Muhkamaat dan Mutasyaabihaat

Muhammad Dudi Hari Saputra

salam ustad,,

apa kabar?? semoga ustad selalu sehat..

pertanyaan saya apa itu takwil?? kemudian boleh tidaknya kita menakwil ayat2 mutasyabihat di Al-Qur’an ??

… seperti di ayat berikut ini:

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

(Ali-Imran-7)

syukron ya afwan

Sinar Agama: SAlam dan trims pertanyaannya:

(*). SEingat saya, saya sdh pernah menulis hal ini di catatan atau di dokumen. Ringkasnya sbb:

(1). Takwil itu adalah memberikan makna selain makna lahir. Pemberian makna lain dari yg lahiriah itu, karena pemaknaan lahiriahnya tdk cocok dg ayat2 lainnya, hadits2 yg shahih dan akal gamblang. Misalnya ketika Tuhan mengatakan “Kemana saja kamu berpaling, mk kamu akan menatap Wajah Allah”. Atau di ayat yg mengatakan bhw Allah mencipta nabi Adam as dg kedua tanganNya. Dan banyak lagi contohnya. Karena itu, mk ayat2 tsb harus dimaknai dg ayat2 yang lain atau hadits2 dan akal sihat/gamblang. Karena kalau dimaknai dg lahiriahnya itu saja, mk jelas akan menyesatkan manusia. Dan, gunanya Allah menurunkan ribuan ayat itu, bgt pula mengirim Nabi saww dan memberi akal yg sihat/gamblang, supaya bisa mengerti maksud hakikinya dari makna lahir itu. Jadi, ayat2 lainnya, dan hadits2 Nabi saww serta akal sihat/gamblang, merupakan konteks bagi pemahaman sebuah/satu ayat, terutama ayat2 mutasyabihaat.

Takwil di atas itu, adalah takwil yg benar yg dilakukan oleh Nabi saww, imam maksum as dan para ulama yg mengikuti para maksum atau Nabi saww.

Ada takwil yg menyesatkan. Yaitu yg biasa dipakai wahabi. Yaitu dg menafsirkan ayat kepada yg dipercayainya dan diyakininya. Jadi, mengembalikan ayat2 Tuhan kepada subyektifitas dirinya sendiri. Ini yg dikatakan Tuhan dg menafsir Qur an dg pikirannya sendiri. Jadi, yg jadi ukuran, bukan ayat, hadits dan akal-gamblang, akan tetapi kecenderungannya sendiri terhadap suatu masalah. Misalnya, ia dari awal sdh meyakini bhw Tuhan itu kebendaan, mk mereka akan memberikan makna dua tangan kepada Tuhan yg diukir dlm ayat itu sebagai benar2 dua tangan. Paling banter mereka mengatakan bhw tp bukan spt tangan kita. Lah. … emangnya keterbatasan dan kebendaan itu hanya bisa muncul kalau tanganNya spt tangan kita? Bukankah angka dua itu saja sdh batasan bagiNya. Bgt pula dg wajahNya, betisNya (yg ditaruh ke neraga atau ditunjukkan spy orang2 percaya kalau Dia adalah Tuhan) yg akan dilihat dengan mata di surga.

Atau spt orang2 liberal yg manfsirkan Qur an sesukanya dg alasan pluralisme dan hermenetika (yg berujung pada bolehnya memahmi apapun oleh setiap orang).

Dengan uraian di atas, dpt dipahami, bhw ada dua macam takwil: Takwil yg disuruh Tuhan, Nabi saww yg kemudian diikuti oleh para imam maksum as dan para ulama. Takwil yg melanggar Tuhan dan NabiNya, yaitu yang membawa ayat2Nya kepada yg mereka cenderungi, bukan kepada dalil gamblang yg kembalinya kepada ayat, hadits dan akal-gamblang. Jadi, mereka sdh punya pandangan sebelumnya, lalu mencari ayat untuk disesuaikan dg pandangannya itu.

(2). Dengan keterangan di atas, mk terjemahan ayat yg antum berikan itu, jelas menyimpang dari maksud sebenarnya ayat tsb. Ayat yg dimaksud adl sbb:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ia-lah yg menurunkan kitab kepadamu. Di dalamnya terdapat ayat2 yg jelas/gamblang dan yang lainnya yg tidak gamblang. Orang2 yg di hatinya ada penyakit, mk mereka mengikuti yg tdk gamblang itu untuk memunculkan fitnah (penyimpangan atau mengikuti hawa nafsu) dan penakwilannya sendiri. Padahal tidak tahu akan takwilnya, kecuali Allah dan orang2 yg kokoh dalam ilmu, dimana mereka mengatakan ‘Kami beriman terhadap ayat2 tsb, semua dari Tuhan kami.’ Tidaklah menjadi ingat, kecuali orang2 yg berilmu hebat.”

Kalau penafsiran ayat itu spt yg antum berikan, mk jangankan orang muslim, Nabi saww sendiri tdk akan tahu makna ayat yg tdk gamblang secara lahiriahnya itu. Lah … terus apa gunanya ayat itu diturunkan? Dan ada berapa ayat yg tdk gamblang lahiriahnya itu?

Bismillah saja sdh mutasyabihaat. Karena apa yg dimaksud dg ism atau nama disini. Nama spt nama2 kita, atau bukan? Kalau sama dg nama kita, trus apa fungsinya, atau bagaimana dg umat yg tdk berhabasa arab dimana jelas akan memakai nama lainnya? Kalau bukan spt nama2 kita, lalu apa maksud sebenarnya?…. dst.

Lah, kalau ayat pertama saja sdh pusing dihadapi, dan Nabi saww jg pusing, karena yg tahu hanya Allah, mk buat apa Qur an itu diturunkan. Mending kalau Tuhan sendiri mengatakan ayat mana yg gamblang dan mana yg tdk gamblang. Lah .. ini hanya dikatakan bhw ada gamblangnya dan ada yg tdk gamblang. Pencariannya saja sdh tdk gamblang, trus apalagi maknanya.

Lagi pula, ketika sdh tahu bhw ada ayat2 tdk gamblang yg tdk diketahui oleh selain Allah, mk semua penafsir Qur an adalah orang2 yg sesat yg mengikuti kesesatan. Karena, semua penafsir Qur an, menafsirkan semua ayat2 Tuhan dan, tentau saja Nabi saww jg menjadi uswah dlm kesesatan ini, karena beliau saww menafsirkan semua ayat2 tsb, terutama ketika ditanya orang.

Dengan demikian, dpt dimengerti bhw ayat2 mutasyabihaat itu diturunkan Tuhan untuk dipamahami Nabi saww dan umat manusia. Akan tetapi, untuk memahaminya, harus dikomperasikan dg ayat2 lainnya dan akal-gamblang. Tp Nabi saww jelas memahaminya dg petunjuk Tuhan, baik dg ayat2Nya atau dg wahyu ilmu yg bukan Qur an. Karnea itu, bagi yg selain Nabi saww, sdh semestinya, selain mengkomperasikan ayat2 tdk gamblang itu dg ayat2 lainnya yg gamblang, jg bisa dg melihat hadits2 Nabi saww dan akal-gamblang.

wassalam

Sang Pencinta: lihat di sini

Orlando Banderas: Alhamdulillah. Jazakallah..

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad

Zainal Syam Arifin ‎…

للَّهُمَّے صَلِّے عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِے مُحَمَّدٍ وعَجِّلْے فَرَجَهُمْ Sinar Agama: Pencinta, trims tambahannya, smg diterimaNya, amin.

Doni Handoyo Salam ustad, terus terang dgn asbab ayat inilah yg sebabkan sy masuk syiah. Ada ulama besar Suni yg ketika aya tsb diterjemahkan dgn posisi Wau athof :…….., dimana mereka
mengatakan ‘Kami beriman terhadap ayat2
tsb, semua dari Tuhan kami. Ulama tsb mengatakan tdk mungkin Allah mengimani Allah, krn ulama tsb menterjemahkan kata “KAMI beriman thd ayat2 tsb… Kata KAMI tsb meliputi Allah dan manusia, yg mrp kata ganti jamak. Mohon pencerahan ustad
June 26 at 4:30pm via mobile · Like

Sinar Agama Doni: Wa-u athf itu adalah athf ttg yg tahu takwil ayat. Sedang keterangan “Kami beriman kepada …” adalah jelas keterangan yg dima’thufkan atau didankan itu, yaitu orang2 yg berilmu tinggi tsb. Apalagi sebelum Allah manukil kata2 mereka, Allah mengatakan “dimana mereka berkata: Kami beriman ….”.

Yaquuluuna itu adaslah “mereka berkata: …”, jd tdk termasuk Tuhan. Karena itu, dari sejak: “…mereka berkata: ‘Kami beriman……” adalah haal atau keterangan untuk ma’thuuf tsb, yaitu “dan orang2 yg hebat ilmunya …”.
June 26 at 5:31pm · Like · 1

sumber

%d bloggers like this: