Nabi Tidak Pernah Sesat

Daris Asgar

Salam Tadz,,,ijin Ustadz,,,mohon dijelaskan maksud/tafsir surat Ad-Duha ayat 7,,,Syukron Ustadz,,,

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Seingat saya, saya sdh menjelaskan hal ini. Bunyi ayatnya:

“Dan Tuhanmu menemukanmu dlm keadaan sesat, lalu menghidayahimu.”

Ringkasnya adalah bhw apapun dan siapapun di dunia ini, tanpa Tuhan, tdk adak akan ada apa2nya. Kalau Tuhan tdk memberi manusia yg namanya akal, mata, kaki, tangan, telinga, mulut, lingkungan, udara, mata hari, air, ……………… apa saja yg namanya ada dan wujud, walau sebuat atom atau lebih kecil darinya, semua dan semua, merupakan instrumen dan alat untuk mendapatkan hidayah.

Dengan demikian, mk secara dzati dan esensi dari setiap sesuatu atau manusia, tanpa pertolongan Tuhan, adalah hakikat kegelapan dan kesesatan. Tp karena akal, mata, telinga, jagad raya, … dst …itulah maka manusia bisa mengerti ttg Penciptanya dan keAgunganNya.

Itulah yg dimaksud bhw Tuhan menemukan Nabi saww dlm keadaan sesat. Jadi, bukan sesat sebelum Islam dan dihidayahi dg Islam. Karena Nabi saww sdh al-amiin (jujur, amanat dan beraklak mulia sebelum menjadi Nabi saww). Nabi saww jg shalat dg cara2 yg diajarkan agama nabi Ibrahim as sebagaimana banyak orang Qurasy yg mmg tdk pernah menyembah berhala.

Kalau ada orang ingin memaksakan bhw Nabi saww pernah sesat hingga ditunjuki dan dihidayahi Tuhan, mk mestinya ia jg mengartikan “wajada” yg arti katanya “menemukan”, sebagai menemukan dlm bahasa keseharian kita. Yakni Tuhan mencari-cari lalu menemukan Nabi saww, atau Tuhan secara tdk sengaja menemukan dan melihat Nabi saww.

Kalau ayat tsb diartikan spt itu, mk jelas keluar dari keimanan yg fital dimana Tuhan tdk memiliki batasan apapun, tdk bergerak, tdk kekuarangan ilmu, tahu semuanya dan bahkan lebih dekat urat nadi dari semua wujud. Artinya, Tuhan tdk perlu mencari untuk menemukan dan tdk perlu ketidak sengajaan hingga dikatakan menemukan Nabi saww. Jadi, Nabi saww dan selain beliau saww, semuanya hadir di hadapan Tuhan tanpa terlewatkan sedikitpun dan sependek jamanpun.

Jadi, maksud Tuhan, kurang labihnya, ingin megatakan bhw siapapun saja termasuk diri Nabi saww, tanpa Tuhan, adalah hakikat kesesatan dan kegelapan dan, lalu dengan Tuhan semuanya mendapat penerangan dan hidayah.

beberapa detik yang lalu · Suka

Zainal Syam Arifin: Pak ustad Sinar Agama, haruskah dhaalla di ayat ini diartikan sesat seperti di ayat terakhir al fatihah? Mengapa tidak ditafsirkan “kebingungan” dalam mencerna ayat – ayat الله sehingga kepada nabi pun ditambahkan petunjuk untuk lebih memahaminya setelah sebelumnya masih kesulitan memahaminya? Afwan wa syukron.

Jazakallaah khoiron katsiron
Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli Muhammad ajjilfarajjahum
July 12 at 10:50pm · Like

Sinar Agama: Zainal: Saya tdk berani menafsirkan spt yg antum katakan itu, karena saya tdk berani menafsir Qur an sendiri sebelum merujuk kepada penjelaasan ulama dikala kami mengaji dulu dan, apalagi tafsiran yg demikian itu, bisa dikatakan menyimpang lahiriahnya.

Yg ke dua, kalau Nabi saww bingung memahami ayat, lah … bagaimana dg kita2?

Bukankah Allah mengatakan “Tuhanmu menemukanmu dlm kesesatan dan kemudian Ia menghidayahimu.” ???? Yakni bukankah artinya Nabi saww itu senditi tanpa hidayah adalah sesat??? Yakni bukankah disini Tuhan hanya menghdiyahi dg satu hidayah???? Yakni bukankah hidayah ke dua itu tdk disebut sama sekali???? Yakni bukankah kalau ditafsirkan spt antum berarti adanya hidayah yg ke dua, ke tiga … dst juga belum tentu dipahami, karena yg datang dari Tuhan hanya hidayah sebagai ayat pertama yg diturunkan sebelum petunjuk berikutnya???!!! Yakni bukankah berati apapun yg Nabi saww pahami belum tentu benar dan tdk ada jamiannya???!!! Yakni bukankah tafisran itu jauh dari benak siapapun yg membaca ayats tsb???!!!
July 13 at 3:25am · Like · 6

Sinar Agama: Sekali lagi, saya ingin mengingatkan pada hadits Nabi saww yg mewanti-wanti semua orang untuk tdk menafsir Qur an dg kecenderungannya sendiri (akalnya sendiri, tanpa argumen).
July 13 at 5:41am · Edited · Like · 4

Maskulin Rijal :Afwan Ustadz, klo dikaitkan dg peristiwa yg terjadi sebelum ayat itu, yakni wafatnyo orang2 yg dicintai (Sydh Khodijah dan Syd Abu Tholib) bukan saja ketiadaanya membuat sedih tapi jg yg masih diharapkn perannya dlm membawa misi Illahi, hingga (maaf)membuat bingung dan kalut.
July 13 at 4:44am via mobile · Like

Sinar Agama: Maskulin: SEmua yg membantu Nabi saww itu adsalh membantu dirinya sendiri. Kalau Nabi saww senang, karena demi mereka sendiri, bgt pula kalau sedih.

Nabi saww itu adalah Nabi saww dan utusan Tuhan. Beliau saww adsalah orang pertama di muka bumi ini yg bukan hanya di jamannya, akan tetapi bagi masa2 sebelumnya.

Ketika Nabi saww sdh menjadi uturan Tuhan, spt nabi2 yg lain, mk tdk ada yg dilakukan kecuali dg ijinNya dan perintahNya. Karena itu, tdk ada kekalutan dan kebingunan ke atas Nabi saww.

Lagi pula, kalau antum mengatakan hal spt itu, mk ayat2 yg datang ketika itu, akan dihukumi sebagai ayat yg tdk akan dipahami karena kekalutannya itu. Kalut dan bingungnya Nabi saww, akan membuat ajarannya ini tdk bisa diyakini dg baik oleh umatnya.

Bgt pula, akan bertentangan dg ayat2 yg turun sebelumnya yg menjamin Nabi saww dari sisi ketaatannya, kecintaannya pada Tuhan, ketidak terpautannya dg dunia hingga bulan atau mataharipun (sebagaimana yg dikatakan beliau saww bahkan di awal2 kenabian beliau saww ketika menjawab tawaran kenikmatan dari para kafirin qurasy)…..dst.

Nabi saww boleh sedih sebagai manusia yg memiliki perasaan, tp, sepain sedihnya itu diarahkan kepada Allah, juga tdk sampai menjadikannya kebingungan dan apalagi kalut. Antum sendiri, ketika mengatakan kalut itu menyatakan maaf. Itu tandanya bhw antum sendiri sdh mengerti dg mudah bhw Nabi saww tdk boleh bingung dan, apalagi kalut.

Lagi pula, kalau Nabi saww bingung, maka apalagi umatnya dan, terlebih disuruh mengimani orang yg bingung. Bgt pula kalau kalut.

Lagi pula, bingung dasn kalut itu, hanya terjadi pada orang2 yg terlalu mengikuti perasaannya. Orang2 berakal saja tdk akan sampai spt itu. Lah … beliau saww ini seorang Nabi saww dan uturan Tuhan. Bisa2nya bingung dan kalut itu terjadi pada orang2 yg menjadi tangan Tuhan dan tdk pernah meresa berpisah dariNya???!!
July 13 at 5:41am · Like · 3

Maskulin Rijal: Ahsantum, trimaksh jawabannya Ustadz, memang benar bahasa maaf yg ana katakan dlm berpendapt, krn ana meyakini takan ada kelemahan kekurangan melekat pd diri Nabi krn Beliau TAJALIAT Tuhan paling sempurna sbgmn yg ana baca dr catatan antm yg diciptakan langsung dari Tuhan adalah Beliau saaw, tapi karna Beliau juga manusia yg punya rasa sedih krn kehilangan maka ana ber asumsi spt. Wal hal pertanyaan ana cuma ingin lbh kuat bisa menghapus asumsi yg ada. Tapi Afwan ana perlu penjelasan antm tentang ke tiadak tahuan Nabi dlm ayat 101 Attaubah “Kamu tdk Kami (Alloh) mengetahui mereka”. Afwan min Fadhlikum.
July 13 at 6:39am via mobile · Like · 2

Zainal Syam Arifin: Maksud ana bukan ayat al Qur’an pak ustad Sinar Agama, sebab ana baca dari kisah (sejarah) beliau bahwa sebelum malaikat Jibril diutus kepada beliau, beliau sudah memikirkan ayat – ayat ALLAAH dalam ciptaan-NYA prihatin dengan kondisi umat manusia, dll, beliau senantiasa merenung dan memikirkan semua itu sementara beliau belum mendapatkan wahyu, kadangkala beliau juga menyepi seorang diri disebuah bukit sambil memandang langit. Ini berarti mengacu pada kondisi sebelum menerima wahyu.

Disini ana tidak menafsirkan melainkan bertanya “mengapa” karena melihat tafsiran depag yang mengartikan kebingungan, bukan sesat. Dan kebingungan yang ana pahami menurut tafsiran depag disini mengacu kepada tahap spritual beliau pada kondisi “sebelum” turunnya wahyu, dimana sebelum itu nabi sudah prihatin dan memikirkan umatnya serta ALLAAH dan ayat – ayat kauniyah-NYA. Karena menemui jalan buntu (dhaalla) dalam tafakurnya itu maka ALLAAH pun memberikan bimbingan-NYA melalui wahyu.

Afwan. Tolong dikoreksi kembali kalau masih salah.
July 13 at 8:24am · Edited · Like

Sinar Agama: Rijal:

Ketika antum sdh memahami firman Tuhan ttg Dzat Nabi saww yg sesat karena dilihat dari dzat beliau saww secara mandiri tanpa Tuhan, mk mengerti ayat antum tanyakan itu, tidaklah susah dan saya sdh pernah menjelaskannya (seingatku). Yaitu bhwa Nabi saww tdk tahu hal itu secara mandiri dan dzati tanpa bantuan Tuhan. Jadi, setelah diberi tahu Tuhan, mk sdh pasti beliau saww menjadi tahu. Jadi, firman yg berbunyi, “Kamu tdk mengetahui dan Kami mengetahuinya” artinya:

“Kamu tidak tahu secara mandiri dan Kami mengetahuinya secara mandiri.”
July 14 at 2:33am · Like · 3

Sinar Agama: Mas Zainal:

1- Antum sudah benar dari sisi tdk menafsir Qur an dg pikiran sendiri kalau bgt. Karena antum sdh merujuk ke depag yg bisa dijadikan rujukan bagi yg blm tergolong ahli.

2- Dalam ayat tsb, sangat sulit diartikan seperti yg di terjemahan depag itu. Karena di ayat tsb hanya membicarakan Nabi saww dan Tuhan. Artinya, anggap bisa ditafsirkan bingung, mk kebingungan ini, tetap antara Nabi saww dan Tuhan. Yakni bukan antara umat, Nabi saww dan Tuhan.

Nah, kalau hanya antara Nabi saww dan Tuhan, mk berarti Nabi saww yg bingung terhadap dirinya sendiri. Dan, hal ini, menunjukkan bhw Nabi saww tdk maksum dari awal karena beliau saww bingung dan tdk tahu. Sementara sejarah manapun tdk ada yg tdk tahu bhw Nabi saww itu tdk pernah sesat/bingung dalam melakukan kewajibannya sendiri. Beliau saww shalat sebagaimana agama nabi Ibrahim as seperti para pengikut2 lainnya yg ada di jaman itu. Beliau saww jg bgt hebatnya dalam melakukan kewajiban2 sosialnya, sampai2 masyarakat menjuluki beliau saww dg al-amiin. Al-amiin ini memiliki arti yg dpt mencakupi semua kebaikan. Karena apa gunanya orang jujur, tp mengganggu istri orang, mengganggu tetangga, berjudi, mabok, …. dst … dari sifat2 yg tdk baik.

Nah, dengan demikian, mk Nabi saww tdk pernah bingung atau sesat akan diri beliau saww sendiri. SEdang penafsiran bingung akan umatnya itu, mk sebagaimana sdh diterangkan di atas, keluar dari konteks percakapan, karena di ayat tsb hanya menyebut Tuhan dan Nabi saww.

3- Ketika Nabi saww sering ke gua Hira’ untuk merenungi Tuhan, itu pertanda puncak2nya Nabi saww dlm mengaplikasikan tanggung jawab beliau saww kepadaNya. Artinya, bukan untuk merenguni mau diapakan masyarakat jahiliyyah itu. Dan kalaulah ada doa2 spt itu, mk hal itu bukan berarti kebingungan/sesat. Karena itu seyogyanya dikatakan bhw: “Kamu meminta kepadaKu jalan menghidayahi umat, dan Akupun menghidayahimu untuk itu.” Tp Tuhan berfirman lain: “Tuhanmu menemukanmu dalam kesesatan (anggap bingung -menurut depag), lalu Ia menunjukimu/menghidayahimu.”
July 14 at 2:48am · Like · 4

Maskulin Rijal: Syukron Ustadz, Barokalloh lakum bi ulumikum. Afwan Ustadz di Indonesia apa di Iran? Hehe pengen ktm,
July 14 at 2:50am via mobile · Like · 1

Zainal Syam Arifin: Syukron jazakumullaah khoiron katsiron
July 15 at 2:39am · Like

selengkapnya 

%d bloggers like this: