Ustadz tolong dicek, kata teman saya yang sunni ngak ada hadist in di kitab

Daruquthni, dan Baihaqi, sebagaimana dikutip dalam ash-

Shawdiq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, hal. 349Dala…m sejarah Islam, Syi’ah telah dipakai secara khusus untuk para pengikut Ali.

Orang pertama yang memakai istilah ini adalah Rasulullah sendiri. Rasulullah SAW

berkata kepada Ali, “Kabar gembira wahai Ali! Sesungguhnya engkau dan para

sahabatmu dan Syi’ah (pengikut)mu akan berada di surga (saya ngak punya kitabnya. tolong salinan bahasa arabnya ustadz)

Like · · See Friendship · June 18 at 9:31pm ·

Uthman Hapidzuin likes this.

Hidayatul Ilahi Nyimak

June 19 at 2:53am via mobile · Like

Sinar Agama Salam dan trims pertanyaannya:

(1). Untuk masalah kata2 syi’ah imam Ali di hadits2 sunni itu banyak sekali dan seingat saya, saya sdh pernah menuliskannya. Untuk Shawaaiq, pengarangnya adalah orang yg hampir bisa dikatakan yg selalu menyerang syi’ah. Walau demikian, banyak sekali hadits2 disana yg tetap menguatkan kebenaran syi’ah yg, diantaranya adalah hadits2 ttg kata2 “syi’ah” dan kanjeng Nabi saww ini.

Akan tetapi, yg saya lihat sepintas di shawaaiq tsb, tdk menukil dari Baihaqi, kecuali kalau kelewat dari mataku yg mmg melihatnya secara cepat dan sepintas. Ia menukil dari banyak orang spt Dailami, al-Zarandi dll. Akan tetapi, yg perlu diperhatikan, dimana hal ini sdh sering terjadi dlm penulisan sebuah kitab, sering terjadi kekurangan jumlah hadits yg entah karena sengaja atau tdk, baik karena kesalahan penulisan tangan di masa lalu atau kesengajaan para pecundang yg biasa merubah-rubah isi kitab karena ia lebih halal dari darah muslimin yg selalu mereka halalkan, atau adanya sebab2 lain.

Yg jelas, ketika pengarang shawaaiq yg hampir selalu menyerang syi’ah ini, menukil dari al-Daaruquthni itu, walau sekarang sudah tidak ada dan sayapun blm berhasil mendapatkannya, mk sudah tentu hadits tsb ada sebelum cetakan yg sekarang2 ini. Hal seperti ini sdh sering terjadi.

June 19 at 10:16pm · Like · 2

Bukantimur Bukanbarat Udah, Paham ustadz……

June 20 at 12:20am · Like

Bukantimur Bukanbarat Hadst in ustadz dikutip dalam buku ” Antologi Yapi Bangil ” terbitan Al Huda, Kalo begitu sepertinyabuku itu harus direvisi ustadz, karena kita bisa dianggap berbohong,.

June 20 at 12:25am · Like

Sinar Agama Oh tidak perlu direfisi. Karena kita menukil dari ulama mereka yg justru sangat menentang syi’ah. Jadi, sdh bener.

June 20 at 12:09pm · Like

Sinar Agama Jadi, kalau mau dibohongkan, adalah si pengarang shawaaiq.

June 20 at 12:09pm · Like

Bukantimur Bukanbarat Tapi seperti pengamatan ustadz hadist ini tidak ada lagi di dalam buku Shawaaiq apakah disengaja ataupun tidak. Apakah kutipan yang dibuat oleh buku Antologi Islam itu bisa dikatakan benar ustadz sementara hadist tersebut tidak ada dalam buku yang dikutipnya?

June 20 at 12:26pm · Like

Sinar Agama Hadits itu ada dong di Shawaaiqu al-Muhriqah, tp shawaaiq menukil dari yg lainnya spt al-Daaruquthni yg mumgin sdh tdk ada di percetakan setelahnya.

June 20 at 9:56pm · Like

Sinar Agama Antum kurang teliti. Kan sdh saya blg di atas bhw Shawaaiq menukil dari banyak kitab, spt yg sdh diterangkan di atas.Lihat Selengkapnya

Sinar Agama: Menghadapi hadits2 Shawaa’iq, bisa dg dua cara. Kalau hadits2 ttg kebaikan syi’ah dan Ahlulbait as, mk bisa dikatakan nukilannya benar dan kitab yg dinukil yg dicetak setelahnya adalah kurang. Hal ini karena pengarang shawaa’iq sangat membenci syi’ah. Jadi, penukilan haditsnya bisa dipercaya walau di buku yg dinukilnya tdk ada di jaman2 sekarang ini. Dan, sdh tentu, hadits2 yg menguntungkan syi’ah, sdh pasti ia pelintir maknanya sesuka dia.

Tp kalau penukilannya terhadap hadits2 yg memburukkan syi’ah, spt hadits ttg raafidhah ini, mk kalau ia menukil dari suatu kitab dan tdk ada di kitab tsb, mk bisa disangsikan penukilannya. Jadi, bisa lebih cenderung ke tidak adanya ketimbang adanya.

wassalam

sumber

%d bloggers like this: