Kopi Luwak

Faqir Al 

Ass wr wb

Ustad ana mau bertanya, sekarang ini banyak Kopi Luwak yang beredar dalam kemasan saset, pernah ana coba dengan kemasan namanya “White Coffe” ana pikir ini Kopi biasa yang tidak dipermasalahkan, tiba tiba sebagian teman ada yang mempermasalahkan, yang ana kepengen tanyakan adalah:

1. Bagaimana sebenarnya hukum Kopi Luwak ini untuk diminum?

2. Apakah sama hukumnya dengan Kopi Luwak luwak…an maksudnya tidak asli Luwak atau Kopi Campuran atau masih diragukan apakah Luwak benaran atau tidak?

3. Apabila Haram, Bagaimana jika disediakan minuman kopi luwak apakah terus terang katakan haram atau beralasan lain? Jika di beri masih dalam bentuk bubuk apakah dibuang saja ataukah kita berikan ke tetangga yg sunni?

Naam Ustad, sukron, atas penjelasannya,

Wassalam

Lihat Selengkapnya

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Kopi luwak itu jelas haram. Karena ia adalah kotoran/berak yg diharamkan dan jg menjijikkan serta najis karena kotoran binatang yg diharamkan dagingnya. Ini adalah fikih Ahlulbait as yg biasa dituangkan dalam berbagai fatwa, baik di kitab2 Thaharah atau makanan halal dan haram itu sendiri.

Dua dari ketiga alasan di atas itu, tidak bisa dihindari, yaitu berak dan menjijikkan. Karena yg terhitung bukan berak itu, adalah biji2 yg kelua lewat dubur tapi tdk membawa tahinya dan keluar secara mandiri atau sendirian, spt kremi yg keluar dari dubur atau hal2 lain dimana hukumnya adalah bersih selama tdk membawa kotoran/tahi. Akan tetapi, kopi luwak ini, adalah kotoran yg terdiri dari biji2 dan tahi itu sendiri. Jadi, ia dalam kesatuan tahi dan menjadi esensi tahi. Karena itu, pemisahannya setelah itu, adalah penguraian tahi yg bagaimanapun tdk akan mengeluarkannya dari esensi tahi tsb. Karena itu ia selamanya terhitung tahi. Karena penguraian ini blm sampai pada tingkat hailuulah atau perubahan esensi spt kalau tahi tsb dibakar sampai jadi arang dimana kalau sdh jadi arang mk akan menjadi suci tapi tetap haram pula dimakan karena tanah tdk boleh dimakan.

Begitu pula tdk bisa keluar dari hakikat menjijikkan tsb bahkan walau keluar satu biji sendirian dan sdh tdk terhitung tahi. Apalagi keluar berbarengan dlm satu esensi tahi yg banyak bijinya.

Jadi, dilihat dari sisi ketahiannya dan menjijikkannya (sekalipun tdk terhitung tahi), mk kopi luwak tsb, adalah haram. Ini yg bisa diketahui dari sisi fikih Ahlulbait as sebagaimnya tertulis dlm kitab2 fikih atau fatwa.

Sedangkan kalau hanya dari sisi najisnya, karena ia keluar sebagai tahi, mk bisa saja tetap tdk bisa disucikan. Karena walau bijinya itu sdh dipisahkan, mk karena ia adalah tahi, mk ia tetap najis. Akan tetapi, kalaulah ada yg mengatkan bhw biji2annya itu tetap bisa dipisah dan tdk dikatakan tahi, mk bisa saja disucikan dari tahinya.

Walhasil, kopi luwak, karena ia adalah tahi (satu kesatuan tahi), mk ia atalah haram. Dan karena najis, mk jg haram. Kalaulah tdk jg dihitung sebagai tahi dan najisnya bisa disucikan, mk ia tetap haram karena ia adalah barang yg menjijikkan. Dam ukuran menjijikkannya ini, ukuran umum dan pada benda pertamanya sebalum dijadikan unsur2 lain (kopi bubuk).

Ini yg saya pahami dari berbagai fatwa haram halalnya makanan dan lain2nya spt thaharah. Kalau saya salah dlm memahami dan menerapkannya, mk itu merupakan kesalahan pemahaman saya. Yaitu yg terdiri dari tiga alasan fatwa itu, yaitu tahi, najis dan menjijikkan. Dan kalau itu terjadi, mk smg Allah mengampuni alfakir dan kalau ada yg tahu kesalahan ini, mk diharap mengingatkan alfakir.

Jawaban soal:

(1). Ketika kopi luwak itu sdh dipahami haram, mk kita tdk boleh menkonsumsinya. Yakni haram.

(2). Kalau ada kopi bermerk kopi luwak, mk jelas kita tidak boleh mengkonsunya, apakah ia betulan atau tdk. Karena banyak orang yg apalagi pabriknya yg ingin tetap barang2 itu terpakai. Karena itu, mereka akan menguatkan yg menghalalkan dan kalau ketemu dg yg mengharamkan, mk mereka memakai alasan lain, spt tdk asli, palsu dst. Jadi, baik asli atau tdk, mk yg bermerk kopi luwak jelas tdk bisa dikonsumsi. Kalau campuran, mk lebih jelas untuk tdk boleh dikonsumsi jg.

(3). Kalau diberi di tempat orang, mk jelas tdk boleh diminum, karena fikih harus didahulukan dari masalah2 sosial. Karena Allah wajib didahulukan dari yg lainnya.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhamma

D-Gooh Teguh: Jelas white coffee mereknya sachet doank itu bukan Kopi Luwak dimaksudkan. Mereka jual jenis kopi itu secara eksklusif lain lagi. Embel2 saja namanya itu. Masih haram juga kah?

Mustahil perkebunan dan pabrik kopi di semarang itu menjual atau memakai kopi luwak dimaksudkan untuk kopi sachet yang hanya dijual Rp 1.000,- saja.

Sinar Agama: Kalau bungkusnya ditulis: Kopi Luwak, mk akal uruf mengatakan bhw ia dibuat dari kopi luwak tsb, baik keseluruhan atau sebagian. Tp beda kalau ditulis: Kopi Merk/cap Kopi Luwak, atau Kopi Merk/cap Luwak. Jadi, penggunaan akal filosofis atau ekonomi, tdk bisa dipakai untuk memahami berita yg diberikan oleh pabriknya sendiri.

Kalau kopinya putih, mk bisa lebih menguatkan hal di atas itu. Biar kopinya hitam, jg tetap tdk boleh meminumnya, sampai jelas betul dg penglihatan mata sendiri, atau berita 2 orang adil (tdk melakukan dosa). Tp kalau hanya dg dipikir secara aklis filosofis atau ekonomis, mk ia tdk bisa dijadikan sandaran fikih. Jadi, hukumnya tetap tdk boleh dikomsumsi, walaupun pada hakikatnya bukan kopi luwak.

Dan ingat, dosa itu bukan hanya memakan yg diharamkan, tp jg memakan apa2 yg secara umum diberitakan sebagai barang yg haram sekalipun pada hakikat filosofisnya bukan yg diharamkan. Ketika kita yakin (baik dg melihat sendiri atau dg info adil) bhw makanan itu ada kencingnya, mk wajib ditinggalkan dan dosa memakannya walau, pada hakikatnya tdk ada kencingnya. Keharaman ini karena ketajarrian kita, yakni berani pada Tuhan. Bgt pula kopi yg pabriknya sendiri mengatakan kopi putih atau kopi luwak dimana pahaman dari kedua kata itu (kopi putih atau kopi luwak) adalah kopi luwak, mk haram dikonsumsi walau, pada hakikatnya di hadapan Allah, bukan kopi luwak.

Gibran Mic: Makanan dan minuman yg sudah di fermentasi-tu boleh dimakan-minum apa tidak boleh?
June 29 at 2:31am via mobile · Like

Sinar Agama: Gibaran: Kalau difermentasi dari yg halal, mk ia halal.
June 29 at 4:38am · Like

Gibran Mic: anggur air ny di suling terus di permentasi kan jadi ny halal.
June 29 at 6:23am via mobile · Like

Didin Komarudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad
June 29 at 9:23am · Like · 1

Sinar Agama: Gibran: Kalau fermentasinya itu berupa cairan yg memabokkan, mk sdh pasti haram dan bahkan najis. Spt air anggur, air tape dan semacamnya. Tentu kalau sampai ke cairan yg memabokkan. Tp kalau difermetasikan terus sampai jadi cuka, mk ia menjadi halal. Ini khusus hukum dari air anggur. Tp kalau fermentasi dari barang lain, mk mungkin kaidah umumnya adalah kalau dari barang halal, akan menjadi halal dan kalau dari barang haram, mk akan menjadi haram.
June 29 at 11:47pm · Like · 1

Gibran Mic: klo barang nya halal tapi proses mendapatkan dari hasil nyolong,nipu,dll yg merugi kan,ngaruh gak ke halal haram nya itu barang…
June 30 at 2:36am · Like

Sinar Agama: sdh tentu haram atuh, karena fermentasi itu tdk akan merubah keharaman harta yg dibuat fermentasi itu.
June 30 at 9:46am · Like · 1

Gibran Mi:c klo biji kopi yg keluar dari dubur luwak itu haram.bagaimana dgn pupuk kompos yg berasal dari kotoran menyubur kan sayuran organik…bgmna dgn pembuatan tempe yg harus mengunakan air yg tidak steril entah itu air kena kencing atau tidak.apakah anda tidak makan tempe dan sayur mayur…?
June 30 at 8:53pm · Like

Sinar Agama: Kopi luwak yg diambil dari tahi kok dibanding dg pupuk organik. Pupuk itu sdh menjadi buah yg lain esnsinya. Spt memupuk pohon kopi dg tahi luwak, mk tahinya sdh tdk beresensi tahi lagi dan sdh beresensi pohon dan buah. Karena itu, kalau pohon dan buahnya halal, spt pohon sayuran atau buah kopi, mk keduanya halal. Beda kalau haram spt tanaman ganja atau buah kokain.

Tp kalau kopi luwak itu benar2 diurai dari tahi luwak dan bahkan masih dikatakan tahi luwak. Jadi, bedanya jauh sekali.

Tempe jg begitu, kalau ia dibuat dan diairi dg air yg tdk steril menurut fikih, yakni yg najis, mk sdh pasti tempenya haram walau sdh terfermentasi. Tp kalau airnya tdk steril secara kesihatan, tp tdk najis menurut fikih, mk ia tetap saja halal.
July 1 at 12:26am · Like · 1

sumber

%d bloggers like this: