Meyakini dan Mengajarkan Yg Saling Berbeda Tdk Dilarang Agama dan Akal-sihat

Shyaahiid Akhmmadd Andreanshyahh Billall:

Bnyak golongan yg menyesatkan islam syiah… Apakah benar pak…??bkankah membeda2kan golongan sma sja dgan jalan kaum zionis dan yahudi untuk mengadu domba islam..

Sinar Agama

Salam.Beda padangan itu jelas boleh saja. Beda artinya meyakni dan mengatakan bhw miliknya benar dan milik orang lain yg salah.

Di dunia ini, semua orang punya hak untuk mengutarakn pendapatnya. Karena itu, yg meyakini dirinya benar dan orang lain salah, boleh saja mengatakan pendapat dan keyakinannya itu.

Dengan uraian itu, dpt dipahami bhw setiap orang boleh meyakini kebenaran dirinya dan kesalahan orang lain dan boleh jg mengatakannya, baik pada keluarganya, murid2nya, tetangganya dan lingkungannya. Dan bahkan boleh juga menyiarkannya di berbagai media.

Sekarang masalahnya, bagaiman dg hak2 orang lain? Apakah orang lain tdk boleh disalahkan? Sudah tentu boleh karena hal itu merupakan konsekwensi dari meyakini kebenaran dirinya dimana secara otomatis akan meyakini kesalahan orang lain.

Nah, apakah Islam dan akal sihat atau hukum2 dunia, melarang hal tersebut? Kalau dilarang, mk sdh pasti tdk boleh ada pergaulan, karena pasti ada perbedaan walau antara suami istri dan dg anak2nya.

Nah, akal-sihat, agama dan hukum2 dunia hanya mengatakan bhw semua orang boleh meyakini kebenaran dirinya dan kesalahan orang lain dan boleh jg mengutarakan dan mengatakannya. Yg tdk boleh itu adalah memaksa orang lain dan tdk menganggapnya manusia atau sesama muslim atau sesama manusia. Jadi, memaksa orang lain dan tdk memberinya kebebasan untuk meyakini dan mengajarkan yg ia yakini itulah yg tdk dibenarkan agama, akal sihat dan hukum2 dunia.

Masalahnya untuk orang2 muslim Indonesia, tdk mau disesatkansiapapun walau dirinya sendiri selalu menyesatkan orang2 lain spt agama2 lain, atau madzhab2 lain. Nah, sampai gilirannya ia sendiri yg disesatkan, mk ia menjadi marah.

Jadi, hukum akal, agama dan hukum2 dunia, membolehkan orang2 yg saling berbeda itu untuk saling bersentuhan dan berkomunikasi walau dalam keberbedaannya itu. Yakni dg dialog yg logis dan tanpa emosional. Dan kalau tdk ada kata sepakat, mk harus membiakan masing2 bebas dg keyakinan, penjelasan dan ajarannya. Jadi, yang dilarang itu adalah menjadi Tuhannya manusia atau membagi-bagi surga neraka spt Tuhan.

Mungkin saya akan menerbitkan tulisan ini, karena bagus diskusinya dan kalau antum tdk rela, mk saya tidak akan menyebut nama antum.

Shyaahiid Akhmmadd Andreanshyahh Billall

Trimakasih pak… Silahkan sjaa diterbitkan… Karna saya netral dan sya pnya keyakinan sendiri tentang apa yg di ajarkan Al-Qur’an dan hadist.. Biasa dlam debat itu sya sebagai orng yg netral… Saya hanya ingin setiap golongan saling menghormati..tapi akibatnya biasa mereka malah menganggap saya yg sesatlah yg kafir lah…jdi saya utarakan hal ini kepda yg lbh faham…

Sinar Agama

Trims atas segala pertahatian dan baik sangka antum. SAya mau menerbitkannya spy ada mamfaatnya untuk teman2 lainnya. Trims atas ijinnya. Smg antum selalu berada dijalanNya, bgt pula kami dan semua teman2 lainnya. amin.

wassalam

sumber

%d bloggers like this: