Ikhtiar Selalu Ada, Walau Terpaksa


Mata Jiwa

Salam,

Pak ustad,saya memperhatikan ada seseorg yg tumbuh&besar dilingkungan yg kering dr asupan agama,kelg.nya kasar&terbiasa bicara buruk,pokoknya sec.mental&fisik org ini berada dlm kondisi yg buruk,tpi ternyata tdk sedikitpun hal 2 tsb mempengaruhi apalagi mencederai jiwanya,meski secara fisik,tdk bisa dihindari.org ini tumbuh ‘sendiri’ diasuh oleh keadaan menjadi pribadi yg religius sjak usia dini.

Mata Jiwa: Sbg org awam saya bertanya2 dlm hati,jika manusia diberi ALLAH kadar potensi yg sama u.mengupayakan kebenaran menjadi pilihannya,meski kita diberikan hak bebas u.memilih…bagaimana dgn contoh kasus diatas?

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

SAya jadi bingung dg pertanyaan antum, karena yg terjadi itulah justru tanda bagi potensi yg sama (dlm arti terbukanya pilihan dan tdk adanya paksaan takdir) dan ikhtiar manusia. Kalau antum mau bingung, semestinya, kalau si anak itu menjadi pengumpat dan buruk perangai juga.

Dan kalaupun terjadi penularan sikap buruk itu, mk jelas hal ini tetap sesuai dg pilihan si anak. Karena dari sejak awal ia sdh mengerti bagaimana disakiti oleh lingkungannya yg buruk itu dan bagaimana manisnya sikap yg baik. Jadi, mau ikutan atau tidak terhadap lingkungannya itu, mk semuanya tetap sesuai dg potensi yg terbuka dan pilihan bebasnya.

Mata Jiwa: Berarti sejak anak2 pilihan2 itu sdh disodorkan ya? Sbenarnya sjak usia brp seorg anak sdh bisa menentukan pilihan benar atau tdk benarnya sesuatu hal itu,bukankah pengetahuan yg memeliharanya dr salah mengambil keputusan?

Lantas bagaimana memahami sebuah hadist yg menyatakan bahwa orang tualah yg menjadikan anaknya islami atau nasrani atau majusi,mohon penjelasannya pak ustad..

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad

Sinar Agama: M Jiwa: Pilihan2 itu sdh dimulai sejak seorang bayi bisa menggerakkan bibirnya sekalipun. Akan tetapi, selama belum baligh, mk pilihan2nya itu bisa dikatkaan secara global sebagai bebas dari hukum.

Ilmu, selera, kecenderungan, gen, lingkungan, orang tua, guru, buku, tv, radio, komputer, internet … dst dari yg ada di lingkungan sekitara manusia, baik lingkungan batinnya atau sosialnya, mk semuanya itu adalah pendukung atau instrumen dari lahirnya sebuah pilihan dari manusia.

Jad, yg menjadi penentu munculnya peruatan dari manusia, adalah pilihannya sendiri. Sementara yg lain2nya itu adalah instrumen2nya saja.

Anak bagai kerta, maksudnya anak itu memiliki potensi untuk menjadi apa saja yg didektekan oleh orang tuanya. Karena orang tua adalah penentu dari pengisi informasi2 atau data2 dari anaknya tsb. Jadi, kalau dari awal diisi dg berhala, mk tuhannya adalah berhala. Yakni perasaan berTuhan yg ada di fitrahnya, dilampiaskan ke berhala tsb. Tp kalau anaknya orang Islam, mk yg akan didektekan adalah Allah hingga perasaan fitrah berTuhan yg ada dlm batinnya, diterapkan kepada Allah tsb. Ini yg dimaksudkan oleh hadits Nabi saww tsb.

Sekarang mungkin antum bertanya: “Kalau bgt mk pilihan anaknya itu sebenarnya dektean orang tuanya?!!”

Jawabnya: Tidak demikian. Karena dektean orang tua itu hanya dektean yg bisa ditolak, spt suapan makanan yg ditolaknya manakala tdk ingin makan. Jadi, tetap saja hal itu bukan dektean yg bermakna menghilangkan ikhtiar manusia. Jangankan hanya diajari atau didekte orang tua, seseorang ketika ditodong pistol untuk memilih harta atau nyawanyapun tetap merupakan ikhtiar manusia. Jadi, kalau ia memilih hidup, mk ia menyerahkan harta yg dirampok perampok tsb. Bgt pula sebaliknya.

Dengan penjelasan2 di atas itu, dpt dipahami bhw secara hakikatnya dan filosofinya, ikhtiar manusa itu tetap saja berlaku dalam berbagai keadaan yg memaksa sekalipun. Ikhtiar inilah yg nantinya akan dimintai tanggung jawab.

Hal2 yg ada di luar ikhtiar dan merupakan instrumennya itu, hanya dapat mempengaruhi konsekwensi hukum yg akan diterima oleh si manusia tsb. Kalau ia buta, atau anak kecil yg tdk mengerti racun misalnya, mk ia tdk dihukum bunuh, ketika disuruh orang tuanya meletakkan racun tsb di minuman tetanggnya dg mengatakan bhw sesuatu itu adalah penyihat badan atau obat yg bermamfaat.

Jadi, anak orang kafir, selama ia belum menerima penjelasan yg benar ttg Tuhan yg Esa, mk selama itu ia akan mendapat maaf dari Tuhan yg Esa ttg kekafirannya atau ketidak berimanannya kepadaNya itu. Bgt pula orang yg terpaksa mau diperkosa karena ditodong pisau dan diancam akan dibunuh, tdk dihukum cambuk atau tdk jg berdosa. Jadi, yg buta, yg anak tdk mengerti, yg dipaksa. …. dst.. hanya suatu istrumen yg tidsak menghilangkan ikhtiarnya, jadi mereka tetap berikhtiar. Yg bisa hilang atau bisa tetap dlm hal ini, hanyalah konsekwensi hukumnya saja, baik hukum sosialnya atau hukum akhiratnya. Jadi, kalau udzur spt ketiga contoh akhir ini, mk ia dimaafkan, walau berikhtiar dlm perbuatannya itu. Tp kalau tdk ada udzur, spt dpt melihat racun yg akan dibubuhkan, anaknya sdh amat mengerti dan membedakan racun, atau si perempuan tadi tdk dipaksa dg senjata dan hanya dimarahi saja, mk mereka akan dihukum dg ikhtiarnya itu.

wassalam..

selengkapnya

%d bloggers like this: