Tidak Terbantahkan, Belum Tentu Benar

Ahmad Bahagia

 salam ustad.. mohon penjelasannya..

apakah jembatan antara pengetahuan argumentatif tentang aqidah yang tak terbantahkan menjadi suatu keyakinan, lalu menjadi keyakinan yg berimplikasi pada amal sehari2..

bagaimana mengelola dunia agar tidak menjadi jurang pembatas antara keduanya..

terima kasih ustad atas pemaparannya..

Ahmad Bahagia: sebagai contoh misalnya orang2 kafir yang hidup pada zaman Rasulullah saaw. misalnya para pendeta najran, atau sebagian besar “sahabat2” Rasulullah saaw. yang pastinya telah menerima penjelasan masalah aqidah dari Rasulullah saaw.. Saya yakin pasti Rasulullah saaw. menjelaskannya secara jelas, gamblang, terperinci dengan argumentasi yang tidak terbantahkan, sangat pasti diterima akal.

Tetapi mereka tidak menerima seruan Rasulullah saaw. sebagaimana orang2 yang masih dalam kekafirannya atau tidak menerima keseluruhan seruan Rasulullah saaw. sebagaimana para “sahabat2”..

Yang jelas berpengaruh pada amal2 yang dilakukan oleh mereka, misalnya tidak menerima keimaman Imam Ali as., dst malah bahkan tega menganiaya Ahlulbayt as..

Ahmad Bahagia: Saya pernah berfikir bahwa semuanya karena kecintaan dunia, ataupun ego diri.. apa emang hanya itu masalahnya ustad? dan apa cara paling jitu buat mengelolanya ustad?

Terima kasih..

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya, tp afwan saya blm paham maksud pertanyaan antum. Bisa dijelaskan lagi? Karena saya mengira yg ditanyakan itu adalah “jempatan”-nya. Tp antaranya, hanya satu saja. Jadi antara pengetahuan …. DG APA??!!!

Karena …argumentatif tentang aqidah yang tak terbantahkan menjadi suatu keyakinan, lalu menjadi keyakinan yg berimplikasi pada amal sehari2….. ini adalah sifat dari pengetahuan itu. Tp kalau antum punya maksud lain, coba terangkan secara lebih mudah.

Pagi ini saya lihat lagi pertanyaan antum, kok ada terusannya di komen. Kemarin sewaktu saya menjwabnya, pertanyaan lanjutan di koment ini blm tanpak. Apapun pertanyaan dan maksud antum dari uraian2 pertamanya sampai ke sebelum pertanyaan akhirnya, mk saya hanya akan menjwb pertanyaan akhirnya saja.

Cara paling jitu untuk selamat adalah mencari ilmu Islam dg akal-gamblang dan mengamalkannya dg seikhlash-ikhlashnya. Kalau hal itu dilakukan, mk semua perasaan dan kesukaan pada dunia, dg sendirinya akan menjadi semakin tersingkir hinggga pada akhirnya antum atau kita semua, menjadi hamba2 yg hakiki, budak2 yg hakiki, budak2 yg tdk merasa memiliki apapun kecuali kenistaan dan kehinaan. Beribadah dan taat pada Tuhan untuk semakin menjadi hamba yg sempurna. Dan kesempurnaan hamba itu ada di tidak mulia dan tdk kepemilikannya itu. Jadi, taat bukan untuk mulia dan bersanding dg Tuhannya, tp taat untuk semakin hina di hadapannya, baik di dunia ini atau di akhirat kelak.

Ahmad Bahagia: maaf ustad kalau mutar2.. saya juga agak bingung, karena logikanya seperti yang ustad bilang pengetahuan menjadi keyakinan itu sifat dari pengetahuan itu.. sifat itu kan selalu mengikuti yang disifatinya ustad, tapi realitanya kok kayaknya gak begitu..

sepertinya pengetahuan menjadi keyakinan itu cuma nampak sebagai sifat pada kehidupan nyata (duniawi)..

mudah2an ustad bisa menangkap maksud saya.. terima kasih ustad..

Orlando Banderas: Ahmad, menurut saya pengetahuan itu hanya teori tidak ilmu aplikatif krn banyak sebab spt gengsi, cinta dunia, wanita, dll. Salam.

Ahmad Bahagia: Orlando, salam & trims komentarnya.. saya juga berfikir +- sama, makanya saya menanyakan pertanyaan kedua..

diberi tahu sesuatu itu benar, lalu percaya sesuatu itu benar, lalu yakin sesuatu itu benar, lalu kebenaran yag diyakini itu berefek pada pola pikir dan perilaku.. normalnya, seharusnya, mustinya..

mungin saya salah mendefinisikan pertanyaan.. atau pertanyaan saya seharusnya.. sesuatu yang tidak dapat dibantah tu kok tidak bisa meyakinkan?

Orlando Banderas: Sebenarnya sdh sering dibahas oleh Ustadz. Coba cari lagi. Salam.

Sinar Agama: Sesuatu yg tdk bisa dibantah itu blm tentu benar, karena mungkin yg mau bantah tdk mampu membantah. Tp kalau ketidak terbantahan sesuatu itu karena kegamblangannya, mk ini bisa dijadikan petunjuk ttg kebenarannya.

Kebenarang gamblang yg tdk terbantahkan ini, jg blm tentu diyakini oleh hati yg memahaminya. Karena yakin itu ada dua, yakin hati dan yakin akal. Akalnya, sdh yakin, tp hatinya blm yakin.

Hati, ada dua makna. Hati yg tempatnya rasa dan perasaan, yakni di ruh yg daya-hewani (tempat pengaturan gerak ikhtiari, rasa dan perasaaan) dimana hati dg makna ini adalah hati yg sering dipakai oleh umum, spt tempat cinta, marah, benci, rindu, dendam … dst. Tp ada hati yg bermakna akal-aplikatif.

Nah, ketika seseorang sdh memahami dg akal-gamblang tentang keberan seseutu, mk hatinya memiliki dua sikap. Mengikuti kata akal-gamblangnya itu, sebagai obornya, karena akal-gamblang itu adalah akal-pahaman, atau tdk mengikutinya. Kalau mengikutinya, mk hatinya menjadi yakin dan kalau tdk mk sebaliknya.

Kalau yg tdk yakin itu adalah hati yg bermakna ruh-daya-rasa/perasaan, mk kemungkinan besar sebabnya adalah belum jinaknya hati tersebut selama ini. Karena bagi dia, kalau lapar yg penting makan, kalau syahwat yg penting disalurkan … dst. Tak perduli benar salahnya, dosa tdk-nya, karena ia memang tdk mengerti hal itu. Karena yg mengerti itu adalah akalnya, bukan rasa/perasaannya. Karena itu, sudah merupakan tugas akal untuk menjinakkannya. Yaitu dg mengarahkannya kepada hal2 yg dibenarkan saja. Termasuk mengarahkan untuk patuh pada pahaman gamblang tadi itu. Karena biasanya, ketika akal gamblangnya sdh paham tentang sesuatu yg benar tp hati ini tdk meyakininya, biasanya yg dipahami akalnya itu sesuatu yg tdk disukai hati ini. Spt lapar di siang bln Ramadhan, atau mencegah pacaran, atau mencegah apa2 yg ia inginkan. Karena itu, hati ini perlu dilatih dan dibiasakan. Tp kalau yg diketahui gamblang itu adalah hal2 yg disenangi hati rasa/perasaan ini, mk biasanya lancar2 saja.

Kalau yg tdk yakin itu adalah hati yg bermakna akal-aplikatif, mk caranya, adalah tengok lagi kepahamannya itu. Kalau memang benar sdh merupakan akal gamblang terhadap kebenarannya itu, spt “racun itu membunuh”, mk akal-aplikatif sdh semestinya malu kalau tdk mengaplikasikan ilmunya dan meminum racun tsb. Jadi, penyakitnya bukan berantem dg perasaannya, tp berantem dg konsekwensi dari pengatahuannya itu.Artinya, maukah kita mengaplikasikan konsekwensi itu atau tdk.

Karena itulah, mk ilmu-gamblang itu blm sepenuhnya cahaya dan petunjuk. Persis spt Qur an dan Hadits. Karena petunjuk yg lengkap, sinar yg lengkap, adalah manakala pahaman terhadap ilmu-gamblang, Qur an dan hadits itu, sdh diaplikasikan oleh akal-aplikatifnya dimana hal ini pertanda pengetahuannya sdh sempurna, karena tahu-pahaman dan tahu-aplikatif, dan pertanda jg bhw hati rasa/perasaannya sdh terkedali oleh akalnya secara penuh. Inilah yg disebut manusia yg sebenarnya, karena ia telah ikut akalnya, baik akal-pahaman atau akal-aplikatifnya dan, sdh tentu meninggalkan hati rasa/perasaannya dimana hal ini adalah makam binatang tak berakal.

Ahmad Bahagia: Terima kasih ustad..

Saya langsung teingat dengan pekerjaan saya yang berkaitan dengan sistem manajemen mutu yang dibuat berdasarkan persyaratan dan proses yang harus dijalankan dibuat berdasarkan ilmu, akal gamblang agar tidak terjadi suatu kesalahan atas hasil pekerjaan.. walaupun sudah gamblang pada pelaksanaannya juga tidak bisa terjadi begitu saja.. harus dipaksa, lalu terpaksa, lalu terbiasa, sampai terbentuk suatu budaya.. Harusnya hal yang sama bisa diaplikasikan ke kehidupan beragama juga ya ustad.. penerimaan hati akal tetap harus dipaksa dulu agar hati rasa/perasaan bisa tunduk/jinak..

Maaf kalau saya simpulkan demikian (mohon koreksi kalau saya salah menyimpulkan)

Kalau inputnya adalah diri kita yang sekarang dengan spesifikasi yang keyakinannya masih dipertanyakan, kotor dan masih banyak maksiat, sedikit ibadah dan dekat dengan hal2 yang dimurkai Allah (jauh dari Allah)..

Dan output yang diharapkan adalah diri kita kelak harus memenuhi spesifikasi memiliki keyakinan yang kuat, bersih, tidak bermaksiat, banyak ibadah dan dekat dengan hal2 yang diridhoi Allah (dekat dengan Allah)..

maka awalnya kita harus dipaksa untuk menjauhkan diri dari yang diharamkan dan memperbanyak ibadah walaupun dengan perasaan terpaksa, terus memaksa diri sampai terbiasa, terus membiasakan diri sampai menjadi suatu adat kebiasaan..

Sinar Agama: Ahmad: Ahsantum, mmg spt itu adanya. Karena itu jg Tuhan sering memberitakan adanya neraka, spy manusia mau takut dan taat padaNya walau terpaksa. Bgt pula sering mengimingi surga, spy manusia dpt memaksa dirinya menekan hawa nafsunya dan memilih taat kepadaNya. Walau Tuhan tdk ingin manusia melakukan taat itu karena neraka dan surga, tp demi kelayakannya menjadi yg terbaik karena akalnya tsb. (akal-pahaman yg untuk tahu bahayanya racul misalnya, dan akal-aplikatif yg menyuruh menghindari racun misalnya). Karena itu, Allah selalu memuji hamba2Nya yg hebat yg tdk melakukan taat karena keduanya itu (neraka dan surga). Yaitu yg ketaataannya hanya dan hanya karenaNya semata, spt para anbiya dan rasul dan orang2 shalih yg kelas tinggi (auliyaa’).

Orang kadang2 sering bergaya-gaya dg mengatakan:

“Saya jujur dan tdk mau membohongi diri, hingga karena itu sebelum saya ingin benar2 taat, mk saya maksiat dulu, saya pacaran dulu, saya tdk shalat dulu …dst… karena saya tdk mau munafik.”

Ini lagu syethan yg paling laris di kalangan kaula muda, terutama mahasiswa/i. Lucu amat, maksiat jadi kejujuran dan ketidak munafikan, lalu taat menjadi sebaliknya.

Mereka mengira bhw kalau ingin makan, mk harus makan walau di siang Ramadhan; kalau ingin lawan jenis, mk harus cari pacar; kalau malas shalat, mk harus tdk shalat….. dst. Mereka tdk tahu bhw inginnya rasa/perasaan itu adalah keinginan yg normal sebagai hewan. Sdh tentu yg baligh ingin kawin, yg kosong perutnya ingin makan … dst. Semua itu karena mmg fitrah yg diberikan secara rata kepada semua binatang, termasuk binatang rasional ini.

Tp kalau manusia selain kebinatangan, jg memiliki kerasionalan, mk sdh merupakan tanggung jawab akal untuk mengatur nafsu2 tsb. Karena itu, sdh pasti banyak pertentangan spt jauhnya perbedaann peradaban manusia dg semua binatang di dunia ini.

Karena itu kejujuran dan ketidak munafikan, adalah mengikuti akal-gamblang dan menekan nafsu2nya hingga takluk pada akal gamblangnya itu dan, di kemudian hari, menjadi terbiasa dgnya hingga, jadilah peradaban yg shalih yg menguasai kemasyarakatannya, bukan sosial yg amburadul spt amburadulnya pergaulan binatang.

wassalam

sumber

%d bloggers like this: