Sujud Sahwi

Irsavone Sabit 

Salam Ustadz, bagaiman kalau kita ragu-ragu dalam shalat 3 atau 4 rakaat yang kemudian shalat ihtiyath satu rakaat untuk mengganti keraguan tersebut, setelah itu apakah DIWAJIBKAN sujud SAHWI atau tidak? dan kapan saja sujud SAHWI dilakukan?

Sinar Agama: Salam dan trims pertanyaannya. Dulu seingat saya,saya sdh pernah menulisnya, yaitu tgl 11-11-2011: Kunukilkan disini:

Pramudya Yanuanto:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon diterangkan bagaimana lafazh dari bacaan sujud sahwi (juga variasinya kalau ada) dan kesalahan apa saja yg mewajibkan sujud sahwi tersebut.

Syukron Ustadz …

Sinar Agama: Ass wr wb dan trims pertanyaannya:

(1). Sujud sahwi itu dimulai dg niat sujud sahwi dg posisi duduk, lalu takbir (sekalipun tidak wajib), lalu sujud dan membaca: Bismillaahi wa billaahi allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammadin. Setelah itu duduk sempurna dan sujud lagi dg bacaan yg sama. Lalu duduk dan membaca tasyahhud sampai salam.

(2). Hal-hal yg membuat kita wajib melakukan sujud sahwi ini sbb:

a- Berbicara secara tdk sengaja di dalam shalatnya.

b- Lupa satu sujud yg diingat ketika sedang ruku’ pada rakaat berikutnya atau setelah ruku’ tsb (kalau ignat sebelum ruku’, mk kembali dan melakukan sisa sujudnya).

c- Ragu antara rakaat ke 4 atau 5 di dalam posisi duduk, atau rakaat ke 5 dan 6 dalam posisi berdiri.

d- Mengucap salam tdk pada tempatnya secara tdk sengaja.

e- Melupakan tasyaahhud (tentu setelah salam tasyahhudnya diqodho dulu baru melakukan sujud sahwi).

f- Mengucap sebagian salam tidak pada tempatnya tanpa sengaja.

Pramudya Yanuanto: Maaf ada yg tidak saya mengerti. Ragu antara rakaat 4 dan 5 atau 5 dan 6 itu bagaimana? Bukankah maksimal shalat kita hanya 4 rakaat?

Sinar Agama: Kan yg namanya ragu itu sdh tdk terikat lagi dg kenyataannya. Sekrang misalnya Anda dlm posisi duduk setelah sujud ke dua, lalu ragu, apakah sekarang ini Anda dlm posisi rokaat ke 4 atau 5, atau bahkan ragu antara 5 atau 6. Wong namanya ragu, kan bisa saja hal itu terjadi. Nah, kalau ragu spt itulah yg dikatakan bhw tdk usah dipikir dan teruskan saja shalatnya, tp setelah itu sujud syukur (tentu saja kalau shalatnya itu yg 4 rokaat).

Edo Saputra Asalam mualaikum..wr..wb…Ust sy kadang kala lupa, dgn waktu solat misalkan sholat juhur dan ashar,sy lg di perjalaanan,cara untuk mengqodonya bagai mana ya ust,??
June 26 at 6:25pm via mobile · Like

Khommar Rudin Allah humma shalli alla muhammad wa alli muhammad
June 27 at 6:18am · Like

Heri Widodo Allah Humma Sholi Ala Muhammad Wa Ali Muhammad.
June 27 at 8:27am via mobile · Like

Sang Pencinta Edo :maksud antum qashar sholat ketika musafir ya?
June 27 at 10:57am · Like

Sinar Agama Edo: Lupa shalat itu pertanda kurang ingat dan kurang cinta Tuhan. Tp bagaimanapun, kalau benar2 lupa, mk tdk dosa. Sedang hukum qodho’nya, baik sengaja meninggalkan shalat atau lupa, mk tetap wajib dilakukan. Dan kalau shalat yg ditinggalkan itu adalah shalat musafir yg qashr, mk qodho’nya jg qashr (mendua rokaatkan yg empat rokaat).
June 27 at 4:39pm · Like

Aroel D’ Aroel Salam ya Ustad, mau tanya… krn faktor kebiasaan dimana setiap habis menutup doa kemudian membaca shalawat. lalu saya pernah keceplosan membaca shalawat ketika selesai membaca salam (Ass.Wr.Wb) di tahiyat akhir.. bacaan shalawat itu spontan saja terucap sebelum saya mengangkat tangan 3x utk takbir yg terakhir… bagaimana hukumnya ustad ? batalkah shalat saya ?

Maaf dan terima kasih ustad…
June 27 at 4:50pm · Like

Aroel D’ Aroel afwan ustad, pertanyaan berikutnya mumpung ana masih ingat…

bagaimana hukumnya meminjam sarung atau apapun utk keperluan shalat kpd teman tanpa meminta ijin terlebih dahulu kpd pemilik ? walaupun kita tahu bahwa teman itu pasti akan mengijinkan kita utk memakai sarungnya atau apapun yg kta pinjam darinya utk keperluan shalat ini..
June 27 at 4:57pm · Like · 1

Sinar Agama Aroel: Kalau sdh salam, tandanya sdh selesai shalat karena itu mau baca apa saja tdk membatalkan shalatnya. Apalagi takbir itu jg sunnah saja.

Memakai barang orang tanpa ijin itu adalah haram dan membatalkan shalat. Tp kalau yakin bhw ia merelakannya (‘ulima biridhaahu), mk tdk haram dan tdk pula membatalkan.

Aroel D’ Aroel makasih ustad utk penjelasannya… afwan

sumber

%d bloggers like this: