Mani, Madzi, Wadzi Dan Hukum2nya

Ali Mujtaba

salam ustad,

mohon penjelasanya tetang madzi & wadzi,hukumnya,ciri-cirinya,cara bersucinya ( laki” & wanita),cara mencegah dan mengetahuinya jika kejadianya saat tidur ?

ma’af & terima kasih

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

1- Madzi adalah cairan kental yg biasanya bening dan keluar sebelum keluarnya mani, biasanya diwaktu syahwatnya naik.

2- Wadzi adalah cairan kental yg biasanya bening dan keluar setelah keluarnya mani.

3- Madzi dan wadzi itu, sama saja untuk lelaki atau perempuan.

4- Mani adalah cairan kental yg biasanya tdk bening dan keluar dg perasaan orgasme (lezat), menekan dan membuat capek.

5- Madzi dan wadzi itu, selama tdk terkena kencing atau mani, mk hukumnya suci dan tidak membatalkan wudhu.

6- Madzi wanita atau apapun carirannya, akan dihukumi mani kalau ia sdh merasakan orgasme itu, yakni lezat yg puncak dan melelahkan. Karena mani wanita berupa ovum yg hanya ada di dalam rahim. Jadi, mani secara urufnya wanita adalah cairannya yg disertai perasaan orgasme dan melelahkan. Hati2nya, cukup dg argasme.

Catatan:

Kalau setelah keluar mani belum dibersihkan, mk wadzi yg keluar, sdh pasti menjadi najis, karena terkena mani yg najis tsb atau terkena kemaluannya yg mutanajjis (menjadi najis) karena belum disucikannya dari najis mani tsb.

Hidayatul Ilahi: Salam,,numpang nanya ustad,,jika madzi dan wadzi terkena pakaian,apa boleh d bawa sholat??afwan

Ali Mujtaba: ma’af ustad,bisakah kita bersuci dari madzi dan wadzi dengan berwudhu setelah kita hanya menyiram satu kali saja

Sattya Rizky Ramadhan: Salam..sepertinya jawabannya sudah ada di point 5.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad

Sang Pencinta: Dayat. jawabannya: Madzi dan wadzi itu, selama tdk terkena kencing atau mani, mk hukumnya suci dan tidak membatalkan wudhu…Berhukum najis ketika terkena kencing atau mani, jika demikian tidak bisa dipaksi sholat dan harus disucikan jika mau dibawa sholat

Ali Mujtaba: ma’af kakanda Sang Pecinta,apa istibra dan wudhu itu sama perannya untuk bersuci dari madzi dan wadzi ?

Orlando Banderas: Ali Mujtaba, istibra untuk mensucikan dari sisa kencing yg najis. Madzi dan wadzi sudah suci, jadi tidak perlu lagi disucikan dgn istibra. Salam.

Sang Pencinta: untuk istibra coba antum baca di sini

Sang Pencinta: Kalo madzi dan madzikan terkena kencing ato mani wajib disucikan, daerah yang terkena olehnya itu yg disucikan, jadi wudhu itu tidak mensucikan madzi atau wadzi yang sudah ternajisi, sedangkan istibra itu untuk mensucikan sisa kencing yang ada di sluaran kencing atto kemaluan yang biasanya kita laki2 mengalaminya terutama yg berusia lanjut, Jika sudah istibra, namun kita merasa ada air yg kluar dari kemaluan, maka dihukumi suci. mohon koreksinya Ustadz kalo sy keliru.

Sinar Agama: menurut ana,ana sdh jelas menulisnya. Tp kalau setelah komenku ini, masih benar2 ada yg tdk dipahami, mk tanyakan lagi, karena tdk boleh tdk jelas. dan yg ditanya wajib menjwb. Jd, tlg baca lagi dg baik dan kalau masih ada yg blm dipahami, baik tulisan itu atau hal2 yg menyangkutnya, mk tlg tanyakan lagi.

Abu Zahra Al Manshur: Ana baru tahu kalau madzi itu tidak membatalkan wudhu. Selama ini ana ikuti “membatalkan wudhu yakni harus cebok dulu kemudian berwudhu ulang)

Ali Mujtaba: Alhamdulillah saya rasa saya sdh sgt puas dan paham ats pnjls’y & bantuanya,

trm ksh Ustad & tmn”,smg dibalas-Nya,Amiin

Abu Zahra Al Manshur: Pak ustad Sinar Agama, ada juga cairan yang keluar sendiri bukan karena syahwat dan bukan karena jima’. Biasanya warnanya mirip dengan mani (sedikit putih dan tidak jernih) tetapi bukan mani, dan agak sedikit kental. Ana pernah mengalami hal itu saat belum nikah (kira – kira mengalami sekitar 2 atau 3 kali) ketika sedang capek, dan ketika mengejan saat buang hajat besar, ternyata itu juga keluar sendirinya. Menurut yang ana baca, itu hal yang wajar/lumrah.

Cairan yang keluar saat ejakulasi sebenarnya terbagi dua: Ada yang berasal dari daerah sekitar prostat di sebut mani dan ada yang berasal dari buah pelir (zakar) berisi benih untuk pembuahan (mani) yang ana tidak tahu apa namanya (mungkin madzi seperti yang ana kenali sebelum membaca artikel di atas, karena madzi menurut ust adalah yang keluar setelah ejakulasi meskipun mungkin saja setelah beberapa jam).

Nah yang keluar dengan sendirinya itu konon menurut yang ana baca juga berasal dari daerah sekitar prostat itu (bukan dari buah pelir tempat diproduksinya bibit benih atau air mani) sebenarnya bukan air mani melainkan nutrisi untuk “makanan” bagi mani/bibit agar bisa bertahan hidup selama beberapa waktu. Dan bagi yang jarang ejakuasi itu kadang kala (tetapi jarang) bisa keluar dengan sendirinya (karena kelebihan produksi atau sebab lain). Bahkan ana pernah bangun shubuh sudah basah tetapi malamnya tidak bermimpi juga tidak merasakan “nikmat” apapun (keluar sendiri tanpa sebab, tetapi mengalami hal itu hanya satu kali saja, dan ana pikir waktu itu masih awam jangan2 telah diperkosa oleh jin, hehehehe).

Pertanyaan ana, apa nama cairan yang keluar tersebut? apakah termasuk madzi juga sebagaimana yang ana kenali sebelum ini? Dan dalam kasus ana (keluar sendiri tanpa ejakulasi juga tanpa mimpi apapun, tanpa merasakan nikmat apapun) apakah dihukumi sebagai junub? Padahal bentuknya seperti cairan yang keluar saat ejakulasi. Saat itu ana masih belia banget dan menghukumi sebagai junub (karena basah dan banyak) jadi ana mandi. Syukron jazakallaah

Ali Mujtaba: Abu Zahra Al Manshur :

kisah kita sm persis, itu pertanyaan saya yg baru k dinding Ustad SA,mslh tdr & kecapek an jg

Sinar Agama Mani itu adalah mani kalau sudah diyakini sebagai mani, tanpa perlu lezat (orgasme) ada tekanan dan lelah setelahnya. Mani itu adalah mani, baik sedikit atau banyak, baik orgasme atau tdk atau bahkan baik ada nafsu atau tdk. Dan mani itu secara umum fikih adalah mani yg uruf. Yaitu cairan kental yg biasanya tdk bening.

Sedang Madzi dan Wadzi itu, biasanya keluar setelah syahwat naik (madzi) dan setelah keluar mani (wadzi) dan biasanya bening.

Trus: Kalau ada cairan yg meragukan apakah ia kencing atau ya lainnya, mk baru hukum di atas itu dipakai, yakni:

“Kalau keluarnya dg orgasme (lezat), menekan dan membuat lelah, mk ia dihukumi mani dan kalau tdk, mk dihukumi bukan mani.”

Jadi, untuk masalah mas Zainal dan mas Ali, saya rasa itu dikatakan mani karena kejelasannya yg diketahui dari kekentalannya. Tp kalau antum sendiri ragu, mk antum bisa memakai hukum yg saya nukil ini, yaitu yg melihat ketiga tandanya.

Anjuranku, adalah melakukan hati2. Yaitu dihukumi najis, mandi junub tapi tetap melakukan waudhu.

Mani secara umum itu adalah mani yg mengandungi dua2nya, baik yg keluar dari prostat atau pelir, baik benih cacing maninya atau makanannya. Karena mani itu adalah paduan dari keduanya. Mani yg tdk memiliki benih cacing mani, spt yg dikatagorikan Azosperma (kl tdk salah tulis) yaitu mani yg kosong dan tdk mengandungi cacing mani, mk ia juda disebut mani, baik oleh uruf fikih atau kedokteran. Walhasil, mani itu, biasanya kental dan putih tdk bening. Tp kalau ragu, mk pakailah hukum yg memestikan adanya tdk ciri tsb. Tp saya sangat menganjurkan untuk dinajikan (kalau kental dan tdk bening), mandi junub tp tetap mengambil wudhu.

wassalam

sumber

%d bloggers like this: