Memohon Ampun Bukan Berarti Bersalah/berdosa

Muhammad Dudi Hari Saputra

Salam Ustad..

Mngapa di dlm do’a2 para Nabi dan Imam bnyak sekali ungkapan memohon ampunan, yg mmbuat sy brtanya, mngapa beliau2 yg disucikan dri dosa itu memohon ampunan..apkh beliau2 prnah berbuat salah? Atau itu hnya bentuk al-faqir dihadapan Tuhan?

Syukron ya Afwan..

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Saya jg sepertinya sdh sering menjelaskan hal ini dikala membela kemaksuman semua nabi as dan rasul as. Yaitu bhw kata “minta maaf” itu bisa banyak sekali maksudnya yg bisa jg dipadukan semuanya. Misalnya kar…ena adab yg tinggi. Spt sekretaris yg ingin mengabarkan pada bosnya ttg sesuatu, kalau bosnya besar banget, seing didahului dg minta maaf duluan. Padahal memberitahukan sesuatu ttg urusan kantor itu bukan hanya bukan kesalahannya, tp malah tugas darinya untuk mengingatkan si bos tadi.

Banyak jg tulisan dari teman2 yg bertanya kepada alfakir yg didahului minta maaf duluan. Padahal bertanya itu wajib dan menjawab jg wajib kalau tahu. Saya jg sering menjawab yg disertai minta maaf spt kata afwan. Padahal saya dan antum2 kan tdk ada yg salah? Jadi, dari sisi ini, kata maaf itu, karena ketinggian derajat yg dihadapi dan karena adab yg baik dari yg menghadapi. Jadi, permintaan maaf/ampun dari para nabi as itu adalah dari sisi keAgungan Tuhan sebagai yg dihadapi dan keadaban diri dari para nabi as sebagai yg menghadapiNya.

Jangankan para nabi as dan maksum as yg lebih jelas melihat Tuhan dari yg lainnya hingga tajalliNya itu menghanguskan bahkan jati diri mereka2 as itu, kita2 saja, sekalipun baru melakukan ibadah, tetap saja minta ampun karena merasakan kekurangan2 di dalamnya. Nah, ibadah setinggi apapun, di hadapan Tuhan, sdh jelas pasti kurang, sekalipun ibadahnya para nabi as dan maksum as sekalipun. Karena itu, kata maaf ini, sangat bisa mengiringi kebaikan sekalipun.

Apalagi dlm irfan, merasa ada saja sdh salah dan dosa, apalagi merasa tahu, merasa melakukan kebaikan dan semacamnya. Jangan itu, merasa tdk merasa, yakni makam fana’ pertama, jg masih dosa dan salah. Jangankan itu, sdh fana’ dalam fana’-pun tetap merasa salah dan dosa, hingga karena itulah Nabi saww mengatakan:

“Ya Allah, tambahkanlah kebingunganku.”

Yakni kebingunan dg melihat cahaya Asma2Nya di maqam Asmaa’2 Allah itu, baik dari sisi jumlahnya atau dari sisi keluasan masing2nya, bukan bingung antara cahaya dan gelap/batil). wassalam.Lihat Selengkapnya

Muhammad Dudi Hari Saputra: illahi amin ya Allah, syukron katsiran y Ustad..🙂

Heri Widodo: Allah Humma Sholi Ala Muhammad Wa Ali Muhammad.

Irawati Vera: Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad
July 9 at 5:20am via mobile · Like

Kala Deder: Sering juga ada pengemis dtg kr rumah, dan waktu ngasih sesuatu kita sambil mengatakan:”maaf buk adanya cuma ini”…. padahal bukankah tdk dosa/salah memberi derma malah berpahala… tp kenapa kita maaf? Krn kita tahu bahwa pengemis tsb layak utk di beri lebih dari yg kita berikan. Bener ga stadz….??
July 9 at 5:35am via mobile · Like

Khommar Rudin: Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad
July 9 at 7:50am · Like

Sinar Agama: Kala, bener kata antum, tp yg paling tepat dan sangat bisa melengkapi pandangan antum itu adalah, bhw kata2 tsb kita utarakan karena kita punya adab dan kesopanan yg tinggi hingga kita tdk menghina yg meminta dan malah kita yg minta maaf padanya, bgt pula supaya ia tdk meresa rendah diri dg kemiskinannya itu, spy dia tetap merasa manusia yg wajib dihargai siapapun yg lebih kaya. Persis spt Nabi saww kalau memberi sedekah, dg mengulurkan tangannya lalu barang yg mau diberikannya itu diletakkan di atas tangan beliau saww hingga si pengemis itu yg mengambilnya dan tdk perlu menengadahkan tangannya hingga terlihat hina.
July 9 at 7:51am · Like · 2

Sinar Agama: Semakin tinggi adab kita, mk semakin banyak meminta maaf pada hal2 yg berpahala sekalipun.

sumber

%d bloggers like this: