Istana di Atas Air dan Ijin Tuhan dalam Iman

Rudi Suwandi

Salamun alaikum Pak Ustad,

Mohon penjelasan/tafsir

1. Surat HUD ayat 7 :

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yg lebih baik amalnya………

… Penekan pertanyaan pada : Singgasana-Nya di atas air.

2. Surat Yunus ayat 100

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang2 yang tidak menggunakan akalnya.

Apa yg dimaksud dengan izin Allah?

Rudi Suwandi

Salamun alaikum Pak Ustad,

Mohon penjelasan/tafsir

1. Surat HUD ayat 7 :

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yg lebih baik amalnya………

… Penekan pertanyaan pada : Singgasana-Nya di atas air.

2. Surat Yunus ayat 100

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang2 yang tidak menggunakan akalnya.

Apa yg dimaksud dengan izin Allah?

SalamLihat Selengkapnya

    •  

Sinar Agama:

Salam dan trims pertanyaannya:

(1). Ringkasan dari tafsiran “Istana/’Arsy” dan “Air”, pada ayat tsb, setelah dibandingkan dg ayat2 lain dan hadits2, mk dpt disimpulkan sebagai berikut:

a- Makna “Istana” adalah kekuasaan. Karena kata2 ista…na, selain dipakai pada tempat materi sebagaimana dipakai dlm kekuasaan pemerintahan, jg dipakai dlm arti “kekuasaan” itu sendiri. Karena itu, kita jg dapat menggunakan kata “istana” itu pada orang2 yg memiliki kekuasaan walau bukan sebuah negara. Misalnya dlm bisnis, spt ketika kita mengatakan pada bos yg memasuki kantornya dan duduk di kursinya dg mengatakan “Dia sudah duduk di istananya.”

Karena dalam pembuktian keberadaan dan sifat2Nya sdh dibuktikan ketidak materianNya, mk jelas bhw istana disini tdk bisa ditafsirkan sebagai kursi kekuasaan atau bangungan istana kekuasaan yg badani dan materi. Jadi, makna istana disini, tdk lain bermakna “KekuasaanNya”.

b- Sedang kata “maa’ “, arti umumnya adalah “air”. Akan tetapi dlm bahasa arab juga dipakai kepada yg cair. Karena itu, setiap orang arab mau mensifati sesuatu dg cair, mk sering menggunakan kata “maa-yi’ “, yakni “cair”. Lelehan besi, mani dan apa saja yg bersifat cair, bisa dikatakan sebagai air.

Penafsiran air di ayat ini setidaknya ada dua penafsiran yg bagus:

b-1- Bahwa bumi dan langit ini, dicipta Tuhan dari lelehan yg kemudian meledak dan menjagi jagat raya ini. Matahari, bumi dan lain2 planet, semuanya dicipta dari lelehan cair oleh Allah. Karena itu, semua dari planet2 alam materi ini dicipta dari barang cair yg dikatakan sebagab “air”.

b-2- Bahwa air disini adalah simbol kehidupan. Karena Allah jg menyebut di ayat2 lain, spt “Kami jadikan semua sesuatu dari air/cairan menjadi hidup.”. Jadi, cairan dan lelesan gas yg menjadi matahari, bumi dan planet2 lainnya jg termasuk dlm katagori ini disamping hal2 lain yg hidup. Jadi, air mani, air betulan, dan air apa saja yg telah membuat makhluk2 ini menjadi hidup, tergolong pada air yg dimaksudkan Tuhan di ayat ini. Jadi, tdk melulu cairan gas yg menjadi semesta planet2 di dunia ini.

Jawaban Soal:

Dengan semua penjelasan itu, mk maksud dari “istanaNya di atas air”, adsalah bahwasannya “KuasaNya di atas cairan dan air kehidupan.”

Maksudnya adalah bhw Kuasa Tuhan dalam mencipta semesta planet dan langit serta semua kehidupan di alam materi itu, dilewatkan dan diperantarakan melalui air atau yg cair. Jadi, KuasaNya dlm mencipta materi, disalurkan melalui cairan dan air kehidupan.

Ketika KuasaNya dilewatkan atau diperantarakan melalui cairan atau air kehidupan, maka jelas bahwa cairan atau air itulah IstanaNya dalam mencipta keberadaan dan kehidupan materi itu. Sama dg kepala pemerintahan yg memerintah kepada segeranap mentri2 dan anak buahnya melalui istana yg didudukinya atau dikuasainya.Lihat Selengkapnya

(2). Kalau ijin Allah sdh sering saya jelaskan di tulisan2 yg menjelaskan ketidak adaan nasib atau takdir bagi manusia yg menentukan nasibnya, apakah menjadi orang sukses atau tdk, menjadi orang beriman atau tdk dan semacamnya. Karena i…tu, kemanan pada takdir yg bermakna nasib ini, tdk ada dlm Islam dan adanya hanya di agama2 lain spt Hindu, Kristen dan semacamnya.

Akan tetapi, karena Tuhan itu adalah sebabnya para sebab, mk perbuatan baik dan buruk manusia itu, sebagai keberadaan, juga terhitung sebagai makhlukNya. Karena perbuatan manusia adalah akibat manusia dan manusia adalah akibat Tuhan. Karena akibatnya akibat adalah akibat pula bagi sebabnya, mk perbuatan manusia merupakan akibat dan makhlukNya jg.

Akan tetapi, ketermakhlukan perbuatan manusia itu, baik takwa atau maksiat, bukan dari sisi lain dari yg sdh diterangkan itu. Jadi, jangan pernah berkata bhw takwa dan tidaknya manusia itu sdh ditentukan Tuhan. Karena perkataan ini sama dg menolak keBijakan Tuhan, akal sihat dan agama serta adanya surga dan neraka itu sendiri. Karena, kalau semuanya sdh ditentukan, mk semua yg disebutkan ini, tdk mungkin ada dan benar. Jadi, ketermakhlukan perbuatan manusia itu, hanya dari sisi bhw akibatnya akibat, adalah akibat pula bagi sebabnya.

Sekrang pertanyaannya, siapa yg harus bertanggung jawab terhadap perbuatan manusia? Jawabannya jelas bhw manusia itu sendiri. Hal itu, karena Allah sdh memberikan akal dan ikhtiar serta agama pada manusia. Tanpa agamapun, banyak kebaikan dan keburukan yg dpt dikenali manusia hingga ia melakukan yg baik dan menjauhi yg tdk baik. Apalagi setelah adanya agama, mk pengetahuan itu akan semakin sempurna dan lengkap. Karena itulah, mk penanggung jawab terhadap perbuatan manusia itu adalah manusia itu sendiri. Karena ia berbuat setelah mengerti dan sesuai dg pilihan ikhtiarnya.

Nah, terjadinya perbuatan yg dimengerti dan dipilih secara ikhtiar oleh manusia di alam wujud ini yg terjadi sesuai dg sistem yg dibuat Tuhan itulah yg dikatkan dg IJIN ALLAH. Jadi, IJIN ALLAH disini adalah:

IJIN DALAM PENGADAAN DAN PEWUJUDAN YG BIASA DIKENAL DG TAKWINIYYAH, BUKAN IJIN SYARIAT DAN HUKUM2 AGAMANYA.

Ringkasnya ijin untuk ada. Dan ijinNya itu, sdh disalurkan melalui sistem keberadaan dimana termasuk perbuatan manusia yg diijinkan untuk ada sesuai dg pilihan manusia itu sendiri.

Sedang secara hukum atau boleh tidaknya dan surga nerakanya, mk IJIN ALLAH disalurkan melalu akal manusia dan agamaNya, tdk melalui sistem sebab akibat dalam keberadaan makhlukNya. Karena itu, apa2 yg baik yg diketahui oleh akal-argumentatif-gamblang atau oleh agama, mk ia disertai IjinNya dari sisi hukum agamaNya.

Dengan demikian, IJIN Allah ada duA: IJIN TAKWINI dan IJIN TASYRI’I/SYARIAT.

Jawaban soal:

Ijin Allah dalam ayat di atas itu, adalah ijin takwini, bukan tasyri’i. Karena ijin disini memiliki konotasi lawannya, yaitu tanpa ijin. Dan tanpa ijin, sdh jelas tdk mungkin terjadi pada syariatNya. Dimana ada syariat Tuhan yg tdk mengijinkan seseorang untuk beriman?

Karena itu, maksud ijin disini adalah ijin pewujudan dan untuk ada. Karena yg kafir jg terjadi dg ijin takwiniNya sebagaimana maklum.

wassalam.

sumber

%d bloggers like this: