Ruh, Jiwa, Penghembusan dan Akal (bag.1)

Daris Asgar

 Salam Ustadz,,,ijin bertanya ustad,,,pernah ada ulama suni menjelaskan bahwa,,,

“JIWAKU…berarti aku bukan jiwa,,,jiwa bukan aku…”,,”DIRIKU,,,berarti diri bukan aku,,aku bukan diri”…dan seterusnya,,,

jadi bagaimana menjelaskan siapakah aku ini ustadz,,,terimakasih,,,semoga Ustadz sekeluarga selalu di beri Balasan terbaik dariNya,,amin,,,

Sinar Agama: SAlam dan trims pertanyaannya:

Kita ya …kita itu. Dlm arti bhw keberadaan kita dan esensi kita ya … keberadaan dan esensi kita tsb, tdk lebih dan tdk kurang. Spt mobil, ya …mobil itu, tdk lebih dan tdk kurang.

Akan tetapi, ketika kita mau memberntuk proposisi atau kalimat berita atau subyek predikat atau mubtada’ khabar atau ingin memerinya suatu berita, mk hal yg satu itu diurai dalam akal hingga menjadi spt:

“Mobil merah” atau “Mobil beroda empat” atau “mobil bersetir dari kayu” …. dst. Nah, berita2 spt ini terhadap subyeknya yg berupa mobil, hanya merupakan pemisahan akal. Artinya, mobil itu ya …. mobil itu dg segala keberadaannya yg ada di depan kita itu yg, misalnya merah, setirnya dari kayu, rodanya empat … dst. Jadi, penguraian ini, tdk membuat mobil itu terpisah dari berbagai berita atau predikat tsb hingga dikatakan bhw mobil itu bukan merah, mobil itu bukan roda empat, mobil itu bukan bersetir yg dibuat dari kayu buatan kota Jepara -misalnya.

Nah, mengurai diri kita jg bgt. Karena diri kita itu yaitu diri kita sendiri, tdk lebih dan tdk kurang. Tp ketika kita mau memberitakannya kepada orang lain, mk akal kita mengurainya dlm bentuk berbagai kata2 dimana yg satunya menjadi subyek dan yg lainnya menjadi predikat. Karena itulah mk bisa dikatakan:

“Diriku berkaki dua” atau “Jiwaku suka memaafkan” atau “jiwaku adalah diriku” ………… dst. Nah, di kalimat2 ini, bukan berarti diri dan jiwa dan aku itu saling terpisah.

Memang diri manusia itu adalah kesulurahannya, sedang jiwa dan badan itu merupakan bagiannya. Beda dg diri dan ku yg mana diri adalah jati diri umum dan ku adalah yg kumiliki. Jadi, diri-ku adalah identitasku sepenuhnya.

Yakni diriku adalah sepenuhnya keberdaannku ini. Akan tetapi, spt mobil itu, ketika ingn diberitakan ke orang akan hal2 yg menyangkutnya, mk diberilah kata kepemilikan “ku” itu. Misalnya kita berkata: “Diriku adalah pendosa”. Diriku, yakni bukan diri yg lain. Yakni sifat pendosa yg kumaksud dlm proposisiku ini adalah diriku, bukan diri orang lain. Jadi, bukan berart diri dan aku yg dipendekkan menjadi “ku” itu terus berbeda.

Febrina Surayya: Mohon izin utk ikut menjawab..

Saya bukan dari Syiah…tapi, anggap saja ini utk memperluas wawasan saja..

Dalam alquran ada diberitakan, bhw pada zaman azali, Tuhan menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung2..semua tidak sanggup. Maka dipikullah amanah itu oleh ‘manusia’.

Nah, manusia waktu itu, baru dalam wujud JIWA saja..

Maka, jiwa tersebut kemudian disempurnakan Tuhan dg membentu JASAD. Kemudian jasad tersebut diberi kekuatan dg meniupkan ROH. Setelah itu, manusia tsb diberi NAFSU.. Dan terakhir, baru dilengkapi dg AKAL.

nah, kelimanya ini: Jiwa, jasad, roh, nafsu, dan akal.. Semua adalah komponen lengkap yg namanya MANUSIA.

Namun, jika ada yg bertanya siapa diri kita, maka diri kita yg sebenarnya adalah JIWA. krn jiwa yg akan mengalami 6 masa dalam kehidupan manusia: alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam barzah, alam mahsyar, dan alam akhirat..

Semoga keterangan ini bermanfaat..

Sinar Agama: Febri: Trims komentarnya.

Saya sdh sering menjelaskan di catatan bhw ruh sebelum adanya badan manusia itu, tdk ada. Yakni keterangan ttg adanya ruh2 individu di alam dzar atau alam alastu atau alam ruh itu, tdk ada dan yg ada hanya tuhan-species manusia yg ditakan ruh agung atau ruh universal. Yakni satu ruh yg mengurusi peniupan ruh2 individu pada badan2 yg sdh siap, sesuai dg ijin Allah. Biasanya jg dikenal dg malaikat peniup ruh. Tp ingat, sdh sering dijelaskan pula bhw peniupan ruh itu bkn seperti meniup balon dan dari luar balon. Tp dari dalam badan itu sendiri yg berproses sejak dari mani. Jadi, peniupan ruh itu sebenarnya berupa pengaturan kelangsungan perkembangan ruh cacing mani kepada ruh manusia.

Ssh sering dijelaskan pula di fb ini bhw ruh itu bisa disebut jiwa karena kepengaturannya terhadap badan materi manusia. Sedang penyebutan ruh itu karena dari sisi keterhubungannya dg akalnya yg notabene berhubungan dg non2 materi spt ilmu dan Tuhan. Jadi, ruh dan jiwa itu sama saja.

Sdh sering dijelaskan pula bhw setiap badan memiliki ruh non materi ini. Karena ia yg akan mengatur semua gerakan atom2nya, pertumbuhannya, gerak2nya dan rasa/perasaannya serta akalnya.

Makhluk materi yg mesti memiliki ruh itu, ada yg hanya memiliki ruh-daya-tambang, spt batu, air, tanah dan semacamnya. Ada yg disamping memiliki ruh-daya-tambang, ia jg memiliki ruh-daya-nabati, yaitu yg mengatur pertumbuhannya. Ada jg yg memiliki ruh-daya-hewani, yaitu yg mengatur gerak ikhtiarinya serta rasa/perasaannya. Serta ada yg paling lengkap, yaitu manusia yg ruhnya juga memiliki daya-akal.

Jadi, ruh itu satu tp memiliki daya2 yg sesuai dg derajat wujudnya tsb. Karena itu ruh dan jiwa itu sama saja. Dan jiwa/ruh ini, hanya ada setelah badan materinya siap menerimanya, yakni menerima proses gerakannya sejak dari ruh-mani tsb. Jadi, sebelum badannya ia tdk ada dan, karenanya tdk pernah berhubungan dg amanat yg ditawarkan kepadanya di alam sebelum materi.

Sdh sering dijelaskan jg bhw pertanyaan Tuhan kepada manusia di alam ruh bhw apakah Tuhan itu Tuhan manusia dan dimana dijwab oleh semua ruh bhw benarlah bhw Ia adalah Tuhan manusia, maksudnya adalah fitrah manusia. Jadi, fitrah manusia yg baru ada setalah badannya ini, membawa kejelasan akan hakikat makrifat akan keterbatasan dirinya yg tdk mungkin terjadi dg sendirinya dan kejelasan makrifat bhw ia pasti dibuat oleh Tuhannya. Jadi, dialog itu bukan terjadi di alam ruh sebelum penciptaan badan, tp di fitrah ruh yg diciptakan setelah penciptaan badannya.

Karena itulah, mk amanat itu sebenarnya merupakan konsekwensi dari kefitrahan manusia yg disebabkan fitrah akalnya itu dimana tdk dimiliki oleh kebanyakan makhluk lainnya selain jin. Jadi, karena hanya manusia yg memiliki akal dimana akal ini sdh tentu menentang kebatilan dan kebinatangan, mk jelas ia akan maju ke depan menerima amanat itu.

Karena itulah, mk penerimaan amanat itu kemuliaan manusia dan firman Tuhan yg mengatakan bhw manusia itu Zhaluuman (sangat aniaya) dan Jahuulan (sangat bodoh), adalah pujian bagi manusia. Karena hanya manusia yg bisa sampai ke derajat zhaluuman jahuulan ini. Malaikat saja, masih merasa tahu ketika Tuhan mengatkan ingin mencipta khalifahNya dg protes halusnya itu. Tp manusia yg hakiki, yang sampai pada derajat Insan Kaamil, mk jelas ia tdk akan melakukan itu karena ia akan selalu merasa Zhaluuman dan Jahuulan di hadapanNya dimana makrifat ini adalah makrifat yg tinggi, karena telah meyakini ketidak tahuan dirinya sama sekali dan keaniayaannya di hadapan Tuhan yg Maha Tahu dan Tidak Aniaya.

Semua ini sdh sering dijelaskan di tulisan2 alfakir di fb ini. Yg belm membacanya dan ingin tahu, mk lihatlah kerinciannya disana.

Jadi, jati diri manusia itu adalah ruh/jiwa dan badan walaupun hakikat jati diri sesungguhnya adalah ruh/jiwanya itu. Karena ialah yg akan masuk kuburan dan ditanyai, dan ialah yg akan ke akhirat dan mempertanggung jawabkan semua keimanan dan perbuatannya di dunia ini.

Jadi, diri atau jiwa atau jiwa dan badan adalah jati diri umum dan diriku, jiwaku atau jiwa dan ragaku adalah jati diri khusus, yaitu yg bukan dirimu, jiwamu atau bukan jiwa dan ragamu.

Daris Asgar: Salam Ustadz,,terimakasih banyak ustadz atas jawabannya ustadz,,,

Alhamdulillah mudah dipahami Ustadz,,,

megenai catatan ustadz unsur Ruh itu sudah bebrapa yang sudah pernah saya baca begitu juga dengan pujian Dzoluman Jahula thd manusia.

mohon ijin Ustadz bilaboleh melanjutkan pertanyaan,,,

Apakah pembagian unsur2 ruh tsb berdasarkan FirmanNya,,Sabda Nabi Saww atau riwayat dari para Maksumin As..atau untuk memudahkan pemahaman yang diuraikan dengan ilmu filsafat,,Terimakasih Ustadz sebelumnya..

Daris Asgar: Febri : terimaksih,,,atas ilmunya,,,mudah2an kita ditunjjukkan dan mengikuti riwayat yang benar,,terlepas dari berbagai informasi terkait tentangnya…

Sinar Agama: Daris: Saya tadinya tdk mengurai ttg ruh dan jiwa itu, karena mmg sdh saya rasakan dari pertanyaan antum ini, bhw antum menanyakan hal2 yg perlu dijawab spt yg di jawaban awal itu. Karena itu, saya hanya menerangkan ttg diri, jiwa (yg jg dlm arti diri) dan aku-nya aku, pada kata ganti kepemilikan spt jiwaku itu. Tp karena ada sumbangan dari mbak dari Padang itu (smg Tuhan selalu menjaganya dan menjaga kita semua), mk saya mengulang lagi berbagai hal ttg ruh dan jiwa itu.

Pembahasan2 yg bertebaran di Qur an dan hadits tentang ruh dan jiwa, tentu saja sangat banyak dan perlu kepada dasar pemikiran yg jelas untuk memahaminya. Pemikiran yg jelas itulah yg kemudian dikatakan filsafat. Nah, kejelasan dalil akal gamblang, tentu di filsafat. Lalu setelah melihat dalil2 filsafatnya yg gamblang itu, mk dibawa untuk memahami ayat dan riwayat. Jadi, konsep akalnya ditata dulu dg baik, baru setelah itu melihat Qur an dan hadits.

Karena itulah, untuk membantu orang2 yg anti filsafat, murid dan menantu Mulla Shadra ra, yaitu Faidh Kaasyaanii, menulis kitab ayat dan hadits yg susunan pembahasannya spt susunan pembahasan dlm filsafat. Yakni dari sisi penjudulan dan pensubjudulan.

Jadi, semua yg sdh dipelajarkan di hauzah di materi filsafat dan bahkan irfan sekalipun, semuanya sdh dicocokkan dulu dg Qur an dan hadits sejak ratusan tahun yg lalu.

Tp kalau antum sendiri yg akan masuk ke nuansa hadits2 yg sangat banyak itu, mk akan sulit mencari kesimpulan ilmiahnya. Itulah mengapa saudara2 seiman sunni, sekalipun ulama, tdk bisa menembus hadits2 itu hingga membuat penamaan2 yg tdk sistematis, spt ruh, jiwa, hati, akal … dst itu, karena mereka biasanya tdk mengkaji alat yg namanya kaidah akal, terutama filsafat. Kalau logika sih, di pesantren2 NU saja biasanya dipelajari. Tp filsafat, mereka biasanya menjauhi. Karena itu mereka seakan menggunakan Qur an dan hadits dlm penamaan2 dan pembagian2 itu, padahal semua itu, bukan yg dimaksudkan oleh Qur an dan haditsnya.

Daris Asgar: siap Ustadz,,,InsyaAllah faham,,,mohon do’anya ustadz,,,semoga akal ini bisa memimpin semua daya ruh lainnya..terutama memimpin daya hewaniahnya,,,

semoga sebaik-baik balasan dari Allah buwat Ustadz sekeluarga,,

Allohumma Sholli ‘Ala Muhammad Wa Aali Muhammad.

Febrina Surayya: kita memang berbeda pemahaman, dan beda metode..saya punya dasar2 yg kuat..tapi, juga tidak mau terlibat dalam perdebatan panjang…

Terima kasih.

Sinar Agama: Febrina: Ya ustaadzah, ahlan wa sahlan. Memang tdk masalah adanya perbedaan. Kita di diskusi sekedar saling mengutarakan pandangan saja.

Trims sekali sdh mengenalkan pandangannya, smg Tuhan mengganjar antum (anti) dan kita2 semua, amin. Stlh kulihat foto pesantren tempat antum mengajar, ingin rasanya bersilaturrahim ke sana. Smg saja pertemanan dan persaudaraan ini, akan selalu berlanjut dg rahmatNya, amin.

Febrina Surayya: Ahlan biik, ya Ustad… Silahkan datang ke pondok kami. Di pondok, kami memakai metode pembelajaran Al Qur’an, dengan cara dibacakan oleh Ustad tertentu, yg ditunjuk oleh guru sebelumnya… Ajaran utama adalah Zikrullah, yaitu sistem praktek pengamalan zikir hati sbg pembuktian iman, yg diiringi / disertai amalan2/ ibadah yg sesuai dg petunjuk/ tuntunan ayat2 Alqur’an..

Mungkin perbedaan kita adalah, ketika AQ dijadikan pedoman, maka dalam kajian kami, AQ harus diposisikan di depan akal, yg mengarahkan dan membimbing akal kita, sesuai dg keinginan Tuhan yg ada di dlm AQ tsb. Karena, AKAL itu adalah komponen terakhir (si bungsu), melengkapi sesosok makhluk yg bernama ‘manusia’..

Afwan Ustad.. Saya suka membaca diskusi fiqh di wall Ustad, walau yg saya pahami berbeda, tapi dapat menambah wawasan saya tentang berbagai permasalahan furu’iyyah..

Syukron, Ustad. Salam..

Daris Asgar: Salam Ustadzah Febrina senang rasanya kalo liat ustadz dan ustadzah yang begitu berilmu dan santun menghadapi perbedaan,,,sedangkan kami2 yang tidak ada apa2nya terkadang sok tahu dan sok benar…

Ustadzah Febrina,,,kalau boleh bertanya…apakah al-Quran dan akal itu tidak sejalan??

kalau sejauh penangkapan dan sepemahan saya belajar dari bimbingan ustadz Sinar Agama bahwa…ajaran yang beliau sampaikan,,,”tidak mngedepankan akal di depan al-Qur-an,,,tetapi Al-Quran akan senantiasa sejalan dengan akal”…jadi tidak ada istilahnya mengedepankan akal dari al-Quran,,,karena Al-Quran yang maha Agung,,,pasti tidak bertolak belakang dengan akal.

kemudian ustadzah Febrina,,,apabila Al-Quran diposisikan didepan dan membingbing akal…lalu denagn apa kita bisa mengetahui apa yang diinformasikan dalam al-Quran itu kalau tidak dengan akal?” dan bagaimana juga dengan pemahaman2 yg timbul serta penafsiran2 yang sudah ada kalau tidak dengan akal,,,bukankah al-Quran itu begitu luas maknanya?lalu bagaimanakah bisa dipahami bila tidak dengan akal?

Ustadzah Febrina mohon maaf bila tidak berkenan dan mohon dikoreksi bila pandangan saya salah agar saya mendapatkan yang benar,,,

Ustadz Sinar,,,mohon dikoreksi bila pandangan saya masih salah…

terimakasih sebelumnya…

Febrina Surayya: ‎@Akhi Daris: sebelumnya saya mohon maaf…, oleh karena kita berbeda, maka tolong pahami penjelasan saya di bawah ini dg berlapang dada, ya…

Di dunia ini, banyak sekali kita mengenal istilah2. Dalam politik misalnya, ada istilah: demokrasi, monarki, anarki, korupsi, konstitusi, dll. Untuk dapat memahami semua istilah itu, kita tentu mencari penjelasannya kepada buku2 yg ditulis oleh para pakar politik.

Begitu juga ada istilah2 dalam agama, seperti: iman, taqwa, amal sholeh, munafiq, fasiq, nafsu, roh, akal, dll..semua itu dapat kita cari penjelasannya didalam kitab2 agama. Dari sekian banyak kitab agama, maka yg paling kuat hujjahnya, adalah kitab Alquran. Maka, utk dapat memahami definisi AKAL, dijelaskan dalam Alquran surat 3 ayat 190-191. Bahwa “…org yg ‘berakal’, yaitu org yg INGAT ALLAH, sambil berdiri, duduk atau berbaring (setiap saat), dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi, seraya berkata…”

Jadi, kalau kita berfikir dalam keadaan tidak ingat Allah, maka kata Allah dlm ayat tsb, belum bisa kita dikategorikan sbg orang yg ‘berakal’..

Lalu, dimanakah kita ingat Allah? Kata Allah, di dalam HATI (QS.7:205).

Oleh karenanya, BERFIKIR itu, belum tentu bisa disebut ‘berakal’.. contohnya Fir’aun. FIR’AUN itu hebat dalam berpikir, tapi dia tidak masuk kategori org yg berakal, krn dia tidak mau tunduk utk mengingat Allah di dalam hatinya.

Kalau kita ikuti definisi di atas, berarti akal itu akan sejalan dg AQ, jika HATI tunduk ingat ALLAH. Bgm mungkin? Ya.. Itulah yg disebut IMAN/KEYAKINAN, krn kunci iman itu terletak di dalam hati. Alqur’an itu adalah KEBENARAN yg diyakini. Alqur’an itu diturunkan ke dalam HATI…sedangkan OTAK, tugasnya adalah mencerna ayat2 AQ, untuk bisa kita pahami dan kita amalkan…

6 jam yang lalu melalui seluler · Suka

Sinar Agama: Febrina dan Daris:

Terharu melihat diskusi antum berdua yg disertai hujjah2 yg kuat dan dg hati yg terlihat lapang, alhamdulillah.

Tapi saya masih melihat kebelum dipahaminya maksud sebenarnya dari yg disampaikan oleh Daris dan ayat2 yg dinukil, oleh ustadzah Febrina.

1- Yg dimaksudkan akhir Daris adalah, bhw bagaimanapun kita mengatasnamakan Qur an, mk jelas ia adalah Qur an yg dipahami oleh kita. Sementara alat pemaham tsb adalah akal. Karena itu, akal, walau sdh pasti bukan lawan Qur an, akan tetapi ia adalah ALAT SATU2NYA memahami Qur an. Penafsiran ayat dg ayat atau ayat dg haditspun, semuanya tergantung kepada apa yg dipahami akal terhadap ayat2 dan hadits2 tsb. Jadi, semuanya serba ditentukan oleh akal. Ingat, bukan akal mau didahulukan, tp dlm memahami apapun harus dg akal.

Karena itulah, mk tdk ada muslim di dunia ini, kecuali wahabi tentunya, yg mengatakan bhw ayat yg kupahami seperti ini adalah pasti yg dimaksudkan Tuhan. Karena itu, hanya Nabi saww dan para imam Maksum as yg layak berkata spt itu, karena mereka adlaah pengemban dan penjaga Qur an yg dikumandangkan maksum oleh Allah sendiri (QS: 33:33).

Kita tahu bhw tdk ada muslimin yg tdk pakai Qur an dan hadits, tp perbedaan yg ada di antara muslimin itu, seakan lebih banyak dari jumlah mereka sendiri. Perbedaan yg ditulis itu kan hanya perbedaan ulamanya dan hanya sedikit pula yg terangkat menjadi kitab. Tp kalau mau yg sesungguhnya mk dlm satu keluarga saja, perbedaannya bisa lebih banyak dari anggota keluarganya dlm menghadapi dan memahami setiap ayat dan riwayat Nabi saww. Padalah semuanya berasalan Qur an dan Sunnah.

Nah, semua inilah yg menunjukkan bhw pemahaman keduanya (Qur an-Hadits) tergantung kepada akal.

Contoh lainnya adalah penjelasanku terhadap ayat2 yg dinukil ustadzah berikut ini.

2- Ayat 190-191 dari surata: 3, adalah sbb:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

“Sesungguhnya di daslam penciptaan langit dan bumi dan perbedaan malam dan siang, terdapat tanda2 (kebenaran dan kebesaran Allah) bagi orang2 yg berakal/berilmu (190) yaitu orang2 yg mengingat Allah dalam keadaan berdiri dan duduk atau berbaring, mereka berfikir tentang ciptaan langit dan bumi dan berkata: Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau mencipta semua inidg sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jagalah aku dari api neraka (191).

Pertama: Dalam ayat 190 itu, jelas Tuhan memuji orang yg dikatagorikan sebagai ulu al-albaab yg, terserah saja mau diterjemahkan berakal atau berilmu. Ingat, yg mengakui dan memuji ini adalah Allah sendiri loh…

Ke dua: Dalam ayat 190 itu, dikatakan bhw di dalam penciptaan langit dan bumi serta perubahan malam dan siang ini, terdapat bukti/ayat dari kebenaran dan keagungan Allah. Dan bukti, adalah dalil tentang kebenaran dan keAgunganNya itu.

Ke tiga: Ketika ulu al-albaab ini ingin menemukan dalil dalam penciptaan langit dan bumi serta perubahan malam dan siang ini, Allah tdk mengatakan bhw harus menggunakan Qur an. Jadi, dalil disini, jelas dalil akal, karena hanya ia satu2nya yg dpt memahami dan membuktikan kebenaran dan keagunganNya dg semua bukti yg ada di langit, bumi dan perubahan malam dan siang itu. Disini saja, akal sudah terlihat fungsinya.

Ke empat: Karena ayat 190 ini mendahului ayat 191, dan susunan kata2nya jg bhw ayat 191 merupakan kelanjuran dari ayat 190, mk kita tidak boleh memutarnya hingga ayat 191 itu yg harus didahulukan. Jadi, ayat 190 dulu dipahami beru kemudian masuk ke ayat 191. Dan kita, sdh memahami fungsi akal di ayat 190 tsb.

Ke lima: Di ayat 190 itu jelas dikatakan oleh Allah bhw yg mengerti ayat2 atau bukti2 Tuhan yg ada di langit, bumi dan perubahan malam dan siang, hanyalah ulu al-albaab. Jadi, ulu al-albaab ini, dengan merenungi alam jagat ini, dengan membuka kunci2nya, baik kimia, kedokteran, matematika, ilmu wujud (filsafat), …. dst … dari ilmu2 pasti/gamblang tentang jagat raya inilah yg dapat membuktikan keberadaan Allah, EsaNya, KuasaNya, AdilNya ….. dst.

Ke enam: Dengan demikian, bhw akal, wajib digunakan untuk merenungi jagat raya ini untuk mencari, memahami dan membuktikan keBeradaan, keEsaan, keAdilan, keMaha-an … dst dari Sang Pencipta.

Ke tujuh: Kasarnya, akallah yg disuruh Tuhan untuk mencari kebenaran dan keberadaanNya. Ingat, disini tdk disuruh menggunakan selain akal. Karena Tuhan sendiri mengatakan bhw yg memahami tanda2 atau bukti2 atau dalil2 itu, adalah orang yg berakal.

Ke delapan: Konsep ini, sangat sesuai dg yg diajarkan syi’ah bhw mengimani Qur an itu, tiga tingkat dibawah iman pada Allah. Jadi, iman pada Allah dulu, baru iman pada keAdilanNya, baru setelah itu iman pada NabiNya saww. Nah, ketika orang sdh beriman pada Nabi saww inilah baru bisa mengimani Qur anNya. Lucu amat, iman pada Qur an lalu dg Qur an mau cari Tuhan dan Nabi saww. Ngapain cari Tuhan dan Nabi saww kalau secara dogma sdh percaya pada Qur an? Karena yg percaya pada Qur an, tandanya ia sdh percaya pada penurun dan pengembannya (Allah dan Nabi saww).

Ke sembilan: SEtelah kita memahami ayat 190 ini, mk baru sekarang kita mencoba untuk memahami ayat 191.

Ke sepuluh: Di ayat 191 inilah Tuhan mensifati ulu al-albaab itu dg: Yg mengingat Allah dalam semua keadaan dan berfikir tentang penciptaan langit dan bumi serta berkata “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau mencipta semua ini dg sia2.”

Ke sebelas: Mari kita lihat satu2 dari sifat itu.

Ke dua belas: Sifat pertamanya adalah mengingat Allah dalam segala keadaan. Ustadzah Febriana, karena belajar dari yg kurang suka akal (walau menggunakan akalnya tp diatasnamakan Qur an yg menurut kami jauh lebih parah karena sdh atas nama Tuhan), mk ayat 190 itu merasa tdk perlu dipahami dan, karenanya langsung mensifati ulu al-albaab tsb sebagai ingat kepada Allah dlm semua keadaan. Akhirnya, iapun memaknai ingat dg dzikrullah yg biasa dilakukan orang2, baik dg ingat hati atau lisan. Karena itu, tdk perduli bhw Allah yg diingatnya itu diketahuinya secara dogmatis atau dg cara lain. Karena itulah, mk beliau (ustadzah) memaknai ingat itu dg hati sebagai iman.

Padahal, ingat itu harus dg akal. Dimanapun kita ingat sesuatu, adalah dg akal, bukan dg hati. Karena hati adalah tempat rasa dan perasaan. Kalau cinta, marah, rindu, gemes, gelisah … dst… itu memang tempatnya di hati, tp kalau ingat, mk jelas di akal.

Jadi, menurut penjelasan ustaadzah dpt dipahami bhw walau akalnya kosong dari mengerti ttg Tuhan, asal hatinya ingat kepada Tuhan, maka akal kosongnya itu dpt dikatakan ulu al-albaab. Ini kan jauh sekali dari makna ayat tsb???

Hal itu, karena ingat itu bukan kepada yg kosong dan bukan pula kepada yg di hati. Tp ingat adalah mengingat apa2 yg sdh ada di akal. Ingat ini, bisa setelah lupa bisa jg tanpa harus lupa. Kalau ingat itu setelah lupa, mk dikatakan ingat setelah lupa. Tp kalau tanpa lupa, mk dikatakan ingat terus tanpa lupa.

Nah, ingat ini adalah mengingat yg ada di akal, bukan mengingat hal kosong.

Ayat 190 itu adalah sebagai bukti. Karena Allah mengatakan bhw ulu al-albaab ini adalah yg dpt membuktikan keberadaan dan keAgunganNya dg akalnya dg cara mengangkat dalil2 ttg itu semua dari jagat raya ini. Nah, ulul al-albab ini sdh mendapatkan Allah dan menganalNya sebelumnya yg, baru setelah itu mengingatNya, baik ingat setelah lupa atau ingat secara terus menerus. Jadi, ingat itu bukan kepada yg kosong, tp kepada sesuatu yg sdh ada di akalnya.

TEntu saja ingat jg bisa kepada apa2 yg ada di hati, spt ingat bhw kita dulu pernah marah, benci, cinta dan semacamnya. Akan tetapi pelaku ingat itu, jelas bukan hati, akan tetapi akal itu sendiri.

Dengan uraian ini, dpt dipahami bhw ingat itu adalaah pada yg sdh ada. Dan karena ayat 190 mengatakan bhw terdapat dalil di jagat raya ini yg hanya diketahui oleh orang berakal (ulu al-albaab) yg, sdh tentu diketahuinya dg akalnya, mk ingat disini jelas pada apa2 yg ada di akalnya itu, bukan pada iman dogmatis yg ada di hati seseorang yg beriman karena keturunan dan semacamnya.

Jadi, ingat yg diterangkan ustaadzah, tdk ada obyek ingatnya kecuali pada iman dogma, dan, sdh tentu jg, melewati begitu saja pengakuan Allah terhadap orang2 berakal itu.

Ke tiga belas: Sifat berikut dari ulu al-albaab ini (orang2 berakal ini), adalah berfikir tentang jagat raya ini. Disini jelas bhw berfikir ini adalah setelah berfikir di ayat 190 itu. Artinya, bhw setelah orang2 berakal ini menemukan Tuhan dg akalnya, maka ia akan selalu mengingatNya dan, AKAN TERUS MENERUS memikirkan jagat raya ini untuk terus meningkatkan ilmu dan imannya yg tdk dogmatis atau tdk taklid itu.

Karena itulah, mk Tuhan memakai kata kerja aktif (mudhari’) yg mengisyaratkan kepada keberterusan tsb sebagaimana memakainya di kata kerja mengingat yg mungkin untuk memberikan pengertian akan keberterusan tersebut. Jadi, walau sesorang telah menemukanNya dg akalnya, mk ia tdk boleh berhenti mengingatNya dan merenungi terus keAgunganNya dg merenungi jagat raya ini.

Makna ini sangat didukung oleh kenyataan bhw Allah dan keAgunganNya sangatlah tidak terbatas dan karenanya, mengingatNya bisa meningkat bukan hanya di jumlah pengingatan terhadapNya, akan tetapi jg meningkatkan derajat ingatan sehubungan dg naiknya derajat ilmunya (manusia yg terus berenung dan mengingat ini) tentang DiriNya.

Ke empat belas: TErakhir Allah mensifati hamba yg dicintaiNya ini dan dipujiNya ini dg “orang2 berakal/berilmu”, dg pensifatanNya:

“Yg berkata: ‘Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau mencipta semua ini dg sia2’.”

Betapa indahnya Tuhan mensifati orang2 berakal ini. Karena jelas bhw akal ini begitu cemerlangnya hingga membedakan manusia dari binatang. Yaitu, setelah orang2 berakal ini mendapatkan Tuhannya dg akalnya (tdk dg dogma taklid karena disamping alasan terdahulu, mk sangat kasihan sekali orang2 yg tdk punya orang tua muslim karena tdk bisa taklid dan karena mereka yg jg tdk boleh pakai akal) lalu kemudian mengingatNya (keberadaan dan keAgunganNya) dan terus berenung tentang jagat raya ini hingga semakin tinggi ilmunya ttg jagat raya ini dan kemudian tentang Tuhannya (karena jagat raya ini adalah dalil bagi keberadaan dan keAgunganNya), hingga kemudia ia akan sampai pada suatu kenyataan bhw Tuhan tdk mencipta semua ini dg sia2.

Nah, mengetahui semua itu dan penciptaan ini tdk sia2, tidaklah mudah. Pertama harus dg akalnya dan, ke dua maqam ini bisa dikatakan lebih tinggi dari maqam malaikat sekalipun. Karena malaikat tdk mengerti tentang ketidak sia2an penciptaan manusia.

Karena itulah, mk hanya manusialah yg bisa menjadi khalifah Tuhan dan bukan yang lainnya sekalipun malaikat.

Catatan:

Karena akal itu adalah akal-pahaman dan aplikatif, mk yg dimaksud orang berakal sdh tentu yg memahami sesuatu dg benar dengan akalnya dan mengaplikasikan jg dg akalnya. Karena bukanlah disebut orang berakal kalau hanya tahu bhw racun itu berbahaya akan tetapi ia meminumnya. Jadi, akal yg memberdakan dari binatang ini, harus sempurna sebagaimana sdh sering dijelaskan di fb ini. Yaitu dengan menyempurnakan akal-pahaman dg dalil2 akal-gamblang, dan dg menyermpurnakan akal-aplikasi dg mengamalkan ilmunya tsb.

Wassalam

Febrina Surayya: ‎@Ustad Sinar Agama: terima kasih atas uraiannya yg begitu lengkap.. Kalau boleh, saya ingin memperjelas keterangan saya tadi.

Sederhananya, yg dimaksud sbg org yg BERAKAL itu adalah=org yg “zikrullah” + “berfikir” ttg penciptaan langit dan bumi.

Artinya, antara “berakal” dg “berfikir”, adalah sesuatu yg berbeda.

Jika terjadi kolaborasi antara zikrullah dg berfikir, itulah yg disebut BERAKAL..

Artinya lagi, dalam memahami ayat2 AQ, otak kita tidak boleh kosong, justru otak harus AKTIF berfikir…

Tentang ingat di dalam HATI, bukan saya yg berpendapat begitu, tapi Allah sendiri yg mewajibkan kita, dalam QS. 7 ayat 205.

Walaupun orgtua saya ber KTP Islam, tapi saya memahami AQ spt ini bukan karena keturunan, tapi melalui perjuangan dan tantangan, baik dari lingkungan maupun keluarga. Mereka bilang saya ingkar sunnah, padahal tidak begitu.

Ustad yg baik, dalam pemahaman saya, keberadaan Syi’ah itu awalnya hanya karena masalah politik, yg kemudian berpengaruh kpd perkembangan ranah lain, spt ibadah dan fiqh nya..

Ketika saya mengetahui bahwa teman2 Syi’ah masih memakai AQ dalam versi yg umum dipakai, maka saya optimis, bhw kita akan dapat mencari titik temu. Tuhan kita sama, kitab sama, Nabi juga sama (kecuali ttg imam yg 12)..

Allah sering memberi perumpamaan dalam AQ, bhw org yg berfikir tanpa zikrullah (iman), mereka seperti (maaf) binatang, bahkan lebih buruk lagi..sbgm Fir’aun, yg walaupun dia hebat dalam berfikir, tapi di mata Allah, derajatnya sama saja dg binatang..

Disini saya hanya ingin mengajak kita semua, untuk memahami ayat2 tsb di atas sebagai satu kesatuan yg utuh dan sederhana..

Semoga kita tetap dibimbing oleh Allah… Amin.

Sinar Agama: Febriana: Trims balasannya. Ada beberapa hal yg perlu saya sampaikan:

1- Antum membuat rumus, berakal = Dzikrullah + berfikir, ini yg saya katakan tanpa dasar. Antum memahami ayat loncat2. Dengan demikian, mk anjuranku antum baca lagi keteranganku ttg ayat 190 dan 191 itu dg sebaik-baiknya dan dg mengosongkan dulu dektean dari guru antum itu. I-Allah uraianku itu jelas dan mudah dipahami.

Jadi, rumus antum itu dibuat dari pemahaan ayat yg keliru. Karena Allah sdh mengatakan di ayat 190 bhw orang berakal itu adalah yg menemukan dalil2 dg akalnya ttg keberadaan dan keAgunganNya dari jagat raya ini. Jadi, jangan diputar balik.

Nah, baru di ayat berikutnya, Allah menerangkan dg keterangan lanjutan (haal) dari orang2 berakal ini. Yaitu yg INGAT TERHADAP APA2 YG DIKETHUINYA ITU (bukan dektean orang tua dan guru yg biasanya disebut taklid) dan terus menerus merenungi jagat raya ini untuk menambah ilmu dan makrifatnya hingga akan berkata bhw Tuhan tdk sia2 mencipta jagat ini. Kita semua bisa mengatakan spt itu, tp tdk dg ilmu. Tp orang2 berakal ini, mengatakan dg ilmu tinggi ttg Alalh dan jagat yg diciptakanNya ini. Jadi, beda sekali apa2 yg dinyatakan orang2 awam spt kita dg mereka yg dipuji Tuhan itu.

Jadi, kata2 antum yg mengatakan “Sederhananya, yg dimaksud dg berakal itu adalah = org yg “zikrullah” + “berfikir” ttg penciptaan langit dan bumi.”, adalah tdk berdasar pada Qur an itu sendiri. Jadi, hanya berdasar pada Qur an yang antum pahami dg akal antum yg tdk mau mengatasnamakan akal. Tp kami jelas, dg dalil2 di atas itu, memahami ayat tsb adalah dg, bhw berakal itu adalah berfikir ttg jagat raya ini untuk dijadikan ayat2 atau dalil2 terhadap keberadaan dan keAgungan Tuhan. Lalu setelah itu, baru didzikirkan.

Kalau orang blm membuktikan Allah, dari sisi keberadaan dan keAgungannya, lalu bagaimana bisa mendzikirkannya kecuali kalau didekte oleh orang tua dan guru2nya?

2- Lagi2 antum membawa ayat yg mengira hal itu mendukung antum, padahal ia mendukung kita. Ayat dari QS: 7: 205 itu adalah:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan ingatlah Tuhanmu di dalam dirimu secara rehdah diri dan takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu padi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang2 yg lalai”

Sekali lagi ustaadzah, ingat itu adalah ingat pada apa2 yg sdh diketahui, bukan pada apa2 yg sdh didektekan orang tua dan guru2 dg taklid dan dogma. Jadi, bagaimana kita bisa mengingatNya, kalau kita belum mengenalNya dg dalil2 yg tersebar di jagat raya ini?

Nah, karena itulah, mk kita wajib mencari Tuhan dulu dg akal kita dg merenungi jagat raya ini hingga baru setelah itu mengingatNya di segala keadaan dan menaatiNya.

Ingat, mungkin ustaadzah mau menerjemahkan nafsika (dlm dirimu) itu dg hati. Ini jelas penafsiran yg memaksakan diri. Artinya, sudah memiliki pendapat, baru mau dipaksakan ke ayat2 Tuhan. Inilah yg saya katakan menafsir dg akal dan kecenderungannya sendiri, bukan dg akal argumentatif dan penjelasan Tuhan dan NabiNya saww.

Nafsika itu adalah dlm dirimu. Jadi dlm akalmu. Karena ingat itu, sekali lagi dan sekali lagi, adalah dg akal ketika mengikat apa2 yg ada dlm dirinya spt akalnya. Jadi, apapun obyek yg diingat tsb, tetap saja harus dilakukan dg akal. Karena hanya akal yg bisa mengingatnya, baik mengingat apa2 yg diketahuinya atau dialaminya. Dzakara yakni dzakarahu ‘aqluhu.

3- Saya hearn Fir ‘un kok dibilang cerdas? Saya tdk mau komentar ttg hal ini dari awal karena terlalu mengherankan saya. Bayangin saja ketika ia mengaku Tuhan karena bisa membunuh yg ia suka dan membiarkan hidup yg ia suka, mengatakan: “Aku menghidupkan dan mematikan”.

Karena itu, nabi Musa as sendiri tdk mau mendebat dari sisi ini karena ia bukan saja goblok, akan tetapi sdh keterlaluan. Mana bisa disamakan Tuhan yg mencipta kehidupan dan kematian, dg orang yg bisa membunuh dan membiarkan orang lain hidup.

Karena itulah, mk nabi Musa as mendebatnya dg menyuruhnya menerbitkan matahari dari barat.

Fir ‘un yg spt ini bodohnya, bisa dikatakan cerdas itu, saya benar2 tdk mengerti wa lan afham abadan.

4- Satu lagi, antum mengatakan tdk taklid dlm mengimani Allah. Nah, itu yg saya maksudkan. Yakni antum telah mencari Tuhan dg akal antum sebelum mengingatNya. Jadi, kata2 antum ini, bertentangan dg rumus antum ttg berakal yg antum buat itu.

Karena itu, yg benar adalah bhw berakal itu adalah menggunakan akalnya untuk menemukan Tuhan dg merenungi jagat raya ini (makna dari ayat 190), baru setelah itu mengingatnya terus menerus dan melanjutkan petualangannya dg terus merenungi jagat raya ini sampai ia melesat melebihi malaikat hingga berkata dg makrifat dan ilmu (bukan dg kebodohan) bhw Tuhan tdk sia2 menciptakan alam jagat ini.

Kalau orang2 berakal itu ditanya ttg ketidak sia2an itu, mk jawabannya bukan karena Allah Agung, spt orang2 awam spt kita2 ini. Tp mereka akan menguraikan semua penciptaan itu dg akal mereka yg cemerlang dan menguak hikmah2 yg ada di dalamnya. Karnea itulah hanya mereka yg tahu persis atau tahu dg pengetahuan yg tinggi bhw Tuhan tdk sia2 menciptakan jagat raya ini dan, yg memuji mereka2 ini adalah Tuhan sendiri di ayat 190itu. Jadi, Tuhan tdk memuji orang yg tdk berakal dan tdk berfikir yg jg mengatakan ketidak sia2an itu yg dikarenakan dogma saja atau secara global mengimani Tuhan secara tdk rinci.

5- Kalau ttg syi’ah itu, biarlah dibahas lain kali saja. Karena antum benar2 belum mengetahui ttg-nya kecuali dari berita2 orang tua dan guru2 antum. Antum belum mendengar dari kita2, dari Qur an dan hadits2 Nabi saww. Pandangan antum tentu saya hormati, tp kita akan bahas itu, setelah selesai pembahasan kita ini. Tentu saja, kalau masih ada jalan untuk penyimpulan yg sama. Tp kalau sdh tidak ada, mk ya .. mau dikatakan apa lagi. Tp sayang kalau antum tdk mengutarakan dalil yg benar sebelum berkesimpulan akhir yg beda. Karena itu, saya masih menunggu dalil2 antum dan pematahan pada dalil2 alfakir.

wassalam.

(Bersambung ke bag: 2

sumber

%d bloggers like this: