Sebab2 Tidak Menerima Kebenaran, Mengenang dan Ingin Menjadi Orang Baik

Sang Pencinta

Salam ust, kali ini out of fiqh context ya, sepengetahuan ust apa sebenarnya yang mendasari Ulama Sunni tidak mau melepas ke-Sunni-annya, walopun ia mengetahui kebenaran Syiah?afwan

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya:

Tidak mungkin seorang ulama sunni dan apa saja, kalau sdh mengerti kebenaran Ahlulbait as (syi’ah), untuk tetap bertahan di madzhab sebelumnya. Jadi, kalau ada yg tdk mengikuti syi’ah, mungkin masih ada yg mengganjalnya yg dia tdk berani atau malu mengutarakannya Atau sedikit berita yg diketahui ttg kebenaran syi’ah-nya itu sebenarnya masih belum sempurna, jadi baru ketingkat sama2 benar.

Atau berita ttg kebenaran syi’ahnya itu sdh cukup banyak, tp belum melihat secara mendasar kesalahan madzhabnya yg sebelumnya. TErlebih hal ini bisa menjadi lebih terabaikan, manakala kalau syethan telah mengakuti-nekutinya dg kehilangan makam2 sosial sebelumnya, spt pesarntrennya, umatnya, pangkatnya … dst.

Bisa jg berbagai sebab lainnya. Bisa harga diri, uang, perempuan, maqam sosial … dan semacamnya.

Yg penting, kita dan siapapun, tdk ada yg berhak untuk menghukumi seseorang itu ahli neraka. Karena, kebelum terimaannya pada kebenaran itu, bisa saja dikarenakan ganjalan2 yg cukup logis yg mana hal itu biasanya tdk kita ketahui karena kita tdk tahu batin dan akal seseorang. Karena itu, jgn-lah menjadi wahabi yg menebar bid’ah, syirik, kafir dan neraka sesukanya, dan hanya membagi surga pada golongannya sendiri. Intinya, jgn berusaha menjadi Tuhan dan Nabi saww.

Tidak usah sakit hati melihat seseorang yg menolak kebenaran dan bergelimang dlm nikmat. Karena hal itu, bukanlah keutamaan bagi pencari Tuhan. Bgt pula, jangan meremehkan seseorang yg menolak kebenaran dan bergelimang dlm nikmat atau bahkan derita, karena kita tdk tahu sebab sebenarnya ia menolak tsb. Karena bisa saja disebabkan udzur dimana Tuhan yg tahu hal tsb.

Jadi, hiduplah dg nyaman dan penuh keindahan ilmu dan takwa serta keindahan cinta terhadap sesama dan bahkan pada makhluk2 Tuhan yg lainnya, spt binatang2 dan rumput2 sekalipun. Isilah dg ilmu, amal dan penghormatan yg wajar kepada siapapun. Jgn sesakkan dada karena lingkungan kurang santun, kecuali kalau kita melakukan dosa. Jangan palingkan wajah kita, fokus kita, pikiran kita dan cinta kita kepada selain kebenaran dan sumbernya, yaitu Tuhan.

Ingat, yang berhak berdiri di akhirat kelak manakala sdh diseru “Berdirilah sesiapa yg merasa punya tuntutan pada Tuhan!” hanyalah orang2 yg biasa memaafkan hamba2Nya di dunia. Tentu memaafkan secara profesional sesuai akal dan ajaranNya, yaitu tanpa melenyapkan nilai kebenaran dan ketaatan padaNya dan tanpa menyodorkan kepala kita untuk dikepru-i (dianiaya).

Sibukkkanlah diri antum dg banyaknya hal yg belum diketahui, dan mengamalkan yg sdh diketahui yg, semuanya hanya dan hanya karenaNya. Boleh berfikir ttg lingkungan dan semacamnya, spt yg antum tanyakan ini, akan tetapi, jgn sampai meruwetkan diri ke dalamnya terlalu dalam hingga melupakan tanggung jawab diri sendiri. Memang, memikirkan lingkungan adalah tanggung jawab kita, akan tetapi, jangan jadikan ia satu2nya tanggung jawab hingga memeras dan menguras semua potensi kecerdasan dan ketaatan yg ada pada kita.

wassalam.

Aroel D’ Aroel: salam ustad, boleh tau ga sedikit cerita ttg berpindahnya antum dari satu mazhab ke mazhab lain hingga sampai ke mazhab ahlul bait… afwan.

Hidayatul Ilahi: nyimak🙂

Alkham Ismail Zahra: I like your answer ust..

Sinar Agama: Aroel: Itu kenangan yg tdk pernah terlupakan. Karena ketika bergaul dg orang2 syi’ah dan para ulamanya di sekolah internasional yg suci dari paksaan dan lecehan walau, sebegitu bebas melepas pandangan2nya, dimana jg tempat berkumpulnya mahasiswa berbagai madzhab, diri yg hina ini yg waktu merasa pewaris surga ini (karena saya wahabi/muhammadiah sesudah saya sunni), merasa terkagum-kagum karena mereka tdk pernah mengajak sekalipun kepada keyakinan mereka, apalagi mengusik kita2 yg beda dg mereka.

Kalau mereka bediskusi spt para nabi yg sulit dipatahkan, kalau mereka berperang berani spt singa tp penyantun spt ibu pada sandra2nya, kalau berdoa bagai anak kecil kehilangan mainannya menangis meraung-raung, kalau mengutarakan pendapatnya lancar bagai bernafas di pagi hari, kalau di debat reliks dan dingin spt danau, kalau diejek tersenyum manis penuh maaf, kalau belajar bahkan sambil berjalan di pasar, kalau beribadah bagai mau mati stelahnya, tidak pernah sombong dg kebenaran yg dibawanya bahkan sebaliknya merasa harus benar mengamalkan sebaik-baiknya karena kebenaran bukan untuk dibangga-banggakan saja tp justru untuk diaplikasikan, …………… dst ……. dari fadhilah2 akhlak yg dulu ketika aku di sunni dan wahabi, hanya berupa cerita2 suci dlm buku2 akhlak.

WAlau mereka tdk pernah mengajak, aku tahu kewajibanku atas diriku sendiri. Karena Allah berfirman bhw satu atom kebaikan dan keburukan harus dipertanggung jawabkan. Karena akupun mulai mengganggu mereka dg pertanyaan, debatan dan ini itu. Tp semuanya tdk pernah ada yg bisa menoreh sedikit saja keyakinan2 mereka dan semuanya kembali kepada diriku sendiri. SEmua seranganku kembali pada diriku sendiri dan semua penguatku pergi menjauhiku dan menguatkan mereka. Karena kalah terus selama berbulan-bulan, mk tdk lagi ada yg tersisa dari sangkaan kebenaranku dan tdk tersisa pula kiraan sesatku yg kunisbahkan kepada mereka. SEbegitu terangnya kesalahanku dan sebegitu teragnya kebenaran mereka.

Bukan hanya terpana, tp jg tersedot (majdzuub) sebegitu ringannya dan sebegitu lepasnya. Karena itulah ana sering mengatakan bhw buang jauh2 diri dan ego serta kebanggaan diri, karena hanya dg itu kita akan tersedot kepada kebenaran gamblang. Memang, kebenaran gamblang itu selamanya akan gamblang, tp sikap manusia akan berbeda-beda. Siapa saja yg melihat dirinya penting dan, apalagi besar, mk ia akan semakin melihat kegamblangan itu kecil dan tak penting dan, kapan saja seseorang tdk melihat dirinya penting dan, apalagi berharga, mk ia akan melihat kegamblangan itu semakin penting dan berharga dan, akhirnya ketersedotan itu yg akan berlaku pada dirinya.

Kemuliaan hamba itu bukan semakin banyaknya memiliki sesuatu dimana setiap sesuatu itu hanya milik Allah, tp semakin hilangnya kepemilikannya dan semakin mutlaknya kepemilikanNya.

Akhirnya, ketika kulihat pijakanku hanya kebenaran khayali, dan surgaku hanyalah dakwaanku, Qur an-haditsku benar2 Qur an dan haditsku dan bukan yg dimaksud Allah dan Nabi saww, sementara kulihat kebenaran mereka lebih terang dari matahari maka, tanpa berani menunda seditikpun kuangkat bendera kebenaran Ahlulbait as dan, kutancapkan dalam lubuk hatiku dg ijin dan hidayahNya. Smg kita semua diterimaNya, amin.

Muhajir Basir: Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad…. Ya Rabb….

Muhammad Dudi Hari Saputra: allahuma shalli Muhammad wa aali Muhammad..

Sgt kagum sy ustad mndengar cerita Ustad ttg kualitas akhlak para pelajar syiah tersebut…

Semoga kami semua bsa seperti itu..

Sttya Rizky Ramadhan: Allahuma shalli ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad.

Irsavone Sabit: Allahuma shalli ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad. Ya Allah ya Rob, jadikanlah kami pengikut- pengikut Rosul dan Ahlul Bait Rosul Mu yang engkau sucikan sesuci sucinya, amiin

Vito Balataw: ‎” Kemuliaan hamba itu bukan semakin banyaknya memiliki sesuatu dimana setiap sesuatu itu hanya milik Allah, tp semakin hilangnya kepemilikannya dan semakin mutlaknya kepemilikanNya.”

Terima kasih Ustad, Doakan ana bisa mengaplikasikan pesan antum ini dalam kehidupan saya.

Sinar Agama: Saudaraku2 semua, hampir tiap shalat alfakir selalu bertawassul untuk antum2 semua, karena hanya sedikit ilmu dan banyak memohon ini yg alfakir bisa lakukan untuk antum. Smg antum menjadi orang2 yg bisa mensyukuri semua nikmatNya dg hati, lisan dan amalan/takwa.

Ingat, kalau berat melakukan sesuatu yg tdk wajib, mk jgn dipaksakan dulu. Jadi, antum bisa tarik ulur dalam hal2 selain wajib dan haram. Tp dlm keduanya, tdk ada kompromi pada diri sendiri. Dan tataplah syariat itu sebagai pelukanNya yg hangat dan indah, buka sebagai cambukNya yg menakutkan.

Linna Zahra: Salam ustad.,

AllaHumma shalli ala Muhammad wa’ali Muhammad

Muhammad Dudi Hari Saputra: syukron katsiran ustad sudah membimbing kami selama ini..

telah membuat saya yg secara pribadi sempat ragu dengan ajaran ahlul-bayt krn sulitnya mendapat informasi yg gamblang ttg ajaran AB,, tapi setelah mengenal dan sering bertanya kepada ustad,, alhamdulillah,,hijab ragu semakin terhapus…

Irawati Vera: Keluar air mata saya membaca uraian anda ustad …. terima kasih banyak ustad utk semua pelajaran yang anda berikan kepada kami-kami …. saya yang masih belajar ini, akan senantiasa terus belajar… InsyaAllah tidak akan bosan … Tolong doakan dan jangan pernah berhenti memberikan pelajaran kepada kami-kami …

Semoga anda senantiasa berada dalam lindunganNya … Ilaahi … Aamiin Yaa.. Mujiib

Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad

Dede Delonge: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad.,

wassalam

sumber

%d bloggers like this: