Tahrif Qur an

AZA 

Assalamu ‘alaykum pak ustad Sinar Agama, mohon dijelaskan tentang ayat 3:33 berikut ini,

 ۞ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحًۭا وَءَالَ إِبْرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمْرَٰنَ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),

(Q.S Ali-`Imraan[3]:33)

Pertanyaan ana, disebuah youtube, ana belum sempat menyimpan alamat url-nya tetapi sempat menontonnya, ada seorang ulama syi’ah di timur tengah yang sedang khotbah (atau ceramah karena hanya di shoot secara close up entah berada di suatu majlis apa) menyatakan bahwa ada tahrif di ayat itu atau ada bagian dari kalimat itu dihilangkan (oleh Usman) yaitu sesudah kalimat وَءَالَ عِمْرَٰنَ seharusnya juga ada kalimat وَءَالَ مُّحَمَّدٌۭ yang secara lengkapnya bisa dituliskan,

إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحًۭا وَءَالَ إِبْرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمْرَٰنَ وَءَالَ مُّحَمَّدٌۭ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga `Imran dan keluarga Muhammad melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),

(Q.S Ali-`Imraan[3]:33)

{afwan tulisan wa aala muhammad ana copas karena nggak bisa tulisan arab di komputer ana}

benarkah demikian pak ustad? Mohon penjelasannya. Syukron jazakallaahLihat Selengkapnya

AZA: Ana beriman kepada mushaf ALLAAH bukan mushaf usmani. Kalau boleh nambah pertanyaan, siapakah dajjal bermata satu ini dan dari keturunan siapa, apakah dari keturunan Adam ataukah bukan?

Syukron jazakallaah.

Sinar AgamaSTATUS DIATAS KEMUDIAN DIKOMENTARI OLEH SP (inisial teman fb jg), HINGGA TERJADI DISKUSI YG CUKUP PANJANG DIANTARA KEDUANYA (smg Tuhan selalu merahmati mereka dan kita semua). AKAN TETAPI SAYA TDK MEMUATNYA, KARENA BEBERAPA HAL. KARENA ITU SAYA LANGSUNG MENCUPLIK YG SETELAHNYA:

AZA: Karena terlalu panjang maka ana mau kumpulkan pertanyaan ana kepada ust. Sinar Agama (adapun ulasan lainnya hanyalah bagian dari isi perbincangan ana dengan SP), sbb:

1. Benarkah status ana di atas pak ustad? Mohon penjelasannya.

2. Mohon kesimpulan yang lebih kuat tentang dajjal itu dan ana tambahkan juga pertanyaan Jibt & Taghut, apakah berupa sosok makhluk atau hanya bentuk kezaliman saja, kalau sosok, maka dia berasal dari keturunan siapa? Apakah bani Adam ataukah selain bani adam (Iblis)?

3. kalau boleh nambah 1 pertanyaan lagi, ayat 4:51 itu sebenarnya siapa yang dimaksud dengan

أُوتُوا۟ نَصِيبًۭا مِّنَ ٱلْكِتَٰبِ

(orang – orang yang kepada mereka diberi “bagian” dari kitab)

benarkah tafsiran depag bahwa mereka adalah yang diberi taurat? kenapa bukan islam atau nasrani? apakah umat islam bukan termasuk yang diberikan kitab? Dan apakah “mereka” ini tidak ada hubungannya dengan ayat 4:53-55?

Soalnya kalau ana melihat dalam pandangan ana sendiri, umar sangat banyak peranannya dalam menghalangi umat islam dari nabi salah satunya adalah tragedi hari kamis dan juga yang menolak mushaf yang ditulis imam ‘Aliy. Sedangkan dalam al Qur’an ana menangkap secara tersirat disebutkan bahwa orang yang mengaku beriman kepada nabi (berarti dia secara dhahirnya Islam) tetapi ketika kembali kepada kelompoknya (yahudi) mengaku masih bagian dari mereka dan mereka hanya bersandiwara di hadapan nabi. Apalagi ada orang yahudi (konon masuk Islam) yang dekat denganya dalam masa kekuasannya yang namanya kalau tidak salah kaab bin…..

4. kalau pak ustad bersedia ikut komen isi perbincangan ana dengan SP, tentu ana sangat bersyukur dan sangat berterima kasih.

Syukron jazakumullaah khoiron katsiron.

للَّهُمَّے صَلِّے عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِے مُحَمَّدٍ وعَجِّلْے فَرَجَهُمْ

Sinar Agama: Salam dan trims pertayaannya:

SAya mungkin hanya akan menjwb pertanyaan antum saja:

(1). AlQur an itu tdk ada penambahan dan pengurangannya. Jadi, yg ada ini sdh yg benar. Yg beda itu hanya keyakinan sunni dan syi’ah, dimana kalau syi’ah meyakini semuanya ini dari Allah, tp kalau sunni susunan2 surat2nya dan bismillah di selain Faatihah, adalah dari Utsman. Sejara jumhur, ulama syi’ah menentang satu dua ulama yg mengatakan bhw Qur an sdh terjadi tahrif. Tp kalau tahrif dari sisi makna, mk semua orang mengakuinya. Karena salah satu mukjizat Qur an itu adalah, tdk bisa ditahrif siapapun.

Al-Qur an yg ditulis imam Ali as itu adalah al-Qur an yg ada sekarang ini, akan tetapi dg keterangan dan sebab turunnya. Jadi, penolakan umar dan teman2nya itu, bukan karena Qur an imam Ali as itu berbeda. Tp takut masyarakat melihat sebab turun dan makna ayat2 yg berkenaan dg pelanggaran2 mereka.

(2). Dajjal itu ada yg menafsirkan orang dan ada yg menafsirkan keadaan. Mungkin yg paling kuat adalah yg ke dua.

(3). Untuk Jibt dan Thaghuut itu ada beberapa maksud di ayat ini, tp yg terkeuatnya adalah:

1- Nama dua patung atau dua patung yg disembah oleh ahlulkitab di sebab turunnya ayat tsb. Karena Jibt itu bisa dipakai ke makan sihir, penyihir dan jg patung/berhala. Sedang Thaghuut itu adalah yg keterlaluan, termasuk berhala.

2- Berhala dan pendukungnya. Jadi Jibt itu berhalanya dan thaghuut itu penyembah dan pendukungnya.

Karena di sebab turunnya adalah: Ketika peristiwa perang Uhud usai, para pemuka ahlulkitab Madinah yg dipimpin Ka’ab bin al-Asyraf disertai oleh 70 ahlulkitab lainnya, datang ke Makkah untuk bersekutu dg mereka dan mengkhianati perjanjiannya dg Nabi saww. Lalu orang2 kafir Makkah yg diwakili oleh Abu Sufyaan mengatakan kepada mereka bhw untuk melakukan perjanjian dg kafir Makkah mereka harus bersujud kepada dua patung terlebih dahulu. Lalu merekapun bersujud pada dua berhala tsb.

Nah, berhala itu yg dikatakan Jibt dan Thaghuut disini, atau Jibt ini berhalanya dan Thaghuut itu pendukungnya spt para kafirin Qurasy itu.

Catatan:

Apa saja yg disembah dan ditaati dari selain Allah, bisa dimasukkan ke dalam Jibt dan Thaghuut ini secara hakiki (bukan peluasan), sekalipun sebab turunnya untuk yg menyembah/sujud pada Jibt dan hormat/taat pada Thaghuut itu. Jadi, sebab turun itu bukan membatasi ekstensinya, tp memahamkan maknanya. Karena itu, apapun yg keterlaluan, spt menyembah berhala, menentang hukum2 Tuhan, tergolong kepada Jibt dan Thaghuut tsb.

Tambahan:

Kalau sejarah Qur an atau ttg Qur an, usahakan untuk tdk mengikuti pandangan yg mengatakan ada tahrif spt allaamah Nuuri atau yg mengatakan bhw surat2 Qur an tdk disusun oleh Allah, spt ulama kontemporer ayatullah Haadi Ma’rifat, spt yg dicontohkan oleh mas Zainal itu. Karena pendapt beliau ra (baru meninggal), bertentangan dg hampir semua ulama syi’ah. Sampai pernah saya tanyakan pandangannya kepada ayutullah ‘uzhmaa Mazhaahiri hf tentang penadangan yg mengatakan bhw surat2 Qur an itu tdk disusun Allah/Nabi saww, beliau hf menjawab: “Tidak benar”. Dan sewaktu saya tanyakan bhw yg mengatatakan itu seorang ayatullah, beliau hf menjawab: “Ia melantur.” (saya tdk menyebut nama waktu itu). Tp yg saya maksudkan adalah ayatullah Haadi Ma’rifat ra ini, karena waktu itu masih hidup dan sayapun diwajibkan memberikan ujian dari kitabnya itu sebagai pelengkap pelajaran hauzah. Karena itulah, di hauzah, ketika bertanya ttg penyusunan surat itu, bentuk pertanyaannya spt ini:

“Apa pandangan ayt Haadi Ma’rifat ttg penyusunan surat2 Qur an?”.

Jadi, tidak bertanya spt:

“Bagaimana penyusunan surat2 Qur an menurut Ahlulbait as???”

AZA: Jawabannya sama dengan artikel terdahulu dari pak ustad kecuali pernyataan bahwa jumhur ulama syi’ah menentang satu dua ulama yg mengatakan bhw Qur an sdh terjadi tahrif.

Ana sepakat bahwa al Qur’an tidak tahrif, yang jadi persoalan adalah “al Qur’an yang kita pegang”.

Bagaimana dengan pandangan pak ustad tentang buku “Sejarah Al Qur’an” oleh M. Hadi Ma’rifat di atas? Sebab

AZA: ops? ternyata sudah dijawab sebelum ana bertanya

AZA: Baiklah pak ustad, berarti ada dua pandangan dalam syi’ah bahwa ada yang menentang dan ada juga yang meyakini tahrif,

Sebelum ke pertanyaan nomor 3 ana tentang ayat 4:51, perkenankan ana bertanya lebih lanjut apakah pak ustad sepakat bahwa terjadi perbedaan bacaan antara berbagai mushaf di kalangan sahabat? misalnya mushaf Abdullaah bin Mas’ud ada penambahan “…tentang ‘Aliy” di ayat 5:67, dan surah al Falaq & An Naas tidak masuk dalam mushafnya sebab dianggap sebagai do’a saja? serta banyak lain. Atau bagaimana pandangan pak ustad tentang buku yang di tulis oleh ayatullah Haadi Ma’rifat ra apakah isinya batil?

Kalau boleh lebih menguatkan pertanyaan ana sebelumnya, apa motif dibalik tindakan usman membentuk tim penyusun al Qur’an, apakah demi menyeragamkan bacaan yang banyak terjadi perbedaan dikalangan sahabat ataukah demi mengumpulkan al Qur’an dan menjaganya dari kepunahan?

Sinar Agama: mas AZA, saya sdh menjwbnya di atas semua pertanyaan antum termasuk ttg Haadi Ma’rifat yg menentang jumhur ulama lainnya. Pelru diketahui bhw yg mengakui tahrif itu benar2 satu dua orng saja, jadi tdk bisa dijadikan wakil pendapat syi’ah.

Tentang bacaan yg beda itu mmg nyata, dan itu tdk merubah esensi kehidayahan atau kepetunjukan Qur an.

AZA: Baiklah pak ustad, syukron atas komentarnya, sebaiknya ana menerima jawaban pak ustad tentang hal ini, yang berarti ayat 3:33 memang benar menurut jumhur ulama syi’ah tidak mengandung kata wa aali muhammadin.

Ini berarti pak ustad sependapat bahwa motif Usman adalah untuk “menyeragamkan” mushaf al Qur’an.

Pertanyaannya apakah pak ustad sependapat bahwa mushaf yang disusun abu bakar sebelumnya itu berbeda dengan yang disusun tim Usman?

Sebenarnya dalam buku sejarah Al Qur’an itu sendiri pun mengingkari adanya isyu Tahrif. Bisa dibaca langsung dibukunya. Namun pembaca bisa dihantarkan kepada kesimpulan umum terutama apa yang mendorong imam ‘Aliy tidak memperlihatkan kepada umat mushaf al Qur’an yang ditulisnya sendiri.

Dan pertanyaan yang cukup menggelitik pikiran ana adalah bagaimana caranya membuktikan bahwa mushaf usmani “sama persis” tulisannya dengan mushaf ALLAAH yang ditulis ulang oleh Imam ‘Aliy?

Sinar Agama: Mas AZA:

(1). Sebenarnya tdk ada mushhaf2an dlm malasah Qur an. Kalau ada embel2 penamaan itu hanya karena dimiliki si fulan dan atau disusun si fulan.

Qur an itu harus diimani sebagai apa adanya dari Tuhan, karena diriwayatkan secara ribuan di atas mutawatir, lebih dari sekedar keseribu mutawatiran kewajiban shalat, puasa … dst. Ini hal yg harus dipegang.

Mushahaf ini adalah buatan Tuhan, Tuhan mengatakan sebagai kitab yg terjaga sampai kapanpun. Kalau tdk disusun, apa artinya kitab?

(2). SAya tdk mengatakab ayt Haadi itu mengatakan tahrif, antum harus teliti baca tulisan. Ini tulisanku terdahulu:

“Kalau sejarah Qur an atau ttg Qur an, usahakan untuk tdk mengikuti pandangan yg mengatakan ada tahrif spt allaamah Nuuri atau yg mengatakan bhw surat2 Qur an tdk disusun oleh Allah, spt ulama kontemporer ayatullah Haadi Ma’rifat…..”

Jadi beda antara pengata tahrif dan pengata tdk menyusun Qur an. Karena ayt Haadi Ma’rifat, padangannya sama dg sunni yg disusun Utsma itu.

Karena itu, membuktikan keotentikan Qur an itu, tdk ada hubungannya dg tulisan Utsman, karena ia hanya menulis ulang dan semua muslimin baik sebelum dan sesudahnya,baik hafal atau punya tulisannya, sdh tahu susunannya mmg spt itu. Jadi, pembuktian susunan Qur an itu adalah firman Tuhan yg mengatakan akan menjaganya sampai kapanpun:

“Kami menurunkan Qur an dan Kami menjaganya.”(QS: 15: 9)

Bgt pula yg mengatakan:

“Hanya Kami yg berhak mengumpulkan dan membacakannya -Qur an.”(QS: 75: 17)

Saya sdh sering mengatakan bhw Utsman itu sebagai pembuat pertama bagi penerbitan Qur an. Jadi, bagi saya mmg pertanyaan antum menggelitik, he he … karena menyangsikan ayat2 Tuhan dan jaminanNya.

(3). Mushahaf abu bakar, ‘aisyah, utsman, imam Ali as …..dll-nya dari para shahabat, semua itu satu, tdk ada bedanya. Beda penamaannya itu hanya karena kepemilikannya.

(*). Untuk dialog antum dg SP itu mmg saya tdk baca dan hanya mencopynya saja. I-Allah saya tdk akan memuatnya di catatan, dan mungkin hanya akan memuat selain itu.

AZA: Baiklah, syukron jazakallaah pak ustad, kalau dikatakan ana menyangsikan ayat2 Tuhan dan JaminanNYA, benarkah ana begitu pak ustad? ALLAAH lebih mengetahui apa yang ana pikirkan.

Ana tidak ragu dengan Mushaf ALLAAH atau yang di susun oleh ALLAAH sendiri, dan sebagaimana catatan ana sebelumnya, misalkan ana hanya menghapal 1 atau 2 surah apakah yang ana hapal itu bukan al Qur’an? Kemudian misalkan ana hanya menghapal beberapa ayat saja dari setiap surah panjang, apakah yang ana hapal itu bukan al Qur’an? Dan apa yang dimaksud dengan jaminan ALLAAH berupa keterjagaan Al Qur’an apakah setiap yang menghapal tidak akan lupa ataukah ada hambaNYA yang mememeliharanya dengan baik, menghapalnya dengan baik dimana merekalah yang mendapatkan warisan al Qur’an? Definisi ini yang harus diperjelas agar setiap orang tidak selalu berlindung dengan ayat al Hijr:9. Sebab setiap muslim meyakini hal tersebut. Mushaf al Qur’an yang ana pegang, ana yakin itu al Qur’an. Sebab kalau tidak, bagaimana bisa ana berhujjah dengan al Qur’an. Yang menjadi persoalan adalah adanya isyu “beberapa” tahrif dalam al Qur’an. Dan isyu ini tidak menimpa semua ayat, sebab kalau menimpa semua ayat maka al Qur’an yang kita pegang tidak bisa dijamin kebenarannya sebagaimana menimpa kitab – kitab sebelumnya (Taurat dan Injil). Dan salah satu isyu yang ana angkat adalah ayat 3:33 di atas, tetapi tidak ada isyu yang sama terhadap ayat sebelum dan sesudahnya.

Juga ada isyu lain menyangkut ayat 33:33 dimana bagian terakhir dari ayat itu sebenarnya bukan disitu letaknya (kalimatnya benar/haq tetapi letaknya keliru). Tetapi ini tidak ana tanyakan, sebab ana hanya menanyakan ayat 3:33 di atas. Dimana kebanyakan isyu tahrif ini menyangkut keutamaan dan maqam ahlul bayt. Ana tidak perlu menuliskan apa yang mendasari isyu tahrif ini, sebab yang mengeluarkan isyu ini bukanlah orang awam atau orang biasa seperti ana melainkan seorang ulama yang telah melakukan riset terhadap kitab – kitab lama.

Pak ustad mengatakan,

(3). Mushahaf abu bakar, ‘aisyah, utsman, imam Ali as …..dll-nya dari para shahabat, semua itu satu, tdk ada bedanya. Beda penamaannya itu hanya karena kepemilikannya.

_______ ijinkan ana balik bertanya:

Kalau usman “Yakin” dengan mushaf yang disusun di jaman abu bakar, kenapa harus membuat tim untuk menyusun al Qur;an di jaman beliau? padahal sudah berlalu masa lebih dari 25 tahun?

Sementara itu dulu, ana menunggu komen dari pak ustad. Dan semoga tidak terburu – buru di posting dlam grup, Insya ALLAAH diskusi masih berlanjut

Demikian juga dengan sahabat muslim lainnya, sebelum usman menyusun al Qur’an itu, sahabat muslim telah memiiliki mushaf sendiri berdasarkan apa yang mereka kumpulkan sendiri, misalkan mushaf abdullah bin Mas’ud r.a. Dan sahabat Abdullah bin Mas’ud r.a sendiri itu pun dengan aman membaca mushafnya meski telah berlalu zaman abu bakar dan umar, beliau dengan lancar mengajarkan masyarakat kuffah sesuai dengan apa yang tertulis dalam mushafnya, dan mushafnya tersebut telah mendapatkan legitimasi dari rasul sebagaiaman ana posting hadis dari riwayat Muslim di atas. Tidak hanya sahabat Abdullah bin Mas’ud r.a banyak sahabat lain dari kabilah lain memiliki mushaf sendiri dengan dialek mereka sendiri. Okelah ana bisa menerima alasan jika maksud menyusunan mushaf oleh usman adalah demi “keseragaman dialek”, pertanyaannya benarkah demikian dan apakah dibenarkan? Kenapa justru rasul mengijinkan tetapi usman justru melarang? Kalau alasannya agar umat tidak berselisih kepada bacaan al Qur’an, bukanlah ALLAAH sudah memerintahkan dalam al Qur’an bahwa jika kita berselisih maka kita kembalikan kepada ALLAAH dan Rasul-NYA? Apa yang dimaksud dengan ALLAAH dan Rasul-NYA dalam kalimat ini, apakah al Qur’an dan Sunnah, sedangkan kita justru berselisih tentang ayat al Qur’an? Benarkah bahwa yang dimaksud dengan ALLAAH adalah Al Qur’an dan yang dimaksud dengan Rasul-NYA adalah Sunnah? Bagaimana kita bisa bersatu jika kita sudah berselisih pada masalah pokoknya (sumbernya) yaitu al Qur’an dan Sunnah? Benarkah makna tafsirnya demikian bahwa ALLAAH = Al Qur’an dan Rasul-NYA = Sunnah rasul? Jujur, ana Tidak Yakin dengan “Tafsiran” semacam ini. Kalau mau jujur, ana cenderung memahami bahwa yang dimaksud dengan ALLAAH dan Rasul-NYA dalam kalimat itu adalah TALI ALLAAH yang membentang dari langit. Dan itu merujuk kepada sosok manusia yang merupakan “Khalifah ALLAAH” di bumi ini dimana kepada Dia, al Qur’an diwariskan, sebagaimana sabda rasul, “Al Qur’an bersama ‘Aliy dan ‘Aliy bersama al Qur’an”.

Diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as bahwa Rasulullah saw berkata kepada ‘Aliy bin Abi Thalib: “Wahai ‘Aliy! al-Quran berada di balik pembaringanku, masih berada dalam mushaf, kain sutera dan kertas. Ambillah dan kumpulkan al-Quran itu! Dan jangan biarkan ia hilang sebagaimana orang-orang yahudi menghilangkan Taurat” kitab asli”. Kemudian ‘Aliy pergi mengambil dan mengumpulkannya lalu meletakkannya dalam sebuah pakaian kuning.

(Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, jilid 2, hal 41. Fath Al-Bari, jilid 10, hal 386. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 1, hal 51).

Sinar Agama Mas AZA:

(1). Saya sdh benar antum menyangsikan Qur an ini, dan hal itu dikuatkan oleh antum sendiri di atas. Karena itu, saranku terdahulu itu mungkin labih baik antum pertimbangkan untuk damalkan, yaitu:

“Kalau sejarah Qur an atau ttg Qur an, usahakan untuk tdk mengikuti pandangan yg mengatakan ada tahrif spt allaamah Nuuri atau yg mengatakan bhw surat2 Qur an tdk disusun oleh Allah, spt ulama kontemporer ayatullah Haadi Ma’rifat…..”.

Jangankan hanya ulama besar, malaikat jg tdk boleh antum perhatikan manakala ia mengatakan ada tahrif Qur an. Emangnya ulama yg mengatakan tdk ada tahrif itu, yg berjumlah 99,999999% itu ulama yg tdk besar????!!!!

Apakah puluhan penulis khusus Nabi saww dan ribuan penghafal Qur an sejak jaman Nabi saww sampai sekarang yg diturunkan secara ribuan mutawatir itu salah semua, dan ribuan Qur an yg ditulis dari sejak jaman Nabi saw sampai sekarang itu, salah semua??!!!! Apakah ucapan Nabi saww yg menitipkan Ahlulbait dan Qur an itu salah semua? Apakah imam Ali as yg mengatakan di Nahju al-Balaaghah yg mengatakan bhw lisan Qur an ini tdk pernah lemah (dimana kalau ada tahrif, wlau sedikit saja, mk akan menjadi lemah karena telah dimasuki atau dikurangi), salah semua?? Apakah jutaan ulama sepanjang sejarah dari jaman shahabat, salah semua??!! Apakah perintah maksumin salah semua????!!!

Lalu, apakah hadits2 syi’ah dan sunni (spt di shahih Muslim) yg mengatakan tahrifnya Qur an, yg hanya beberapa hadits dimana kadang lemah dan kadang dipelintirkan pemahamannya, menjadi shahih dan mengalahkan semua itu???!!! Apakah yg tdk menghafal Qur an dan lupa2 pada ayat2 Qur an itu,  mau dibenarkan semua dan mengalahkan jutaan penghafal Qur an itu sejak jaman Nabi saww???!!!

Akhirnya aku harus berdalil lagi nih. Allah berfirman:

“Kami menurunkan al-Dzikr dan Kami menjaganya.”

al-Dzikra itu adalah Qur an, alif laam-nya itu adalah ta’riif, yakni kepada Qur an itu. Nah, ketika Tuhan mengatakan bhw Ia menurunkan Qur an dan Ia menjaganya, sdh tentu maksudnya adalah Qur an yg diturunkan itu mas AZA, bukan Qur an yg antum hafal, bukan beberapa ayat yg antum hafal atau antum lupakan itu.

Dulu, untuk masuk univ Al-Azhar, harus hafal Qur an keseluruhannya (mungkin di jurusan tafsirnya). Jadi dites dulu dan harus lulus dg nilai bagus. Nah, ini sebagai contoh penjagaan Qur an itu. Artinya, puluhan penulis wahyu dan ratusan penghafal Qur an di jaman Nabi saww, lallu ribuan penulis dan ribuan penghafal setelahnya, merupakan wasilah dan perantara Tuhan untuk menjaga Qur an tsb. Karena itu, yg lupa bisa diingatkan, yg salah bisa dibernarkan. Karena itulah saya katakan sebelumnya, bhw Qur an ini tdk bisa diragukan karena diriwayatkan oleh ribuan mutawatir. Perang badar saja tdk ada yg ragu karena kemutawatirannya, padahal ia terjadi sekali dan disaksikan hanya sekali kejadian, apalagi Qur an yg disaksikan oleh sepanjang sejarah dari sejak turunnya sampai sekarang yg, diwariskan selalu dalam bentuk segar, baik hafalan atau tulisan, secara ribuan mutawatir.

Antum mau ikut siapa itu ma … terserah antum saja. Tp saya hanya ingin berbuat sebaik mungkin sebagai saudara, kepada antum. Jadi, dalil2ku ini hanya sebagai bahan pertimbangan untuk antum. Dan sisanya, terserah kepada antum

Kalau Allah mengatakan aku menurunkan rumah dan aku menjaganya, mk yg dimaksud bukan hanya menjaga jendelanya mas.

(2). Tentang utsman itu sepertinya antum mmg tdk baca tulisanku sama sekali. Utsman membuat tim itu hanya untuk menyeragamkan kertas2nya dan ingin menyebarkan ke berbagai tempat. Untung antum tdk berdalil bhw kalau kita sdh yakin dg Qur an yg terdahulu, mk mengapa kita sekarang membuat penerbitan Qur an lagi????!!! Sebab kalau ini yg ditanya, saya sungguh2 tdk akan mempu meberikan penjelasan kepada antum. Karena spt menanyakan dalilnya terbitnya matahari di waktu zhuhur yg tdk berawan sama sekali.

‎(3). Antum ini bagaimana, bukankah Allah mengatakan kalau kalian berselisih mk kembalikanlah kepada Qur an dan Nabi saww, dan bukankah Nabi saww mengatakan kutinggalkan dua perkara kepada kalian yaitu Qur an dan Ahlulbait (sebagai pengemban shahih sunnah Nabi saww), lalu antum menafsirkan kembali kepada Allah yakni kembali kepada imam2 yg merupakan tali Allah. Lah … wong Allah mengatakan kembalikan kepada Allah dan Nabi saww kok, atau Nabi saww mengatkaan kutinggalkan dua perkara, Qur an dan Ahlulbait as kok. Kan Allah tdk mengatakan bhw kalau kalian berselisih pandangan hendaknya kembali kepada imam (sebagai makna Allah menurut antum) dan Nabi saww, atau kan Nabi saww tdk mengatakan bhw kutinggalkan dua hal yg berat kepada kalian, yaitu imam (sebagai makna Qur an menurut antum) dan Ahlulbaitku dimana Ahlulbait ini jg artinya para imam Ahlulbait as???!!!!

Penafsiran antum ttg Allah menjadi tali Allah itu, jelas tafsiran dg akal antum sendiri yg diwanti-wanti oleh Allah dan Nabi saww spy jgn dilkukan. Karena bertentangan dg sabda Nabi saww di atas yg mewariskan Qur an kepada kita.

Hadits ttg Qur an yg dibungkus sustra itu saya rasa termasuk hadits2 yg kata ayt Makaarim Syiroozii hf, sebagai hadits yg dipelintirkan maknanya. Perkataan antum sendiri sdh kontradiksi. Di satu tempat Nabi saww menyuruh shahabat2 lain mengajarkan Qur an yg mereka hafal dan menurut antum Nabi saww mengesyahkannya, tp di sisi lain antum memaknai bhw Qur an yg ada di dlm sustra itu beda dg yg lain. Ini kan kontradiksi yg nyata?

Kalau Nabi saww menyuruh sepuluh orang atau satu orang spt imam Ali as untuk menjaga Qur an, mk bukan berarti yg lain itu salah dlm tulisan atau hafalannya. Lah … kan lucu, kalau Qur an itu  salah/tahrif di jaman Nabi saww lalu beliau saww membiarkannya dan hanya menyuruh imam Ali as menjaganya sendirian terhadap yg asli yg dibungkus sutra itu????

Sekali lagi, antum mau meyakini yg mana saja, silahkan saja, tp kalau antum mau berdalil dan tdk mengulang dalil, mk saya akan terus menjawabnya i-Allah selama saya masih mampu. Dan kalaulah ulangan, mk kalau tdk terlalu panjang dan saya tdk lelah, mungkin saya masih akan mengulang atau meringkasnya.

Tp kalau antum tdk mengajukan dalil di sini dan sdh memilih keputusan mau ikut diri sendiri atau segelintir orang, baik shahabat Nabi saww (spt di riwayat sunni, spt umar dan ‘Aisyah yg mengatakan adanya tahrif/kesalahan dlm Qur an spt di shahih Muslim) atau baik dari segelintir dari shahabat syi’ah (spt hadits2 lemah atau yg dipelintirkan maknanya) atau segelintir ulama (sunni-syi’ah), dan meninggalkan Allah, Nabi saww, Ahlulbait as dan 99,9999% shahabat dan ulama, mk hal itu jelas tidak bisa saya campuri lagi. Paling2 hanya menasihati antum untuk kembali ke jalan yg benar ini. Yakni yg gamblang kebenarannya ini. Karena kalaulah di gamblang ini salah, tentu saja masih akan ada maaf dariNya. Beda dg kalau kita ikut yg sangat gelap. wassalam.

wassalam.

sumber

%d bloggers like this: